HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Gambaran Kebahagiaan dan Karakteristik Positif pada Wanita Dewasa Madya

Gambaran Kebahagiaan dan Karakteristik Positif pada Wanita Dewasa Madya yang Menjadi Caregiver Informal Penderita Skizofrenia

ABSTRAK

Skizofrenia merupakan salah satu kelainan jiwa berat yang juga dialami sebagian penduduk kota besar termasuk Jakarta. Hal ini bisa menimbulkan berbagai macam masalah bagi anggota keluarga pasien, terutama orang yang merawatnya atau caregiver. Permasalahan yang dialami caregiver ketika merawat anggota keluarga dengan skizofrenia dapat memengaruhi tingkat kebahagiaan yang mereka rasakan. Seligman (2005) menyatakan kebahagiaan terbagi ke tiga masa, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Adanya karakteristik positif yang dimiliki caregiver serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam perannya sebagai caregiver juga turut memengaruhi tingkat kebahagiaan yang dirasakan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kebahagiaan dan karakteristik positif pada wanita dewasa madya yang menjadi caregiver informal skizofrenia. Peneliti menggunakan metode kualitatif, yaitu metode wawancara dan observasi untuk menganalisis hasil. Penelitian ini dilakukan terhadap empat wanita berumur 40-65 tahun yang menjadi caregiver informal penderita skizofrenia. Berdasarkan penelitian, wanita dewasa madya yang menjadi caregiver informal skizofrenia memiliki tingkat kebahagiaan yang berbeda-beda. Tingkat kebahagiaan yang dirasakan bergantung pada emosi positif yang mereka rasakan pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kebahagiaan caregiver skizofrenia juga bergantung pada tingkat keparahan penyakit dan ketergantungan care-receiver. Selain itu, karakteristik positif yang menonjol membuat para subjek bisa bertahan menghadapi berbagai macam tanggung jawab dan peran baik sebagai caregiver maupun peran lain.

Kata kunci :
Wanita, dewasa madya, caregiver informal, skizofrenia, kebahagiaan, karakteristik positif.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi psikologi lengkap / tesis psikologi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Skizofrenia merupakan salah satu kelainan jiwa berat yang juga dialami sebagian penduduk kota besar termasuk Jakarta. Berikut adalah ilustrasi kasus penderita skizofrenia di Jakarta. Chrisantini adalah seorang wanita aktif yang bekerja di salah satu perusahaan farmasi di Jakarta. Chrisantini memiliki prestasi kerja yang baik dan memiliki teman yang banyak. Pada umur 41 tahun Chrisantini keluar dari pekerjaannya dan mulai sering bertingkah aneh. Ia menjadi depresi, sering mengunci diri di kamar, dan selalu mencurigai orang lain terutama adik dan ibunya. Chrisantini sering uring-uringan dan marah-marah. Ia yakin adik dan ibunya berkomplot menyudutkannya. Oleh dokter, Chrisantini di diagnosis menderita skizofrenia. Semakin tua kondisi Chrisantini semakin parah. Selain menderita kepikunan, Chrisantini juga semakin sering berhalusinasi. Setelah Ibunya meninggal, Chrisantini dirawat oleh adiknya yang telah menjanda dengan tiga orang anak. Ilustrasi di atas merupakan kisah nyata yang diceritakan adik Chrisantini bernama Susanti Winarni Handoko (Handoko, 2000). Penderita skizofrenia sering kali dijuluki “orang gila” dan cenderung dijauhi karena sering bertingkah aneh. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa di mana terjadi pemisahan antara pikiran, emosi, dan perilaku sehingga terjadi kegagalan reality testing pada orang yang mengalaminya (Fausiah & Widury, 2005). Jumlah penderita skizofrenia di Indonesia adalah tiga sampai lima per 1000 penduduk (http://www.sinarharapan.co.id). Mayoritas penderita skizofrenia ada di kota besar. Hal ini berkaitan dengan tingkat stress yang ada di kota besar (http://www.sinarharapan.co.id). Penderita skizofrenia mengalami gejala delusi, halusinasi, kehilangan minat terhadap hal-hal yang awalnya merupakan rutinitasnya, berkurangnya kemampuan untuk bertindak dan berpikir sehingga tidak mampu memikirkan konsekuensi dari tindakannya, kesulitan komunikasi, kesulitan mengekspresikan afek, dan menampilkan gerakan atau mempertahankan pose tubuh yang tidak wajar dalam jangka waktu yang lama (Fausiah & Widury, 2005). Karena kelainan yang dideritanya, penderita skizofrenia tidak bisa membedakan antara perilaku yang baik atau tidak berbahaya dengan perilaku yang tidak baik atau berbahaya.
Penderita skizofrenia juga memiliki hambatan untuk bisa memenuhi kebutuhannya yang meliputi kebutuhan fisik, keamanan, cinta dan kasih sayang, kebutuhan untuk diakui dan dihargai, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Dengan keterbatasan yang mereka miliki karena skizofrenia, mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat merawat dan memenuhi kebutuhannya. Bantuan ini bisa didapatkan dari keluarga maupun jasa orang lain diluar keluarga. Seseorang yang memberikan perawatan untuk orang lain yang sakit atau orang yang tidak mampu disebut caregiver (http://www.caregiver.org). Perawatan tersebut diberikan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan, bahkan biasanya orang tersebut bergantung pada caregiver-nya (Oyebode, 2003). Caregiver juga dapat didefinisikan sebagai individu yang memberikan perhatian kepada individu lainnya, misalnya para manula, individu yang sakit, dan individu yang memiliki keterbatasan lainnya dalam berbagai tingkat usia (http://www.zimmer.com). Seorang caregiver bisa saja berasal dari anggota keluarga, teman, tenaga sukarela, ataupun tenaga profesional yang mendapatkan bayaran. Individu ini bisa merupakan caregiver primer atau caregiver sekunder, bekerja penuh-waktu atau paruh-waktu, tinggal bersama individu yang dibantunya atau tinggal terpisah dari individu yang dibantunya (http://www.caregiver.org).

Berdasarkan dua definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa caregiver adalah individu yang merawat, menyediakan kebutuhan dasar atau kebutuhan sehari-hari, kenyamanan, serta perlindungan dan pengawasan pada individu lain yang membutuhkan pertolongan karena sakit maupun dalam keadaan tidak mampu. Caregiver dapat dibedakan ke dalam dua kelompok, yaitu caregiverformal dan caregiver informal (http://www.caregiver.org). Caregiver formal adalah individu yang menerima bayaran untuk memberikan perhatian, menyediakan kebutuhan fisik, maupun bantuan atau kenyamanan, serta perlindungan dan pengawasan kepada individu lain. Contoh dari caregiver formal adalah perawat yang bekerja di rumah sakit jiwa, wisma, atau panti yang menampung penderita kelainan jiwa. Caregiver informal adalah caregiver yang menyediakan bantuan pada individu lain yang memiliki hubungan pribadi dengannya, seperti pada hubungan keluarga, teman, ataupun tetangga. Caregiver informal biasanya tidak menerima bayaran. Pengertian caregiver informal ini dapat disamakan dengan caregiver keluarga. Kasuya, Polgar-Bailey, dan Takeuchi (2000) menyatakan anggota keluarga biasanya menerima tanggung jawab untuk memberikan perawatan (caregiving) bagi kerabatnya yang menderita penyakit kronis, misalnya skizofrenia. Biasanya caregiver melakukannya karena alasan emosional dan ekonomi bukan karena mereka memang mampu atau merasa nyaman dengan jenis perawatan yang harus diberikan (Kasuya, Polgar-Bailey, & Takeuchi, 2000). Mereka biasanya diharapkan menjalankan peran sebagai caregiver tanpa memperhatikan konsekuensi emosional, fisik, dan keuangan yang mungkin terjadi (Kasuya, Polgar-Bailey, & Takeuchi, 2000). Stanley dan Shwetha (2006) menjelaskan skizofrenia merupakan salah satu kelainan jiwa yang parah dan mengakibatkan stress tidak hanya bagi penderitanya tetapi juga bagi anggota keluarganya. Bloch, Szmukler, Herman, Collusa, et al (1995) mengatakan menghadapi kelainan jiwa di dalam keluarga dapat menambah konflik keluarga, stigma, kekacauan di tempat kerja, dan kesejahteraan psikologis caregiver yang terganggu (dalam Chen & Greenberg, 2004, p. 423). Sales (2003) mengatakan merawat anggota keluarga yang menderita penyakit kronis dapat menimbulkan perasaan terbebani dan ketegangan bagi caregiver yang dapat mengurangi kualitas hidup caregiver (Stanley & Shwetha, 2006, p. 4). Ivarsson et al. (2004) menjelaskan beban caregiver merupakan hal yang kompleks dan mencakup beberapa hal seperti kegiatan sehari-hari, kecemasan, dan tekanan sosial (Stanley & Shwertha, 2006, p. 4). Lund (2005) menerangkan tanggung jawab sebagai caregiver seringkali menimbulkan konflik peran dengan pekerjaan atau keluarga, menimbulkan rasa sakit secara emosional karena melihat orang yang disayangi dalam keadaan sakit, serta kehilangan kebebasan dan privasi. Morycz (1980) mengatakan bahwa tekanan sebagai caregiver dapat disebabkan oleh konflik peran dan kelebihan peran yang diemban (dalam Climo, 1999, p. 10). Climo (1999) menambahkan tekanan sebagai caregiver juga termasuk tekanan ekonomi dan keterbatasan dalam kegiatan sosial dan rekreasional. Selain memberikan dampak negatif, memberikan perawatan (caregiving) juga memiliki dampak positif. Hinrichsen, Hernandez, dan Pollack (1992) menjelaskan seorang caregiver dapat merasakan dampak positif diantaranya dihargai dan disukai oleh care-receiver karena telah merawatnya, merasakan kepuasan karena berusaha membantu care-receiver dan telah melaksanakan kewajiban terhadap care-receiver, dan perasaan bahwa individu telah menemukan kekuatan baru sebagai hasil dari memberikan perawatan (Yamada, 1997, p. 16). Memberikan perawatan juga dapat menggantikan perasaan gagal akibat kegagalan pernikahan, menjanda, atau karir yang tidak memuaskan (Yamada, 1997). Yamada (1997) juga menambahkan caregiver dapat merasa berguna (sense of usefullness), meningkatkan hubungan baik dengan care-receiver, dapat lebih memahami atau berempati dengan care-receiver, dan membantu care-receiver dengan memberikan sudut pandang baru sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan pandangannya terhadap dunia. Pada penelitian ini, caregiver yang akan diteliti adalah caregiver informal wanita yang berada pada rentang usia dewasa madya yaitu 40-65 tahun (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Hal ini didasarkan pada penelitian Irmansyah (2002) yang menjelaskan rumah sakit jiwa pemerintah dan swasta hanya sanggup menampung 5% dari total penderita kelainan jiwa sehingga 95% penderita kelainan jiwa setiap hari hidup di luar RS. Ciri keluarga Indonesia yang sangat kuat hubungan kekeluargaannya, extended, dan saling menolong dalam menghadapi masalah membuat hampir semua penderita skizofrenia yang tidak dirawat di RS berada dalam lingkungan keluarga (Irmansyah, 2002). Penelitian lain mengatakan caregiver informal seringkali terpilih karena suatu “keterpaksaan” untuk memikul tanggung jawab sebagai caregiver, yaitu memberikan dukungan fisik, emosional, dan finansial kepada anggota keluarga yang tingkat ketergantungannya semakin tinggi akibat suatu penyakit (Yamada, 1997).

Pada masyarakat dewasa ini, memberikan perawatan (caregiving) kepada seseorang masih dianggap sebagai tugas wanita (Lindahl, 1997). Abel (1991), Aronson (1991), dan Chappell (1992) mengatakan bahwa kebanyakan perawatan informal dalam konteks keluarga dilakukan oleh seorang istri, anak perempuan, atau menantu perempuan (Lindahl, 1997, p.2). Peran caregiver yang dijalankan wanita dapat menyebabkan kesejahteraan psikologis wanita tersebut menjadi lebih rentan (Climo & Stewart dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Stress yang dialami caregiver lebih banyak dialami oleh wanita daripada pria di mana caregiver wanita lebih merasa terbebani dalam hal fisik, emosional, dan finansial (Caregiver Stress, n.d.). Selain itu, onset skizofrenia pada pria lebih cepat daripada wanita yaitu 15-25 tahun untuk pria dan 25-35 tahun untuk wanita (Fausiah & Widury, 2005). Oleh karena itu, peran caregiver akan dijalankan oleh orang yang berada pada rentang umur yang sama dengan penderita ataupun oleh orang yang lebih tua dari penderita. Menurut penelitian yang telah dilakukan Djatmiko (2005) dan Irawati (2005) mayoritas caregiver skizofrenia adalah orang tua diikuti oleh saudara kandung dan pasangan. Penelitian ini juga menjelaskan mayoritas caregiver skizofrenia adalah wanita yang berumur 41-60 tahun (Djatmiko, 2005) dan di atas 50 tahun (Irawati, 2005) atau orang-orang yang berada pada rentang umur dewasa madya. Hal inilah yang mendasari pemilihan subjek penelitian wanita yang berada dalam rentang umur dewasa madya. Masa dewasa madya merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yaitu ketika seseorang berada pada rentang usia 40-65 tahun (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Menurut Erikson setiap tahap perkembangan memiliki konflik yang harus diselesaikan (Papalia, Olds, & Feldman, 2007) di mana penyelesaian konflik pada setiap tahapan perkembangan akan berpengaruh pada kesehatan dan kesejahteraan psikologis seseorang (Climo, 1999). Menurut Erikson, konflik yang
dihadapi dewasa madya adalah generativity versus stagnation (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Papalia, Olds, dan Feldman (2007) menjelaskan generativity adalah masa dimana orang dewasa berjuang untuk berkontribusi terhadap masa depan dengan membimbing dan melepas generasi penerusnya. Climo (1999) mengatakan karakteristik utama dari generativity adalah kepedulian (care). MacDermid et al (1997) mengatakan bahwa peran sebagai caregiver dapat meningkatkan ekspresi generativity (Climo, 1999, p. 47). Dengan kata lain, peran sebagai caregiver dapat berkontribusi agar seseorang mencapai generativity sehingga memberikan dampak positif pada kesehatan dan kesejahteraan psikologisnya (Climo, 1999, p. 47). Pada sisi lain peran sebagai caregiver juga dapat menghambat seseorang mencapai generativity (Climo, 1999). Menjalankan peran sebagai caregiver sangat menyita waktu dan dapat menghambat kebebasan caregiver untuk berkontribusi pada lingkungan sosial yang lebih luas (Climo, 1999). Tuntutan dan dampak negatif karena menjadi seorang caregiver dapat berkontribusi tidak hanya pada keadaan stagnasi tetapi juga pada konflik peran, tekanan karena peran yang dijalankan, dan peran yang berlebihan (Aneshensel et al, 1993; Morycz, 1980) sehingga dapat mempengaruhi kebahagiaan caregiver dewasa madya (dalam Climo, 1999). Masalah yang mungkin dihadapi oleh caregiver dewasa madya dapat mempengaruhi kebahagiaan yang mereka rasakan. Maka dapat dikatakan mereka berpotensi untuk berada pada situasi yang tidak bahagia atau minimal memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah. Kebahagiaan (Seligman, 2005) merupakan konsep yang mengacu pada emosi positif yang dirasakan individu serta aktifitas positif yang tidak memiliki komponen perasaan sama sekali, misalnya ketika individu terlibat dalam kegiatan yang sangat disukainya. Emosi positif ini dirasakan individu terhadap masa lalunya, masa kini, dan masa depannya (Seligman, 2005). Seligman (2005) juga mengatakan individu yang mendapatkan kebahagiaan sejati adalah mereka yang telah dapat mengidentifikasi dan mengolah atau melatih kekuatan (strength) dan keutamaan (virtue) yang dimilikinya dan menggunakannya pada kehidupan sehari-hari, baik dalam pekerjaan, cinta, permainan dan pengasuhan. Peterson dan Seligman (2004) mendefinisikan kekuatan (strength) sebagai proses atau mekanisme psikologis yang membentuk keutamaan (virtue). Sedangkan keutamaan (virtue) adalah karakteristik inti yang dihargai oleh para filsuf dan agamawan (Peterson & Seligman, 2004). Peterson dan Seligman (2004) mengatakan keutamaan-keutamaan ini bersifat universal dan terpilih melalui proses evolusi untuk kelangsungan hidup manusia. Seligman (2005) mengatakan kekuatan dan keutamaan merupakan karakteristik positif yang menyebabkan perasaan senang dan gratifikasi. Seligman (2005) mengatakan terdapat 6 nilai keutamaan yang tergambar dalam 24 karakteristik kekuatan yang dapat membantu seseorang agar merasakan kebahagiaan atau mempertahankan tingkat kebahagiaan yang dimilikinya. Keutamaan berkaitan dengan kebijakan dan pengetahuan dapat dilihat dari kekuatan keingintahuan, kecintaan belajar, pertimbangan, kecerdikan, kecerdasan sosial, dan perspektif. Keutamaan berkaitan dengan keberanian dapat dilihat melalui kekuatan kepahlawanan, ketekunan, dan integritas. Keutamaan berkaitan dengan kemanusiaan dan cinta dapat dilihat melalui kekuatan kebaikan dan kemampuan untuk mencintai dan dicintai. Keutamaan berkaitan dengan keadilan dapat dilihat melalui kekuatan bermasyarakat, keadilan, dan kepemimpinan. Keutamaan berkaitan dengan kesederhanaan dapat dilihat melalui kekuatan pengendalian diri, kehati-hatian, dan kerendahan hati. Keutamaan terakhir yaitu transendensi dapat dilihat melalui kekuatan apresiasi terhadap keindahan, bersyukur, harapan, spiritualitas, sifat pemaaf, rasa humor, dan semangat. Selain itu, kebahagiaan merupakan konsep yang subjektif karena setiap individu memiliki tolak ukur kebahagiaan yang berbeda-beda, misalnya uang, prestasi, pernikahan, dan sebagainya (Seligman, 2005, p. 65).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan dalam menjalani kehidupannya setiap manusia, termasuk caregiver informal penderita skizofrenia, akan menghadapi hal-hal yang dapat memengaruhi kebahagiaan yang dirasakannya. Adanya karakteristik positif yang dimiliki caregiver informal serta penerapannya dalam berbagai aspek kehidupannya akan memengaruhi kebahagiaan yang dirasakannya. Selain itu, ada juga faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kebahagiaan yang dirasakan caregiver informal penderita skizofrenia. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan pada gambaran kebahagiaan dan karakteristik positif pada wanita dewasa madya yang menjadi   caregiver informal penderita skizofrenia. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode analisis kualitatif dan menggunakan tipe penelitian studi kasus untuk mendapatkan gambaran kebahagiaan dan karakteristik positif wanita dewasa madya yang menjadi caregiver informal penderita skizofrenia. Metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara dan observasi, Dengan pendekatan kualitatif peneliti dapat mempelajari isu-isu secara mendalam dan mendetail mengenai hal yang dirasakan individu terkait dengan topik penelitian (Patton dalam Poerwandari, 2007). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kebahagiaan dan karakteristik positif pada responden.

Leave a Reply