HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Faktor Mempengaruhi Dividen Per Share Perusahaan Manufaktur

ABSTRAK

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar faktor-faktor current ratio, debt to equity ratio, dividen per share tahun sebelumnya, earning per share, total assets turn over berpengaruh terhadap dividen per share, serta untuk megetahui faktor mana yang paling dominan mempengaruhi dividen per share. Analisis dengan menggunakan regresi berganda terhadap 39 perusahaan yang diambil secara purposive sampling di Bursa Efek Jakarta melalui data sekunder Indonesian Capital Market Directory. Periode pengamatan dari tahun 2000 sampai dengan 2003. Analisis hasil regresi dilakukan setelah model terbebas dari gejala-gejala asumsi klasik yaitu multikolinieritas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas.

Hasil penelitian secara parsial menemukan bahwa ada dua variabel dalam model penelitian yaitu dividen per share tahun sebelumnya dan earning per share yang mempengaruhi signifikan terhadap dividen per share, sedangkan variabel current ratio, debt to equity ratio, total assets turn over tidak mempengaruhi dividen per share. Variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap dividen per share adalah earning per share. Nilai koefisien determinasi (R2) yaitu 57,7% menunjukkan masih banyak faktor yang mempengaruhi dividen per share.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi akuntansi lengkap / tesis akuntansi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya dana yang dimiliki setiap orang dapat ditanamkan ke dalam berbagai investasi, seperti investasi pada proyek, investasi pada perdagangan valuta asing, obligasi maupun investasi saham. Investasi pada saham merupakan suatu alternatif investasi yang cukup menarik karena seorang investor dapat berspekulasi dan berharap bahwa saham yang dimilikinya saat itu akan mendatangkan keuntungan. Investor bisa berharap keuntungan akan diperoleh dari dividen perusahaan atau dari capital gain. Capital gain dapat diperoleh jika harga saham pada saat ini lebih kecil jika dibandingkan dengan harga saham pada saat pembelian. Sedangkan dividen pada prinsipnya adalah keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham. Dividen memiliki resiko yang lebih rendah daripada capital gain. Hal ini dikarenakan dividen diterima menurut dasar periode berjalan sementara prospek realisasi keuntungan modal diperoleh di masa depan, artinya untuk memperoleh capital gain harus berani untuk berspekulasi bahwa harga saham yang akan datang lebih besar daripada harga saham pada waktu pembelian sehingga dividen dianggap lebih baik daripada capital gain.

Sesuai dengan fungsi manajemen keuangan pada umumnya tujuan pembagian dividen adalah untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Selain itu tujuan pembagian dividen juga untuk menunjukkan likuiditas perusahaan, untuk memenuhi kebutuhan para pemegang saham akan pendapatan riil, serta sebagai alat komunikasi antara manajer dan pemegang saham.
Bagi perusahaan, kebijakan dividen sangat penting karena menyangkut besar kecilnya keuntungan yang dibagikan perusahaan. Setiap perubahan dalam kebijakan pembayaran dividen akan memiliki dua dampak yang berlawanan. Apabila keuntungan perusahaan dibagikan sebagai dividen semua maka keputusan cadangan akan terabaikan, sebaliknya bila laba akan ditahan semua maka kepentingan pemegang saham akan uang kas juga terabaikan.

Untuk menjaga kedua kepentingan tersebut manajer keuangan harus mengambil kebijakan dividen yang optimal. Menurut Suad Husnan (1998), teori kebijakan dividen yang optimal diartikan sebagai rasio pembayaran dividen yang ditetapkan dengan memperhatikan kesempatan untuk menginvestasikan dana serta sebagai preferensi yang dimiliki para investor mengenai dividen daripada capital gain. Kebijakan dividen tersebut juga dipandang untuk menciptakan keseimbangan antara saat ini dengan pertumbuhan di masa yang akan datang sehingga dapat memaksimumkan harga saham.

Dengan demikian pembagian dividen memang sangat penting bagi suatu perusahaan untuk dapat menarik investornya yang nantinya dapat membantu perusahaan dalam menjalankan usahanya. Dalam menentukan pembagian dividen perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen itu sendiri. Bisa berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal perusahaan. Faktor internal maupun faktor eksternal perlu diperhatikan karena ada kemungkinan pengurangan pembayaran dividen bisa ditafsirkan bahwa prospek perusahaan memburuk. Faktor eksternalnya antara lain peraturan pemerintah, inflasi dan stabilitas sosial politik. Sedangkan faktor internal perusahaannya meliputi likuiditas perusahaan, kebutuhan dana untuk membayar utang, stabilitas dividen, tingkat keuntungan yang mampu diraih perusahaan serta perputaran penjualan (Riyanto, 1995), disini penulis hanya menelaah faktor internal saja.

Likuiditas perusahaan merupakan kemampuan finansial dari suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial pada saat ditagih. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya pada saat ditagih berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid, sebaliknya jika perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban finansialnya pada saat ditagih maka perusahaan itu dalam keadaan tidak likuid. Bagi perusahaan, likuid merupakan masalah yang sangat penting karena mewakili kepentingan perusahaan dalam berhubungan dengan pihak lain, baik pihak intern ataupun pihak ekstern. Adapun rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Current Ratio. Current Ratio merupakan rasio perbandingan antara aktiva lancar dengan utang lancar. Dimana jika suatu perusahaan, current ratio-nya lebih dari satu artinya perusahaan itu likuid dan semakin tinggi current ratio maka semakin besar kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya. Tingginya current ratio berarti semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam membayar dividen.

Suatu perusahaan akan memperoleh hutang baru untuk membiayai perluasan usahanya. Sebelumnya harus sudah direncanakan terlebih dahulu kebutuhan dana untuk membayar kembali hutang tersebut. Hutang dapat dilunasi pada saat jatuh tempo dengan mengganti hutang tersebut dengan hutang baru. Alternatif lain adalah perusahaan harus menyediakan dana sendiri yang berasal dari keuntungan untuk melunasi hutang tersebut. Salah satu rasio yang dapat menjamin keseluruhan hutangnya dengan bagian dari modal sendiri adalah Debt to Equity Ratio (DER). DER menunjukkan bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutangnya. Suatu perusahaan akan memprioritaskan keuntungan yang diperolehnya untuk membayar hutang sedangkan sisanya akan dibagikan sebagai Dividen Per Share. Hal ini yang menyebabkan Debt to Equity Ratio berpengaruh dalam pembagian dividen.

Banyak perusahaan yang menjalankan politik dividen yang stabil artinya jumlah Dividen Per Share yang dibagikan setengah tahunnya relatif tetap sama untuk jangka waktu tertentu, meskipun pendapatan per share sahamnya pertahunnya berfluktuasi. Dividen yang stabil ini dipertahankan untuk beberapa tahun kemudian, bila ternyata pendapatan perusahaan meningkat dan kenaikan pendapatan tersebut nampak dan relatif permanen, barulah besarnya Dividen Per Share dinaikkan. Untuk mempertahankan kestabilan dividen tersebut tentunya kita perlu memperhatikan dividen tahun sebelumnya (DPSmin1). Dividen tahun sebelumnya dianggap mempengaruhi kebijakan dividen pada saat ini. Dividen tahun sebelumnya (DPSmin1) akan menjadi cerminan bagi investor untuk memperkirakan dividen pada saat ini, apakah dividen yang dibayarkan mengalami penurunan atau kenaikan.

Suatu perusahaan yang menjalankan operasinya tentu mampu menghasilkan tingkat keuntungan bersih atau earning. Earning yang dinyatakan dalam tiap lembarnya disebut Earning Per Share (EPS). Sedangkan dividen akan dibayarkan bila perusahaan memperoleh keuntungan bersih, maka Earning Per Share tentu saja akan mempengaruhi besarnya dividen. Perputaran penjualan yang tinggi akan mencerminkan kinerja perusahaan secara finansial. Jika penjualan tinggi sedang total aktivanya tetap maka perputaran assetnya akan tinggi. Itu berarti keuntungan yang diperoleh dari hasil operasi perusahaan semakin tinggi. Keuntungan yang tinggi dapat digunakan untuk investasi pada aktiva tetap atau bisa juga dibagikan sebagai dividen. Dengan demikian semakin tinggi perputaran asset perusahaan, berarti semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen per sharenya. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Mutamimah dan Sulistyo (2000), akan tetapi populasi dan sampel yang digunakan berbeda. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis memiliki ide untuk meneliti tentang ”ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIVIDEN PER SHARE PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA”.

Incoming search terms:

Leave a Reply