HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Pembelajaran Biologi Berbasis Masalah Menggunakan Peta Pikiran

Judul Tesis : Pembelajaran Biologi Berbasis Masalah Menggunakan Peta Konsep dan Peta Pikiran Ditinjau dari Kreativitas dan Sikap Ilmiah Siswa

A. Latar Belakang Masalah

Proses pembelajaran berbasis masalah dijadikan sebagai alternatif proses pembelajaran pada mata pelajaran biologi materi sistem pencernaan karena sangat tepat dengan karakteristik yang dimiliki oleh materi ini yaitu : pengetahuan berupa konsep yang konkrit, kontekstual, membutuhkan banyak sumber belajar baik berupa lingkungan maupun media informasi cetak maupun elektronik, serta dalam proses pembelajaran siswa dituntut mengembangkan sikap ilmiah seperti : melakukan observasi, mencatat data, melakukan pembahasan sampai pada menarik kesimpulan baik dalam bentuk laporan tertulis maupun presentasi.

Menyadari adanya kelemahan dalam pembelajaran biologi di SMPN 2 Gondang terutama; kemampuan siswa dalam memecahkan masalah rendah, kemampuan berfikir rasional siswa rendah, kemampuan siswa dalam menghubungkan satu konsep dengan konsep yang lain rendah, kemampuan memori jangka panjang siswa rendah. Prestasi belajar siswa rendah sebagai akibat suasana pembelajaran yang tidak menyenangkan, maka penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) menggunakan peta konsep dan peta pikiran diharapkan dapat menjadi alternatif solusinya.

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah terdapat pengaruh pembelajaran berbasis masalah menggunakan peta konsep dan peta pikiran terhadap prestasi belajar biologi?
  2. Apakah terdapat pengaruh kreativitas siswa tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar biologi?
  3. Apakah terdapat pengaruh sikap ilmiah siswa tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar biologi?

C. Landasan Teori

Pembelajaran Berbasis Masalah

Ada berbagai cara untuk mengaitkan isi materi pelajaran dengan konteks. salah satunya adalah melalui pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Model ini juga dikenal dengan nama lain seperti project Based teaching, experienced based education, and anchored instruction (Ibrahim dan Nur, 2004:16). Pembelajaran ini membantu siswa belajar isi akademik dan keterampilan memecahkan masalah dengan melibatkan mereka pada situasi masalah kehidupan nyata.

Pengertian Peta Konsep

Pendapat yang hampir sama diungkapkan oleh Voughn et. Al (2000:467) yang menyatakan bahwa: ”Pemetaan konsep adalah alat visual yang dapat membantu siswa untuk melihat bagian ide atau konsep yang dihubungkan dan membantu kesiapan siswa untuk mengetahui konsep berikutnya.” Lebih lanjut Voughn menjelaskan bahwa penyajian konsep secara visual yang diwujudkan dalam bentuk gambar visual disajikan sebelum proses pembelajaran dimulai dan melalui gambaran yang berisi konsep utama tersebut kemudian siswa mengembangkan menjadi berbagai sub konsep.

Pengertian Peta Pikiran

Bobby De Potter, Hernackimiket (1992:153) menjelaskan bahwa, ”Peta pikiran adalah tehnik pemanfaatan keseluruhan indera dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan”.

Kemampuan Kreativitas

Kata kreativitas (creativity) bermakna mempunyai sifat kreatif (creative) yang berasal dari kata to create (mencipta). Berdasarkan etimologi kemampuan kreativitas berarti kemampuan menciptakan sesuatu (ide-cara-produk) yang baru.Jadi, konotasi kreativitas berhubungan dengan sesuatu yang baru yang sifatnya orisinal.

Sikap Ilmiah

Kumpulan pengetahuan atau produk sains berupa fakta, observasi, ekspenmentasi, generalisasi dan analisis yang rasional dan ilmuwan mengumpulkan pengetahuan sains berusaha untuk bersikap obyektif dan jujur, mengikuti berbagai macam prosedur eksperimen dikenal dengan nama sikap ilmiah (Moh. Amin, 1994:77). Dengan sikap ini ilmuwan akan mendapat penemuan-penemuan, penemuan ini merupakan produk dari sains.

D. Metodologi Penelitian

Penelitian eksperimen ini populasinya adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Gondang Bojonegoro. Sampel diambil dengan sistem Cluster Random Sampling yaitu kelas VII A menggunakan PBM peta konsep dan kelas VIII B menggunakan PBM peta pikiran.

Data kreativitas, sikap ilmiah dan prestasi belajar aspek afektif diperoleh dengan angket, data prestasi kognitif diperoleh dengan test, dan data prestasi psikomotor diperoleh dengan observasi.

Analis data menggunakan Anava disain faktorial 2 x 2 x 2 dengan bantuan SPSS 17.

Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, uji homogenitas dengan metode Levene – test dan uji lanjut anava menggunakan uji Scheffe.

E. Kesimpulan

1. Pembelajaran berbasis masalah menggunakan peta pikiran lebih memudahkan siswa dalam melakukan proses penemuan. Siswa seusia SMP merasa terbantu dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya terkait materi sistem pencernaan. Selain itu dengan peta pikran siswa lebih bebas dalam memahami dan mencari alternative penyelesaian masalah secara efektif dan efisien. Oleh karena itu siswa yang mempunyai kreativitas dan sikap ilmiah pada semua kategori, memiliki nilai lebih baik pada aspek kognitif dan afektif jika menggunakan metode peta pikiran (rata-rata = 74,00; 82,00; 82,33; 85, 31) daripada peta konsep (rata-rata = 70,33; 76,75; 76,67; 82, 22). Aspek psikomotor prestasi belajar tidak berbeda secara signifikan, berarti siswa mempunyai nilai psikomotor yang sama dalam mempelajari materi sistem pencernaan. Psikomotor siswa cenderung sama karena siswa kurang terbiasa mengimplementasikan sikap ilmiahnya secara terus menerus.

2. Orang kreatif adalah orang yang mempunyai banyak alternative dalam pemecahan masalah. Kemampuan intelektual mereka dapat diidentifikasi dari kelancaran berpikir, keluwesan berpikir/ gagasan baru dan pengembangan berpikir. Kelancaran berpikir meliputi kemampuan menghasilkan kata-kata, kelancaran asosiasi, kelancaran ekspresi, kelancaran ide. Keluwesan berpikir meliputi kemampuan merespon dengan cara berbeda-beda atau dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda sehingga diperoleh alternative pemecahan masalah. Siswa yang kreativitasnya tinggi mempunyai kemampuan lebih tinggi dalam menyelesaikan permasalahan sebab mereka mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi dibandingkan siswa berkreativitas rendah. Sehingga hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa siswa yang kreativitasnya tinggi mempunyai prestasi yang lebih tinggi pada semua aspek belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor (rata-rata: 81,63; 82,45; 80,99) dibandingkan siswa berkreativitas rendah (rata-rata: 75,77; 75,27; 73,42). Siswa yang kreativitasnya tinggi mempunyai ketrampilan motorik yang lebih tinggi, fisiknya lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Aktifnya kegiatan fisik sebagai wujud aktifnya kegiatan mental yang merupakan aspek afektif dari proses belajar siswa.

3. Siswa yang mempunyai sikap ilmiah tinggi ditandai dengan rasa ingin tahu dan sikap selalu mencoba dalam menyelesaikan permasalahan. Kegagalan dan keberhasilan tidak untuk ditakutkan. Siswa berkeyakinan seperti ini tidak takut terhadap resiko, selalu optimis dan tidak pernah menyerah. Hasil penelitian membuktikan penjelasan diatas bahwa siswa yang sikap ilmiahnya tinggi mempunyai prestasi belajar aspek kognitif, afektif dan psikomotor lebih tinggi (rata-rata: 81,57; 81,72; 80,24) dibandingkan siswa sikap ilmiah rendah (rata-rata: 75,83; 76,00; 76,17). Rasa ingin tahu dan sikap selalu mencoba, mampu mendorong potensi fisik dan mentalnya dalam belajar.

Incoming search terms:

Leave a Reply