HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Administrasi Negara: Perkawinan Antarbangsa (Perkawinan Campur antra Orang Batak)

Judul Tesis: Perkawinan Antarbangsa (Studi Kasus: Perkawinan Campur Antara Orang Batak dengan Wisatawan Asing di Samosir)

 

A. Latar Belakang

Perkawinan juga merupakan media budaya dalam mengatur hubungan antarsesama manusia yang berlainan jenis kelamin. Perkawinan bertujuan untuk mencapai suatu tingkat kehidupan yang lebih dewasa dan pada beberapa kelompok masyarakat kesukuan perkawinan dianggap sebagai alat agar seseorang mendapat status yang lebih diakui di tengah kelompoknya (Koentjaraningrat, 1994:92).

Perkawinan tidak hanya menyatukan dua pribadi yang berbeda, tetapi juga menjadi media yang menyatukan orang tua kedua belah pihak, saudara-saudaranya dan kerabat mereka masing-masing. Parsudi Suparlan (1981:171) mengungkapkan bahwa perkawinan bukan hanya mewujudkan adanya keluarga dan memberikan keabsahan atas status kelahiran anak-anak mereka saja, tetapi juga melibatkan hubungan-hubungan di antara kerabat-kerabat masing-masing pasangan tersebut.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana perkawinan campur menurut adat Batak Toba?
  2. Bagaimana proses perkawinan campur berlangsung?
  3. Bagaimana proses pertemuan dua buah kebudayaan di dalam rumah tangga yang dibentuk?

 

C. Landasan Teori

Keadaan Penduduk

Penduduk Tuktuk Siadong berjumlah 1997 jiwa, di mana mayoritas penduduknya adalah suku Batak Toba. Selain Batak Toba, di kelurahan ini juga terdapat penduduk suku lain tetapi hanya merupakan suku minoritas seperti Jawa dan Nias.

Pola Pemukiman

Pola bermukim yang berpencar tersebut dipengaruhi oleh persaingan sesama penduduk dalam bidang usaha kepariwisataan. Kepemilikan tanah, selain didapatkan dari sistem pewarisan juga didapatkan dari proses transaksi jual beli dengan sesama warga Tuktuk Siadong, atau dengan orang dari luar daerah tersebut.

Perkawinan

Pada masyarakat Batak Toba dimanapun berada, fungsi perkawinan selalu seperti yang diungkapkan sebelumnya yaitu sebagai penentu hak dan kewajiban dalam lingkungan masyarakat dan dalam rangka meneruskan garis keturunan. Tidak kawin atau tidak memiliki keturunan akan mengakibatkan seseorang lepas kedudukannya dari hak dan kewajibannya dalam lingkaran adat-istiadat Batak Toba. Selain sebagai penerus silsilah, sudah diungkapkan sebelumnya bahwa perkawian juga berfungsi sebagai jembatan dalam pelaksanaan adat dalihan na tolu pada masyarakat Batak Toba.

 

D. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif.

Teknik ini dilakukan dengan mengamati dan mencatat segala gejala yang diteliti yang berhubungan dengan pertanyaan penelitian.

Wawancara yang akan dilakukan adalah wawancara mendalam atau depth interview dan wawancara bebas.

Peneliti tiba di lokasi penelitian pada tanggal 5 Februari 2009.

 

E. Kesimpulan

Pola menetap pasangan kawin campur di Kelurahan Tuktuk Siadong tergantung kepada keputusan pasangan tersebut. Kewarganegaraan pasangan yang berasal dari luar negeri tetap menjadi warga negara asing (WNA). Anak-anak hasil perkawinan campur antara laki-laki Batak Toba dengan wanita asing otomatis menjadi warga negara Indonesia karena berdasarkan prinsip ius sanguinis yang dianut oleh negara Indonesia, anak-anak tersebut juga memiliki marga yang diturunkan dari aahnya. Dan anak-anak hasil perkawinan campur antara perempuan Batak Toba dengan laki-laki asing adalah menjadi warga negara asing, anak-anak dari perkawinan ini tidak meneruskan marga yang telah dimiliki ayahnya. Interaksi dengan pasangannya pada perkawinan campuran dipengaruhi oleh budaya masing-masing.

Cara mereka berkomunikasi, memerankan diri, pola konsumsi keluarga, membesarkan anak, mengatur rumah dan keuangan, memperlakukan mertua dan orang tua dilandasi oleh aturan-aturan budaya yang telah disepakati kedua pasangan. Interaksi dengan kerabat dan dengan masyarakat setempat berlangsung dengan baik di mana masyarakat menerima keluarga campuran tersebut sebagai bagian dari keluarga mereka. Penerimaan tersebut dapat dilihat melalui caranya memperlakukan orang yang bukan orang Batak Toba sebagai kerabatnya dengan menyapa mereka dengan istilah-istilah kekerabatan Batak Toba, demikian juga dengan anak-anak hasil perkawinan campur yang disapa dan diperlakukan sama seperti perlakuan kepada anak hasil perkawinan Batak Toba lainnya.

 

Contoh Tesis Administrasi Negara

  1. Perkawinan Antarbangsa (Studi Kasus Perkawinan Campur Antara Orang Batak dengan Wisatawan Asing di Samosir)
  2. Pertanggungjawaban Pidana Pimpinan Perusahaan yang Melalukan Tindak Pidana Pencurian Listrik Ditinjau dari UU Ketenagalistrikan
  3. Perubahan Adat Perkawinan pada Masyarakat Pakpak Kelasen
  4. Prosedur Permohonan Pengurusan NPWP Orang Pribadi Pada KPP Pratama Medan Belawan
  5. Rabab (Studi Deskriptif Mengenai Perubahan Kesenian Tradisional Rabab di Daerah Muaralabuh, Sungai Pagu, Solok Selatan, Sumbar)

Leave a Reply