HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Skripsi Ekonomi: Kondisi Keuangan, Pertumbuhan, dan Opini Audit Perusahaan trhdp Opini AGC

Judul Skripsi : Pengaruh Kondisi Keuangan Perusahaan, Pertumbuhan Perusahaan, dan Opini Audit Tahun Sebelumnya terhadap Opini Audit Going Concern

 

A. Latar Belakang

Kegagalan auditor dalam memodifikasi opini terhadap perusahaan yang mengalami kebangkrutan adalah suatu kasus dimana suatu perusahaan yang mengalami kebangkrutan tidak menerima opini dengan pengecualian. Kasus seperti ini sangat menarik perhatian publik dan para peneliti. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Menon dan Schwartz tahun 1986 bahwa kurang dari 50% perusahaan yang mengalami kebangkrutan menerima opini dengan going concern opinion dari auditor untuk laporan keuangan terakhir sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari perusahaan yang berpotensi bangkrut menerima opini non going concern.

Para auditor disyaratkan untuk memodifikasi laporan audit untuk ketidakpastian-ketidakpastian yang mungkin mempengaruhi kemampuan klien untuk melanjutkan kelangsungan usahanya. Auditor harus mengungkap ketidakpastian yang demikian di dalam alinea penjelas mengiuti alinea opini. Selanjutnya, dalam SAS Nomor 59 auditor disyaratkan untuk mengevaluasi prospek dimana suatu klien akan mampu untuk melanjutkan keberadaannya untuk periode waktu yang layak sebagai bagian dari setiap keterlibatan.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini difokuskan pada permasalahan mengenai apakah kondisi keuangan perusahaan, pertumbuhan perusahaan, dan opini audit tahun sebelumnya mempengaruhi kemungkinan penerimaan opini audit going concern (GCAO) ?

 

C. Landasan Teori

Opini Audit

Opini audit tersebut dinyatakan dalam paragraf pendapat dalam laporan audit. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan. Laporan keuangan yang dimaksud dalam standar pelaporan tersebut adalah meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan semua catatan kaki serta penjelasan dan tambahan informasi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dalam penyajian laporan keuangan. Oleh karena itu, dalam standar pelaporan yang ketiga tersebut diatas, auditor diharuskan menyampaikan kepada pemakai laporannya mengenai informasi penting yang menurut auditor perlu diungkapkan.

Going Concern

Going concern menurut Belkaoi (1997 : 135) adalah suatu dalil yang menyatakan bahwa kesatuan usaha akan menjalankan terus operasinya dalam jangka waktu yang cukup lama untuk mewujudkan proyeknya, tanggung jawab serta aktivitas-aktivitasnya yang tidak berhenti. Dalil ini memberi gambaran bahwa suatu entitas akan diharapkan untuk beroperasi dalam jangka waktu yang tidak terbatas atau tidak diarahkan menuju ke arah likuidasi. Diperlukannya suatu operasi yang berlanjut dan berkesinambungan untuk menciptakan suatu konsekuensi bahwa laporan keuangan yang terbit di suatu periode mempunyai sifat sementara sebab masih merupakan satu rangkaian laporan keuangan yang berkelanjutan.

 

Tanggung Jawab Auditor terhadap Going Concern

Seorang auditor harus memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan usaha (going concern) perusahaan, yaitu dengan membuat keputusan etis tentang laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen perusahaan. Keputusan etis (ethical decision) adalah sebuah keputusan yang baik secara legal maupun moral dapat diterima oleh masyarakat luas (Trevini, 1986, Jones, 1991). Faktor-faktor yang dapat dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan etis seorang akuntan ketika menghadapi dilemma etika adalah:

  • Pengalaman Kerja Audior
  • Komitmen Profesional
  • Orientasi Etika
  • Nilai Etika Organisasi

 

D. Metode Penelitian

Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2005 dan 2006 yaitu sebanyak 147.

Sampel penelitian berjumlah 40 perusahaan yang dipilih dengan metode purposive sampling.

Dengan periode pengamatan 2 tahun, data dikumpulkan dengan metode content analysis dan metode dokumentasi.

Data sekunder yang diperoleh dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) tersebut kemudian diolah dengan menggunakan alat analisis Regresi Logistik.

 

E. Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil pengujian terhadap 80 perusahaan sampel, dimana 38 perusahaan menerima opini going concern dan sisanya 42 perusahaan menerima opini non going concern. Hasil penelitian dengan menggunakan regresi logistik menunjukkan bukti empiris bahwa variabel kondisi keuangan perusahaan berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini going concern dengan nilai koefisien negatif sebesar 1.391 pada tingkat signifikansi 5%, atau sebesar 0.249 (e1.391).
  2. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan regresi logistik diperoleh bukti empiris bahwa variabel opini audit tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini going concern dengan nilai koefisien positif sebesar 1.961 pada tingkat signifikansi 5%. Angka ini memberikan arti bahwa perusahaan yang tahun lalu menerima opini going concern beresiko menerima kembali opini going concern pada tahun sekarang 7 kali lebih besar dibandingkan dengan auditee yang menerima opini non going concern.
  3. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan regresi logistik diperoleh bukti empiris bahwa variabel pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini going concern pada tingkat signifikansi 5%.

 

Contoh Skripsi Ekonomi

  1.  Pengaruh Komunikasi Intern terhadap Semangat Kerja Pegawai
  2. Pengaruh Kondisi Keuangan Perusahaan, Pertumbuhan Perusahaan, dan Opini Audit Tahun Sebelumnya
  3. Terhadap Opini Audit Going Concern Pengaruh Perputaran Kas dan Perputaran Piutang terhadap Rentabilitas Ekonomi Pada Kpri
  4. Pengaruh Tingkat Perputaran Piutang dan Tingkat Perputaran Persediaan
  5. Analisis Reaksi Pasar terhadap Peristiwa Pengumuman Kabinet Indonesia Bersatu

 

Leave a Reply