HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Akutansi: Analisis Rasio Arus Kas sbg Pembeda Antara Bank Bangkrut & Non Bangkrut

Judul Tesis : Analisis Rasio Arus Kas Sebagai Pembeda Antara Bank Bangkrut dan Non Bangkrut yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta

 

A. Latar Belakang

Penelitian tentang kebangrutan merupakan topik yang menarik. Penulis menggunakan rasio arus kas sebagai pembeda antara bank sehat dengan bank bangkrut, karena selama ini banyak dilakukan penelitian yang digunakan sebagai pembedan kondisi perbankan menggunakan rasio CAMEL, (Capital, Adequacy Asset, Quality, Management dan Liquidity) yang diambil dari laporan neraca dan laporan laba rugi atau dengan menganalisis secara historis kinerja perusahaan sebelum mengalami bangkrutan dengan melakukan perbandingan perusahaan yang bangkrut dengan perusahaan yang sehat, diharapkan hasil akhir dari penelitian rasio arus kas dapat melengkapi menelitian mengenai rasio keuangan sebelumnya.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Rasio Arus Kas Sebagai Pembeda Antara Bank Bangkrut dengan Bank Non Bangkrut yang terdaftar di Bursa EfekJakarta”.

 

B. Rumusan Masalah

Apakah ada perbedaan rasio arus kas antara bank bangkrut dengan bank non bangkrut yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Lembaga Keuangan Bank

Pengertian bank berdasarkan UU No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 perbankan (Suyatno, 2001: 128), bank merupakan badan usaha yang mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. PSAK No. 31, pr. 01, menyatakan bank adalah lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang memerlukan dana, serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalulintas pembayaran bank.

Laporan keuangan

Laporan keuangan adalah ringkasan dari proses pencatatan, ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yaitu selama tahun buku yang bersangkutan (Baridwan, 1992:17). Laporan keuangan merupakan gambaran kondisi dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonominya. Laporan keuangan adalah laporan yang berisi informasi keuangan sebuah organisasi. PSAK No. 2 pr. 7 menyatakan bahwa laporan keuangan mencakup neraca, Laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Dengan adanya laporan keuangan yang disajikan diharapkan dapat memberikan informasi keuangan dalam suatu entitas bisnis yang dapat digunakan oleh pihak berkepentingan. Adapun bagian dari proses laporan keuangan yang lengkap adalah sebagai berikut ini (SAK, 1994).

Laporan Arus Kas

Kegunaan arus kas dalam PSAK No. 2 pr. 3, menyatakan jika digunakan dalam kaitan laporan keuangan yang lain, laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktivitas bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dan setara dan memungkinkan para pemakai mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flow) dari berbagai perusahaan. Informasi tersebut juga meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi berbagai perusahaan karena dapat meniadakan pengaruh pengguna pelaku akuntansi yang berbeda terhadap dari peristiwa yang sama. Informasi arus kas historis digunakan sebagai indikator dari jumlah, waktu dan kepastian arus kas masa depan. Disamping itu informasi arus juga berguna untuk meneliti kecermatan dari taksiran arus kas masa yang dibuat sebelumnya dalam menentukan hubungan antara profitabilitas dari arus kas bersih serta perubahan harga.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan expost facto.

Penelitian ini merupakan penelitian empiris.

Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

Sampel yang dipilih dari populasi menggunakan teknik purposive sampling.

Penelitian ini menggunakan data historis.

Data yang akan diteliti merupakan data sekunder berupa laporan keuangan bank yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1998.

 

E. Kesimpulan

  1. Rasio arus kas antara bank bangkrut dengan bank non bangkrut, dengan menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov Test untuk menguji distribusi diperoleh bahwa rasionya berdistribusi normal karena diperoleh Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0.05 (Level of Significance). Dari hasil tersebut penelitian dilakukan alat uji statistik parametrik Independent Sample T Test. Dari dua kali pengujian yang dilakukan ada satu rasio yang secara konsisten adanya perbedaan yang signifikan dari keempat rasio arus kas yaitu Cash From Return On Asset, menunjukan bahwa Sig. (2-tailed) lebih kecil dari 0.05. Hasil tersebut didukung dengan bank bangkrut mempunyai mean lebih kecil dari mean bank non bangkrut. Sedang ketiga rasio yang lain ada perbedaan hasil pada dua kali pengujian.
  2. Rasio arus kas Debt Coverage, dimungkinkan bahwa bank mempunyai aktiva produktif dalam menjalankan usahanya, bila tingkat kolektibilitas atas aktiva produksi tidak bisa menjamin pemenuhan untuk pembayaran pinjaman yang masih ditambah bunga pinjaman yang diterima bank. Sehingga arus kas dari aktivitas operasi tidak cukup untuk pelunasan kewajiban. Pada tahun 1997, baik bank bangkrut atapun bank non bangkrut menaikan suku bunga simpanan, secara otomatis pada sisi kewajiban mengalami kenaikan, perusahaan perbankan memberi pinjaman banyak yang mengalami kemacetan, sehingga arus kas dari operasi tidak mencukup pembiayaan kewajiban.
  3. Rasio arus kas Cash from to sales, dimungkin karena seperti diungkapkan sebelumnya banyak berdiri bank baru, berakibat persaingan dalam menarik nasabah dan menghimpun dana dari nasabah, dengan meningkatkan suku bunga simpanan, bank berharap dapat menghimpun dana yang banyak dari masyarakat, namun hal ini tidak bisa diimbangi dengan menaikan suku bunga pinjaman kepada nasabah. Pada tahun 1997, perusahaan perbankan mengalami kenaikan pemberian pinjaman, yang tidak diikuti dengan naiknya pendapatan dari pinjaman yang diberikan.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Pengaruh Tindakan Supervisi Terhadap Profesionalisme
  2. Pengaruh Computer Anxiety Dan Computer Attitude Terhadap Keahlian Akuntan Pendidik
  3. Analisis Pengaruh Tingkat Inflasi, Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Amerika
  4. Analisis Rasio Arus Klas Sebagai Pembeda Antara Bank Bangkrut Dan Non Bangkrut
  5. Evaluasi Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan Kas Pada Pt.Mutu Gading

 

 

Leave a Reply