HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Skripsi Pembelajaran Sejarah Lokal di SMA Negeri 1 Blora

Judul Skripsi : Pembelajaran Sejarah Lokal di SMA Negeri 1 Blora

A. Latar Belakang

Dalam kajian anthropologi, sastra lisan termasuk dalam jenis folklore lisan. Folklore (Danandjaja, 2002:2) yaitu sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun diantara kolektif apa saja, secara tradisional dan versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Tradisi lisan adalah berbagai pengetahuan dan adat kebisaaan secara turun temurun disampaikan secara lisan.Adapun bentuk-bentuk tradisi lisan antara lain cerita rakyat, teka-teki, peribahasa, dan nyayian rakyat.

Masyarakat Samin menyebut dirinya wong sikep (orang yang bertanggung jawab), dan disebut Samin karena mereka mempunyai pemimpin yang bernama Samin Surosentiko. Samin Surosentiko mengajarkan kepada pengikutnya untuk berbuat kebajikan, dan kesabaran, kesederhanaan, kejujuran, bekerja sama, tolong menolong, dan kerja keras. Hal yang berkaitan dengan masyarakat Samin cukup banyak, dan terutama tradisi lisan masyarakat Samin – yang identik dengan masyarakat Blora. Orang mendengar kata “Samin”pasti akan teringat dengan Blora, walaupun di kabupaten lain seperti Pati, Kudus,Rembang, Tuban, dan, Bojonegoro, juga ada masyarakat Samin.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah pemahaman guru terhadap silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)?
  2. Bagaimanakah implementasi nilai pedagogis dalam silabus, dan RPP mengenai materi Saminisme?
  3. Bagaimanakah dampak instruksional implementasi budaya masyarakat Samin dalam pembelajaran sejarah lokal terhadap peserta didik?

C. Kajian Teori

Pengertian Sejarah

Menurut Hill, sejarah diartikan sebagai catatan masa lampau suatu bangsa, berdasarkan penyelidikan kritis dari dokumen-dokumen dan kenyataan-kenyataan lain.(Hill,1956 :12). Pengertian tersebut menekankan pada pengusutan kebenaran sejarah melalui penafsiran sejarah. Penghargaan terhadap obyektifitas kenyataan dengan subyektifitas tafsiran merupakan satu hal sebagai kunci untuk kemajuan sejarah.

Sejarah Lokal

Memasukan sejarah lokal sebagai suatu kurikulum di sekolah memegang peranan yang sangat urgen untuk membangkitkan kecintaan peserta didik kepada daerahnya. Taufik Abdullah (1978: 15) mendefinisikan sejarah lokal sebagai “sejarah dari suatu tempat”, suatu locality yang batasnya ditentukan oleh perjanjian penulis sejarah. : http://detik.com, diunduh 14 April 2011.

Pembelajaran Sejarah Lokal

Pembelajaran sejarah lokal di SMA didasarkan pada UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasinal Pendidikan. Kedua perautan tersebut mengamanatkan dilaksanakannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standart isi yang didalamnya memuat materi muatan lokal yang harus diajarkan oleh masing-masing sekolah sesuai dengan keadaan daerahnya. Muatan Lokal inilah oleh SMA di Kabupaten Blora dimanfaatkan untuk memasukkan materi sejarah lokal.

D. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif studi kasus tunggal bersifat terpancang, karena fokus penelitian ini telah dirumuskan sebelum penelitian dilaksanakan dan variabel-variabelnya sudah ditentukan, sudah terarah pada batasan dan fokusnya pada pembelajaran sejarah lokal.

E. Simpulan

Perencanaan Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tidak semua kompetensi dasar dapat direncanakan dengan materi pembelajaran sejarah lokal, karena perencanaan pembelajaran sejarah lokal disesuaikan dengan kompetensi dasar yang ada didalam silabus serta kemampuan guru dalam menyusun materi pembelajaran sejarah lokal tersebut. Perencanaan pembelajaran yang mengintegrasikan Saminisme bisaanya sudah dipersiapkan oleh guru sebelumnya, karena didalam buku paket yang menjadi pegangan guru maupun peserta didik tidak ada materi secara khusus mengenai Saminisme. Guru yang bisa mengoperasikan komputer membuat powerpoint, sedangkan yang belum bisa mengoperasikan komputer baru sebatas menggunakan DVD Player dengan materi yang didapatkan dari forum MGMP.

Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Lokal di SMAN 1 Blora

Berdasarkan hasil pengamatan dalam proses pelaksanaan pembelajaran sejarah lokal pada awal pembelajaran untuk menarik perhatian siswa, guru menampilkan topik materi ajaran Saminisme yang disertai dengan foto pemimpin Samin yaitu Samin Surosentiko. Pembelajaran dengan power point menarik perhatian peserta didik sehingga secara menyeluruh terpusat kepada guru. Kegiatan pembelajaran sejarah lokal dengan materi Saminsme ini guru tidak hanya sekedar menayangkan presentasi atau video saja, namun disertai dengan pemberian tugas kepada peserta didik berupa tugas tidak terstruktur mengenai budaya masyarakat Samin yang termasuk foklor, legende, mithos, dan nyanyian rakyat. Sedangkan dalam kegiatan penutup guru membuat kesimpulan bersama dengan siswa, dan diakhiri dengan pemberian tugas kepada siswa dengan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar.

Dampak Pembelajaran Sejarah Lokal Saminisme

Peneliti menemukan bahwa orang-orang pengikut ajaran Samin Surosentiko oleh masyarakat luar (bukan Saminisme) menyebutnya ”Samin”. Pada hal orang-orang Samin sendiri tidak suka jika disebut ”Wong Samin” mereka lebih suka disebut ”Wong Sikep” yang artinyta orang yang bertanggung jawab. Sebab nama Samin dikonotasikan dengan arti perbuatan yang tidak terpuji

  • dianggap kelompok orang yang tidak mau membayar pajak
  • sering membantah dan menyangkal peraturan yang telah ditetapkan
  • sering keluar masuk penjara
  • sering mencuri kayu jati
  • perkawinannnya tidak dilakukan menurut tatacara agama Islam (Prasongko, 1981: 28 dalam Titi Mumfangati, 2004: 26).
Incoming search terms:

Leave a Reply