HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Inkuiri Terbimbing Melalui Metode Eksperimen dan Demonstrasi

Latar Belakang Masalah Pembelajaran IPA dengan Metode Inkuiri Terbimbing

 

Slamet dalam Pardjono (2009) menyatakan bahwa “tingkat kecakapan berpikir seseorang akan berpengaruh terhadap kesuksesan hidupnya.” Berdasarkan hal tersebut, guru di sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar yang mampu mengembangkan keterampilan berpikir yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah yang ada. Keterampilan kognitif Bloom yang direvisi bersifat dua dimensi. Salah satu dimensinya yaitu dimensi proses kognitif (cara berpikir) berisi enam kategori yaitu: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.

Berpikir tingkat tinggi terkait dengan kemampuan mengambil keputusan dan mengkonstruksi formulasi masalah, bersifat nonalgoritmik dan berakhir dengan berbagai solusi dan kriteria. Di sekolah metode ceramah yang biasa digunakan guru dalam pembelajaran tidak akan mampu membentuk siswa yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dan kreativitas (Pardjono, 2009: 259). Aspek kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diamati adalah kemampuan analisis siswa.

Faktor lain yang berpengaruh pada keberhasilan proses belajar adalah sikap ilmiah siswa. Sikap ilmiah siswa berbeda-beda. Hal ini terjadi karena setiap siswa mempunyai ketertarikan yang berbeda terhadap suatu pelajaran. Sikap ilmiah merupakan sikap-sikap yang melandasi proses IPA, antara lain sikap ingin tahu, jujur, obyektif, kritis, terbuka, disiplin, teliti dan sebagainya. Dewasa ini sikap ilmiah menjadi hal yang semakin langka.

Contohnya disiplin, disiplin diri merupakan salah satu aspek utama bagi siswa dalam upaya mengembangkan pemahaman diri sesuai kecakapan, minat, pribadi, dan hasil belajar, mewujudkan peserta didik berperilaku baik dan berprestasi dan menaati tata tertib sekolah (Rachmawati, 2011:1).

 

Rumusan Masalah

  1. Adakah pengaruh penggunaan pendekatan inkuiri terbimbing melalui metode eksperimen dan demonstrasi terhadap prestasi belajar IPA siswa?
  2. Adakah pengaruh kemampuan analisis kategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar IPA siswa?
  3. Adakah pengaruh sikap ilmiah kategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar IPA siswa?

 

Tinjauan Pustaka

  • Pengertian IPA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau yang biasa disebut dengan sains (science) merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah, mulai dari SD/ MI hingga SMA/ MA.

  • Pendekatan Inkuiri Terbimbing

Terdapat beberapa pendekatan pembelajaran antara lain pendekatan keterampilan proses, pendekatan konsep, pendekatan konstruktivisme, pendekatan deduktif, pendekatan induktif, pendekatan ekspositori, pendekatan inkuiri terbimbing, pendekatan inkuiri bebas, pendekatan inkuiri bebas yang termodifikasi, dan pendekatan heuristik. Pendekatan pembelajaran dipilih dengan menyesuaikan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran.

  • Metode Eksperimen

Menurut Suparno (2007), “Metode eksperimen adalah metode mengajar yang mengajak siswa utnuk melakukan percobaan sebagai pembuktian, pengecekan bahwa teori yang sudah dibicarakan itu memang benar.”

  • Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA terutama Fisika. Sanjaya (2009) menyatakan bahwa metode demonstrasi adalah metode pembelajaran dengan menyajikan pelajaran melalui memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.

  • Kemampuan Analisis

Analisis merupakan bagian dari kemampuan kognitif yang penting dalam berpikir kreatif.

 

Metode Penelitian

Metode Penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen dan dilaksanakan di SMP N 14 Surakarta.

Populasi semua siswa kelas VIII Tahun Ajaran 2011/2012 terdiri dari 6 kelas. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling.

Sampel sebanyak 2 kelas, kelas VIIIB sebagai kelas eksperimen I mendapatkan perlakuan pembelajaran melalui metode eksperimen dan kelas VIIID sebagai kelas eksperimen II melalui metode demonstrasi.

Pengambilan data melalui teknik tes untuk prestasi kognitif dan kemampuan analisis, angket untuk prestasi afektif dan sikap ilmiah, dan observasi untuk prestasi afektif.

Teknik analisis data melalui anava tiga jalan dengan desain fatorial 2X2X2, dilanjutkan uji lanjut metode Scheffe.

Kesimpulan

  1. Tidak ada pengaruh penggunaan pendekatan inkuiri terbimbing melalui metode eksperimen dan demonstrasi terhadap prestasi belajar IPA siswa. Meskipun demikian, implementasi pendekatan dan metode yang diberikan kepada siswa membuat siswa merasa senang terhadap pelajaran IPA oleh karena itu nilai yang diperoleh siswa dapat melampaui KKM. Siswa dengan perlakuan melalui metode eksperimen memperoleh prestasi belajar rata-rata 70,62 pada aspek kognitif dan 121,28 pada aspek afektif sedangkan siswa dengan perlakuan melalui metode demonstrasi memperoleh prestasi belajar rata-rata 69,44 pada aspek kognitif dan 120,23 pada aspek afektif.
  2. Tidak ada pengaruh kemampuan analisis kategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar IPA siswa. Hal ini karena rerata kemampuan analisis siswa secara keseluruhan yaitu 53,46 untuk siswa yang mendapatkan metode eksperimen dan 56,41 untuk siswa yang mendapatkan metode demonstrasi. Sehingga sulit dibedakan antara kemampuan analisis kategori tinggi dan rendah. Prestasi belajar yang diperoleh siswa dengan kemampuan analisis tinggi pada ranah kognitif 69,59 dan 120,23 pada ranah afektif, sedangkan siswa dengan kemampuan analisis rendah memperoleh rerata 70,38 pada ranah kognitif dan 121,27 pada ranah afektif.
  3. Ada pengaruh sikap ilmiah kategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar IPA siswa. Hal ini karena kedua aspek prestasi belajar baik ranah kognitif dan afektif dan sikap ilmiah tersebut saling berhubungan satu sama lain. Sehingga siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi dan rendah akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap prestasi belajar yang akan diperoleh. Prestasi belajar yang diperoleh siswa dengan sikap ilmiah tinggi pada ranah kognitif 72,38 dan 125,33 pada ranah afektif, sedangkan siswa dengan sikap ilmiah rendah memperoleh rerata 67,75 pada ranah kognitif dan 116,30 pada ranah afektif.

Leave a Reply