HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Pengaruh Pemberian Seduhan Kelopak Rosela (Hibiscus sabdariffa) Terhadap Kadar Trigliserida Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus)

ABSTRAK

Berbagai penelitian di dunia telah membuktikan bahwa ekstrak kelopak rosela (Hibiscus sabdariffa) dapat menurunkan kadar trigliserida darah, sedangkan yang berkembang dalam masyarakat Indonesia adalah konsumsi kelopak rosela dengan cara diseduh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya efek seduhan kelopak rosela (Hibiscus sabdariffa) dalam mencegah peningkatan kadar trigliserida darah tikus putih (Rattus norvegicus). Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan desain Randomized Controlled Trial (RCT) yaitu pre test and post test controlled group design, dilakukan di Laboratorium Biokimia Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Subjek penelitian adalah tikus putih jantan (Rattus norvegicus) sebanyak 30 ekor, strain Wistar, umur 3 bulan, berat badan kurang lebih 200 gram. Tikus-tikus dibagi menjadi 3 kelompok secara random, masing-masing kelompok terdiri 10 ekor tikus. Semua kelompok diberi pakan tinggi kolesterol. Kelompok I sebagai kontrol, sedangkan kelompok II dan kelompok III diberi seduhan kelopak rosela dengan dosis 36mg/200gram BB/hari dan 54mg/200gram BB/hari. Semua tikus diperiksa kadar trigliserida darahnya setelah masa perlakuan selama 28 hari kemudian hasilnya dianalisa menggunakan uji ANOVA dan uji t berpasangan.

Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa seduhan kelopak rosela (Hibiscus sabdariffa) dapat mencegah peningkatan kadar trigliserida darah tikus putih (Rattus norvegicus) secara signifikan (p0,005).

Kata kunci : Seduhan kelopak rosela (Hibiscus sabdariffa) – Trigliserida – Rattus norvegicus

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Penyakit kardiovaskuler telah menjadi penyebab kematian utama penduduk dunia pada beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data, penyakit jantung koroner dan stroke merupakan penyebab kematian terbesar 7,2 juta jiwa dan 5,5 juta jiwa (Yogiarto, 2008). Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) memprediksi bahwa penyakit jantung akan menjadi penyebab utama kematian di negaranegara Asia pada tahun 2010 (Himapid, 2008). Perubahan pola dan gaya hidup merupakan faktor resiko penyakit jantung (Setianto cit Arief, 2007). Masyarakat di perkotaan terbukti cenderung memiliki pola makan tinggi lemak jenuh (Suriawiria, 2008). Pola kehidupan manusia di zaman modern yang cenderung serba enak dan hedonis serta aktivitas gerak yang serba minimalis, dapat meningkatkan kadar kolesterol, Low Density Lipoprotein (LDL) dan trigliserida darah (Hasan, 2008).

Kadar kolesterol serum dan trigliserida yang tinggi dapat menyebabkan pembentukan arteriosklerosis. Kolesterol dan trigliserida di dalam darah terbungkus di dalam protein pengangkut lemak yang disebut lipoprotein. LDL dan very low density lipoprotein(VLDL) membawa lemak ke sel tubuh, termasuk sel endotel arteri, oksidasi kolesterol dan trigliserida menyebabkan pembentukan radikal bebas yang diketahui merusak sel-sel endotel(Santoso dan Setiawan, 2005). Kadar trigliserida di atas 200 mg/dl perlu diwaspadai dan perlu dikendalikan(Adiputro, 2008). Peningkatan kadar trigliserida darah sebanyak 1,0 mmol/L dapat meningkat risiko penyakit jantung iskemik sebesar 14%(Jeppesen, 1998). Keadaan dimana kadar trigliserida dalam darah lebih tinggi daripada batas normal disebut hipertrigliseridemia(Widiharto, 2008). Untuk menurunkan kadar trigliserida dalam darah dapat dilakukan terapi farmakologis maupun terapi non farmakologis (Anwar, 2004). Obat-obatan penurun kadar trigliserida memiliki berbagai efek samping, seperti flushing, hiperglikemia, hiperurisemia, hepatotoksik, miopati, dll(U.S. Departement of Health and Human Services, 2001). Oleh karena itu, masyarakat mulai mencari berbagai obat-obat alternatif. Masyarakat mulai menggunakan bahan-bahan alami, salah satunya adalah rosela (Kristiana dan Herti, 2008).

Di Indonesia, minuman berbahan rosela mulai banyak dikenal sebagai minuman kesehatan (Kristiana dan Herti, 2008). Misalnya, kelopak bunga rosela bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk seduhan, seperti teh(Senior, 2007). Berbagai penelitian tentang khasiat rosela telah dilakukan. Di Thailand, diperiksa efek hipolipidemik dan antioksidan dari Hibiscus sabdariffa (rosela) terhadap tikus yang dibuat hiperkolesterolemi. Pemberian ekstrak kelopak kering rosela dengan dosis 500mg/kgBB dan 1000mg/kgBB terhadap tikus hiperkolesterolemi selama 6 minggu menurunkan kadar kolesterol serum sebesar 22% dan 26% (p<0,001); penurunan kadar trigliserida serum sebesar 33% dan 28% (p<0,005); penurunan kadar LDL serum sebesar 22% dan 32% (p<0,05), sedangkan kadar High Density Lipoprotein (HDL) serum tidak terpengaruh(Hirunpanich, 2005). Pada penelitian yang dilakukan di Veracruz, tikus Sprague-Dawley diberi makan dengan diet normal, makanan tinggi kolesterol (1%), cholic acid (0,25%), lard oil (10%), dengan suplemen ekstrak Hibiscus sabdariffa dengan kadar 5%, 10%, dan 15% selama 4 minggu. Hasilnya, kadar kolesterol, LDL, dan trigliserida serum tikus lebih rendah pada tikus yang diberi ekstrak Hibiscus sabdariffa dibandingkan tikus pada kelompok kontrol. Penambahan ekstrak Hibiscus sabdariffa 5% merupakan kadar ekstrak yang paling baik dalam menurunkan lipid serum(Zarrabal et al., 2005).

Di rumah sakit Chung Shan Medical University di Taichung, Taiwan, 42 orang dibagi menjadi 3 kelompok dan diberi kapsul ekstrak Hibiscus sabdariffa dengan dosis 1500 mg/hari (kelompok 1), 3000 mg/hari (kelompok 2), dan 4500 mg/hari (kelompok 3) selama 4 minggu. Pada kelompok 1 dan 2 terjadi penurunan kadar kolesterol yang signifikan, sedangkan pada kelompok 3 tidak.  osis ekstrak Hibiscus sabdariffa yang paling optimal dalam menurunkan kadar kolesterol serum adalah 3000 mg/hari(Lin TL et al., 2007) Berbagai penelitian tentang khasiat ekstrak rosela telah dilakukan. Namun pada kenyataan, masyarakat lebih sering menggunakan rosela dengan cara diseduh karena rosela tersedia di pasar dalam bentuk kelopak kering dan harga pembuatan ekstrak rosela yang cukup tinggi. Oleh sebab itu, peneliti ingin membuktikan ada tidaknya pengaruh pemberian seduhan rosela (Hibiscus sabdariffa) secara oral terhadap kadar trigliserida serum tikus putih yang dibuat hiperkolesterolemik.

Leave a Reply