HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Akutansi: Analisis Penggunaan Z-Score Altman utk Menilai Potensi Kebangkrutan

Judul Tesis: Analisis Penggunaan Z-Score Altman Untuk Menilai Potensi Kebangkrutan Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta Periode 1995-2002

 

A. Latar Belakang

Kinerja perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta (BEJ) akibat adanya krisis banyak mengalami penurunan dan dikhawatirkan akan banyak yang mengalami kebangkrutan di masa yang akan datang. Melemahnya kinerja perusahaan publik pada waktu krisis disebabkan banyak faktor. Di sini dapat disebutkan paling tidak dua faktor diantaranya: Pertama, produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan publik banyak menggunakan bahan yang memiliki kandungan impor (import content) tinggi. Kedua, sebagian besar perusahaan publik di BEJ mempunyai utang luar negeri dalam bentuk valuta asing (Setyorini dan Halim 2002).

Kebangkrutan suatu perusahaan dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan, dengan cara menganalisis laporan keuangan. Analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan serta hasil-hasil yang telah dicapai sehubungan dengan pemilihan strategi perusahaan yang akan diterapkan. Dengan melakukan analisis laporan keuangan perusahaan, maka pimpinan perusahaan dapat mengetahui keadaan serta perkembangan finansial perusahaan serta hasilhasil yang telah dicapai pada waktu lampau dan di waktu yang sedang berjalan. Selain itu, dengan melakukan analisis keuangan di waktu lampau, maka dapat diketahui kelemahan-kelemahan perusahaan serta hasil-hasilnya yang dianggap telah cukup baik, dan mengetahui potensi kebangkrutan perusahaan tersebut (Adnan dan Kurniasih, 2000).

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah menganalisis potensi kebangkrutan pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta pada saat sebelum krisis, semasa krisis, dan setelah krisis?
  2. Bagaimanakah mengklasifikasikan perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta yang diprediksi tergolong dalam perusahaan yang mengalami kebangkrutan dan tidak bangkrut pada saat sebelum krisis, semasa krisis, dan setelah krisis?
  3. Apakah terdapat perbedaan potensi kebangkrutan perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta pada saat sebelum krisis, semasa krisis, dan setelah krisis?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Kebangkrutan

Kebangkrutan adalah kesulitan likuiditas yang sangat parah sehingga perusahaan tidak mampu menjalankan operasi dengan baik. Kebangkrutan biasanya diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba. Kebangkrutan juga sering disebut likuidasi perusahaan atau penutupan perusahaan atau insolvabilitas. Kebangkrutan sebagai kegagalan didefinisikan dalam beberapa arti (Martin.et al dalam Adnan dan Kurniasih, 2000).

Analisis Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah merupakan output dan hasil akhir dari proses akuntansi. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan. Disamping sebagai informasi, laporan keuangan juga sebagai pertanggungjawaban atau accountability. Dan juga menggambarkan indikator kesuksesan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya (Baridwan, 1997).

Mendeteksi Kebangkrutan dengan Metode Altman

Analisis Z-Score Altman, penerapan analisis rasio masih terbatas karena dilakukan secara terpisah, artinya setiap rasio diuji secara terpisah. Untuk mengatasi keterbatasan analisa rasio tersebut, Altman telah mengkombinasikan beberapa rasio menjadi model prediksi dengan teknik statistik yaitu analisis diskriminan yang digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan istilah yang sangat terkenal yang disebut Z-Score.

 

D. Metode Penelitian

Desain penelitian ini adalah studi empiris.

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive.

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder.

 

E. Kesimpulan

  1. Hasil pengujian hipotesis pertama dengan menggunakan uji one way anova, menunjukkan bahwa F hitung (2,872) < F tabel (3,10) atau probabilitas kesalahan (0,062) > 0,05 maka Ha ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan potensi kebangkrutan perusahaan manufaktur pada saat sebelum krisis, semasa krisis dan setelah krisis ekonomi.
  2. Pengujian hipotesis II dengan menggunakan independent samples t-test, oleh karena t hitung (3,081) > t tabel (2,048) atau probabilitas kesalahan (0,005) < 0,05 maka Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan potensi kebangkrutan antara perusahaan manufaktur berukuran besar dan kecil pada saat sebelum krisis.
  3. Pengujian hipotesis III dengan menggunakan independent samples t-test, oleh karena t hitung (2,686) > t tabel (2,048) atau probabilitas kesalahan (0,012) < 0,05 maka Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan potensi kebangkrutan antara perusahaan manufaktur berukuran besar dan kecil pada masa krisis.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Penyaluran Modal Kredit pada Lembaga Keuangan Pasar Dinas
  2. Analisis Kelayakan Peremajaan Armada Bus
  3. Profil Produk Simpanan – Pinjaman Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Baitul Maal WA
  4. Evaluasi Sistem Pemberian Kredit dari Dana Program Pengembangan Kecamaran (PPK)
  5. Analisis Penggunaan Z-Score Altman untuk Menilai Potensi Kebangkrutan Perusahaan

 

Leave a Reply