HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Kemiskinan: Agama dan Kemiskinan dlm Konteks Masyarakat Kepulauan

Judul Tesis : “Agama dan Kemiskinan dalam Konteks Masyarakat Kepulauan” (Studi tentang Kebudayaan Kemiskinan dan Peran Etika Protestantisme di Tanimbar Utara)

 

A. Latar Belakang

Di Indonesia konsep penduduk miskin secara populer dan formal senantiasa mengacu pada kriteria Badan Pusat Statistik – BPS, yaitu mereka yang miskin pangan, sandang, papan, kesehatan, pola hidup, dan tiadanya tabungan. Terdapat paling kurang 9 dari 14 items kriteria yang harus dipenuhi seseorang atau suatu keluarga sehingga dapat dimasukan ke dalam kategori penduduk miskin. Di samping rujukan yang bersifat fisik ekonomi tersebut, kini berkembang juga wacana tentang kemiskinan secara moral-rohani terkait dengan kemiskinan moral, kemiskinan kepedulian dan kemiskinan hati nurani.

Kalau kemiskinan fisik-ekonomi cenderung tumbuh dan menjalar dari bawah, kemiskinan moral-rohani cenderung mewabah dari bawah dan dari atas. Konvergensi dan kumulasi kemiskinan dua arah tersebut makin memperparah keadaan. Sinergi kemiskinan kuantitatif dari bawah dan kemiskinan kualitatif dari atas akan melahirkan sintesa sosial bersama bahwa kita rentan mengalami kemiskinan yang berlarut-larut. Sesuatu realitas empirik yang tentu sangat bertentangan dengan cita-cita bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju, berketuhanan, beradab, bersatu, demokratis dan berkeadilan.

 

B. Rumusan Masalah

Apakah agama-agama sendiri mesti ditolong untuk keluar dari belenggu paradigma teologinya, yang membuatnya gagal merespon tuntutan perubahan konstruk sosial, budaya kemiskinan dan kemanusiaan?

 

C. Kerangka Konsep

Dialektika Sudut Pandang Kemiskinan

Konsep dasar Agama dan Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang berkembang dalam sejarah masyarakat. Fenomena kemiskinan sendiri bergerak secara dinamis dalam dimensi waktu dan ruang interaksi suatu kelompok masyarakat serta membentuk pemahaman, kesadaran serta perilaku individu, keluarga dalam sebuah komunitas lintas generasi. Ia seolah-olah menjadi penyakit sosial yang sulit didiagnosa atau diagnosa terhadapnya sercara berulang kali malah menimbulkan persoalan baru. Sering kali kesalahan mendiagnosa itu, menyebabkan ’mal praktek’, yang berdampak pada kondisi kronis bagi si penderita, tanpa mempertanyakan apa sesungguhnya yang dirasakan oleh penderita itu sendiri. Kemiskinan juga mesti dapat dibedah dari sudut pandang masyarakat miskin, sebab tanpa mengetahui apa yang dipahami oleh mereka, apa yang mereka rasakan, akan sulit bagi seorang peneliti untuk memahami realitas empirik dari masyarakat miskin dengan sendirinya.

Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan

Pada awalnya faktor penyebab kemiskinan dipandang sebagai persoalan independen yang lebih banyak dipengaruhi oleh sikap individual, aspek budaya, dan pada batas tertentu juga dianggap sebagai ketidakberuntungan seseorang. Sejalan dengan perkembangan pemahaman atas sifat multi-dimensi kemiskinan, para ahli ilmu sosia telah mengkaji kompleksitas kemiskinan dan menghasilkan berbagai teori untuk menerangkan mengapa kemiskinan terus terjadi. Hasilnya antara lain menunjukan bahwa kemiskinan adalah persoalan kolektif dan struktural akibat dari konstruksi ekonomi, sosial dan politik yang berekembang atau sengaja dikembangkan pada komunitas masyarakat yang bersangkutan.

Etika Protestan terhadap Rekonstruksi Sosial dan Kultural

Persoalan utama dalam The Protestant Ethic adalah bagaimana kontribusi tindakan keagamaan terhadap rekonstruksi tindakan sosial dan kultural berbasis ekonomi. Inilah pentingnya memahami subjective meaning seperti yang dimaksudkan Weber. Dalam The Protestant Ethic, Weber dengan jelas menekankan bahwa etika dan pemikiran puritan yang berbasis pada perubahan warga gereja mempengaruhi perkembangan sosial dan kultural kapitalisme. Ini nampak dalam varian-varian pada empat sekte Protestantisme yang asketis.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB).

Data yang tersaji dalam penelitian ini diperoleh dengan menempuh cara-cara dan strategi yang lazim dianjurkan untuk jenis penelitian kualitatif. Mengingat keterbatasan dana, waktu dan jarak lokasi penelitian yang sulit di jangkau, maka penelitian lapangan dilakukan selama dua bulan.

 

E. Kesimpulan Tesis

  1. Mekanisme solidaritas dalam sistem mela yang kemudian diartikan sejajar dengan sistem TBT, memainkan fungsi yang sinergis dalam konstruk sosial masyarakat di Tanimbar Utara. Sebelum masuknya kolonialisme Belanda di mana eksistensi TBT, mengalami pereduksian nilai dan perannya, sebetulnya TBT telah lama diperani oleh masyarakat Maluku secara umum dengan penamaan yang berbeda-beda. Baru setelah masuknya Kekristenan yang dibawa oleh Belanda, barulah stuktur TBT dipahami dalam peran Gereja, Pemerintah Desa/negeri dan Pendidikan/Guru.
  2. Dalam kaitan dengan peran strategis TBT, studi ini mempertimbangkan perlunya mengaktifkan kembali peran kultural TBT yang selama ini cenderung berlaku formalistis. Sesuatu yang dianggap tradisional dan berkaitan dengan kultus penyembahan baal, oleh rasionalitas dan filsafat Barat, mesti dikritisi kembali. Bahwa rasionalitas Barat dalam sejarahnya telah menjungki balikan tatanan masyarakat adat, kini mendapat arena pengkritisan yang tepat. Rasionalitas semacam itu pula yang turut mengkonstruksi realitas kategori masyarakat miskin di suatu wilayah, padahal masyarakat itu sendiri dalam kenyataannya menikmati dan menjalani hidupnya dalam solidaritas yang kukuh.
  3. Peran gereja dalam formasi TBT juga dapat dilihat pada bagaimana mensinergikan hubungan yang ada dalam pranata kebudayaan tersebut untuk, membangun sinergitas mengatasi persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. TBT sebagai mekanisme kontrol sosial kemudian menjadi penting untuk diberdayakan secara berkelanjutan. Fungsi pemberdayaan masyarakat adat adalah fungsi dan tanggujawab dari negara, karena itu negara ~ dalam hal ini jajaran pemerintah daerahnya ~ mesti memberi bobot perhatian penting bagi penguatan istitutsi TBT dimaksud.

 

Contoh Tesis Kemiskinan

  1. Agama dan Kemiskinan dalam Konteks Masyarakat Kepulauan- Studi Tentang Kebudayaan Kemiskinan dan Perane Etika Protestantisme di Tanimbar Utara, Maluku
  2. Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketidakmerataan Pendapatan dan Kemiskinan di Jawa Timur
  3. Analisis Dinamik Antara Tingkat Inflasi dan Kesejahteraan Petani Terhadap Penurunan Kemiskinan Pedesaan di Indonesia
  4. Analisa Keterkaitan Pertumbuhan Ekonomi, Ketimpangan Pendapatan dan Pengurangan Kemiskinan – Studi Pro Poor Growth di Provinsi Kalimantan Tengah

 

Incoming search terms:

Leave a Reply