HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Skripsi Pembelajaran Sastra yang Apresiatif di SMA Surakarta dalam Perspektif Kurikulum

Judul Skripsi : Pembelajaran Sastra yang Apresiatif di SMA Surakarta dalam Perspektif Kurikulum Berbasis Kompetensi: Studi Evaluasi

 

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kerangka berpikir Context, Input, Process, dan Product (selanjutnya disebut CIPP), Product atau capaian dari program, kualitas hasilnya ditentukan oleh Process, yaitu mekanisme pelaksanaan program. Selain itu, kualitas Product juga dipengaruhi oleh kondisi Context, dan bagaimana Input membekali Context agar terjadi kesesuaian antara Process dengan Product (Sutopo, 2003: 3).

Sejalan dengan konsep CIPP itu, dalam penelitian ini yang dimaksud dengan Context, adalah kondisi karakteristik sekolah, guru, siswa dan lingkungan sebagai penunjang pelaksanaan program pembelajaran sastra yang apresiatif; Input, adalah bahan, dan fasilitas yang diperlukan dalam pelaksanaan program pembelajaran sastra yang apresiatif; Process, adalah mekanisme pelaksanaan program pembelajaran sastra yang apresiatif; dan Product, adalah kualitas hasil pelaksanaan program pembelajaran sastra yang apresiatif di sekolah.  Dalam konsep pola berpikir CIPP, Context, Input, Process, dan Product, dipandang saling berkait dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Kondisi hubungan, keberkaitan dan pengaruh di antaranya itulah, yang menjadi fokus perhatian dan pusat kajian dalam penelitian ini.

B. Rumusan Masalah

  1. Berkaitan dengan Context, bagaimana kondisi karakteristik siswa, guru, dan sekolah, dalam mendukung pembelajaran sastra yang apresiatif dalam perspektif kurikulum berbasis kompetensi di SMA Negeri 1, SMA Negeri 8, SMA Al-Islam 1, dan SMA Murni Surakarta?
    • Bagaimana kompetensi akademik, sikap dan minat siswa terhadap sastra?
    • Bagaimana latar belakang pendidikan, pengalaman, status kepegawaian, dan kompetensi guru sastra?
    • Bagaimana fasilitas sarana/ prasarana, kondisi fisik sekolah dan lingkungannya dalam mendukung proses pembelajaran sastra?
  2. Berkaitan dengan Input, bagaimana pengembangan bahan dan fasilitas penunjang pembelajaran sastra yang apresiatif dalam perspektif kurikulum berbasis kompetensi di SMA Negeri 1, SMA Negeri 8, SMA Al-Islam 1, dan SMA Murni Surakarta?
    • Bagaimana pengembangan kurikulum dan silabus pembelajarannya?
    • Bagaimana pengembangan materi pembelajarannya?

C. Tinjauan Pustaka

Pembelajaran Sastra yang Apresiatif di SMA

Kata “sastra” sering terdapat dalam berbagai konteks yang berbeda. Hal itu mengisyaratkan bahwa sastra bukanlah suatu istilah yang dapat digunakan untuk menyebut fenomena yang sederhana dan gamblang, tetapi sastra merupakan istilah yang mempunyai arti luas, dan meliputi kegiatan yang berbeda-beda (Rahmanto, 1988: 10). Menurut Aristoteles (dalam Melani Budianta dkk., 2003: 7), sastra merupakan suatu karya untuk menyampaikan pengetahuan yang memberikan kenikmatan unik dan memperkaya wawasan seseorang tentang kehidupan.

Apresiasi Sastra

Apabila sastra dilihat sebagai sistem tanda karya seni yang pada umumnya bermediakan bahasa, dan hadir untuk dibaca, dinikmati, dan dimanfaatkan, maka pembelajaran sastra seharusnya ditekankan pada apresiasi. Menurut Hornby (dalam Suminto A. Sayuti, 2000: 2), secara leksikal istilah apresiasi (appreciation) mengacu pada pengertian pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan, yang memberikan penilaian.

Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

Pendekatan lain yang disarankan dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Pembelajaran dalam konsep pendekatan tersebut, memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman belajar nyata dalam mencari dan menemukan pengetahuannya melalui inquiry, belajar kooperatif, dan bertukar pengalaman sesama teman.

D. Metodelogi Penelitian

Dilihat dari jenisnya, penelitian ini termasuk dalam studi kualitatif deskriptif, dan berdasarkan tujuannya termasuk penelitian terapan dalam bentuk evaluasi formatif (formative evaluation research). Kota Surakarta memiliki 44 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), yang terdiri atas 2 Madrasah Aliyah Negeri, 4 Madrasah Aliyah Swasta, 30 SMA Swasta, dan 8 SMA Negeri.

Data yang digali dan dikumpulkan dalam penelitian ini sebagian besar berwujud kata-kata, yang diperoleh melalui sumber data sebagai berikut. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling,Teknik yang digunakan meliputi teknik yang bersifat interaktif dan noninteraktif (Goetz LeComte, dalam Sutopo, 2002: 58).

Teknik non interaktif meliputi:

  • analisis dokumen (content analysis), dan kuesioner terbuka (open-ended questionnaire),
  • sedangkan teknik interaktifnya meliputi: wawancara mendalam (in-depth interviewing), observasi berperan (participant observation).

E. Simpulan

Konsep pembelajaran sastra yang apresiatif di SMA dalam perspektif kurikulum berbasis kompetensi adalah pembelajaran sastra yang dilaksanakan dalam suasana yang responsif dan kolaboratif, yang bertujuan untuk mempersiapkan siswa menguasai kompetensi sastra, meliputi kompetensi apresiasi, ekspresi, dan kreasi. Pembelajaran sastra tersebut dapat dilaksanakan melalui kegiatan menyimak atau membaca karya sastra dengan penghayatan yang sungguh-sungguh, agar siswa mampu menikmati keindahannya sehingga tumbuh penghargaan dan pikiran kritisnya terhadap karya sastra yang diapresiasinya.

Adapun tujuan pembelajaran sastra yang apresiatif adalah untuk mengembangkan wawasan pengetahuan dan kepekaan perasaan siswa terhadap diri dan lingkungannya.  Melalui pembelajaran sastra yang apresiatif diharapkan dapat ditumbuhkan rasa cinta siswa terhadap sastra, sehingga siswa sampai pada kesadarannya yang lebih baik terhadap diri dan masyarakat sekitarnya. Melalui pembelajaran sastra juga diharapkan dapat ditumbuhkan kepekaan dan kearifan siswa dalam menghadapi lingkungan, realitas kehidupan, dan sikap pendewasaan. Lebih dari itu, pembelajaran sastra yang apresiatif juga diharapkan dapat membantu siswa tumbuh menjadi manusia dewasa yang mampu berpikir global namun tetap bertindak dengan karakteristik dan potensi lokal (think globally but act locally). Hal itu merupakan ciri dari manusia yang berbudaya, mandiri, cerdas, berwawasan pengetahuan luas, berpikiran kritis, dan berkarakter, serta sanggup untuk mengekspresikan dirinya melalui pikiran dan perasaannya.

Leave a Reply