HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Studi Tentang Keris Karya Suyanto (Kajian Tentang Estetika dan Proses Pembuatan)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keris merupakan benda seni dengan teknologi metalurgi tinggi yang rumit, penuh dengan sentuhan artistik serta karya yang bermutu seni yang mempunyai nilai estetika tinggi. Tidak semua orang bisa meniru dalam hal pembuatan, atau mewarisinya karena pada tiap jaman mempunyai teknik pembuatan tertentu disertai campuran bahan baku baik besi, baja, dan pamor, yang sampai sekarang masih diselimuti rahasia. Kecuali masih ada hubungan keturunan maupun keahlian dalam membuat keris ataupun memecahkan sendiri rahasia yang terkandung didalamnya melalui eksperimen pembuatan keris. Membuat keris tidaklah mudah untuk menghasilkan keris yang bermutu seni tinggi dan mempunyai nilai estetika tinggi diperlukan ritual-ritual khusus seperti menjalani laku tapa dan macam-macam latihan rohani kejawen.  Selain itu membuat keris tradisional atau klasik yang sesuai dengan pribadi pemesan dan punya “isi” perlu waktu yang lama, setahun mungkin hanya bisa membuat 2-3 keris dengan biaya mahal.

Ada kriteria tertentu untuk mendapatkan keris klasik atau tradisional, kriteria yang harus dipenuhi, antara lain wutuh, sepuh dan tangguh. Yang dimaksud dari kriteria tersebut adalah kondisi keris harus terlihat wutuh dengan tidak ada cacatnya, baik itu bilah, pola pamor besi, baja dan kelengkapan berupa warangka, ukiran maupun pendoknya. Dari masing-masing komponen tersebut seandainya ada salah satu yang cacat maka keris itu sudah kurang sempurna. Sedangkan yang dimaksud dengan sepuh adalah keris itu betul-betul tua usianya. Hal ini perlu diperhatikan, sebab proses kimiawi bisa merubah keris buatan manusia kini seolah-olah menjadi keris tua. Kemudian yang dimaksud tangguh adalah keris itu harus jelas asal-usulnya.

Sumber dari mana keris dan asal mulanya tidak jelas. Moebirman (dalam Clarijs, AD., 1993:15) menyatakan bahwa “Nama itu terjadi dari Ke dan Iris, maksudnya adalah sebuah alat untuk mengiris”. Senjata ini pada umumnya adalah sebuah alat dengan pengertian yang mendalam, hampir condong bersifat mistis. Di seluruh kepulauan Indonesia keris sangat terkenal. Di masa lalu dapat dilihat pada peninggalan purbakala, maupun pada relief di candi. Di situ banyak fragmen yang memperlihatkan berbagai persenjataan berupa panah, pedang, gada, maupun tombak, namun bila kita simak tentang keris, belum terlihat relief candi tersebut, keris baru ada di relief candi Sukuh. Di situ terdapat fragmen tentang pembuatan keris, ini merupakan petunjuk bahwa keris telah ada di masa itu.

Kekayaan budaya bangsa Indonesia sangat sulit ditelusuri kembali, mengingat bahwa keris juga merupakan benda budaya yang tersebar di daerahdaerah diantaranya Madura, Bali, Makasar, Aceh, Bugis, Minangkabau, Palembang, dan Kalimantan Utara. Masing-masing daerah mempunyai ciri maupun kekhasan tersendiri sehingga terlihat betapa beragamnya bentuk keris di wilayah Nusantara. Keris merupakan suatu hasil karya seni yang mempunyai nilai estetika yang sangat tinggi. Sejalan dengan perkembangan kebudayaan dan sistem kehidupan sosial, maka fungsi keris di dalam masyarakat Jawa mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan kemajuan jaman serta tuntutan masyarakat pendukung budaya keris. Perubahan tersebut terlihat misalnya keris yang mulanya sebagai senjata tikam kemudian dapat dipakai sebagai media ekspresi bagi pembuatnya. Kemudian karena pembuatannya banyak mengandung kerahasiaan dianggap menjadi barang keramat yang selalu dipuja maupun dihormati. Keris juga berfungsi sebagai lambang atau status sosial di masyarakat, sebagai pelengkap busana tradisional Jawa dan juga digunakan sebagai tanda jasa dan kepangkatan tertentu. Sekarang banyak kolektor benda seni yang sangat menyukai keris sebagai benda koleksi dan terkadang sebagai benda pusaka, akan tetapi harganya sangat mahal, karena memang sulit membuatnya dan harus memerlukan keahlian khusus. Maka dari itu berbagai upaya harus kita tempuh agar seni keris terhindar dari kepunahan.

Surakarta yang terkenal sebagai kota budaya dan cukup banyak pembuat keris sangat disayangkan apabila tidak bisa mempertahankan seni kerajinan tradisional keris sebagai aset budaya keris sangat langka keberadaannya. Suyanto merupakan salah satu sosok pecinta dan pelestari budaya Jawa khususnya dalam bidang kerajinan keris. Beliau sangat peduli terhadap nilai-nilai budaya Jawa yang sudah terkenal adi luhung sehingga menggugah nuraninya untuk menekuni kerajinan tradisional keris. Berkat ketekunannya hasil karya Suyanto dapat menerobos ke luar daerah, sehingga mampu meningkatkan sektor perekonomian masyarakat setempat dan peluang kesempatan kerja. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang proses pembuatan keris dan estetika pada bilah keris yang terdapat di Bibis Kulon Rt 02 Rw 17 Kelurahan Gilingan Kecamatan Banjarsari Surakarta.

Incoming search terms:

Leave a Reply