HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Bibliometrik VOSviewer Pembangunan Berkelanjutan: Pemetaan Klaster dan Rekomendasi Judul Tesis Berbasis Data

Pembangunan berkelanjutan ( pembangunan berkelanjutan ) telah menjadi kerangka konseptual yang paling berpengaruh dalam tata kelola global pasca-deklarasi  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan  (SDGs) tahun 2015. Pada konteks Indonesia, agenda pembangunan berkelanjutan terartikulasi secara formal melalui Rencana Aksi Nasional Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (RAN-TPB) yang dikoordinasikan Kementerian PPN/Bappenas, serta terkait ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Akselerasi pencapaian 17 tujuan SDGs hingga 2030 tuntutan dasar pengetahuan saintifik yang kuat — dan di dalam peran penelitian akademik, termasuk tesis keuangan, menjadi krusial.

Namun mahasiswa ingin menyusun tesis bertema pembangunan berkelanjutan menghadapi paradoks: di satu sisi literatur global tumbuh eksponensial, di sisi lain justru semakin sulit menemukan celah orisinalitas. Penyusunan judul tesis berdasarkan intuisi atau replikasi pemahaman terhadap penelitian terdahulu sering berakhir pada tesis yang lemah secara  novelty . Pendekatan bibliometrik menjawab permasalahan tersebut dengan menggeser titik tolak penyusunan judul dari ekonometrik naratif menjadi pemetaan struktur intelektual berbasis data.

Artikel ini menyajikan laporan integral bibliometrik — mulai dari penjelasan alur kerja VOSviewer, interpretasi tiga jenis visualisasi (jaringan, overlay, kepadatan), analisis klaster tematik, hingga rumusan judul tesis dan pemetaannya pada struktur proposal. Korpus yang dianalisis berisi 300 artikel jurnal periode 2025–2026 yang diekspor dari basis data Scopus melalui aplikasi  Publish or Perish . Output utama berupa peta densitas, peta jaringan, dan peta overlay yang menjadi referensi analitik sepanjang artikel.

Alur Penggunaan Output VOSviewer untuk Penyusunan Judul Tesis

Banyak peneliti pemula yang salah memandang VOSviewer hanyalah perangkat visualisasi estetika. Padahal output VOSviewer adalah artefak metodologi yang dapat dirantai-langkahkan menjadi keputusan penelitian yang konkret: penentuan judul, pembahasan masalah, hingga rumusan hipotesis. Alur berikut adalah prosedur operasional yang telah penulis terapkan selama memandu tesis sepanjang bidang.

1 Pengumpulan Data Bibliografi

Korpus dikumpulkan melalui  Publish or Perish  dengan query ” pembangunan berkelanjutan ” pada basis data Scopus untuk rentang 2025–2026. Hasil 300 dokumen diekspor dalam format RIS yang kompatibel dengan VOSviewer. RIS dipilih dibandingkan CSV karena mempertahankan struktur field kata kunci penulis (DE) dan kata kunci indeks (ID) secara terpisah.

2 Pemilihan Tipe Analisis di VOSviewer

Pada menu Create a map based on bibliographic data, pilih Co-occurrence sebagai metode analisis dan All keywords sebagai unit. Tetapkan ambang batas minimum number of occurrences of a keyword pada nilai 2 untuk korpus berukuran 300 dokumen, agar kata kunci marginal namun tematis tetap terjaring.

3 Verifikasi dan Pembersihan Thesaurus

Lakukan harmonisasi istilah sinonim (misal sdgs dan sustainable development goals) melalui file thesaurus.txt. Tahap ini sering diabaikan namun berimplikasi langsung pada akurasi klaster — istilah duplikat menyebabkan satu konsep terpecah ke beberapa node.

4 Interpretasi Tiga Visualisasi

Network visualization menampilkan struktur klaster berdasarkan warna node. Overlay visualization menambah dimensi waktu untuk mendeteksi topik emerging. Density visualization menampilkan peta panas — area gelap menandakan zona kurang dieksplorasi.

5 Identifikasi Gap Lintas-Klaster

Inilah inti metodologis: cari kombinasi kata kunci dari dua klaster berbeda yang pada density map menempati zona transisi berdensitas rendah. Kombinasi semacam itu — bukan kata kunci tunggal dari klaster paling padat — yang menyimpan potensi novelty tertinggi.

6 Formulasi Judul Tesis Berbasis Gap

Kombinasi kata kunci lintas-klaster diterjemahkan menjadi judul tesis dengan struktur: variabel independen lintas-klaster A ? variabel mediasi ? variabel dependen lintas-klaster B, ditambah konteks empiris Indonesia (region, sektor, institusi).

Profil Data: Frekuensi dan Kekuatan Tautan Kata Kunci

Sebelum menafsirkan visualisasi, peneliti perlu mencermati tabel frekuensi kata kunci yang dihasilkan VOSviewer. Tabel ini memuat dua kolom kunci: occurrences (jumlah kemunculan kata kunci di seluruh korpus) dan total link strength (intensitas keterkaitan dengan kata kunci lain). Kombinasi kedua metrik tersebut menunjukkan dominansi tematik sekaligus sentralitas konseptual.

Pencermatan tabel menyingkap fenomena penting: climate change dan environmental sustainability meskipun frekuensi kemunculannya sedang (8–9), memiliki total link strength yang sangat tinggi (19) — setara dengan sustainability yang frekuensinya empat kali lipat lebih tinggi. Ini mengindikasikan bahwa kedua kata kunci tersebut berperan sebagai jembatan konseptual antar-klaster. Bagi calon peneliti tesis, kata kunci dengan rasio link strength terhadap occurrences yang tinggi adalah kandidat ideal untuk dijadikan variabel mediasi atau moderasi dalam model penelitian.

Network Visualization: Struktur Klaster Tematik

Network visualization memetakan struktur intelektual lapangan riset melalui warna node yang merepresentasikan klaster tematik. Hasil analisis korpus 300 dokumen menghasilkan tujuh klaster yang terdiferensiasi dengan baik, masing-masing memiliki node sentral berukuran besar yang menjadi penanda fokus tematik klaster tersebut.

Gambar 1. Network Visualization — Peta Jaringan Co-occurrence Kata Kunci Pembangunan Berkelanjutan 2025–2026. Tujuh warna node merepresentasikan tujuh klaster tematik.

Pengamatan struktural memperlihatkan bahwa sustainable development (klaster merah) berposisi sebagai pusat gravitasi jaringan dengan ukuran node terbesar, menandakan kata kunci ini berperan sebagai konsep umbrella yang menghubungkan hampir seluruh klaster lain. Di sebelahnya, sustainability (klaster biru) dan klaster ungu (urban sustainability + systematic literature review) membentuk segitiga konseptual yang menstrukturkan separuh atas peta. Sementara bagian bawah peta didominasi klaster kuning (SDGs + economic growth) dan klaster cyan (renewable energy investment + solar energy financing) yang merepresentasikan dimensi ekonomi-energi dari pembangunan berkelanjutan.

Hal yang patut diperhatikan: klaster oranye (green innovationresource orchestration theorysustainable development performance) terisolasi di sudut kanan atas peta dengan hanya satu kurva penghubung ke pusat. Posisi terpencil ini, alih-alih menandakan ketidakrelevanan, justru menunjukkan klaster tersebut merupakan frontier teoretis yang baru muncul dan belum terintegrasi dengan diskursus mainstream — kandidat sangat kuat untuk eksplorasi tesis berbasis kerangka teori baru.

Analisis Tematik Tujuh Klaster

Berikut pembacaan tematik tujuh klaster yang dihasilkan VOSviewer, beserta interpretasi substansinya bagi penyusunan tesis pembangunan berkelanjutan.

Klaster ini mengintegrasikan tiga aliran riset: ekonomi sirkular sebagai paradigma produksi-konsumsi, pembangunan finansial sebagai prasyarat institusional, dan energi terbarukan sebagai operasionalisasi transisi rendah karbon. Kehadiran “Saudi Arabia” sebagai geografi tunggal menandakan kontribusi besar literatur Timur Tengah dalam membahas greening sektor energi. Implikasi untuk tesis Indonesia: terdapat ruang besar untuk studi komparatif atau replikasi model di konteks ekonomi emerging Asia Tenggara, khususnya pada peran perbankan syariah dan green sukuk dalam akselerasi ekonomi sirkular.

Klaster ini merepresentasikan pergeseran paradigma terkini: teknologi digital tidak lagi dipandang sebagai sektor terpisah, melainkan sebagai pemicu transformasi mitigasi perubahan iklim dan pengurangan polusi udara. Konsep co-benefits — manfaat ganda mitigasi iklim sekaligus peningkatan kualitas udara — menjadi penghubung tematik kuat. Bagi tesis Indonesia, klaster ini sangat relevan untuk konteks aglomerasi industri digital seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, di mana digitalisasi industri perlu dievaluasi dampak lingkungannya.

Klaster ini menempatkan institusi pendidikan tinggi sebagai aktor strategis dalam mewujudkan keberlanjutan. Diskursus berfokus pada engagement mahasiswa, integrasi sustainability literacy dalam kurikulum, serta sistem labelling (sertifikasi green campus). Kata kunci “mapping” menyiratkan tren riset metodologis berbasis pemetaan praktik baik antar institusi. Untuk tesis pascasarjana di Indonesia, klaster ini menawarkan ruang riset yang sangat aplikatif: dari evaluasi UI GreenMetric, kesiapan kurikulum MBKM bertema SDGs, hingga peran mahasiswa dalam tata kelola kampus berkelanjutan.

Klaster ini menelaah dialektika klasik antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, namun dengan akses baru: peningkatan penghidupan (livelihoods enhancement) komunitas akar rumput. Kehadiran “macadamia farming” sebagai studi kasus mengindikasikan bahwa literatur 2025–2026 mulai berorientasi pada komoditas pertanian spesifik bernilai tinggi sebagai jalur diversifikasi penghidupan petani. Bagi tesis Indonesia, padanan empirisnya luas: kopi spesialti Gayo, kakao Sulawesi, atau vanili Bali sebagai komoditas penggerak SDGs 1, 2, dan 8 sekaligus.

Klaster ini menggabungkan dua karakter sekaligus: domain substantif (keberlanjutan urban dan ketahanan kota) serta orientasi metodologis (tinjauan sistematik). Urban Building Energy Modelling (UBEM) merupakan tools komputasional terkini untuk simulasi konsumsi energi gedung-gedung di kawasan kota. Bagi mahasiswa pascasarjana arsitektur, perencanaan kota, atau teknik lingkungan di Indonesia, klaster ini menawarkan peluang aplikasi UBEM pada kota-kota tropis dengan karakteristik iklim dan urbanisasi berbeda dengan literatur Barat yang mendominasi diskursus saat ini.

Klaster paling spesifik dan terkonsentrasi, fokus pada arsitektur pendanaan transisi energi — khususnya solar PV. Diskursus diperdalam pada model pembiayaan (Power Purchase Agreementgreen bondblended finance) dan kebijakan insentifnya. Untuk konteks Indonesia, klaster ini sangat aktual mengingat target bauran energi baru terbarukan 23% dan implementasi mekanisme carbon pricing. Mahasiswa magister manajemen, ekonomi pembangunan, atau keuangan dapat menggarap topik ini melalui pendekatan kuantitatif berbasis data PLN, IESR, atau OJK.

Klaster paling kaya secara teoretis. Resource Orchestration Theory (ROT) — pengembangan dari Resource-Based View — menjelaskan bagaimana manajemen mengkonfigurasi sumber daya untuk menghasilkan kapabilitas dinamis. Kerangka TOE (Technology-Organization-Environment) digunakan untuk memetakan determinan adopsi teknologi hijau. Bagi tesis MM, MSDM, atau MTI di Indonesia, klaster ini menawarkan fondasi teoretis kuat untuk model kuantitatif berbasis SEM-PLS dengan variabel laten inovasi hijau sebagai mediator antara orkestrasi sumber daya dan performa pembangunan berkelanjutan perusahaan.

Overlay Visualization: Memetakan Tren Temporal

Overlay visualization menambahkan dimensi waktu pada peta jaringan melalui gradasi warna dari ungu-biru (lebih lama) ke kuning (terbaru). Untuk korpus 2025–2026 yang relatif sempit, perbedaan warna memang halus, namun cukup informatif untuk mendeteksi pergeseran fokus diskursus dalam dua tahun terakhir.

Gambar 2. Overlay Visualization — Gradien warna ungu (2025.0) hingga kuning (2026.0) menunjukkan distribusi temporal kata kunci.

Pengamatan pada peta overlay memunculkan tiga pola signifikan. Pertama, kata kunci climate changedigital technology, dan co-benefits ditampilkan dalam warna kuning cerah — menandakan kata kunci tersebut tergolong “termuda” dalam korpus dan berpotensi sebagai topik emerging hingga 2027. Kedua, klaster cyan di kanan bawah peta (solar energy financingrenewable energy investment) tampil dengan warna kuning yang menunjukkan akselerasi minat riset pada arsitektur pendanaan energi terbarukan baru terjadi di paruh kedua 2025 hingga awal 2026 — selaras dengan momentum global pasca COP-29. Ketiga, kata kunci higher educationurban resilienceframework, dan livelihoods enhancement tampil dengan warna kebiruan, menunjukkan diskursus relatif lebih matang dan berstabilisasi.

Density Visualization: Peta Panas Konsentrasi Riset

Density visualization menampilkan peta panas (heatmap) yang menggambarkan konsentrasi penelitian. Area kuning terang menandakan kata kunci dengan kepadatan tinggi (banyak diteliti), area hijau menengah, sedangkan area biru tua menunjukkan zona kurang dieksplorasi. Bagi calon peneliti tesis, justru area transisi antara hijau dan biru tua — bukan area kuning terang — yang menyimpan peluang novelty.

Gambar 3. Density Visualization — Peta panas konsentrasi riset; area kuning terang menandakan kepadatan tinggi, area gelap menandakan zona berdensitas rendah.

Hot spot tertinggi terkonsentrasi pada tiga node: sustainable development (pusat peta), sustainability (atas-tengah), dan circular economy (tengah-bawah). Ketiga area ini menampilkan warna kuning paling intens, menandakan saturasi tematik tinggi. Tesis yang hanya berkutat pada salah satu kata kunci ini berisiko kehilangan novelty kecuali diberi konteks empiris yang sangat spesifik.

Sebaliknya, terdapat empat zona transisi berdensitas rendah yang justru menjanjikan secara saintifik:

  1. Zona Pendidikan–Iklim: area antara higher educationsustainability, dan climate change berwarna hijau pucat — mengindikasikan ruang besar untuk riset integrasi literasi iklim dalam pendidikan tinggi.
  2. Zona Digital–Co-benefits: area antara digital technologyco-benefits, dan climate change berdensitas rendah — peluang riset peran teknologi digital dalam menghasilkan manfaat ganda mitigasi iklim dan kesehatan publik.
  3. Zona Energi–Pendanaan: area antara renewable energy investment dan solar energy financing meskipun terang lokal, koneksinya ke sustainable development melalui ruang gelap — celah riset besar untuk model pembiayaan inovatif energi terbarukan di negara berkembang.
  4. Zona Inovasi Hijau–Performa: klaster oranye yang terisolasi di sudut kanan atas berada di zona biru tua — peluang novelty paling tinggi untuk membangun model kuantitatif green innovation ? sustainable development performance dengan teori ROT atau TOE sebagai kerangka.

Identifikasi Gap Riset Lintas-Klaster

Inilah inti analitis dari laporan ini. Berdasarkan integrasi tiga visualisasi (network, overlay, density), penulis mengidentifikasi enam gap riset utama yang dapat menjadi titik tolak penyusunan judul tesis dengan novelty tinggi.

Prinsip Cross-Cluster Novelty: judul tesis yang menggabungkan dua kata kunci dari klaster berbeda — dan kedua kata kunci tersebut berada di zona transisi berdensitas rendah pada density map — secara konsisten menghasilkan tingkat kebaruan saintifik tertinggi karena belum banyak diteliti namun secara konseptual memiliki keterhubungan logis.

Rekomendasi Judul Tesis Berdasarkan Tema Besar

Berdasarkan analisis tujuh klaster, identifikasi enam gap lintas-klaster, serta pertimbangan konteks empiris Indonesia, berikut diusulkan 28 judul tesis yang dikategorisasikan menjadi lima tema besar pembangunan berkelanjutan. Setiap judul disertai catatan pendekatan metodologis dan justifikasi novelty.

A. Tema Ekonomi Sirkular & Inovasi Hijau (Klaster 1 × Klaster 7)

1. Peran Orkestrasi Sumber Daya terhadap Performa Pembangunan Berkelanjutan UMKM Ekonomi Sirkular di Jawa Timur: Inovasi Hijau sebagai Variabel Mediasi

Kuantitatif Cross-Cluster G2 Pendekatan: SEM-PLS dengan sampel ?150 UMKM. Variabel: Resource Orchestration ? Green Innovation ? SD Performance.

2. Pengaruh Determinan Technology-Organization-Environment (TOE) terhadap Adopsi Praktik Ekonomi Sirkular pada Industri Manufaktur Berbasis Sumber Daya Alam di Indonesia

Kuantitatif Cross-Cluster G2 Pendekatan: SEM-PLS / Regresi Logistik. Konteks: Industri pengolahan kelapa sawit, kakao, atau perikanan.

3. Model Konfigurasi Sumber Daya Strategis dalam Mendorong Inovasi Hijau dan Daya Saing Berkelanjutan: Studi pada Industri Tekstil Indonesia

Kuantitatif Pendekatan: SEM-PLS atau fsQCA. Konteks: Industri tekstil Bandung & Solo sebagai sektor padat karya dan padat sumber daya.

4. Analisis Bibliometrik dan Sistematik terhadap Integrasi Resource Orchestration Theory dengan Sustainable Development Performance: Agenda Riset 2026–2030

Kualitatif Pendekatan: Systematic Literature Review + Bibliometrik (PRISMA). Output: Conceptual framework dan future research agenda.

5. Green Sukuk dan Pembangunan Finansial sebagai Pendorong Ekonomi Sirkular di Indonesia: Analisis Kausalitas Granger 2015–2025

Kuantitatif Cross-Cluster G5 Pendekatan: Time series analysis / VECM. Data: OJK, Bank Indonesia, BPS.

B. Tema Pendanaan Energi Terbarukan & Pembangunan Inklusif (Klaster 6 × Klaster 4)

6. Model Pembiayaan PLTS Komunitas terhadap Peningkatan Penghidupan Rumah Tangga Pedesaan di Indonesia Timur: Pendekatan Difference-in-Differences

Kuantitatif Cross-Cluster G3 Pendekatan: DiD / Propensity Score Matching. Lokus: Desa berlistrik PLTS NTT, Maluku, Papua.

7. Determinan Investasi Energi Terbarukan dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif: Studi Provinsi-provinsi di Indonesia

Kuantitatif Pendekatan: Panel data regression. Data: ESDM, BPS, IESR 2015–2024.

8. Kebijakan dan Model Pembiayaan Solar PV Atap Sektor UMKM: Analisis Kelayakan Finansial dan Dampak Penghidupan

Mixed-Method Pendekatan: NPV/IRR analysis + wawancara mendalam pelaku UMKM. Lokus: Sentra UMKM Surabaya / Yogyakarta.

9. Power Purchase Agreement dan Blended Finance dalam Akselerasi Transisi Energi Indonesia: Studi Komparatif dengan Kasus Internasional

Kualitatif Pendekatan: Comparative case study. Pembanding: Filipina, Vietnam, India.

10. Pengaruh Kebijakan Carbon Pricing terhadap Investasi Energi Terbarukan di Sektor Industri: Pendekatan Difference-in-Differences

Kuantitatif Pendekatan: DiD pre-post NEK PerPres 98/2021. Sampel: Industri intensitas emisi tinggi.

C. Tema Pendidikan Tinggi untuk Keberlanjutan (Klaster 3 × Klaster 2)

11. Integrasi Literasi Perubahan Iklim dalam Kurikulum Program Magister: Co-benefits terhadap Engagement Mahasiswa dan Sustainability Mindset

Kuantitatif Cross-Cluster G1 Pendekatan: SEM-PLS. Sampel: Mahasiswa pascasarjana perguruan tinggi PTN-BH.

12. Engagement Mahasiswa Pascasarjana dalam Implementasi UI GreenMetric: Peran Mediasi Sustainability Literacy dan Moderasi Digital Technology

Kuantitatif Pendekatan: SEM-PLS dengan analisis MGA (multi-group). Sampel: Mahasiswa PT peringkat UI GreenMetric.

13. Pemetaan Praktik Baik Sustainability Labelling pada Kampus Berkelanjutan di Indonesia: Pendekatan Bibliometrik dan Studi Multi-Kasus

Mixed-Method Pendekatan: VOSviewer + studi kasus 3 PTN-BH. Output: Framework labelling kampus tropis.

14. Pengaruh Sustainability Engagement Dosen terhadap Kinerja Penelitian Berkelanjutan: Peran Mediasi Knowledge Sharing dan Moderasi Higher Education Leadership

Kuantitatif Pendekatan: SEM-PLS. Sampel: Dosen tetap PT dengan publikasi Scopus.

15. Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Bertema SDGs: Engagement Mahasiswa dan Dampaknya terhadap Sustainability Competency

Mixed-Method Pendekatan: Survey + FGD. Lokus: Program MBKM proyek desa tematik SDGs.

D. Tema Keberlanjutan Urban & Teknologi Digital (Klaster 5 × Klaster 2)

16. Aplikasi Urban Building Energy Modelling Berbasis IoT untuk Bangunan Komersial di Iklim Tropis: Studi Kasus Surabaya

Kuantitatif Cross-Cluster G6 Pendekatan: Simulasi UBEM + validasi data IoT real-time. Software: URBANopt, EnergyPlus.

17. Aglomerasi Industri Digital dan Ketahanan Urban di Kawasan Metropolitan: Analisis Spasial-Temporal Kota-kota Indonesia

Kuantitatif Cross-Cluster G4 Pendekatan: Spatial Panel Regression. Data: BPS, ATR/BPN, Kominfo.

18. Co-benefits Digitalisasi Layanan Publik terhadap Mitigasi Polusi Udara dan Ketahanan Iklim Kota: Studi Kasus Gerbangkertosusila

Mixed-Method Pendekatan: Sistem dinamis + studi kasus. Lokus: Kawasan metropolitan Surabaya.

19. Smart City Indicators dan Urban Sustainability: Peran Mediasi Inovasi Teknologi Hijau pada Kota-kota Tier-2 Indonesia

Kuantitatif Pendekatan: SEM-PLS. Sampel: Aparatur dan stakeholder kota Tier-2.

20. Tinjauan Sistematik dan Bibliometrik Urban Resilience di Asia Tenggara: Gap Riset dan Agenda Penelitian Lanjutan

Kualitatif Pendekatan: PRISMA + VOSviewer. Output: Conceptual map dan future research roadmap.

E. Tema SDGs & Sektor Komoditas Strategis (Klaster 4 × Klaster 1)

21. Kopi Spesialti Indonesia sebagai Penggerak SDGs 1, 8, dan 12: Model Rantai Nilai Berkelanjutan di Dataran Tinggi Gayo

Mixed-Method Pendekatan: Value chain analysis + survei rumah tangga petani. Lokus: Aceh Tengah / Bener Meriah.

22. Peningkatan Penghidupan Petani Kakao melalui Ekonomi Sirkular Limbah Kulit Buah: Evaluasi Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Mixed-Method Pendekatan: Cost-benefit analysis + LCA. Lokus: Sulawesi Tengah / Sulawesi Selatan.

23. Sertifikasi Berkelanjutan (RSPO, UTZ, Rainforest Alliance) dan Performa Ekonomi-Lingkungan Petani Indonesia: Meta-Analisis Empiris

Kuantitatif Pendekatan: Meta-analysis ?30 studi terdahulu Indonesia 2015–2025.

24. Vanili Bali dan Pala Maluku sebagai Komoditas Penggerak SDGs Pedesaan: Analisis Komparatif Rantai Nilai Berkelanjutan

Kualitatif  Pendekatan:  Studi kasus komparatif.  Kerangka:  Pendekatan penghidupan berkelanjutan (SLA).

25. Kerangka Pengukuran Kinerja Pembangunan Berkelanjutan Strategi Daerah Penghasil Komoditas: Pengembangan Indeks Komposit

Kuantitatif  Pendekatan:  PCA + AHP untuk konstruksi indeks.  Output:  Tingkat Indeks Pembangunan Berkelanjutan kabupaten.

26. Pengaruh Pembangunan Finansial Inklusif terhadap Pencapaian SDGs di Kabupaten/Kota Indonesia: Analisis Spatial Durbin Model

Kuantitatif  Cross-Cluster G5  Pendekatan:  Ekonometrika spasial.  Data:  OJK Infrastruktur Keuangan Daerah + Dashboard BPS SDGs.

27. Inovasi Ramah Lingkungan pada UMKM Pertanian Berbasis Komoditas Ekspor: Anteseden dan mendesaknya terhadap Kinerja Pembangunan Berkelanjutan

Kuantitatif  Pendekatan:  SEM-PLS.  Sampel:  UMKM eksportir kopi/kakao/vanili.

28. Macadamia, Mete, dan Komoditas Kacang Pohon sebagai Diversifikasi Penghidupan Berkelanjutan: Studi Kelayakan dan Potensi Replikasi di Indonesia

Pendekatan Metode Campuran  :  Studi kelayakan + survei petani.  Lokus:  NTB, NTT, Sulawesi Tenggara.