HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Perbedaan istilah Ibid, op. cit, loc. cit di dalam Catatan Kaki / Footnote untuk Penyusunan Skripsi / Tesis

Ditinjau oleh: Wikan Tyas

Ibid, Op. Cit, dan Loc. Cit adalah singkatan bahasa Latin yang dipakai dalam catatan kaki untuk merujuk sumber yang sudah pernah dikutip sebelumnya. Perbedaannya ditentukan oleh dua hal: apakah kutipan diselingi sumber lain, dan apakah halamannya sama. Ibid dipakai bila sumbernya persis di atasnya tanpa selingan; Op. Cit bila sudah diselingi dan halamannya berbeda; Loc. Cit bila sudah diselingi tetapi halamannya sama. Artikel ini menjelaskan ketiganya beserta aturan penulisan dan contoh yang benar.

Tabel Perbedaan Ibid, Op. Cit, dan Loc. Cit

Dua baris tengah adalah kuncinya. Bila Anda ragu memilih di antara ketiganya, tanyakan dua hal berurutan: apakah ada sumber lain yang menyelingi? Bila tidak, jawabannya pasti Ibid. Bila ya, lanjut ke pertanyaan kedua: apakah halamannya sama? Sama berarti Loc. Cit, berbeda berarti Op. Cit.

Ibid

Ibid berasal dari kata ibidem, yang berarti “di tempat yang sama”. Dipakai bila kutipan berasal dari sumber yang persis berada di atasnya, tanpa diselingi sumber lain.

Aturan penulisannya:

  • Ditulis dengan huruf kapital di awal kata, dicetak miring, dan diakhiri tanda titik
  • Bila halamannya sama, cukup ditulis Ibid.
  • Bila halamannya berbeda, ditulis Ibid., hlm. 29.
  • Tidak dipakai bila ada catatan kaki dari sumber lain yang menyelinginya

Contoh:

Catatan kaki nomor 2 merujuk sumber, judul, dan halaman yang sama persis dengan nomor 1. Catatan kaki nomor 3 merujuk sumber dan judul yang sama, tetapi halamannya berbeda — dari 55 menjadi 56.

Op. Cit

Op. Cit berasal dari opere citato, yang berarti “pada karya yang telah dikutip”. Dipakai bila kutipan berasal dari sumber yang sudah pernah disebut, tetapi sudah diselingi sumber lain, dan halamannya berbeda.

Aturan penulisannya:

  • Ditulis dengan huruf kapital di awal tiap suku kata, dicetak miring, tiap suku diakhiri tanda titik
  • Didahului nama pengarang
  • Diikuti nomor halaman
  • Susunannya: Nama pengarang, Op. Cit., hlm. 57.
  • Bila satu pengarang memiliki beberapa buku yang dirujuk, sebutkan pula judul bukunya untuk membedakan

Contoh:

Catatan kaki nomor 3 memakai Op. Cit karena sumbernya sudah diselingi oleh nomor 2, dan halamannya berbeda — dari 55 menjadi 57.

Loc. Cit

Loc. Cit berasal dari loco citato, yang berarti “pada tempat yang telah dikutip”. Dipakai bila kutipan berasal dari sumber yang sudah diselingi sumber lain, dan halamannya sama persis.

Aturan penulisannya:

  • Ditulis dengan huruf kapital di awal tiap suku kata, dicetak miring, tiap suku diakhiri tanda titik
  • Didahului nama pengarang
  • Tidak perlu nomor halaman, karena halamannya sudah pasti sama
  • Susunannya: Nama pengarang, Loc. Cit.

Contoh:

Catatan kaki nomor 3 merujuk pengarang, buku, dan halaman yang sama persis dengan nomor 1 — yaitu halaman 55.

Contoh Rangkaian Lengkap

Berikut penerapan ketiganya dalam satu rangkaian catatan kaki:

Penjelasannya:

Tiga Kekeliruan yang Paling Sering Terjadi

Memakai Loc. Cit padahal Seharusnya Ibid

Ini kekeliruan paling umum, dan sering muncul bahkan dalam panduan yang beredar di internet.

Sebagian sumber menyatakan bahwa bila halamannya sama dengan kutipan sebelumnya, Ibid harus diganti Loc. Cit. Pernyataan ini keliru.

Yang menentukan pilihan bukan kesamaan halaman, melainkan ada tidaknya sumber lain yang menyelingi. Bila sumbernya persis di atas tanpa selingan, tetap gunakan Ibid — meski halamannya sama. Loc. Cit baru dipakai setelah ada selingan.

Menuliskan Nomor Halaman pada Loc. Cit

Loc. Cit sudah bermakna “pada tempat yang telah dikutip”, termasuk halamannya. Menambahkan nomor halaman menjadikannya berlebihan dan saling bertentangan. Cukup Nama pengarang, Loc. Cit.

Memakai Ibid Setelah Diselingi Sumber Lain

Begitu ada satu saja catatan kaki dari sumber berbeda yang menyelingi, Ibid tidak boleh lagi dipakai. Gunakan Op. Cit atau Loc. Cit sesuai halamannya.

Kapan Ketiga Istilah Ini Masih Dipakai

Bagian ini penting agar Anda tidak salah menerapkannya.

Ibid, Op. Cit, dan Loc. Cit hanya dipakai dalam sistem sitasi catatan kaki — yaitu sistem yang menempatkan sumber di kaki halaman, seperti gaya Turabian dan Chicago. Sistem ini masih umum dipakai di bidang hukum, agama, sejarah, dan sastra di Indonesia.

Sebaliknya, sistem sitasi dalam teks seperti APA, Harvard, dan Vancouver tidak mengenal istilah ini sama sekali. Pada sistem tersebut, pengulangan sumber ditulis dengan mengulang nama pengarang dan tahun, misalnya (Batubara, 2005, hlm. 57).

Perlu diketahui pula bahwa penggunaan Op. Cit dan Loc. Cit kini semakin berkurang, bahkan dalam sistem catatan kaki. Banyak panduan modern menyarankan penggunaan bentuk pendek — mengulang sebagian nama pengarang, sebagian judul, dan nomor halaman — karena lebih mudah ditelusuri pembaca.

Sarannya: periksa pedoman penulisan institusi Anda sebelum memilih. Bila pedoman mensyaratkan sistem catatan kaki, ketiga istilah ini berlaku. Bila mensyaratkan APA atau Harvard, jangan dipakai sama sekali.

Sistem catatan kaki sangat lazim dalam penelitian hukum, karena bahan hukumnya berupa peraturan dan putusan yang perlu dirujuk secara rinci. Pembahasannya tersedia di artikel penelitian hukum normatif.

Pengertian dan Fungsi Catatan Kaki

Menurut Keraf, catatan kaki adalah keterangan tambahan dari bagian naskah tulisan ilmiah yang diletakkan di kaki halaman. Keterangannya dapat berupa sumber pustaka yang dikutip atau penjelasan atas istilah yang dikemukakan pada halaman tersebut.

Catatan kaki memiliki tiga fungsi:

Menjelaskan sumber rujukan bagi pernyataan dalam teks — inilah fungsi yang paling umum.

Memuat komentar penulis terhadap pernyataan dalam teks yang dipandang penting, tetapi bila dimasukkan ke teks utama akan mengganggu alur tulisan.

Menunjukkan sumber lain yang membahas hal serupa, biasanya diawali kata “Lihat…”, “Bandingkan…”, atau “Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam…”.

Sebaiknya catatan kaki tidak melebihi sepertiga halaman. Bila tidak memungkinkan, sebagiannya dapat diletakkan di halaman berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Ibid ditulis miring? Ya. Ketiganya dicetak miring karena berasal dari bahasa Latin.

Bagaimana bila satu pengarang punya dua buku yang dirujuk? Sebutkan judul bukunya setelah nama pengarang agar tidak tertukar, misalnya Batubara, Pemimpin yang Demokratis, Op. Cit., hlm. 57.

Apakah Ibid bisa dipakai untuk sumber dari internet? Bisa, selama sumbernya persis di atasnya tanpa selingan. Aturannya sama untuk semua jenis sumber.

Apa bedanya catatan kaki dan daftar pustaka? Catatan kaki merujuk sumber pada halaman tertentu dan memuat nomor halaman. Daftar pustaka memuat seluruh sumber yang dipakai, disusun menurut abjad, tanpa nomor halaman.

Apakah masih boleh memakai Op. Cit dan Loc. Cit sekarang? Boleh, selama pedoman institusi Anda memakai sistem catatan kaki. Namun periksa dulu pedomannya, karena sebagian institusi kini menyarankan bentuk pendek.

Penutup

Kunci membedakan ketiganya sederhana: selingan menentukan Ibid atau bukan, halaman menentukan Op. Cit atau Loc. Cit.

Satu hal yang perlu diperiksa sebelum menerapkannya: pastikan pedoman penulisan institusi Anda memang memakai sistem catatan kaki. Menerapkan Ibid pada skripsi bergaya APA adalah kekeliruan yang justru menandakan penulisnya menyalin panduan tanpa memeriksa sistem sitasinya.

Untuk penelitian yang banyak memakai catatan kaki, lihat panduan metode penelitian hukum.

Bila Anda memerlukan pendampingan penulisan karya ilmiah, layanan bimbingan penulisan IDTESIS siap membantu.

Incoming search terms:
  • https://idtesis com/perbedaan-istilah-ibid-op-cit-loc-cit-di-dalam-catatan-kaki-footnote-untuk-penyusunan-skripsi-tesis/

Leave a Reply