HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Suplementasi Fe dibandingkan Suplementasi Fe + Riboflavin terhadap Kadar Ferritin

Judul Skripsi : Pengaruh Pemberian Suplementasi Fe dibandingkan Suplementasi Fe + Riboflavin terhadap Kadar Ferritin pada Anak Usia 2-5 Tahun dengan Status Gizi Kurang di Kelurahan Semanggi Kota Surakarta

 

A. Latar Belakang

Ada banyak cara untuk mencegah defisiensi salah satu atau lebih dari satu mikronutrien yang dibutuhkan oleh tubuh. Dengan metode diversifikasi pangan, fortifikasi dan suplementasi bisa digunakan untuk mencegah defisiensi mikronutrien tersebut. Diversifikasi pangan merupakan pencegahan defisiensi zat gizi melalui pendekatan berbasis pangan misalnya dengan pembuatan kebun keluarga. Fortifikasi lebih banyak diberikan pada orang yang lebih dewasa, dimana fortifikasi ini dilakukan dengan memberikan tambahan mikronutrien melalui bahan makanan atau memodifikasi bahan makanan tersebut. Sedangkan suplementasi lebih banyak diberikan dalam bentuk tertentu (sirup, kapsul, dll) dan tidak ditambahkan dalam bahan makanan tertentu (Almatsier, 2006), (Gibney et al. 2009).

Suplementasi yang telah menjadi program pemerintah baru pada pencegahan defisiensi vitamin A dengan pemberian kapsul vitamin A dosis 200.000 IU setiap bulan Februari dan Agustus. Untuk suplementasi mikronutrien yang lain seperti zat besi/Fe belum diterapkan. Begitu pula dengan suplementasi riboflavin.

 

B. Rumusan Masalah

Apakah penambahan riboflavin pada suplementasi Fe dapat meningkatkan kadar ferritin pada anak usia 2-5 tahun dengan status gizi kurang di Kelurahan Semanggi Kota Surakarta dibandingkan dengan suplementasi Fe saja?

 

C. Tinjauan Pustaka

Zat Besi/Fe Sebagai Mikronutrien

Besi/Fe adalah mikronutrien yang paling banyak terdapat didalam tubuh. Dikatakan sebagai mikronutrien karena kebutuhan akan zat tersebut sebagai nutrisi tubuh sangat kecil (dalam ukuran mikro). Orang dewasa mengandung zat besi antara 2,5 – 4 g dimana 2,0-2,5 g terdapat dalam sirkulasi yaitu dalam sel darah merah sebagai komponen Hb. Dalam jumlah sedikit erat hubungannya dengan beberapa enzim terutama heme yang mengandung sitokrom dan dalam kompleks Fe-S-protein dalam transport elektron dan oksidasi fosforilasi dalam sel. Dalam jumlah yang lebih besar didapatkan dalam bentuk mioglobin dan dalam jumlah yang sangat bervariasi disimpan dalam bentuk ferritin. Ferritin merupakan suatu protein multi sub unit yang didapatkan dalam semua sel terutama dalam hati, limpa dan sumsum tulang (Almatsier, 2006).

 

Suplementasi Besi

Mengingat tingginya angka kejadian anemia defisiensi besi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, maka sangat dibutuhkan perhatian mengenai penanganan dan pencegahannya. Ada banyak cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah defisiensi besi diantaranya dengan pemberian suplementasi besi. Pemberian suplementasi ini bisa dalam bentuk padat (tablet) atau cair (sirup). Pemberian suplementasi dapat tunggal atau digabungkan dengan mineral atau vitamin lainnya. Suplementasi diberikan dengan sasaran kelompok resiko tinggi anemia defsisiensi besi, seperti pada ibu hamil,dan anak-anak usia 2-5 tahun .

 

Ferritin Serum

Serum ferritin merupakan suatu parameter yang terpercaya dan sensitif untuk menentukan cadangan besi dalam tubuh. Rendahnya serum ferritin menunjukkan pertanda dini kekurangan zat besi didalam tubuh. Sehingga pengukuran serum ferritin dapat dipakai sebagai deteksi dini. Pengukuran serum ferritin merupakan pengukuran secara tidak langsung untuk menilai cadangan besi, tidak mahal, tidak infasif dan dapat diterima oleh pasien (Lee, 1999).

 

Riboflavin

Disebut juga sebagai vitamin B2 merupakan vitamin yang larut dalam air. Berdasarkan sejarahnya ditemukan sebagai pigmen kuning kehijauan yang bersifat fluorescen (mengeluarkan cahaya) dalam susu pada tahun 1879 dan fungsi biologiknya baru ditemukan pada tahun 1932 (Almatsier, 2006).

Status Gizi

Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun subyektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang telah tersedia (Arisman,2010). Penilaian status gizi seseorang dapat dibedakan secara langsung atau secara tidak langsung.

 

D. Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan studi eksperimental dengan metode RCT (Randomized Control Trial) dengan double blind (Murti, 2009).

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Semanggi Kota Surakarta dan dilaksanakan pada bulan Februari – Juni 2010. Pemeriksaan kadar Ferritin dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik RSUD Dr.Moewardi Surakarta.

Pada penelitian ini menggunakan 2 macam sumber data yaitu data primer,merupakan hasil observasi dan pengukuran di lapangan dan data sekunder yang merupakan data balita yang telah dilakukan penimbangan di posyandu.

Populasi pada penelitian ini adalah anak usia 2-5 tahun yang berdomisili di Kelurahan Semanggi Kota Surakarta. Subyek penelitian ini adalah anak usia 2-5 tahun dengan status gizi kurang dan diambil secara acak sederhana (simple random sampling).

Lokasi tersebarnya sampel pada penelitian ini adalah 17 RW di Kelurahan Semanggi . Dari total 23 RW di kelurahan Semanggi terdapat 5 RW yang tidak masuk dalam pengambilan sampel yaitu RW 4,5,6,7,11 dan 23.

 

E. Simpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh penambahan riboflavin pada suplementasi Fe/besi terhadap kadar ferritin pada anak usia 2-5 tahun dengan status gizi kurang.

Leave a Reply