HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Skripsi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Islam Terpadu

Judul Skripsi : Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Islam Terpadu

A. Latar Belakang Masalah

Masalah-masalah praktik pendidikan karakter dan masalah perilaku moral di berbagai jenjang pendidikan sebagaimana diuraikan di atas dapat menjelaskan dan meyakinkan pentingnya menghidupkan kembali pendidikan karakter. Berangkat dari dua gejala di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian. SDIT yang menjadi bagian dari SIT memegang peranan penting dalam pendidikan karakter. Di SDIT penanaman dan pengembangan pendidikan karakter sudah diterapkan sejak lama. Bahkan sejak berdirinya model sekolah tersebut, yaitu sekitar tahun 1993, para komponen didalamnya sudah mempunyai konsep dan perangkat yang jelas mengenai pendidikan karakter bagi para peserta didiknya.

Para siswa maupun alumni SIT mempunyai keunggulan karakter daripada siswa yang bersekolah di Sekolah Dasar (SD) negeri. Contohnya, di SD N 1 Dompyongan, Klaten. Hal tersebut membuat sebagian besar orangtua akhirakhir ini lebih memilih menyekolahkan putranya ke SDIT daripada SD Negeri. Walaupun sudah menjadi rahasia umum bilamana biaya sekolah di SDIT relatif mahal. Hal ini tentu menarik untuk diteliti. Bagaimana segenap komponen SDIT Al Hasna menanamkan karakter kepada para siswanya sehingga para siswanya memiliki karakter yang khas. Tidak ketinggalan pola pendidikan karakter di SDIT Al Hasna. Hal ini yang membuat penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam dan lanjut.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana budaya sekolah pendukung pendidikan karakter di SDIT Al Hasna?
  2. Bagaimana perencanaan pembelajaran pendidikan karakter di SDIT Al Hasna?
  3. Bagaimana proses pembelajaran pendidikan karakter di SDIT Al Hasna?

 

C. Kajian Teori

Pengertian Karakter

Menurut Dwi Budiyanto (2011: 83), karakter merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga akan muncul secara spontan jika diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Karakter juga bersifat spontan dan alami dan perilaku tersebut belum cukup apabila tidak sesuai dengan norma moral yang berlaku.

 

Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah inti pendidikan sejak zaman dulu, pendidikan mengembangkan karakter yang baik. Pada tahun 1993, Josephnson Institute of ethics mensponsori pertemuan di Aspen, Colorado, Amerika Serikat untuk mendiskusikan penurunan moral dan cara mengatasinya. Sebanyak dua puluh delapan orang pemimpin merumuskan nilai-nilai universal yang diturunkan dari nilai-nilai kultural, ekonomi, politik serta agama.

D. Metodelogi Penelitian

Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal. Cuplikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan criterion-based selection. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung, wawancara mendalam, dan pencatatan dokumen.

Validasi data dilaksanakan dengan trianggulasi.

Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif, yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan.

E. Kesimpulan

1. Budaya sekolah yang ada dan dikembangkan di SDIT Al Hasna ada tiga macam yaitu budaya keagamaan (religion culture), budaya kepemimpinan (leadership culture) dan budaya kerjasama dan sosial (team work and social culture). SDIT Al Hasna merupakan sekolah yang sangat memperhatikan pengembangan budaya sekolah. Pihak sekolah bersinergi dengan siswa serta orang tua menciptakan masyarakat yang baik melalui pendidikan yang bermutu serta memiliki tanggung jawab yang sama dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Semua warga sekolah (kepala sekolah, pendidik, karyawan serta siswa) berperan serta aktif dalam pengamalan budaya sekolah. Pihak sekolah merancang berbagai kegiatan yang dapat mendukung pengamalan budaya sekolah. SDIT Al Hasna juga telah memiliki sistem pengembangan budaya sekolah yang terintegrasi dalam proses belajar mengajar maupun di luar KBM. Budaya sekolah di SDIT Al Hasna terbentuk dari perpaduan yang erat antara kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Budaya sekolah yang bermutu mendukung pelaksanaan penanaman karakter kepada para siswa. Sebaliknya, budaya sekolah yang buruk justru akan menghambat pelaksanaan proses penanaman karakter. SDIT Al Hasna menciptakan budaya sekolah yang kokoh dan positif. Budaya sekolah yang positif itu dapat dilihat dari sikap dan tingkah laku sehari-hari semua warga sekolah.

2. Pada tahap perencanaan pembelajaran ini ustadz-ustadzah SDIT Al Hasna melaksanakan antara lain: penyusunan program semester, program tahunan, pengembangan silabus berkarakter, penyusunan RPP berkarakter, serta penyiapan bahan ajar berkarakter. Pada tahap perencanaan pembelajaran ini ustadz-ustadzah sudah mulai mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang ada pada setiap materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik. Tidak ketinggalan para ustadz-ustadzah melakukan analisis Standar Kompetensi (SK) / Kompetensi Dasar (KD). Analisis SK/KD dilaksanakan ustadz-ustadzah untuk mengetahui nilai-nilai karakter yang secara substansi bisa diintegrasikan pada SK/KD yang bersangkutan. Ustadz-ustadzah juga menyesuaikan pendekatan atau metode pembelajaran agar bisa menjembatani siswa mencapai pengetahuan dan keterampilan yang diinginkan, juga mengembangkan karakter. Langkah-langkah pembelajaran (pendahuluan, inti dan penutup) diperbaiki atau ditambah agar kegiatan pembelajaran pada setiap tahapan memfasilitasi siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang ditargetkan dan mengembangkan karakter.

3. Pada tahap proses penanaman karakter di SDIT Al Hasna dilaksanakan terpadu dalam pembelajaran. Pada tahap ini yang dilakukan ustadz-ustadzah adalah merancang langkah-langkah pembelajaran yang memfasilitasi siswa aktif dari pendahuluan, inti, sampai penutup. Mata pelajaran yang menjadi inti dalam proses penanaman karakter antara lain IPS, PAI dan PKn. Ustadz/ ustadzah menggunakan berbagai pendekatan dan metode pembelajaran aktif dan kontekstual (PAIKEM, CTL dll.). Dengen menggunakan pendekatan dan metode pembelajaran yang bisa mengaktifkan peserta didik, mempermudah proses penanaman nilai-nilai karakter. Melalui proses seperti ini, ustadz/ustadzah juga dapat melaksanakan pengamatan sekaligus melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar mengajar yang berlangsung, terutama terhadap karakter para siswa. Kegiatan belajar mengajar di SDIT Al Hasna memadukan secara utuh ranah pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif) dalam seluruh kegiatan belajar.

Incoming search terms:

Leave a Reply