HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Struktur Cerita dan Nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita Saridin versi kethoprak

INTISARI

Kata Kunci: Cerita Saridin Versi Kethoprak

Cerita Saridin dalam versi kethoprak mempunyai peran yang sangat penting bagi generasi muda dalam pembinaan nilai-nilai pendidikan, hal ini menunjukkan bahwa hampir semua ajaran moral, keagamaan, dan ekspresi kesenian terdapat dalam kethoprak lakon Saridin.

Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan, rumusan masalah pada penelitin ini adalah bagaimana struktur cerita Saridin versi kethoprak, nilai– nilai pendidikan apa saja yang terdapat dalam cerita Saridin versi kethoprak, Tujuan penelitian ini dapat mengetahui struktur cerita Saridin versi kethoprak, dapat mengetahui dan memahami nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita Saridin versi kethorak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca yaitu dapat menambah wawasan dan mengetahui lebih lanjut mengenai cerita Saridin dalam versi kethoprak dan menambah khasanah dalam bidang ilmu sastra serta dapat meningkatkan budi pekerti siswa.

Metode penelitian ini menggunakan metode struktural dengan pendekatan objektif, data berupa teks kethoprak dan sumber data berupa kaset CD penelitian ini dianalisis dengan pendekatan objektif teori strukturalisme.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cerita Saridin dalam versi kethoprak menggunakan struktur cerita yang meliputi alur, penokohan atau karakter tokoh, setting atau latar, dan tema. Dari struktur cerita tersebut sehingga dapat diketahui adanya nilai-nilai pendidikan diantaranya nilai pendidikan ketuhanan, nilai pendidikan budi pekerti/kesusilaan, nilai pendidikan sosial kemasyarakatan, dan nilai moral.

Berdasarkan hasil penelitian ini penulis menyarankan agar cerita Saridin dalam kethoprak ini dikembangkan atau dapat dijadikan sebuah buku cerita. Dan supaya dapat digunakan sebagai bahan ajar di SLTP khususnya pembelajaran apresiasi sastra.

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam rangka menumbuhkan sikap, budaya para siswa yaitu sikap yang dapat menghargai, menghayati, dan mencintai seni atau karya seni sebagai hasil budaya bangsanya. Mencintai dan melestarikan serta mengembangkan seni budaya bangsa merupakan kewajiban setiap generasi. Mencintai seni budaya sendiri berarti pula menghayati nilai-nilainya yang menunjukkan keaslian dan kemurniannya. Seperti halnya dengan kesenian kethoprak yang kurang diperhatikan dan dilestarikan generasi muda. Kebudayaan Jawa seakan-akan tenggelam dalam serangan ombak modernisasi (Suseno, 1993:1).

Kesenian tradisional kethoprak bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat yang tinggal di pulau Jawa merupakan salah satu seni budaya tradisional. Sebagai kesenian Jawa, seni kethoprak tersebut telah hidup sejak dahulu dan mencapai kejayaan, dan sangat digemari oleh masyarakat pendukungnya. Hal ini membuktikan bahwa kethoprak mempunyai tempat tersendiri dihati masyarakat. Kethoprak mempunyai peran yang sangat penting bagi generasi muda dalam pembinaan nilai-nilai pendidikan, hal ini menunjukkan bahwa hampir semua ajaran moral, keagamaan, kegiatan upacara agama dan atau ekspresi kesenian terdapat dalam kethoprak. Namun dalam hal ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat umum, terutama bagi mereka yang tidak mengalami sendiri lewat berolah seni. Berolah seni (praktik) sebenarnya dapat mengasah atau melatih diri seseorang (sekelompok) manusia untuk berperilaku yang lebih baik atau berbudi pekerti luhur.

Tidak hanya sebagai sarana hiburan atau tontonan saja, namun lebih dari itu dalam setiap pertunjukan kethoprak namun dalam hal ini tidak pertunjukan secara langsung tetapi melalui CD, terdapat berbagai misi atau pesan yang disampaikan, diantaranya misi keagamaan, filsafat, kemasyarakatan, kependidikan dan kepemimpinan. Kesenian kethoprak sendiri pada masa sekarang sangat jarang dipertunjukkan atau dipertontonkan dikalangan masyarakat umum. Karena masyarakat khususnya generasi pemuda sekarang sudah tidak tertarik dengan pertunjukan kethoprak, mereka menganggap bahwa kethoprak itu sudah kuna apalagi dengan bahasanya yang sulit dipahami dan dimengerti oleh masyarakat. Dalam bahasa kethoprak banyak terdapat petuah-petuah yang terkandung dan sangat bermanfaat bagi generasi muda dari segi moral, budi pekerti, tingkah laku. Kethoprak juga banyak makna filosofisnya. Kethoprak dengan lakon Saridin terdapat nilai-nilai pendidikan, diantaranya nilai Ketuhanan, nilai sosial, nilai budi pekerti dan nilai moral serta terdapat banyak petuah atau wejangan-wejangan yang didapat dari para wali diantaranya Sunan kudus, Sunan Kalijaga. Dari wejangan-wejangan tersebut terdapat adanya nilai-nilai pendidikan.

Tokoh dan peristiwa sangat berperan dalam membangun sebuah karya sastra. Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Peristiwa digunakan untuk memperkuat cerita. Cerita Saridin dalam versi kethoprak terdapat adanya penokohan dan urutan peristiwa, di dalam lakon Saridin dapat diketahui adanya alur, penokohan, tema dan setting atau latar. Sehingga dapat diketahui struktur cerita Saridin dalam versi kethoprak. Adanya struktur cerita Saridin dapat diketahui nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya, niai-nilai pendidikan tersebut yang nantinya bisa diimplikasikan ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Hampir seluruh tokoh dalam cerita Saridin menampilkan watak tokoh yang datar. Dalam arti bahwa watak itu sejak awal hingga akhir tetap, yang baik tetap menunjukkan kebaikannya dan yang buruk menunjukkan perangai yang buruk hingga akhir cerita.

Cerita Saridin terdapat nilai pendidikan yang bisa kita ambil, seperti kepatuhan seorang murid dengan gurunya, tolong menolong antar sesama, dan kesetiaan seorang istri pada suami. Selain itu bisa dilihat dari perilaku tokoh Saridin yang mempunyai kepandaian luar biasa yang tidak dapat dinalar oleh manusia biasa. Banyak tingkah laku Saridin yang membuat Adipati marah, seperti tindakan yang dilakukan ketika Saridin akan di hukum gantung karena telah terbukti membunuh Branjung, Saridin membantu prajurit untuk menarik tali gantungan yang mengikat lehernya dan dia berhasil melarikan diri sampai di Paguron Panti Kudus. Disitu Saridin berguru pada Sunan Kudus, hingga suatu hari dia mengusung air untuk mengisi padasan (genthong wudu) dengan keranjang. Kepada Sunan Kudus dia juga mengatakan, setiap yang ada airnya pasti ada ikannya. Saridin mampu membuktikan, di semua tempat itu ada ikannya. Dari tingkah laku dan kejadian yang dialami Saridin dapat kita ambil ajaran-ajaran dan wejangan-wejangan yang terdapat di dalamnya. Selain itu makam Saridin juga dekat dengan lokasi penulis dan di makam Saridin dengan menebing ati, kita bisa ngleluri kembali riwayate Mbah jangkung dengan laku nistha, ora melik drajad, pangkat, lan kadonyan, kata Soetjipto (55) asal Rembang yang mengaku sudah 60 hari berada di tempat itu. Saridin atau lebih dikenal dengan nama Syeh Jangkung yang makamnya berada di desa Landoh Kayen Kabupaten Pati. Kisahnya sejak kecil hingga ia mengakhiri petualangannya mulai dari desa Kiringan desa asalnya, ke Pati, Kudus, Cirebon, Palembang, ke Kerajaan Ngerum dan terakhir di Kerajaan Mataram Baru. Oleh raja Mataram Sultan Agung diperintahkan kembali ke Pati dan menetap di desa Landoh Kayen sampai akhir hayatnya, itu sebabnya makam Saridin terdapat di Pati.

Kisah Saridin sangat terkenal diseluruh penjuru Jawa Tengah mulai dari DIY, Semarang ke Timur sampai perbatasan Jateng-Jatim. Tapi sayang kisah yang sangat terkenal itu tidak banyak buku pelajaran yang mengisahkan riwayat Saridin tersebut. Kisah Saridin terkenal hanya melalui cerita dari mulut kemulut, hal ini diperkuat oleh Bapak RH. Damhari Panoto Jiwo selaku juru kunci makam Syeh Jangkung pada saat saya berkunjung ke makam Saridin beberapa waktu yang lalu tepatnya pada hari jumat tanggal 10 Februari 2006 sekitar jam 11.00-14.00.

Incoming search terms:

Leave a Reply