HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Administrasi Negara: Perubahan Adat Perkawinan pd Masyarakat Pakpak Kelasen

Judul Tesis : Perubahan Adat Perkawinan pada Masyarakat Pakpak Kelasen (Studi Deskriptif di Desa si Onom Hudon Toruan Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan)

 

A. Latar Belakang

Salah satu upacara kerja baik pada masyarakat etnis Pakpak adalah perkawinan. Sebab perkawinan merupakan suatu tahap yang penting dilalui oleh setiap insan manusia. Koentjaraningrat (1981:90) menyatakan bahwa: “Perkawinan merupakan peralihan yang terpenting dari life cycle dari semua manusia diseluruh dunia adalah saat peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga yaitu perkawinan”.

Etnis Pakpak menganut garis keturunan bapak (patrineal). Sedangkan perkawinan yang ideal adalah perkawinan seseorang dengan putri Puhun (paman) yang disebut dengan muat Impalna. Istilah yang lain disebut Menongketti (menyokong atau meneruskan kedudukan si ibu dalam keluarga marga silaki-laki). Bilamana seseorang kawin di luar impalnya disebut Mungkah Uruk (kawin diluar marga ibunya) (Berutu, 2002).

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana upacara adat perkawinan ideal masyarakat Pakpak umumnya?
  2. Bagaimana praktek yang dilaksanakan pada masyarakat Pakpak Kelasen ?
  3. Perubahan yang bagaimana yang terjadi pada masyarakat Pakpak Kelasen?

 

C. Tinajaun Pustaka

Perkawinan

Perkawinan merupakan suatu dasar yang utama dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu perkawinan merupakan suatu hal yang membenarkan hubungan badan antara lawan jenisnya. Perkawinan juga merupakan suatu hukum dalam kehidupan masyarakat. Demikian juga halnya pada masyarakat Pakpak Kelasen, masalah perkawinan adalah masalah yang berpengaruh besar dalam kehidupannya malah kadang-kadang merupakan fase yang menentukan dalam perjalanan hidup seseorang.

Adat

Adat merupakan pedoman dalam masyarakat yang mengandung nilai-nilai tentang hal yang baik dan hal yang dianggap buruk, nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat tumbuh dan berkembang menyesuaikan diri dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat, menurut Koentjaraningrat (1982;5) menyatakan bahwa: “Adat adalah wujud kebudayaan ideal yang disebut dengan tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat”.

Upacara

Dalam teori W. Robertson Smith dalam Koentjaraningrat (1980:67) mengemukakan tiga gagasan tentang upacara, yang pertama mengenai sosial bahwa disamping keyakinan, sistem upacara juga merupakan suatu perwujudan dari segi religi atau agama yang memerlukan studi dan analisa yang khusus. Kedua, bahwa upacara religi atau agama yang bersangkutan bersama-sama mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat dan mereka menganggap bahwa melakukan upacara adalah suatu kewajiban sosial. Yang ketiga menggambarkan upacara bersaji sebagai suatu upacara yang gembira dan meriah, tetapi juga keramat dan tidak sebagai suatu upacara yang khidmat dan keramat.

 

D. Metode Penelitian Tesis

Dengan demikian maka jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.

Untuk mempermudah dalam proses penelitian, penulis mengadakan wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara.

Wawancara dilakukan kepada inforaman pangkal, informan kunci, dan informan biasa.

Informan pangkal adalah kepala desa yang menunjukkan informan kunci terhadap masalah yang diteliti.

Informan kunci adalah para tokoh adat yang memberikan data tentang adat perkawinan setempat.

Informan biasa adalah warga setempat yang hanya tahu sepintas saja masalah yang diteliti.

Lokasi penelitian sangat penting dalam setiap penelitian karena dari lokasilah seorang peneliti dapat memperoleh data yang diperlukan.

 

E. Kesimpulan Tesis

  1. Suku Pakpak Kelasen terbagi 2, yang pertama nenek moyang yang berasal dari India Selatan yang merupakan suku asli Pakpak Kelasen dan yang pertama sekali tinggal di Kecamatan Parlilitan. Yang kedua berasal dari marga Batak Toba yaitu marga Si Onom Hudon yang menguasai seluruh wilayah Kelasen dan menjadikan wilayahnya dengan nama Si Onom Hudon. Si Onom Hudon dibagi menjadi 6 marga berdasarkan jumlah keturunan dari Simbolon Nahoda Raja. Selanjutnya marga yang beradaptasi yaitu marga Kesogihan, Meka, Mungkur. Inilah marga-marga yang merupakan masyarakat Pakpak Kelasen.
  2. Arti pemberian oles dari pihak berru kepada kula-kula yang mempunyai arti sebagai berikut:
  • Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada kedua orangtua pada masa kecil hingga dewasa yang selalu mencukupi kebutuhan anaknya.
  • Setelah anak dewasa orangtua sudah tua, maka wajib membalas jasa kedua orangtua selama ini dengan memberikn oles dan juga termasuk unsur kula-kula pihak perempuan.
  1. Saat ini suku Pakpak Kelasen di desa Si Onom Hudon Toruan dalam melaksanakan adat pesta perkawinan sudah menggunakan adat Batak Toba walaupun perkawinan itu sesama Pakpak Kelasen. Adat Pakpak sudah semakin ditinggalkan dan sudah jarang digunakan oleh masyarakat Pakpak Kelasen.

 

Contoh Tesis Administrasi Negara

  1. Perkawinan Antarbangsa (Studi Kasus Perkawinan Campur Antara Orang Batak dengan Wisatawan Asing di Samosir)
  2. Pertanggungjawaban Pidana Pimpinan Perusahaan yang Melalukan Tindak Pidana Pencurian Listrik Ditinjau dari UU Ketenagalistrikan
  3. Perubahan Adat Perkawinan pada Masyarakat Pakpak Kelasen
  4. Prosedur Permohonan Pengurusan NPWP Orang Pribadi Pada KPP Pratama Medan Belawan
  5. Rabab (Studi Deskriptif Mengenai Perubahan Kesenian Tradisional Rabab di Daerah Muaralabuh, Sungai Pagu, Solok Selatan, Sumbar)

 

Leave a Reply