HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Karakteristik Fisiologi Aloe

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Botani Aloe vera
Aloe vera atau tanaman lidah buaya merupakan tanaman yang mempunyai banyak manfaat, seperti dalam bidang kesehatan baik sebagai kosmetik, farmasi, maupun sebagai pangan (Atherton,1996). Pada zaman Mesir, Cleopatra telah memanfaatkan lidah buaya sebagai bahan pembasuh kulit yang mujarab (Atherton,1997; Santoso,2000). Aloe vera mempunyai beberapa nama sesuai dengan tempatnya berada, di Indonesia disebut lidah buaya, di Inggris disebut crocodiles tongues, di Malaysia disebut jadam dan di beberapa negara Eropa disebut Aloe vera (Sudarto,1998). Aloe vera termasuk famili Liliaceae, nama botaninya adalah Aloe Barbandesis dengan nama lain lily of desert dan Barbaodes Aloe, merupakan tanaman sekulen (Atherton,1996) berair dengan rasa pahit, berbentuk pedang, dengan panjang daun sampai 50 cm dan tepian daun berduri (Abdulkhalim,1987; Tjitrosoepomo,1994). Tanaman ini berasal dari Afrika dan sekarang terdapat lebih dari 240 jenis tanaman di seluruh dunia. Habitatnya berada secara liar pada Afrika selatan dan timur dan semenanjung laut merah, yang dikembangbiakan di India bagian barat pada abad 16, Itali, Malta. Aloe vera adalah tanaman semi tropis yang menyerupai kaktus meskipun sifatnya berbeda.

Lebih kurang 240 spesies aloe, hanya empat yang diakui sebagai nutrisi untuk manusia dan binatang, dan hanya dua spesies yang digunakan secara komersial saat ini yaitu Aloe barbandensis Miller dan Aloe aborescens, yang paling utama adalah Aloe barbandensis Miller.. Pada 1500 SM di daerah mesir tercacat bergunba sebagai tumbuhan yang dapat digunakan untuk pengobatan luka bakar, infeksi, maupun sakit oleh parasitisme Aloe vera merupakan salah satu spesies dari genus Aloe yang terdiri lebih kurang 240 spesies, spesies yang lain antara lain adalaha Aloe arborescen dan Aloe ferox (Duryatmo,1998). Habitat mereka adalah daerah kering, sehingga daunnya banyak mengandung air sebagai hasil adaptasi terhadap lingkungan. Namun tanaman lidah buaya juga dapat tumbuh di pegunungan (Sudarto,1998). Ukuran tanaman beragam mulai dari beberapa centimeter diatas permukaan tanah sampai setinggi 20 meter. Daunnya tebal, berdaging, serta tersusun dalam bentuk roset. Setiap roset terdiri atas 12 – 16 daun dengan panjang daun mencapai 35 cm, lebar 7,5 cm. Tandan bunga muncul di tengah-tengah roset dan berwarna merah atau kuning (Davis,1997).

Tanaman ini termasuk famili Liliaceae dan penggolongan klasifikasi tanaman menurut Sudarto (1998) sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan biji)
Subdivisi : Angiospermae (Tumbuhan berbiji tertutup)
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Liliflorae (liliales)
Suku : Liliaceae
Genus : Aloe
Spesies : Aloe vera
Varietas : Aloe Barbandensis Miler

Morfologi Aloe vera dibagi sebagai berikut (Sudarto, 1998) :
a. Batang
Aloe vera berbatang pendek, dan batangnya sendiri tidak kelihatan karena tertutup oleh daun-daun yang rapat dan sebagian terbenam di dalam tanah. Melalui batang ini akan muncul tunas-tunas yang selanjutnya menjadi anakan.
b. Daun
Daun Aloe vera berbentuk pita dengan helaian memenjang, berdaging tebal, berwarna hijau keabu-abuan, bersifat sukulen (banyak mengandung air), dan banyak mengandung getah atau lendir yang dapat dipergunakan sebagai bahan baku obat. Bentuk daun menyerupai pedang dengan ujung meruncing, permukaan daun dilapisi lilin, dengan duri lemas di pinggirnya. Panjang daun dapat mencapai 50 cm – 75 cm dengan berat 0,5 kg – 1 kg, daun melingkar rapat disekeliling batang bersaf-saf.
c. Bunga
Bunga lidah buaya berwarna kuning atau kemerahan, keluar dari ketiak daun. Bunga berukuran kecil, tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan dan panjangnya bisa mencapai 1 meter.
d. Akar
Akar tanaman lidah buaya berupa akar serabut pendek dan berada di sekitar permukaan tanah. Panjang akar berkisar antara 50 cm – 100 cm.

Dalam dunia pengobatan, bagian yang berguna adalah daun, gel, dan lendirnya (Grieve,1995). Sari daun Aloe vera populer digunakan sebagai penyubur rambut, dan dalam jumlah kecil berguna sebagai pencahar bila diminum, jusnya juga bersifat mendinginkan. Tetapi dalam jumlah berlebih akan berdampak buruk, yakni menimbulkan diare. Sari daunnya dapat pula digunakan sebagai bahan pembasuh atau pembersih saluran pencernaan yang bermasalah (Praptiwi,2000). Aloe vera (dalam produk jus) dapat mereduksi berat tumor, menghambat masa pembelahan pada beberapa tipe kanker, potensial mengurangi pembengkakan, bahkan dapat menghambat beberapa macam virus termasuk virus HIV, dan menurangi tingkat keasaman. Widjajakusuma (1997) menyebutkan senyawa dalam daun lidah buaya meliputi barbaloin, isobarbaloin, dan damar. Senyawa yang terkandung dalam daun sangat tebal ini adalah aloin , senyawa yang memberi sifat pencahar.

Tanaman lidah buaya tidak memiliki cabang batang, sedangkan batang pohon akan terlihat setelah pelepah daun lidah buaya gugur atau dipanen berkali-kali, karena daun pelepah menempel pada batang utama. Mempunyai perakaran yang dangkal (sampai kedalaman ± 25 cm) dan berserabut, sehingga cocok ditanam pada lahan gembur seperti jenis organosol/gambut. Daun tanaman berupa pelepah tidak mempunyai tangkai daun dengan panjang mencapai kisaran 40-60 cm dan lebar pelepah bagian bawah antara 8-13 cm dan tebal antara 2-3 cm (DUP Pontianak,2002).

Aloe vera dapat tumbuh pada kisaran kondisi iklim yang relatif luas dengan sistem perakaran yang dangkal dan tahan terhadap kondisi kekeringan. Untuk memperoleh produksi yang baik tanaman lidah buaya harus ditanam pada ketinggian kurang dari 1.000 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara harian berkisar 270-310 C dan curah hujan perbulan berkisar 50-300 mm (DPU Pontianak,2002).

1.2. Kandungan nutrisi Aloe vera
Aloe vera memiliki nilai yang terletak pada daunnya (Grieve, 1995), di dalam gel daun Aloe vera terdapat lebih kurang 200 senyawa yang mencakup asam-asam amino, vitamin, mineral, polisakarida, enzim, karbohidrat, asam lemak, lignin, saponin, dan antraquinon (Anonim, 1999). Vitamin yang sangat penting pada gel Aloe vera adalah vitamin C dan vitamin E sebagai antioksidan, dan beta-karoten sebagai prekursor vitamin A (Atherton, 1996). Selain itu, gel Aloe vera juga mengandung 20 asam amino dari 22 asam amino yang diperlukan oleh tubuh, termasuk 7 dari 8 asam amino essensial (Anonim, 1999). Komposisi nutrisis gel Aloe vera dapat dilihat pada Tabel 1. di bawah ini.

Photobucket Karakteristik Fisiologi Aloe

Menurut Santoso (2000), terdapat dua jenis cairan pada gel Aloe vera yaitu:
__ Cairan pertama: berupa cairan bening seperti jeli yang mengandung zat antibakteri dan antijamur, yang dapat merangsang fibroblast atau sel-se kulit yang berfungsi untuk menyembuhkan luka.
__ Cairan kedua: berupa cairan kekuning-kuningan mengandung aloin, yang berasal dari lateks kulit luar daun Aloe vera. Aloin merupakan obat pencahar, tetapi tidak baik untuk ibu hamil dan menyusui, sebab dapat menimbulkan kram perut dan iritasi, baik pada saluran lambung maupun usus.

Menurut Atherton (1996) dan Gage (1996), Aloe vera mengandung lebih 75 bahan- bahan yang dibagi menjadi 10 kelompok:
a. Vitamin
Mengandung kisaran yang lebar, tetapi yang paling penting adalah vitamin antioksidan C, E, B2, B3, B6, B12, Choline, dan beta karoten yang berfungsi sebagai prekursor vitamin A. Aloe vera merupakan sedikit tanaman di dunia yang mengandung vitamin B12 yang sangat berguna bagi vegetarian.
b. Mineral
Aloe vera mengandung 10 mineral seperti Ca, Mg, Cu, Fe, Gm, Si, Na, K, Mg laktat, dan S.
c. Asam amino
Tubuh manusia membutuhkan 22 asam amino dan Aloe vera mengandung 20 dari 22 asam amino tersebut yaitu alanin, valin, asam glutamat, asam aspartam, arginin, threosin, leusin, isoleusin, phenilalanin, methionin, histidin, hidroxyprolin, glisin,cystin, serin. 20 asam amino tersebut Aloe vera mengandung 7 dari 8 asam aminoessensial yang tidak mampu diproduksi oleh tubuh.
d. Gula
Aloe vera mengandung muko-polisakarida yang berfungsi dalam sistem kekebalan dan membantu dalam mencegah keracunan yaitu Acemannan. Gula yang terkandung yaitu arabinosa, galaktosa, glukosa, manosa, dan xylosa.
e. Enzim
Beberapa enzim terkandung dalam Aloe vera, yang paling penting adalah lipase dan protease yang membantu memutus makanan dan membantu pencernaan, serta enzim bradikinase.
f. Asam lemak
Ada tiga jenis yang mempunyai kemampuan sebagai bahan anti inflammatory, yaitu Cholesterol, Campesterol, Sisosterol, dan Lupeol.
g. Lignin
Lignin pada Aloe vera mempunyai kemampuan sebagai bahan untuk menembus dan meresap dalam kulit serta menahan berkurangnya cairan pada permukaan kulit.
h. Saponin
Merupakan senyawa sabun (soapy) yang mempunyai kemampuan anti mikrobial terhadap bakteri, virus, fungi dan khamir.
i. Antraquinon
Senyawa yang paling penting adalah aloin dan emodin, tetapi keduanya secara bersama mempunyai kemampuan sebagai pembunuh, dan diketahui mempunyai sifat sebagai anti bakteri.
j. Senyawa lain
Senyawa lainnya yaitu resin, resitanol, ethereal oil, aleonin

Selama ini banyak sekali perlakuan yang diberikan terhadap lidah buaya dalam usaha menjadikan produk pangan maupun kesehatan dan lainnya, tetapi terkadang banyak kandungan atau senyawa yang terkandung didalamnya menjadi berkurang atau bahkan hilang. Hal ini disebabkan karena perlakuan yang kurang benar. Belum adanya informasi mengenai karakteristik fisiologi dari daun lidah buaya pasca petik secara umum menyebabkan banyak kandungan-kandungan yang bermanfaat yang hilang atau berkurang atau tidak dapat didimanfaatkan. Untuk itu perlunya suatu usaha untuk mengetahui karakteristik dan sifat dari lidah buaya supaya dapat diberikan perlakuan yang tepat untuk pengolahannya.

Vitamin E merupakan ciri dari Aloe vera, untuk itu dalam penelitian ini. Karakteristik fisiologi pasaca panennya menjadi salah satu kajian utama disamping komponenkomponen fisiologis lainnya, yang juga menentukan keberadaan Aloe vera baik yang akan diberi perlakuan atau yang sudah menjadi suatu produk, serta menentukan juga dalam bentuk apa vitamin E dalam Aloe vera disajikan sebagai produk pangan. Menurut Heppner et al (1998), pada 100 g aloe terkandung lebih kurang 0,005 ppm namun dalam prakteknya selama ini dalam produk pangan yang ditemui hanya sekitar 6,5 – 9,6% dari kandungan sesungguhnya atau bahkan tidak ada sama sekali (Wuryandari, 2000).

Penelitian ini bertujuan mendapatkan sifat dan karakteristik Aloe vera setelah panen atau pemetikan. Selain itu mendokumentasikan karakteristik fisiologis pasca petik/panen Aloe vera yang berguna untuk penyimpanan atau pengolahan selanjutnya. Dari informasi dan dokumentasi tersebut dapat meminimalisasi kemungkinan terjadinya kerusakan atau penurunan mutu Aloe vera baik dalam bentuk bahan mentah maupun produk olahan. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati dan menganalisa Aloe vera yang baru dipetik atau dipanen meliputi perilaku respirasi, perubahan kadar vitamin E, perubahan berat basah, perubahan pH, efektivitas terhadap mikrobia, dan perubahan kadar aloinnya pada berbagai tingkat variasi waktu.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi pertanian lengkap / tesis pertanian lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

 

Incoming search terms:

Leave a Reply