HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Skripsi Pendidikan Karakter Pola Tamansiswa dan Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

Judul Skripsi : Pendidikan Karakter Pola Tamansiswa dan Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

 

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan karakter dianggap penting dan sudah dimasukkan dalam proses pembelajaran. Peran lembaga pendidikan dan guru sangat penting demi terciptanya tujuan yang diharapkan. Dalam hal ini peneliti ingin mengkaji Tamansiswa dan Pondok Pesantren Krapyak di Yogyakarta karena melihat adanya perbedaan antar keduanya tentang ideologi atau karakteristik dan tentunya pelaksanaan sistem pendidikan yang berhubungan dengan pendidikan karakter akan juga berbeda. Persepsi pengajar yang mempunyai latar belakang berbeda akan mempengaruhi pola pendidikan karakter di sekolah.

Persepsi inilah yang akan dikembangkan peneliti dan pola penerapannya. Tamansiswa yang terlihat kuat pengaruh dari ajaran Ki Hadjar Dewantara mengenai budi pekerti dan nilai-nilai moral akan berbeda dengan konsep Pondok Pesantren Krapyak di Yogyakarta. Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta mempunyai cara tersendiri untuk mengembangkan pendidikan karakter dalam model pembelajarannya. Dengan konsep pendidikan Islam dan model pondok pesantren akan mempengaruhi pembentukan karakter di Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Topik ini yang akan menjadi kajian penulis untuk diteliti lebih lanjut.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pola penerapan pendidikan karakter di SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan dan Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta?
  2. Bagaimana persepsi pengajar dan siswa di SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan dan Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta terhadap pendidikan karakter?
  3. Bagaimana aktualisasi atau pengamalan nilai karakter pada siswa di SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan dan Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta?

C. Landasan Teori

Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter merupakan sebuah keadaan dinamis stuktur antropologis individu, yang tidak mau sekedar berhenti atas determinisme kodratinya, melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mangatasi determinisme alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus-menerus. Karakter sekaligus berupa hasil dan proses dalam diri manusia yang sifatnya stabil dan dinamis untuk senantiasa berkembang maju mengatasi kekuarangan dan kelemahan dirinya, (Doni Koesoema, 2007 : 104)

Pendidikan Sekolah Tamansiswa

Tamansiswa merupakan suatu badan perjuangan yang berjiwa nasional yaitu dengan ditandai suatu pergerakan sosial yang menggunakan kebudayaan sendiri sebagai dasar perjuangannya. Tamansiswa tidak hanya menghendaki pembentukan intelek saja, tetapi juga dan terutama pendidikan dalam arti pemeliharaan dan latihan susila, (Darsiti Soeratman, 1989: 96).

Pendidikan Pondok Pesantren

Pendidikan karakter dalam Islam memiliki keunikan dan perbedaan dengan pendidikan karakter di dunia Barat. Menurut Abdul Majid perbedaan- perbedaan tersebut mencakup penekanan terhadap prinsip-prinsip agama, aturan dan hukum dalam memperkuat moralitas dan penekanan pada pahala di akhirat sebagai motivasi berperilaku moral. Inti dari perbedaan-perbedaan tersebut adalah keberadaan wahyu Ilahi sebagai sumber dan rambu-rambu dalam pendidikan karakter Islam, (2011: 58).

Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

Yayasan Ali Maksum dalam sejarah berdirinya tidak terlepas dari sejarah Pondok Pesantren Krapayak Yogyakarta dan al-maghfurlah KH. Ali Maksum. Pondok Pesantren Krapyak didirikan tahun 1910 oleh al-maghfurlah KH. M. Moenawwir, merupakan salah satu pesantren di Indonesia yang telah dikenal luas di berbagai kalangan. Hal tersebut disebabkan karena Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta telah mampu menunjukan perannya dalam membina umat, menyiapkan kader-kader bangsa yang memiliki kesatuan wawasan dan kedalaman ilmu dengan landasan keimanan dan ketakwaan yang baik, Tim Yayasan Pondok Pesantren Ali Maksum (2011: 5).

 

D. Metodelogi Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus ganda terpancang. Cuplikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan criterion-based selection. Pengumpulan data dilaksanakan dengan observasi langsung, wawancara mendalam, dan pencatatan dokumen. Validasi data dilakukan dengan trianggulasi. Analisis yang digunakan adalah model analisis interaktif, yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan.

E. Kesimpulan

1. Pola penerapan pendidikan karakter di SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan dan Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak menggunkan pola yang hampir sama yaitu melalui kurikulum pembelajaran (terdapat pelajaran yang mengajarkan akhlak atau budi pekerti), budaya sekolah, kegiatan estrakurikuler, dan keteladanan guru. Pola lain yang diterapkan di SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan adalah sistem among yaitu metode mendidik yang berjiwa kekeluargaan yang bersendi kepada kemerdekaan dan kodrat alam. Pola tersebut berpijak dari ajaran Ki Hadjar Dewantara sehingga sekolah di Tamansiswa mempunyai sifat nasionalisme yang tinggi dengan pendekatan budaya. Pola pendidikan karakter yang diterapkan di Madrasah Aliyah Ali Maksum dalam dengan model asrama (pondok pesantren). Nilai-nilai Islam menjadi acuan sehingga sekolah ditujukan untuk cenderung membentuk karakter Islam.

2. Persepsi atau pandangan guru dan siswa mengenai pendidikan karakter akan mempengaruhi dalam penerapannya di sekolah. Persepsi yang baik akan memudahkan guru untuk melaksanakan dan menyadarkan bahwa guru bukan sekedar menyampaikan pengetahuan umum tetapi juga menyampaikan nilai-nilai karakter yang baik. Persepsi pengajar dan siswa di SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan dan MA Ali Maksum cukup baik. Persepsi guru dan siswa tentang pendidikan karakter yang muncul di SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan lebih menekankan pada konsep budi pekerti yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara, sedangkan di Madrasah Aliyah Ali Maksum persepsi guru dan siswa lebih menekankan pada karakter Islam. Persepsi tersebut didasari dengan ideologi yang diterapkan di sekolah masing-masing.

3. Keberhasilan pendidikan karakter di sekolah dapat dilihat dari aktualisasi (pengamalan) siswa berupa sikap atau tindakan yang terlihat pada siswa. Aktualisasi atau pengamalan yang muncul pada siswa di SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan dan MA Ali Maksum secara umum sama yaitu meliputi toleransi, religius, disiplin, kejujuran, kreatif, kerjasama, komunikatif, peduli, tanggung jawab, cinta tanah air dan mandiri. MA Ali Maksum dengan konsep pondok pesantren mempunyai nilai lebih beragam. Dengan adanya waktu dan kebersamaan serta pengawasan dari sekolah akan menghasilkan siswa-siswa yang berkarakter. Salah satu contohnya kesabaran, kesederhanaan, tolong menolong yang terlihat dalam kegiatan sehari-hari. Aktualisasi tersebut terlihat dari kegiatan sehari-hari.

Leave a Reply