HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Korelasi Usia Dengan Perubahan Lengkung Oklusal Akibat Kehilangan Gigi Posterior Berdasarkan Nilai Ekstrusi Gigi Antagonis

ABSTRAK

Latar Belakang: Kesadaran masyarakat dalam mengganti kehilangan gigi posterior masih berada dalam angka yang rendah. Padahal, banyak studimenyatakan kehilangan gigi yang tidak diganti akan menyebabkan perubahan lengkung oklusal karena pergerakan patologis geligi sisa terutama dalam bidang vertikal. Pergerakan vertikal tersebut dipengaruhi berbagai hal, antara lain usia pasien. Akibat perubahan lengkung oklusal antara lain mastikasi menjadi tidak efisien serta akan mempersulit rencana perawatan dan prognosis pembuatan protesa.

Tujuan: Mengetahui korelasi usia dengan perubahan lengkung oklusal berdasarkan ekstrusi gigi pada kehilangan gigi posterior yang tidak diganti.

Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang pada studi model dan kartu status pasien RSGMP FKG UI tahun 2006-2008. Metode pemilihan sampel penelitian adalah purposive sampling dan didapatkan sebanyak 64 sampel penelitian. Analisis statistik secara univariat berupa distribusi frekuensi dari variabel usia, nilai ekstrusi gigi, serta uji bivariat menggunakan korelasi Pearson.

Hasil: Didapatkan 64 sampel penelitian yang melengkapi kiteria inklusi. Usia sampel penelitian berkisar 20-58 tahun (usia rata-rata 38.53, SD ± 11.952). Hasil uji statistik korelasi Pearson menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna (p<0,01) dengan nilai korelasi Pearson (-0.402) dimana kekuatan korelasi adalah sedang dan berbanding terbalik antara usia pasien dengan perubahan lengkung oklusal berdasarkan ekstrusi gigi antagonis Kesimpulan: Usia memilki hubungan bermakna dengan kedalaman lengkung oklusal dari bidang sagital berdasarkan besar ekstrusi pada kasus kehilangan gigi posterior yang tidak segera diganti

Kata kunci:
Usia, lengkung oklusal, ekstrusi, kehilangan gigi posterior

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Hingga kini, angka pencabutan gigi di Indonesia tanpa penggantian denganpembuatan protesa masih berada dalam angka yang tinggi. Ketua Ikatan ProfesiGigi Masyarakat Indonesia, Armasastra Bahar dalam pernyataannya menyebutkan bahwa saat ini rasio penambalan dan pencabutan gigi adalah sebesar satu berbanding tujuh (1:7). Hal ini disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat yang masih memiliki paradigma lama dimana mencabut gigi tanpa menggantinya dengan pembuatan protesa akan menyelesaikan masalah.2 Terlebih lagi, tingkat kesadaran menjadi semakin rendah dibanding pada kehilangan gigi anterior yang mengganggu estetis apabila masih dirasa belum mengganggu fungsi makan.

Jika kehilangan gigi tersebut tidak segera diganti, maka akan terjadi ketidak keseimbangan gaya-gaya pada daerah edentulous tersebut. Gaya tersebut berasal dari gigi yang berdekatan, gigi antagonis, jaringan penyangga serta jaringan lunak seperti pipi, bibir dan lidah.1 Akibat ketidak seimbangan gaya-gaya tersebut maka selanjutnya akan terjadi pergeseran geligi sisa, terutama dalam arah vertikal seperti ekstrusi maupun horizontal. Perubahan gigi dalam arah vertikal ini pada akhirnya akan mengubah kedalaman kurva normal oklusal yang ada.5,35 Gigi posterior yang tidak memiliki lawan, mungkin dirasakan tidak menjadi kesulitan berarti bagi pasien. Namun, ketika merencanakan restorasi pada daerah edentulous, kesulitan mungkin berkembang jika gigi yang tidak memiliki antagonis telah mengalami pergerakan dari titik awalnya dari bidang oklusal. Pada kasus sulit, hampir seluruh ruang interoklusal dapat diisi oleh pergerakan vertikal dari gigi yang tidak memiliki lawan. Sehingga pada rencana perawatan harus ditentukan apakah ekstensi gigi secara vertikal tersebut dapat di reduksi dengan dilakukan pengasahan atau melakukan modifikasi pada bidang oklusal.35

Perubahan posisi gigi ini juga dapat mengakibatkan gangguan oklusal (occlusal interferences) yang juga akan mempengaruhi restorasi gigi tiruan. Occlusal interferences tersebut menjadi komplikasi dari restorasi protesa cekat dan lepasan yang bergantung pada hubungan oklusal yang baik untuk tercapainya fungsi optimum. Selain itu, penting untuk menghindari trauma oklusal pada gigi penjangkaran dan mencegah fraktur dari material restorasi.35 Perubahan kedalaman lengkung oklusal akibat pergerakan gigi dalam bidang vertikal ini, mengakibatkan perubahan bidang oklusal normal.3 Jose de Santos mengungkapkan bahwa dapat diperhitungkan pada kehilangan satu gigi saja, fungsi lengkung rahang akan menurun sebesar 10% dan penurunan ini akan meningkat sebesar 30% jika langkah selanjutnya, yaitu mengganti gigi yang hilang tidak segera dilakukan.4

Lengkung oklusal, khususnya Kurva Spee, berkaitan erat dengan oklusi sentrik atau disebut juga posisi interkuspal.6 Pada level oklusi sentrik, efisiensi maksimal mastikasi dapat tercapai karena pada level ini otot-otot elevator dalam kondisi kontraksi. Dengan demikian, jika kehilangan gigi tidak diganti akan mempengaruhi efisiensi mastikasi. 7 Kurva Spee merupakan salah satu syarat oklusi normal menurut Andrew’s six keys to normal occlusion.8 Pada akhirnya, perubahan lengkung oklusal akibat geligi yang mengalami kemiringan mengakibatkan gigi-geligi tidak mampu menahan gaya kunyah dengan baik sehingga menjadi goyang dan akhirnya lebih banyak gigi tetangga yang rusak bahkan hilang.

Perubahan lengkung oklusal akibat pergerakkan gigi –geligi tersebut, selain dipengaruhi oleh perubahan gaya-gaya pada daerah edentulous tersebut, juga dipengaruhi beberapa faktor umum seperti lama kehilangan gigi, jumlah gigi yang hilang, keadaan kesehatan jaringan periodonsium serta umur fisiologis individu yang mengalami kehilangan gigi.31 Atas dasar tersebut, penulis akan meneliti tentang korelasi antara usia dengan perubahan lengkung oklusal pada kehilangan gigi posterior yang tidak diganti.

Leave a Reply