HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Dampak Fisioterapi Dada: Dampak Fisioterapi Dada trhdp Perubahan Status Pernapasan

Judul Tesis : Dampak Fisioterapi Dada terhadap Perubahan Status Pernapasan (SPO2, WCSSS, HR) Anak Usia Kurang dari Dua Tahun dengan ISPA di RSPAD Gatot Subroto Jakarta

 

A. Latar Belakang

Pneumonia menjadi penyebab kematian terbesar nomor dua di Indonesia setelah diare (Riskesdas, 2007). Besarnya kontribusi pneumonia terhadap angka kematian anak dan balita, membuat pemerintah menetapkan penanganan pneumonia menjadi salah satu indikator keberhasilan program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) (Soepardi, 2010). Salah satu strategi yang tertuang dalam Rencana Strategis Menteri Kesehatan (Renstra Menkes) 2010-2014 adalah penemuan dan tatalaksana pneumonia hingga 100% di tahun 2014. Namun menurut laporan Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementerian Kesehatan Indonesia 2010, sejak tahun 2000 hingga 2009 belum pernah ada target yang tercapai.

Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) terjadi peningkatan prevalensi pneumonia dari 7,6% di tahun 2002, menjadi 11,2% di tahun 2007 (Bulletin Pneumonia, 2010). Data Dikjen PP&PL Kementerian Indonesia 2010 menunjukkan bahwa proporsi pneumonia pada bayi dan balita lebih besar bila dibandingkan anak usia lebih dari lima tahun. Pada tahun 2007 dan 2008, perbandingan jumlah penderita pneumonia pada balita dibanding anak usia lebih dari lima tahun adalah 7:3. Artinya jika ada 7 kasus pneumonia pada balita, maka akan terdapat pula 3 kasus pneumonia pada anak usia lebih dari 5 tahun. Makna dari angka tersebut menjelaskan bahwa penanganan pneumonia pada balita sangat penting jika pemerintah ingin meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Strategi yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas manajemen dan tatalaksana pneumonia disamping upaya preventif lainnya seperti perbaikan gizi dan imunisasi (Soepardi, 2010).

 

B. Rumusan Masalah

Adakah pengaruh fisioterapi dada terhadap status pernapasan (WCSSS, saturasi oksigen dan denyut nadi) anak usia kurang dari dua tahun yang dirawat dengan ISPA di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.

 

C. Tinjauan Pustaka

Konsep Tumbuh Kembang Anak Usia lahir-1 tahun (Bayi) dan usia 1-3 tahun (Todler)

Menurut Price dan Gwin (2008) serta Hockenberry dan Wilson (2009) usia satu tahun pertama adalah periode pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Setiap anak tumbuh dan berkembang pada kecepatannya masingmasing namun dengan urutan yang sama. Pemenuhan rasa aman dan kasih sayang sangat penting pada periode ini agar tumbuh rasa percaya. Rasa percaya diduga merupakan dasar dari perkembangan selanjutnya yang harus dimiliki oleh bayi. Kurangnya rasa percaya bisa mengakibatkan dampak yang negatif pada kehidupan selanjutnya karena anak tumbuh dengan rasa tidak percaya dan curiga pada sekitarnya. Masa todler merupakan masa eksplorasi lingkungan karena rasa ingin tahu mereka meningkat. Perilaku temper tantrum, negativisme dan keras kepala menjadi ciri khas todler karena mereka ingin mengontrol orang lain. Periode ini merupakan masa yang penting untuk pencapaian perkembangan dan pertumbuhan intelektual.

Definisi Fisiotrapi Dada

Irawati (2009) menjelaskan fisioterapi dada merupakan tindakan yang dilakukan pada klien yang mengalami retensi sekresi dan gangguan oksigenasi yang memerlukan bantuan untuk mengencerkan atau mengeluarkan sekresi. Fisioterapi dada terdiri dari drainase postural, perkusi dada dan vibrasi. Namun pada bayi, posisi kepala lebih rendah tidak dianjurkan karena memicu terjadinya Gastro Esophageal Reflux (GER). Fisioterapi dada adalah suatu tindakan pengeluaran lendir agar tidak terjadi sumbatan jalan napas yang direncanakan untuk memperkecil efek atau komplikasi paru-paru dan sistem yang lainnya (jantung, persyarafan, ginjal, muskuloskeletal, peredaran darah dan nutrisi).

Konsep Inhalasi

Irawati (2009) mengatakan bahwa inhalasi adalah suatu cara untuk memberikan obat-obatan melalui penghirupan dengan mendepositkan langsung kedalam saluran pernapasan. Obat-obatan dipecah menjadi partikel-partikel kecil melalui cara aerosol atau humidifikasi. Tujuan pemberian inhalasi adalah rileksasi spasme bronkial, mengencerkan dahak,menekan proses peradangan, melembabkan saluran pernapasan. Indikasi inhalasi adalah penyakit saluran napas atas dan bawah akut serta kronis, penyakit jaringan paru untuk memperbaiki ventilasi, gangguan saluran pernapasan karena alergi, dan bayi dengan produksi sekret berlebihan. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pemberian inhalasi adalah: waktu pemberian dapat diberikan bersama postural drainage, namun posisi tidak boleh kepala lebih rendah pada pasien yang sesak, pemberian dilaksanakan minimal selama 10 menit atau sampai uap udara habis.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuasi eksperimental yang bertujuan menguji hubungan sebab akibat.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak usia kurang dari 2 tahun yang dirawat karena ISPA di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.

Tempat penelitian yang digunakan adalah ruang rawat anak Rumah Sakit Pemerintah Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, yaitu ruang IKA 2 untuk penyakit dalam.

Penelitian ini berlangsung mulai minggu kedua dibulan Mei hingga awal Juli 2012.

 

E. Kesimpulan

  1. Responden dalam penelitian ini berjumlah 14 orang anak usia 0-23 bulan. Karakteristik responden adalah rata-rata toddler (usia 12-23 bulan) dan berjenis kelamin laki-laki. Sebanyak 9 orang responden memiliki status gizi normal, 12 orang responden memiliki status imunisasi lengkap dan 11 orang responden tidak mendapatkan ASI eksklusif dari orang tuanya. Sebagian besar responden (13 orang) tidak mengalami dehidrasi dan tidak menggunakan suplemen oksigen.
  2. Terdapat perbedaan yang bermakna antara denyut nadi, saturasi oksigen dan skor keparahan klinis setelah pemberian fisioterapi dada. Skor keparahan klinis menurun secara signifikan dan saturasi oksigen naik secara siginifikan setelah menit kesepuluh diberikan intervensi sehingga fisioterapi dada memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan status pernapasan anak usia kurang dari dua tahun dengan ISPA.

Contoh Tesis Dampak Fisioterapi Dada

  1. Dampak Fisioterapi Dada terhadap Perubahan Status Pernapasan (SpO2, WCSSS, HR) Anak Usia Kurang dari Dua Tahun dengan ISPA di RSPAD Gatot Subroto Jakarta
Incoming search terms:

Leave a Reply