HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Gambaran Kemandirian Anak Tunggal Dewasa Muda

ABSTRAK

Anak tunggal terbiasa mendapatkan perhatian dan cinta tak terbagi dari orang tuanya (Illingworth, 1976 dalam Laybourn, 1994). Perhatian berlebihan tersebut dapat menyebabkan anak menjadi egosentris, manja, dan egois (Richardson & Richardson dalam Lieber, Nelson, & Kail, 1986). Hall pun mengatakan bahwa anak tunggal adalah anak yang iri, egois, egosentris, bergantung, agresif, mendominasi, atau argumentatif (dalam Polit, Nuttall, & Nuttall, 1980). Karakteristik ini akan menimbulkan masalah pada masa dewasa muda karena masa dewasa muda adalah masa terjadinya peningkatan peran yang menuntut individu untuk mandiri, menerima tanggung jawab untuk dirinya dan membuat keputusannya sendiri (Arnett dalam Santrock, 2006; Steinberg, 2002). Kemandirian dapat dilihat dari tiga aspek kemandirian Steinberg (2002), yaitu kemandirian emosional, kemandirian bertingkah laku, dan kemandirian nilai.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kemandirian anak tunggal dewasa muda berdasarkan tiga aspek kemandirian Steinberg (2002). Partisipan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tiga orang anak tunggal yang berada dalam masa dewasa muda. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode wawancara dan observasi untuk pengumpulan datanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua partisipan berhasil mencapai kemandirian. Dua partisipan mencapai kemandirian dalam ketiga aspeknya, sedangkan satu partisipan tidak mencapai kemandirian dalam ketiga aspeknya.

Kata kunci:
Kemandirian, anak tunggal, dewasa muda.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi psikologi lengkap / tesis psikologi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Setiap orang yang menikah biasanya berencana untuk memiliki anak. Anak dipandang sebagai penerus garis keturunan dan sebagai perpanjangan diri orang tuanya. Anak juga merupakan pelengkap kebahagiaan bagi orang tua dan kehidupan keluarga. Dalam berkeluarga, ada yang memang merencanakan untuk memiliki jumlah anak tertentu, namun ada juga yang pasrah kepada Tuhan mengenai berapa jumlah anak yang akan dititipkan kepadanya. Berapapun jumlah anak yang dimilikinya, para orang tua berusaha membesarkan anaknya dengan sebaik-baiknya agar anak tersebut dapat menjadi seseorang yang dapat membanggakan keluarga. Jika dilihat dari jumlah anak dalam sebuah keluarga, keluarga dibedakan menjadi keluarga dengan anak lebih dari satu (bersaudara) dan keluarga dengan satu anak (tunggal).

Anak tunggal adalah anak yang tidak memiliki saudara laki-laki ataupun saudara perempuan, dimana ibunya hanya melahirkan satu kali, merupakan satu-satunya anak di dalam keluarga (Laybourn, 1990 dalam Laybourn, 1994), tumbuh besar dalam perlindungan orang tuanya, dan merupakan segalanya bagi orang tua (Konig dalam Djohansjah, 2006). Keadaan yang berbeda tersebut membuat anak tunggal mendapatkan perlakuan orang tua yang biasanya juga berbeda dari anak bukan tunggal. Anak yang memiliki saudara tidak bisa mendapatkan seluruh perhatian dan cinta orang tuanya karena orang tua tersebut harus membagi kasih sayangnya kepada semua anak yang dimilikinya tanpa pilih kasih. Sedangkan, anak tunggal tidak memiliki saudara lain sehingga kasih sayang orang tua tercurahkan kepada dirinya sendiri (Laybourn, 1994). Banyak masyarakat yang memiliki pandangan bahwa anak tunggal adalah anak yang bermasalah. Hal ini terlihat dari pooling yang dilakukan oleh Gallup pada tahun 1972 (dalam Falbo, 1982). Hasil pooling tersebut menunjukkan sebanyak 80% warga Amerika percaya bahwa anak tunggal merupakan anak yang disadvantaged. Hasil review yang dilakukan oleh Thompson (1974 dalam Blake, 1981) terhadap literatur populer dan ilmiah tentang urutan lahir (birth order) dan ukuran keluarga (family size) juga menunjukkan bahwa anak tunggal dipandang sebagai anak yang egois, kesepian, dan maladjusted. Lebih lanjut, survei literatur yang dilakukan oleh Falbo (1977 dalam Blake, 1981) menunjukkan terdapatnya pandangan populer di masyarakat bahwa anak tunggal dipercaya hanya memberikan konsekuensi negatif, sedangkan anak bersaudara memiliki konsekuensi negatif dan juga positif.

Ronald Illingworth (1976 dalam Laybourn, 1994), seorang Professor of Child Care di Sheffield University juga mengatakan bahwa anak tunggal tidak siap dalam menghadapi masa sekolah dan masa dewasa. Pandangan negatif mengenai anak tunggal juga ditunjukkan oleh G. Stanley Hall. Ia mengatakan bahwa anak tunggal biasa menuntut dan mendapatkan perhatian berlebihan dari orang tua sehingga tidak mampu menyesuaikan diri dengan baik serta memiliki keterbatasan dalam menghadapi lingkungan sosialnya: ”being an only child is a disease in itself… because of the undue attention he demands and usually receives, we commonly find the only child jealous, selfish, egotistical, dependent, aggressive, domineering, or quarrelsome” (Hall dalam Polit, Nuttall, & Nuttall, 1980:99). Perhatian berlebihan tersebut, dalam pandangan Hall, akan menyebabkan anak tunggal menjadi anak yang iri, egois, egosentris, bergantung, agresif, mendominasi, atau argumentatif. Perlakuan berlebihan yang diberikan orang tua kepada anak tunggalnya diungkapkan oleh Illingworth (1976 dalam Laybourn, 1994). Menurutnya, anak tunggal terbiasa mendapatkan perhatian dan cinta tak terbagi dari orang tuanya karena hanya ia satu-satunya anak yang dimiliki orang tuanya. Hasil studi Laybourn (dalam Laybourn, 1994) juga memperkuat hal tersebut. Ia menemukan bahwa anak tunggal memiliki jumlah uang yang lebih besar untuk dihabiskan dan mendapatkan waktu dan perhatian orang tua yang juga lebih besar. Waktu dan perhatian lebih dapat diberikan oleh orang tua karena mereka tidak memiliki anak-anak lain yang berkompetisi untuk mendapatkannya. Perhatian berlebihan yang diberikan orang tua dapat memberikan pengaruh besar bagi perkembangan diri anak. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah lingkungan terdekat bagi kehidupan anak dan merupakan salah satu faktor lingkungan terpenting dalam hidup seorang anak (Collins, et al., 2000; Halverson & Wampler, 1997; Maccoby, 2000 dalam Pervin, Cervone, & John, 2005). Richardson dan Richardson (dalam Lieber, Nelson, & Kail, 1986) menunjukkan bahwa perhatian dan perlindungan berlebihan yang diberikan kepada anak mengakibatkan anak tersebut menjadi egosentris, manja, dan egois. Conger (1991) juga mengatakan bahwa perlakuan orang tua yang terlalu membatasi dan terlalu melindungi anaknya akan mengakibatkan anak tersebut menjadi tidak mandiri. Hal tersebut berarti perlakukan berlebihan yang biasa diperoleh dari orang tua dapat membuat anak tunggal menjadi manja, egois, dan tidak mandiri.

Meskipun demikian, terdapat studi yang mengatakan bahwa anak tunggal memiliki tingkat kemandirian yang sama dibandingkan anak bersaudara. Studi tersebut adalah studi yang dilakukan oleh Polit dan Falbo pada akhir 1980-an (Laybourn, 1994). Hasilnya menunjukkan bahwa anak tunggal tidak kurang atau lebih baik dibandingkan dengan anak bersaudara dalam tes kepemimpinan, kewarganegaraan, kedewasaan, generosity/kooperatif, dogmatisme, kemandirian, locus of control (perasaan memiliki kontrol atas hidup), konrol diri, kecemasan/neurotis, stabilitas emosi, kepuasan, ektroversi, partisipasi sosial dan popularitas peer. Kappelman (dalam Laybourn, 1994) menambahkan bahwa dalam hal kemandirian, anak tunggal tidak dapat dinyatakan pasti mandiri atau tidak mandiri (dependent). Studi lainnya adalah studi yang dilakukan oleh Laybourn (dalam Laybourn 1994) yang menemukan bahwa pada masa dewasa muda, anak tunggal memiliki tingkat kemandirian yang sama seperti anak lainnya. Mandiri berarti mampu bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya, mampu membuat keputusan bagi kehidupannya, dan mampu menjalin hubungan yang supportive dengan orang lain (Crittenden, 1990 dalam Collins, Gleason, & Sesma, Jr, 1997:78) serta memiliki sebuah tatanan prinsip mengenai benar-salah atau penting-tidak penting (Steinberg, 2002). Anak yang tidak mandiri berarti tidak mampu memutuskan sesuatu atas pertimbangannya sendiri dan tidak mampu bertanggung jawab atas keputusannya tersebut. Hal ini sangat disayangkan karena kemandirian merupakan hal yang penting dalam kehidupan seseorang dan berhubungan erat dengan performa pada tugas-tugas yang lain. Jika seorang anak masih bergantung kepada kedua orang tuanya dan belum memiliki kemandirian yang sesuai dengan usianya, ia akan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan heteroseksual dan peer yang dewasa, mengejar pekerjaan dengan rasa percaya diri, atau mendapatkan identitas diri yang jelas (Conger, 1991).

Kemandirian dapat dilihat dari tiga aspek (Steinberg, 2002), yaitu dalam hal emosional, tingkah laku, dan nilai. Kemandirian emosional dilihat dari kedekatan hubungan anak dengan orang lain, khususnya orang tua. Kemandirian ini dapat dilihat dari kemampuan individu untuk melakukan de-idealisasi atau memberikan pandangan yang lebih objektif terhadap orang tua, untuk melihat dan berinteraksi dengan orang tua sebagai individu, untuk tidak bergantung kepada orang tua, dan untuk mengembangkan perasaan individuasi dengan orang tua. Kemandirian tingkah laku dilihat dari kemampuan individu untuk membuat keputusan, kemampuan untuk tahan terhadap pengaruh orang lain, dan perasaan self-reliance yang dimilikinya. Sedangkan kemandirian nilai dilihat dari kemampuan individu untuk berpikir secara abstrak, menggunakan prinsip, dan lebih bebas. Kemandirian dituntut dalam setiap rentang kehidupan individu. Kemandirian tidak selesai di tahap tertentu, melainkan akan terus berkembang di setiap tahap perkembangan individu (Steinberg, 2002). Kemandirian dituntut sejak anak berusia 18 bulan hingga 3 tahun (toddler), berkembang di masa remaja, dan terus berlanjut hingga masa dewasa. Pada masa remaja, individu mengembangkan identitas diri dimana ia mulai menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan untuk mengatur hidupnya sendiri dan merasakan kebutuhan untuk mendefinisikan dirinya dan tujuan-tujuannya (Hall dkk., 1985). Namun, kemandirian belum terjadi secara konsisten di segala segi kehidupannya. Hurlock (1980) mengatakan bahwa banyak remaja ingin mandiri, namun juga butuh rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi kepada orang tua atau orang dewasa lain. Di satu sisi mereka ingin mandiri, namun di sisi lain mereka tidak mau melepaskan diri dari orang tuanya. Orang tua pun menunjukkan pola yang sama, dimana mereka menginginkan anaknya mandiri, namun masih mengekang dan membatasi pilihan dan keputusan yang dibuat anaknya. Mereka juga seringkali memberikan tekanan lebih di saat anak berusaha untuk lepas dari ketergantungan orang tua dan menjadi lebih mandiri (Hurlock, 1980). Anak remaja akan beranjak dewasa dan memasuki masa dewasa muda. Di masa dewasa muda, ia memiliki peran, tanggung jawab, dan kebebasan baru Universitas Gambaran Kemandirian…, Maya Puspaning Tyas, (Santrock, 2006) yang menuntutnya untuk mandiri. Mereka menikah, memiliki anak, memilih peran kerja tertentu, dan secara bertahap menjalani gaya hidupnya sendiri (Newman & Newman, 1979). Mereka diminta untuk menyelesaikan pendidikannya, memasuki dunia kerja, menikah, dan menjadi orang tua (Hoffman, Paris, & Hall, 1994). Beberapa dari mereka memasuki perguruan tinggi atau dunia pekerjaan dimana ia dituntut untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Mereka merasa tertantang untuk membuktikan dirinya sebagai seorang pribadi dewasa yang mandiri (Dariyo, 2003). Mereka menunjukkan ciri-ciri mandiri dan menerima tanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukannya (Lemme, 1995). Berdasarkan hasil studi Arnett (1995 dalam Santrock, 2006) ditemukan bahwa individu dewasa muda menyadari bahwa menjadi orang dewasa berarti menerima tanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukannya, menentukan kepercayaan dan nilainya sendiri mengenai yang ingin dianut, dan membangun hubungan sejajar dengan orang tua. Mereka sebisa mungkin akan mengatasi masalahnya tanpa bantuan orang lain, termasuk orang tua. Dewasa muda berada pada rentang usia 20 sampai 40 tahun (Papalia, Sterns, Feldman, & Camp, 2007). Masa ini diawali dengan masa transisi dari masa remaja menuju masa dewasa, atau yang disebut sebagai emerging adulthood (Arnett, 2000; 2004 dalam Santrock, 2006). Emerging adulthood berada pada kisaran usia 18 – 25 tahun (Santrock, 2006). Pada masa transisi ini, individu ”meninggalkan rumah” secara psikologis. Ia diminta menyelesaikan tugas perkembangan di masa remaja, membangun identitas awal orang dewasa, dan mulai membuat pilihan dan komitmen yang diharapkan oleh orang dewasa di masyarakatnya (Lemme, 1995). Ia mulai menyadari bahwa mereka dapat memilih arah kehidupannya dan harus mengeluarkan usaha-usaha untuk mengikuti arah hidup tersebut (Santrock, 2002). Ia berusaha hidup mandiri dengan melepaskan diri dari dominasi ataupun pengaruh orang tua (Vaillant dalam Dariyo, 2003). Ia juga menerima tanggung jawab untuk dirinya sendiri, mampu membuat keputusan sendiri dengan bebas, dan menerima kemandirian finansial dari orang tua mereka (Arnett, 2000; 2004 dalam Santrock, 2006).

Perubahan peran dan tanggung jawab yang dialami individu dewasa muda menuntut tercapainya kemandirian (Steinberg, 2002), yang meliputi tiga aspek yang telah disebutkan sebelumnya. Ia diminta untuk berpikir dan membuat keputusan secara bebas, tanpa pengaruh dari orang tua atau peer, serta mampu memiliki kontrol terhadap tindakan yang dilakukannya (Steinberg, 2002), atau dapat dikatakan memiliki kemandirian dalam bertingkah laku. Ia diminta untuk berusaha hidup mandiri dengan melepaskan diri dari dominasi ataupun pengaruh orang tua (Vaillant dalam Dariyo, 2003), atau dapat dikatakan memiliki kemandirian emosional. Ia juga harus mampu memahami, menganalisis, dan mencari titik temu dari ide-ide, gagasan, teori, pendapat, dan pemikiran yang bertentangan sehingga mampu menghasilkan pemikiran sendiri yang baru dan kreatif (Turner & Helms, 1995 dalam Dariyo, 2003). Kemandirian pada masa dewasa muda menjadi sulit dicapai oleh anak tunggal karena anak tunggal terbiasa diperhatikan berlebihan oleh orang tuanya. Karakteristik anak tunggal yang egosentris, manja, egois (Richardson & Richardson dalam Lieber, Nelson, & Kail, 1986), dan bergantung (Hall dalam Polit, Nuttall, & Nuttall) akan menghambatnya untuk menjadi pribadi mandiri, atau pribadi yang dapat mengandalkan diri sendiri dalam bertindak dan mengambil keputusan. Hal ini menyebabkan peneliti ingin mengetahui gambaran kemandirian yang dimiliki anak tunggal dewasa muda secara menyeluruh berdasarkan tiga aspek kemandirian Steinberg (2002).

Incoming search terms:

Leave a Reply