HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Guru sebagai Penulis KTI suatu Keniscayaan

Guru sebagai Penulis KTI suatu KeniscayaanDalam wikipedia.org disebutkan arti guru (dari Sanskerta: yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsesia, definisi guru adalah orang yang pekerjaan, mata pencaharian atau profesinya mengajar.´ Guru merupakan sosok yang mengemban tugasmengajar, mendidik dan membimbing. Jika ketiga sifat tersebut tidak melekat pada seorang guru, maka ia tidak dapat dipandang sebagai guru.

Menurut Moh. Uzer Usman (2002: 5) menyatakan bahwa guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.

Secara umum guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal.

Dalam Kunandar (2008: 5-10), kita sering mendengar bahwa kemampuan menulis (fiksi maupun nonfiksi) dari para guru masih rendah. Banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Pertama, banyak para guru yang kenaikan pangkatnya tertahan di golongan IV A karena untuk naik ke golongan IV B para guru  harus memenuhi unsur pengembangan profesi yang di dalamnya guru diminta menyusun karya ilmiah (KTI) yang bobotnya 12 angka kredit. Kedua, cobalah kita amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Membaca surat kabar? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Membaca jurnal pendidikan? Hitunglah berapa artikel yang ditulis oleh guru. Benarkah guru tidak mamplu menulis atau tidak terbiasa menulis? Atau malas menulis? Atau tidak punya waktu untuk menulis? Jawabannya pasti bermacam-macam. Rendahnya budaya menulis (meneliti) ternyata juga dialami juga oleh dosen. Menurut Mien A. Riafi, APU, penilai hibah bersaing Dikti Depdiknas dari 180.000 dosen di Indonesia, diperkirakan hanya sekitar 1,1 persen yang mampu meneliti secara layak dan ini berimplikasi pada rendahnya publikasi ilmiah dari dosen Indonesia di jurnal internasional.

Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, dan sebagai praktisi pendidikan, sesungguhnya para guru memiliki potensi dan kesempatan menulis yang sangat besar. Guru sebenarnya memiliki segudang bahan yang bisa dijadikan tulisan. Guru bisa menulis tentang pengalaman pribadi berkaitan dengan pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas. Guru juga bisa menulis berbagai tema seputar persoalan pendidikan yang tidak akan pernah habis dan kering untuk dijadikan bahan tulisan, dengan catatan guru tersebut mau dan mau menulis. Jadi persoalannya sekarang terletak pada para guru tersebut, apakah mempunyai tekad yang kuat untuk menulis atau tidak.

Selain guru bisa dan harus menulis ilmiah nonpenelitian, guru juga bisa menulis karya tulis ilmiah (KTI) hasil penelitian, yang salah satunya adalah melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Dengan melakukan PTK, diharapkan akan mengubah citra terhadap guru dan meningkatkan keterampilan profesional sebagai guru. Guru bisa menyelesaikan permsasalahan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar (PBM) di kelasnya secara ilmiah. Hal ini akan mendorong guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran di kelasnya. Dan akhirnya mutu atau kualitas PBM akan selalu meningkat dari waktu ke waktu.

Berkaitan dengan hal diatas, guru sebagai penulis harus mempunyai kemampuan dalam hal ketatabahasaan, seperti ciri ragam bahasa ilmiah, menggunakan paragraf yang benar dan memperhatikan kesalahan umum yang sering terjadi dalam penggunaan Bahasa Indonesia.

Dalam Ahkam Zubair, dkk (2008: 110) disebutkan Pengembangan profesi yang dapat memberi angka kredit bagi guru adalah menyusun karya tulis ilmiah di bidang pendidikan, yang macamnya bisa memilih satu atau lebih dari tujuh macam kegiatan. Macam kegiaan yang dimaksud adalah (1) karya ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survei atau evaluasi di bidang pendidikan, (2) karya tulis atau makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan, (3) tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa, (4) pasaran yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam penemuan ilmiah, (5) buku pelajaran atau modul, (6) diklat pelajaran dan (7) karya penerjemahan buku pelajaran/karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan.

Leave a Reply

Alamat IDTesis Surabaya

Jl Gayungan VIII No 3, Surabaya (Carefour A Yani maju 100 m, ambil kiri ke arah Polsek Gayungan/Telkom Injoko)