HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Hubungan antara Gambaran Kompleks Primer dan Uji Mantoux pada Tuberkulosis Anak

ABSTRAK

Tujuan Penelitian : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara gambaran kompleks primer pada foto thoraks Postero-Anterior dengan uji Mantoux pada tuberkulosis anak. Diagnosa pasti tuberkulosis pada anak dengan penemuan kuman Mycobacterium tuberculosis pada apusan langsung atau biakkan sulit ditegakkan karena jumlah kuman yang sedikit pada tuberkulosis anak. Uji Mantoux dan foto thoraks adalah pemeriksaan penunjang yang penting untuk membantu penegakkan tuberkulosis pada anak.

Metode penelitian : ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, dimana teknik sampling yang digunakan adalah purpose sampling. Penelitian dilakukan pada 75 pasien anak dengan usia kurang atau sama dengan 15 tahun yang melakukan foto thoraks dan uji Mantoux di Balai Besar Kesehatan Masyarakat Surakarta selama bulan Maret – April 2009. Data yang diperoleh kemudian dianalisa dengan Chi Square test (X²) .

Hasil penelitian : Pengujian hipotesa dilakukan dengan menggunakan Chi Square test (X²) dimana hasil X² hitung didapatkan 9,723 > X² tabel 3,841 dengan derajat kebebasan (db) 1 pada taraf signifikansi (?) = 5 % serta angka probabilitas 0,002(p < 0,05) dan hasil analisis statistik Odd Ratio sebesar 5,61.

Simpulan penelitian : Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara gambaran Kompleks Primer dengan uji Mantoux pada tuberkulosis anak.

Kata kunci: GAMBARAN KOMPLEKS PRIMER , Uji Mantoux

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis yang menyerang saluran pernapasan bagian bawah (Alsagaff dan Mukty ,2008). Total insidens tuberkulosis selama 10 tahun, dari tahun 1990-199, diperkirakan 88,2 juta penyandang tuberkulosis. Menurut perkiraan WHO pada tahun 1999, jumlah kasus tuberkulosis di Indonesia adalah 583.000 orang per tahun dan menyebabkan kematian sekitar 140.000 orang per tahun (Kartasasmita dan Basir,2008). Berdasarkan hasil SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) 2001 tuberkulosis paru menduduki rangking ketiga (9,4 % dari total kematian) setelah penyakit sistem sirkulasi dan sistem pernafasan (Depkes RI,2004). Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri berbentuk batang , tidak membentuk spora, bersifat aerob, dapat hidup pada udara kering maupun dingin dan sukar diwarnai, sekali terwarnai bakteri ini dapat menahan warnanya walaupun telah diberikan asam atau alkohol , dan oleh sebab itudisebut  basil tahan asam (Brooks et al.,2008 ; Nelson 1992) . Cara infeksi yang sering adalah inhalasi butir sputum penderita ketika batuk, bersin bahkan berbicara. Masuknya basil tuberkulosis dalam tubuh tidak selalu menimbulkan penyakit, terjadinya infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya basil tuberkulosis, serta daya tahan tubuh manusia (Amin dan Bahar ,2006; Nelson,1992).

Tuberkulosis paru dibedakan menjadi tuberkulosis paru primer dan post primer. Manifestasi klinis tuberkulosis paru primer umumnya berlangsung lambat dan tidak khas , salah satu gejala yang sering adalah demam ( 40-80% kasus), gejala sistemik lain yang sering dijumpai adalah anoreksia, berat badan tidak naik, dan malaise. Keluhan ini sulit diukur dan mungkin terkait dengan pemyakit penyerta (Rahajoe dan Setyanto,2008). Maka kalau ditemukan gejala-gejala seperti di atas biasanya tidak dipikirkan ke arah diagnosis tuberkulosis(Amin dan Bahar ,2006). Uji tuberkulin perlu dilakukan agar anak dapat diobati sedini mungkin untuk menghindari komplikasi dengan reinfeksi pada waktu dewasa(Rohde,1979) . Uji tuberkulin merupakan alat diagnosis tuberkulosis yang memiliki nilai diagnosis sangat tinggi, pemeriksaan ini lebih penting lagi artinya pada anak kecil bila diketahui adanya konversi dari negatif menjadi positif( Said dkk,2008). Banyak cara yang dipakai untuk melakukan tes ini, tapi yang paling sering adalah cara Mantoux, yaitu dengan menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin PPD(Purified Protein Derivate) secara intra kutan. Setelah penyuntikkan maka akan terjadi reaksi persenyawaan antara antigen tuberkulin dimana reaksi inilah yang akan menentukkan besar kecilnya indurasi yang ditimbulkan(Amin dan Bahar,2006).

Pemeriksaan penunjang lain untuk tuberkulosis paru pada anak adalah pemeriksaan radiologis. Gambaran radiollogi dapat memperkuat dugaan adanya penyakit tuberkulosis lebih dini.(Alsagaff dan Mukty,2008). Secara umum , gambaran radiologis yang sugestif tuberkulosis adalah pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan/tanpa infiltrat ,konsolidasi segmental/lobar, milier, kalsifikasi dengan infiltrat, atelektasis, kavitas, efusi pleura, dan tuberkuloma (Rahajoe dan Setyanto,2008). Bila berhubungan dengan test Mantoux positif maka adanya dua temuan diatas dapat dianggap bersifat diagnostik untuk penyakit bersifat tuberkulosis aktif. Individuindividu dengan tes tuberkulin positif, mungkin tidak mempunyai lesi paruparu pada pemeriksaan Roentgen. Tetapi harus dianggap bahwa pada individu tersebut terdapat infeksi dimana lesi-lesi tersebut terlalu kecil untuk dikenali atau bahkan telah sembuh sempurna (Nelson,1992). Adanya kelemahan dan kelebihan masing-masing metode pemeriksaan penunjang, mendorong peneliti untuk mengetahui hubungan antara gambaran kompleks primer tuberkulosis dengan uji Mantoux yang berkaitan dengan penegakkan diagnosis tuberkulosis paru pada anak.

Incoming search terms:

Leave a Reply