HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Pendidikan: Pembelajaran Keterampilan Berbicara di SMP NEGERI 3 Salatiga

Judul Tesis : Pembelajaran Keterampilan Berbicara di SMP NEGERI 3 Salatiga

 

A. Latar Belakang

Terdapat bermacam-macam metode yang telah digunakan oleh pengajar dalam mengajarkan keterampilan berbicara sekaligus keterampilan menyimak, di antaranya metode audiolingual, metode guru diam (silent way), dan belajar bahasa secara gotong royong (Sri Utari Subyakto Nababan, 1993: 23). Ketiga model tersebut memang diperkuat dengan teori-teori yang menekankan kebenaran dan keampuhan pemikirannya, namun tidak menutup kemungkinan bahwa modelmodel tersebut mempunyai kelemahan. Kemampuan seorang guru dalam memilih strategi dan metode pembelajaran juga sangat menentukan hasil belajar mengajar.

Rendahnya hasil pembelajaran keterampilan berbicara juga disebabkan kurang perhatian dari guru terhadap aspek tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan Sarono (2002: 2) bahwa guru yang kurang memberi perhatian khusus pada pembelajaran bercerita dapat dilihat dari materi dan metode pembelajaran yang kurang bermakna dan menyentuh. Penelitian tersebut diperkuat oleh Galda (dalam Supriyadi, 2005: 180) yang menyebutkan bahwa guru hanya memberikan perhatian sedikit pada aspek pengembangan bahasa lisan/berbicara.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran keterampilan berbicara di SMP Negeri 3 Salatiga?
  2. Apakah kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam pembelajaran keterampilan berbicara di SMP Negeri 3 Salatiga?
  3. Bagaimana usaha yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mengatasi kendala-kendala dalam pembelajaran keterampilan berbicara di SMP Negeri 3 Salatiga?

 

C. Landasan Teori Tesis

Pengertian Berbicara

Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Dipandang dari segi bahasa, menyimak dan berbicara dikategorikan sebagai keterampilan berbahasa lisan. Ditinjau dari segi komunikasi, menyimak dan berbicara diklasifikasikan sebagai komunikasi lisan (Munawaroh, 2008: 2). Melalui berbicara orang menyampaikan informasi kepada orang lain. Melalui menyimak orang menerima informasi dari orang lain. Kegiatan berbicara selalu diikuti kegiatan menyimak, atau kegiatan menyimak pasti ada di dalam kegiatan berbicara. Ada juga yang berpendapat bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan,  menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan (Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S., 1991: 23). Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan dan penempatan persendian (juncture). Jika dilakukan dengan tatap muka, gerak tangan dan mimik juga berperan.

Merencanakan Pembicaraan

Ehninger (dalam Munawaroh, 2008: 27) mengajukan tujuh langkah yang harus dilalui dalam mempersiapkan suatu pembicaraan. Ketujuh langkah tersebut ialah: (1) menyeleksi dan memusatkan pokok pembicaraan; (2) menentukan tujuan khusus pembicaraan; (3) menganalisis pendengar dan situasi; (4) mengumpulkan materi; (5) menyusun ragangan/kerangka dasar (outline); (6) mengembangkan ragangan/kerangka dasar; dan (7) menyajikan pembicaraan. Wainringht (dalam Munawaroh, 2008: 28) menyarankan enam langkah yang harus dilalui dan dikuasai oleh seseorang agar tepat menjadi pembicara yang baik. Langkah-langkah yang disarankan oleh Wainright tersebut adalah: (1) memilih topik; (2) memahami dan menguji topik; (3) memahami latar belakang pendengar dan situasi; (4) menyusun kerangka pembicaraan; (5) mengujicobakan; dan (6) menyajikan.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Dalam Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 Pasal 1 ayat (15) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diartikan sebagai kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan (Zuber Safawi, 2006:15). KTSP dikembangkan oleh setiap kelompok/satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan/kantor Depag kabupaten/kota untuk pendidikan dasar, dan dinas pendidikan/kantor Depag provinsi untuk pendidikan menengah dan pendidikan khusus. Beberapa prinsip pengembangan KTSP di antaranya: (1) berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya; (2) beragam dan terpadu; (3) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; (4) relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) menyeluruh dan berkesinambungan; (6) belajar sepanjang hayat; dan (7) seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif.

Peneliti mencatat, menganalisis, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang sekarang terjadi dalam pembelajaran keterampilan berbicara.

Sumber data penelitian ini berupa hasil wawancara, observasi dan arsip tertulis. Informan terdiri dari guru, kepala sekolah dan siswa. Uji validitas data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber, triangulasi metode, dan review informan.

Analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif.

 

E. Kesimpulan

  1. Pelaksanaan pembelajaran keterampilan berbicara di SMP Negeri 3 Salatiga pada dasarnya dapat berlangsung dan berhasil dengan baik. Hal ini diindikatori dengan: (a) adanya persiapan yang cukup sebelum pembelajaran berlangsung, baik oleh guru maupun siswa; (b) penerapan strategi dan metode pembelajaran yang menarik dan variatif; (c) penggunaan media ajar dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan; (d) pemilihan materi ajar yang sesuai dengan kondisi siswa; (e) adanya interaksi yang baik antara guru dengan siswa ataupun siswa dengan siswa; (f) adanya penilaian yang baik; dan (g) hasil pembelajaran yang cukup memuaskan.
  2. Kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran keterampilan berbicara di SMP Negeri 3 Salatiga di antaranya: (a) siswa memiliki kepercayaan diri yang kurang; (b) siswa kurang antusias dalam mengikuti pelajaran; (c) jumlah siswa yang terlalu banyak; (d) siswa masih menggunakan metode hapalan; (e) sebagian besar siswa berasal dari ekonomi menengah ke bawah; dan (f) fasilitas di laboratorium kurang lengkap. Adapun kendala yang dihadapi siswa di antaranya: (a) kehabisan ide atau kata-kata saat tampil; (b) takut, malu, dan kurang percaya diri; (c) kurang mendapat perhatian teman; (d) jumlah siswa sangat banyak sehingga waktu untuk presentasi terbatas; (e) harus selalu membutuhkan perencanaan (belum mampu berbicara dadakan); dan (f) masih sering menggunakan bahasa ibu (bahasa Jawa).
  3. Usaha-usaha yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi kendala-kendala dalam pembelajaran keterampilan berbicara tersebut di antaranya: (a) memotivasi siswa; (b) menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang menarik; (c) efektivitas waktu; (d) mengajarkan cara belajar yang baik kepada siswa; (e) mengoptimalkan perpustakaan; dan (f) memaksimalkan fasilitas yang ada. Adapun usaha-usaha yang dilakukan siswa di antaranya: (a) persiapan sebelum praktik berbicara; (b) menganggap keberadaan siswa yang lain sebagai pendukung/supporter; (c) mencari perhatian dengan suara keras atau sebaliknya, diam; (d) selektif dalam presentasi; (e) banyak membaca dan menonton berita; dan (f) meminimalisir penggunaan bahasa Jawa.

 

Contoh Tesis Pendidikan

  1. Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Metode SQ3R pada Siswa Kelas X.3 SMA
  2. Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Peranan Aparat Kelurahan terhadap Kesadaran Wajib
  3. Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Metode SQ3R Pada Siswa Kelas X
  4. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Jigsaw II terhadap Prestasi Belajar ditinjau
  5. Pembelajaran Keterampilan Berbicara di SMP Negeri 3 Salatiga

 

Incoming search terms:

Leave a Reply