HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Penggunaan Media Bantu VCD dan Modul terhadap Tingkat Pengetahuan

Judul : Pengaruh Penggunaan Media Bantu VCD dan Modul terhadap Tingkat Pengetahuan Perawat tentang Asuhan Keperawatan pada Ibu Postpartum di Bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito

ABSTRAK

Latar Belakang : Periode postpartum merupakan masa yang penting untuk megadopsi peran ibu dan rentan terhadap kematian. Delapan puluh persen kematian maternal merupakan akibat kenaikan komplikasi selama kehamilan, persalinan dan setelah melahirkan. Mengingat pentingnya adaptasi pada masa ini maka perawat diharapkan bisa menyediakan pelayanan keperawatan dengan memberikan pengetahuan tentang perawatan ibu dan bayi kepada ibu postpartum. Salah satu media yang memberikan berbagai kelebihan adalah VCD dan Modul. Media bantu VCD dan Modul ini diharapan dapat menjadi sarana pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan perawat tentang asuhan keperawatan pada ibu postpartum.

Tujuan Penelitian : Untuk memperoleh informasi tentang tingkat pengetahuan perawat/ bidan tentang asuhan keperawatan pada ibu postpartum sebelum dan setelah mendapat pelatihan dengan menggunakan media bantu VCD dan modul.

Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian preeksperimental dengan desain one group pre test post test design. Sampel penelitian terdiri dari 11 orang perawat/bidan di bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito. Sampel dipilih dengan metode total sampling. Pre test dilakukan sebelum pemutaran VCD dan pembagian Modul, kemudian post test dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan dilakukan setelah pelatihan. Setelah dilakukan pengisian kuesioner tingkat pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada ibu postpartum selanjutnya dilakukan cross check dengan melakukan wawancara responden.

Teknik Analisis Data : Data hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan metode persentase dan paired- simple t-test, dan hasilnya ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil : Pelatihan tentang asuhan keperawatan pada ibu postpartum dengan menggunakan media bantu VCD dan modul dapat meningkatkan skor pengetahuan, akan tetapi hasilnya tidak bermakna. Pada topik masalah menyusui, afterpain, perineum, perkemihan, eliminasi fekal, hemoroid dan pengetahuan perawatan di rumah terdapat peningkatan skor tingkat pengetahuan, sedangkan pada topik masalah nyeri punggung, kelelahan dan psikologis terdapat penurunan skor tingkat pengtahuan.

Hasil skor tingkat pengetahuan perawat/ bidan sebelum diberikan pelatihan sudah baik sekali dan tetap sangat baik setelah diberikan pelatihan asuhan keperawatan pada ibu postpartum dengan media bantu VCD dan modul. Kesimpulan : Pelatihan tentang asuhan keperawatan pada ibu postpartum dengan menggunakan media bantu VCD dan modul dapat meningkatkan skor pengetahuan, akan tetapi hasinya tidak bermakna.

Kata kunci: Postpartum, VCD, modul, pengetahuan, asuhan keperawatan, media bantu

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi kesehatan lengkap / tesis kesehatan lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Angka Kematian Ibu berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, melahirkan dan masa nifas (Permata, 2002). Derajat kesehatan penduduk secara optimal dapat pula diukur dengan indikator antara lain angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan tingkat kesuburan penduduk yang sangat erat kaitannya dengan pelayanan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan KB (Keluarga Berencana) (Ambarwati, 2006).

Berdasarkan data WHO (1999) sekitar 80 % kematian maternal merupakan akibat meningkatnya komplikasi selama kehamilan, persalinan dan setelah melahirkan (Yulianto, 2004). Di dunia, setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi terkait dengan kehamilan dan persalinan. Di Indonesia, dua orang ibu meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan nifas (Universitas Indonesia, 2005). Berdasarkan SKRT (2003), Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia mencapai 307/ 100.000 kelahiran hidup, hal ini berbeda sekali dengan Singapura yang berhasil menekan angka kematian ibu menjadi 6 per seratus ribu kelahiran hidup saja (Depkes, 1998).

Data lain menyebutkan bahwa AKI di Indonesia masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN. Risiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia adalah 1 dari 65, sedangkan di Thailand menunjukkan angka 1 dari 1.100 (Bappenas, 2007). Dalam menanggulangi hal tersebut, berbagai usaha untuk menurunkan AKI telah dilakukan, diantaranya:

  1. Program safe motherhood (1998);
  2. Gerakan Sayang Ibu (1996);
  3. Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman/ Making Pragnancy Saver (MPS) dan
  4. Kerjasama POGI, IDAI, IDI, dan Depkes 2002 oleh yayasan Bina Pustaka yang menerbitkan Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.

Berbagai program itu telah dilaksanakan akan tetapi pada kenyataannya AKI baru bisa diturunkan menjadi 307/ 100.000 pada tahun 2003. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa angka tersebut mengalami penurunan lagi menjadi 290,8 per seratus ribu kelahiran hidup pada tahun 2005 (Jakir, 2006).

Pada tahun 2003 angka kematian ibu di Yogyakarta mencapai 110/100.000 kelahiran hidup. Data yang tercatat dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa :

  • kematian maternal tahun 2004 di Yogyakarta terdapat 33 kasus yaitu
  • Kotamadya Yogyakarta 5 kasus,
  • Bantul 8 kasus,
  • Kulonprogo 4 kasus,
  • Gunungkidul 4 kasus dan
  • Sleman 12 kasus.

Data tersebut semakin menguatkan perlunya penanganan serius bagi kematian maternal. Berbagai faktor penyebab tingginya AKI seringkali dijumpai secara bersamaan dan tumpang tindih. Salah satu faktor yang menyebabkan AKI masih tinggi diantaranya adalah mutu pelayanan kesehatan.

Pelayanan kesehatan ini berkaitan langsung dengan penanganan kasus AKI yang dinamakan trias terlambat, diantaranya:

  1. Terlambat deteksi bahaya dini selama kehamilan, persalinan dan nifas, serta dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan neonatal.
  2. Terlambat merujuk ke fasilitas kesehatan karena kondisi geografis dan sulitnya trasportasi.
  3. Terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai di tempat rujukan.
    Telah diketahui bahwa 3 penyebab utama kematian ibu di bidang obstetri adalah perdarahan 45%, infeksi 15 % dan hipertensi dalam kehamilan 13 % (SKRT 1995).

Sejalan dengan data tersebut, kebanyakan kematian maternal terjadi 3 hari sehabis melahirkan karena terserang infeksi. Oleh karena itu, baik ibu, keluarga maupun tenaga kesehatan perlu belajar hal-hal yang berkaitan dengan komplikasi postpartum ini (Roeshadi, 2006).

WHO telah merekomendasikan program Making Pregnancy Safer yang salah satu fokus penanganannya pada pencegahan perdarahan postpartum. Perdarahan postpartum ini adalah penyebab utama kematian maternal. Tidak kurang seperempat dari seluruh kematian maternal disebabkan oleh perdarahan (WHO, 2006).

Di negara berkembang, perempuan cenderung lebih mendapat perawatan antenatal atau perawatan sebelum melahirkan dibandingkan mendapat perawatan kebidanan yang seharusnya diterima selama persalinan dan pasca persalinan. Nyatanya, lebih dari separuh jumlah seluruh kematian ibu terjadi dalam waktu 24 jam setelah melahirkan, sebagian besar karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Perdarahan hebat adalah penyebab paling utama dari kematian ibu di seluruh dunia.

Sebenarnya perdarahan postpartum dini seringkali dapat ditangani dengan perawatan dasar, namun keterlambatan dapat mengakibatkan komplikasi lebih lanjut sehingga memerlukan pelayanan yang komperhensif. Pencegahan, diagnosis dan penanganan pada jam-jam pertama sangatlah penting untuk mengatasi perdarahan. Disamping itu risiko-risiko lain seperti infeksi dan komplikasi juga dapat mengancam jiwa (Shane, 2002). Periode postpartum merupakan masa untuk beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis. Serta salah satu masa untuk mengadopsi peran ibu (Bobak et al, 2004).

Mengingat pentingnya adaptasi pada masa ini maka perawat diharapkan bisa memberi kontribusi dengan menyediakan pelayanan keperawatan yang mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan pada ibu postpartum ini. Salah satu cara yang bisa dilakukan perawat adalah dengan mengoptimalkan fungsinya sebagai edukator dengan memberikan pengetahuan tentang perawatan ibu dan bayi kepada ibu postpartum. Permasalahan ibu postpartum ini sebetulnya bisa dicegah, salah satunya dengan memberikan penyuluhan yang berkesinambungan pada ibu postpartum. Kurangnya pengetahuan ibu postpartum tentang perawatan ibu dan bayi, dapat ditopang dengan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatankhususnya perawat dan bidan tentang asuhan keperawatan ibu postpartum.

Menurut hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap perawat dan bidan di bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada tanggal 30 April 2007 bahwa program pelatihan ibu postpartum jarang dilaksanakan dan tidak dilakukan secara berkesinambungan karena jumlah perawat yang tidak memadai dan beban kerja yang ada. RSUP Dr. Sardjito sebetulnya pernah mengadakan program pelatihan yang melibatkan ibu postpartum yaitu program pelatihan breast care. Akan tetapi program tersebut sudah tidak dilaksanakan sejak tiga tahun yang lalu. Menurut Notoatmojo (1997) perubahan perilaku baru/ adopsi perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat langgeng (long lasting).

Sebaliknya perilaku yang tidak didasarkan oleh pengetahuan dan kesadaran tidak akan berlangsung lama. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang salah satunya adalah media. Media yang memiliki jumlah dan kualitas yang cukup memberi kesempatan pembelajar untuk menigkatkan pemahaman dengan cukup baik. Selain itu media yang ditawarkan harus memperhatikan minat yang beragam dan bahan utama tersebut tidak boleh dinomorduakan (Suparno, 2001). Salah satu media yang menjanjikan berbagai kelebihan adalah penggunaan video pendidikan dalam proses pengajaran dan pembelajaran.

Hal ini sesuai dengan berbagai alasan sebagai berikut:

  1. Video mampu menggambarkan keadaan nyata/ menyerupai keadaan sebenarnya.
  2. Video bersifat dinamis sehingga merangsang rasa dan mudah memberi kesan.
  3. Video memungkinkan penerangan berulang-ulang.
  4. Penggunaan media ini juga mempercepat kadar pemahaman seseorang.
  5. Video mampu meraih emosi seseorang sehingga seseorang tidak langsung mengubah sikap seseorang dengan lebih mudah.

Disamping itu percepatan pembelajaran dapat pula diupayakan dengan menggunakan sistem modul. Modul sebagai alat dan sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, dan cara yang sistematis untuk mencapai kompetensi yang diharapkan (Depdiknas, 2003) Berawal dari latar belakang ini peneliti termotivasi untuk turut serta membantu peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan khususnya perawat dan bidan dengan melakukan penelitian “Pengaruh Penggunaan Media Bantu VCD dan Modul terhadap Tingkat Pengetahuan Perawat tentang Asuhan Keperawatan pada Ibu Postpartum di Bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito”.

Leave a Reply