HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Contoh Tesis Program Pengeloaan Penyakit Kronis Tahun 2020

CONTOH TESIS NO.1 Implementasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis)

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi program pengelolaan penyakit kronis di Puskesmas Halmahera Kota Semarang Tahun 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prolanis di Puskesmas Halmahera belum mencapai indikator 75%. Komunikasi belum berjalan dengan baik, sumber daya yang masih kurang berupa tempat dan dana, disposisi terhadap prolanis cenderung positif, dan belum terdapat SOP yang dibukukan.

BAB I

Sejak tahun 2014 BPJS Kesehatan telah menerapkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang merupakan sistem pelayanan kesehatan untuk mengelola penyakit Hipertensi dan Diabetes Melitus tipe 2. Puskesmas Halmahera sudah melaksanakan prolanis selama 2 tahun serta memiliki 1828 pengunjung untuk penyakit hipertensi dan 1091 pengunjung untuk penyakit Diabetes Melitus tipe 2.

Teknik Analisis

Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data diperoleh dengan wawancara mendalam kepada empat narasumber utama dan tiga narasumber triangulasi yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi.

CONTOH TESIS NO.2 Hubungan Antara Kepatuhan Mengikuti Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) BPJS dengan Stabilitas Gula Darah pada Penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Babat Kabupaten Lamongan

Abstrak

Hasil uji statistik menggunakan uji eksak alternatif Fisher menunjukkan p = 0,000 <? (0,05) yang berarti ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan mengikuti PROLANIS dengan stabilitas gula darah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kepatuhan maka semakin baik kestabilan gula darah. Berdasarkan empat pilar PROLANIS mayoritas penderita diabetes tidak mengikuti pendidikan (61%), aktivitas fisik (56%), dan pengobatan (52,3%), sedangkan sebagian besar penderita diabetes mematuhi pola makan (90,2%) ). Kesimpulannya adalah terdapat hubungan antara kepatuhan dengan mengikuti kestabilan gula darah PROLANIS sehingga dapat dijadikan acuan bagi penderita diabetes untuk meningkatkan kepatuhan terhadap 4 pilar penatalaksanaan PROLANIS DM agar gula darahnya stabil.

BAB I

Kestabilan gula darah berperan penting dalam pengelolaan diabetes. Kadar gula darah diabetes ditentukan oleh ketaatan pada empat pilar Penatalaksanaan DM. Ini difasilitasi oleh pemerintah melalui PROLANIS yang dikelola oleh BPJS. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kepatuhan mengikuti PROLANIS dengan kestabilan gula darah pada penderita diabetes.

Teknik Analisis

Desain penelitian adalah cross sectional analitik analitik kuantitatif dengan pendekatan non eksperimental. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling sebanyak 82 partisipan yang merupakan anggota PROLANIS Puskesmas Babat Lamongan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepatuhan diet, Baecke, MMAS-8 dan rekam medis pasien.

CONTOH TESIS NO.3 ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) BPJS KESEHATAN PADA DOKTER KELUARGA DI KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016

Abstrak

Berdasarkan evaluasi tahun 2016, BPJS defisit akibat klaim dan biaya radang kapitasi pada tahun 2015. Pekalongan merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah kasus hipertensi menempati urutan pertama sedangkan diabetes melitus tipe 2 menempati urutan kedua sekitar tahun 2015. Tujuan dari Dari 7 kegiatan yang telah dilakukan hanya 4 kegiatan yaitu penyuluhan kesehatan, cek kesehatan, senam prolanis dan pemberian obat. Ini terjadi karena sumber daya manusia dan dana yang terbatas. Apalagi sering terjadi ketidaktersediaan obat. Pengelolaan kegiatan berbeda karena belum ada SOP kegiatan prolanis dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi belum optimal.

BAB I

Program Penanggulangan Penyakit Kronis (Prolanis) merupakan program Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS) untuk menangani penyakit kronis yaitu diabetes melitus dan hipertensi pada pasien untuk mencegah komplikasi, meningkatkan kualitas hidup dan keuangan jaminan kesehatan secara efektif dan efisien.

Teknik Analisis

Penelitian ini untuk mengetahui implementasi dokter keluarga Prolanis di Pekalongan. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode kualitatif. Data diperoleh dari telaah dokumen dan wawancara mendalam. Penulis menganalisis 16 informan yang terdiri dari dokter keluarga, staf MPKP BPJS, ketua KLOK dan peserta prolanis. Data disajikan dalam bentuk naratif dan wawancara matriks. Hasil penelitian menunjukkan hanya lima dokter pemilik klub Prolanis dari 18 dokter keluarga di Pekalongan.

CONTOH TESIS NO.4 InputProgram Pengelolaan Penyakit Kronis di Puskesmas

Abstrak

Hasil penelitian  menunjukkan  tenaga  pelaksana  terlatih  Prolanis  masih  kurang.Kegiatan  sudah  sesuai dengan   pedoman   penggunaan   dana,   ketersediaan   obat   mengacu   Formularium   Nasional, ketersediaan  peralatan  kesehatan  mengacu  Kompendium  Alat  Kesehatan,  ketersediaan  buku pedoman  Prolanis,  formulir  kesediaan  bergabung  Prolanis  belum sesuai dan  buku  pemantauan status  kesehatanbelumterdistribusi  menyeluruh.Sehingga  disimpulkan  bahwa  Input  Prolanis belum optimal

BAB I

Puskesmas Pandanaran memiliki jumlah peserta Prolanis terbanyak di Kota Semarang pada tahun2017  yaitusebanyak409  orang.   Persentasetertinggi kunjungan  peserta  Prolanis mencapai  91%. Sedangkan  salah  satu  puskesmas  dengan  jumlah  peserta  paling  sedikit  terdapat  di  Puskesmas Karanganyaryaitu79  pesertadengan  persentasetertinggi kunjungan  peserta  Prolanis mencapai 40%. Penelitian  ini  bertujuanuntukmengevaluasi  input  Program  Pengelolaan  Penyakit  Kronis yang  dilaksanakan pada  bulan  Mei  2018.

Teknik Analisis

Jenis  penelitian  adalah  penelitian  deskriptif  kualitatif. Informan   penelitian   berjumlah   13   orang, dipilih   dengan   teknik purposive   sampling.   Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Data dianalisis secara kualitatif.

CONTOH TESIS NO.5 ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) BPJS KESEHATAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI UPTD PUSKESMAS TEGAL GUNDIL KOTA BOGOR

Abstrak

Kasus Hipertensi di Kota Bogor menduduki peringkat kedua penyakit terbanyak dan UPTD puskesmas Tegal Gundil merupakan salah satu puskesmas yang memiliki angka kejadian hipertensi terbanyak sebesar 4.755 kasus (Profil Dinkes Kota Bogor, 2015). Permasalahan pada UPTD Puskesmas Tegal Gundil adalah pelaksanaan prolanis sudah dilakukan sejak tahun 2015 tetapi kasus hipertensi masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mendalam mengenai pelaksanaan program Prolanis BPJS Kesehatan pada pasien hipertensi di UPTD Puskesmas Tegal Gundil Kota Bogor tahun 2017.

BAB I

Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) merupakan program kesehatan yang bertujuan mencegah komplikasi penyakit kronis terutama penyakit Hipertensi dan Diabetes Mellitus Tipe 2. Program ini di inisiasi oleh BPJS Kesehatan dengan melihat kondisi perkembangan penyakit tidak menular yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular khususnya hipertensi cenderung mengalami kenaikan dari 7,6% pada tahun 2007 menjadi 9,5% pada tahun 2013 (Kementrian Kesehatan RI, 2013).

Teknik Analisis

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif menggunakan metode pengumpulan data survey bersifat cross sectional dengan jenis rancangan deskriptif. Informan berjumlah 5 orang dan instrumen yaitu pedoman wawancara mendalam, daftar tilik observasi dan daftar tilik telaah dokumen. Saran meningkatkan koordinasi antara pihak yang terlibat dalam prolanis.

CONTOH TESIS NO.6 FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PENURUNAN JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) DI PUSKESMAS MINASA UPA KOTA MAKASSAR

Abstrak

Hasil analisis bivariat menggunakan Uji Person correlation, menunjukkan ada hubungan signifikan antara keterjangkauan akses pelayanan dengan penurunan jumlah kunjungan peserta prolanis dengan nilai p 0.000, ada hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan penurunan jumlah kunjungan peserta prolanis dengan nilai p 0.000, dan ada hubungan signifikan antara peran petugas kesehatan dengan penurunan jumlah kunjungan peserta prolanis dengan nilai p 0.000. Hasil penelitan menunjukkan bahwa peserta prolanis yang tidak rutin berkunjung dan melakukan kegiatan prolanis, maka akan memicuh terjadinya komplikasi bagi penderita resiko tinggi, sehingga tidak dapat memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan yang lebih baik.

BAB I

Prolanis adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan Peserta, fasiltas kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.

Teknik Analisis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya penurunan jumlah kunjungan peserta prolanis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Subjek penelitian adalah 51 peserta prolanis yang diperoleh dengan menggunakan purposive sampling.

CONTOH TESIS NO.7 EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) DALAM PENANGANAN DIABETES MELITUS TIPE 2 OLEH DOKTER KELUARGA DI KECAMATAN TURI, KABUPATEN SLEMAN

Abstrak

Hasil Tidak terdapat penurunan yang signifikan dari tren glukosa darah puasa dari tahun 2012 ke 2013. Tren kenaikan kadar HbA1c dari tahun 2012 ke tahun 2013. Pada akhir tahun 2012 persentase penderita diabetes yang mencapai target kadar glukosa darah puasa sebesar 24% dan meningkat pada akhir tahun 2013 sebanyak 38%, namun persentase pasien yang mencapai target kadar HbA1c menurun dari 35% menjadi 26%. Kesimpulan Penerapan Prolanis dalam penanganan diabetes mellitus tipe 2 oleh dokter umum kurang efektif berdasarkan kecenderungan kadar gula darah puasa, kecenderungan peningkatan kadar HbA1c, dan persentase penderita diabetes mencapai kadar sasaran

BAB I

INTISARI: Latar Belakang Prevalensi penyakit diabetes mellitus di seluruh dunia seperti di Indonesia terus meningkat. Penyakit kronis ini membutuhkan penanganan yang berkelanjutan dan komprehensif termasuk intervensi medis dan non medis. Di Indonesia sejak 2010 PT. Askes sebagai perusahaan asuransi kesehatan nasional telah mengembangkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), yaitu program peningkatan kualitas penanganan dibetes melitus tipe 2 oleh dokter umum dengan memberikan pelatihan dan membuat sistem monitoring pengobatan diabetes. Dokter umum sebagai pintu gerbang pertama pelayanan primer harus mampu melakukan penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2 yang efektif. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) oleh dokter umum dalam penanggulangan tipe 2. diabetes melitus di Kecamatan Turi, Sleman, Yogyakarta.

Teknik Analisis

Metode Data dari catatan medis dan buku pemantauan diabetes dari 52 pasien di klinik dokter umum swasta selama 24 bulan diambil dan dianalisis. Ada juga survei yang dilakukan untuk mengeksplorasi gaya hidup dan pendidikan pasien yang diterima dari dokternya.

CONTOH TESIS NO.8 ADMINISTRASI KESEHATAN PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) BPJS KESEHATAN DI PUSKESMAS KOTA BANDAR LAMPUNG (Studi pada Puskesmas Susunan Baru, Puskesmas Kedaton dan Puskesmas Sumur Batu)

Abstrak

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa administrasi kesehatan program Prolanis Kesehatan yang dilakukan di tiga puskesmas yang ada di Bandar Lampung yaitu Puskesmas Susunan Baru, Puskesmas Kedaton dan Puskesmas Sumur Batu telah berhasil dilaksanakan, hal ini terlihat dari hasil yang ada bahwa kelima unsur pokok dalam administrasi kesehatan dalam program ini sudah terpenuhi secara tepat dengan pemanfaatan teknologi dan ilmu dari dua bidang yaitu ilmu kedokteran dan administrasi membuat masalah kesehatan penyakit kronis dapat terselesaikan secara efektif dan efisien.

BAB I

Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan merupakan suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan Peserta, Fasilitas Kesehatan (Faskes) dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis (Hipertensi dan Diabetes Melitus tipe 2) untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menganalisis administrasi kesehatan Program Prolanis BPJS Kesehatan di Puskesmas Susunan Baru, Puskesmas Kedaton dan Puskesmas Sumur Batu dengan fokus penelitian menggunakan 5 unsur pokok administrasi kesehatan menurut Azrul Azwar yaitu: Masukan, Proses, Keluaran, Sasaran dan Dampak.

Teknik Analisis

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, dokumentasi dan observasi.

CONTOH TESIS NO.9 PENGARUH FAKTOR-FAKTOR SOSIODEMOGRAFI TERHADAP RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT DALAM PENGOBATAN SENDIRI PADA PASIEN PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS)

Abstrak

Berdasarkan hasil penelitian, dari 100 responden terdapat 63% perempuan dan 37% laki-laki. Pasien berusia ? 60 tahun 54% dan 46% berusia > 60 tahun. Terdapat 64% pasien berpendidikan rendah dan 36% pasien berpendidikan tinggi. Sebanyak 31% responden rasional dan 69% responden tidak rasional dalam menggunakan obat pada pengobatan sendiri Berdasarkan analisis chi- square dengan taraf kepercayaan 95%, jenis kelamin dan usia tidak berhubungan dengan rasionalitas penggunaan obat (p = 0.833 dan p = 0.157 ). Tingkat pendidikan berhubungan dengan rasionalitas penggunaan obat (p = 0.029).

BAB I

Pengobatan sendiri adalah penggunaan obat oleh masyarakat dengan tujuan mengobati penyakit atau gejala sakit tanpa menggunakan resep dokter atau nasehat tenaga medis lainnya (Supardi et al, 2004). Pengobatan sendiri seharusnya dilakukan dengan benar sesuai dengan kondisi penyakitnya. Faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, sikap dan pengetahuan diketahui berhubungan dengan perilaku pengobatan seseorang (Kristina et al, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara faktor-faktor sosiodemografi dengan rasionalitas penggunaan obat dalam pengobatan sendiri pada pasien Prolanis.

Teknik Analisis

Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yang dilakukan dengan wawancara menggunakan lembar checklist. Rasionalitas penggunaan obat dinilai berdasarkan ketepatan indikasi, obat, dosis dan cara penyimpanan obat. Responden adalah pasien Prolanis dari dokter keluarga di wilayah Kabupaten Banyumas, pernah melakukan swamedikasi dan bukan tenaga kesehatan.

CONTOH TESIS NO.10 Risiko Penyakit Kardiovaskuler pada Peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Kota Bima: Korelasinya dengan Ankle Brachial Index dan Obesitas

Abstrak

Penyakit kardiovaskular (PKV) adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah. PKV dapat dicegah terutama pada kelompok berisiko, diantaranya dengan penilaian risiko menggunakan Framingham Risk Score (FRS). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis risiko PKV dan korelasinya dengan Ankle Brachial Index (ABI) dan obesitas pada peserta Prolanis di Kota Bima. Pengambilan data menggunakan instrumen Framingham Risk Score, pengukuran tekanan darah, indeks massa tubuh, lingkar lengan, dan lingkar perut. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional. Pemilihan sampel ditentukan secara consecutive sampling pada semua responden yang aktif mengikuti kegiatan Prolanis dan memenuhi kriteria inklusi di lima Puskesmas di Kota Bima tahun 2018. Analisis data dengan uji parametrik Spearman. Hasil penelitian menunjukkan kelompok risiko tinggi 33 orang (40,7%), risiko sedang 28 orang (34,6%), dan risiko rendah 20 orang (24,7%). Tidak terdapat korelasi antara risiko PKV dengan ABI dan obesitas. Temuan lain dalam penelitian ini mengindikasikan adanya korelasi antara risiko PKV dengan subvariabel obesitas sentral walaupun tidak ditemukan adanya signifikansi (p> 0,05). Pada penelitian selanjutnya, disarankan jumlah sampel yang lebih banyak di komunitas dengan proporsi laki-laki dan perempuan yang berimbang.

BAB I

Penggunaan Framingham Risk Score(FRS) te-lah  banyak  digunakan  diberbagai  kelompok negara,kelompok populasi,atau etnis tertentu. Menurut studioleh Nurwidyaningtyas, Kholifah, dan Rahma (2014),alat  ukur  inibelumumum di-gunakandimasyarakat.Hal inidapat terjadi karena  masyarakat  kurang  memahami  bahwakelompokrisikotinggi  PKVdapatdiidentifi-kasi  dengancarayang  dapatdilakukanbaikoleh  kader,warga,atau  justrukeluarga  intisendiri. Deteksidinikelompokrisikoinidapat menahanpeningkatan prevalensi PKV.

Teknik Analisis

Desain penelitian yang digunakan yaitudeskrip-tif  analitik dengan  rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dengan metode consecuti-ve samplingpada 81 responden yang memenuhi kriteria  inklusiyaitupasienyang  aktif  mengi-kuti  kegiatan Program Pengelolaan  Penyakit Kronis (Prolanis)di wilayah kerja 5 PuskesmasKota Bima(PKM Paruga, PKM Mpunda, PKM Kolo,  PKM  Pena  Na’e,  dan  PKM  Rasanae Timur), usia  pasien  22–85tahun, kesadaran compos mentis, tidak memiliki riwayat penya-kit  jantung  dan  stroke,sertabersedia menjadiresponden.

CONTOH TESIS NO.11 Efektivitas Biaya Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektivitas biaya Prolanis pada Puskesmas Karangduren dan Patrang.. Hasil penelitian menunjukkan input Prolanis pada Puskesmas Karangduren dan Patrang yakni ketersediaan SDM dan dana untuk Prolanis yang tidak keluar, serta kegiatan home visit belum terlaksana karena tidak adanya dana untuk transport petugas dan kurangnya SDM home visit. Hanya peserta Prolanis Puskesmas Patrang dengan riwayat hipertensi telah mencapai indikator 75%. Simpulan penelitian ini adalah efektivitas biaya Prolanis Puskesmas Karangduren lebih efektif dibandingkan Puskesmas Patrang.

BAB I

Biaya yang dihabiskan untuk penyakit katastropik hingga semester I tahun 2017 telah mencapai Rp 12,7 trilliun atau 24,81% dari total biaya rumah sakit. Jumlah peserta Prolanis Puskesmas Karangduren sebanyak 46 peserta dengan RPPRB sebesar 92,60% dan Patrang sebanyak 45 orang dengan RPPRB sebesar 42,96%.

Teknik Analisis

Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian dilakukan pada bulan September 2017 sampai dengan Oktober 2017. Data diperoleh dengan studi dokumentasi dan wawancara pada penanggung jawab Prolanis, bagian keuangan JKN dan tata usaha

CONTOH TESIS NO.12 Implementasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) pada Penyakit Hipertensi di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta

Abstrak

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, penyakit kronis merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Provinsi DI Yogyakarta  menempati persentase tertinggi untuk lansia di mana baru 21 peserta penderita hipertensi yang terjaring di dalam prolanis di Puskesmas Jetis. Mengidentifikasi implementasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) pada penyakit hipertensi di Puskemas Jetis Kota Yogyakarta. Puskesmas membatasi kepersertaan prolanis karena keraguan dalam mengendalikan untuk rutin datang setiap bulannya.Puskesmas mengadakan kegiatan prolanis yang tidak rutin dilaksanakan yaitu senam dan home visit. Perlu pengadaan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan petugas dan mengupdate pengetahuan. Kepatuhan pasiennya perlu peningkatan kesadaran dengan melakukan kegiatan edukasi ke wilayah  puskesmas  secara rutin. Staf Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyusun perencanaan angggaran dalam fasilitas kesehatan untuk mendukung pelaksanaan prolanis, Staf Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melakukan pelatihan, pembinaan, pengawasan dan evaluasi kepada petugas puskesmas yang memberikan layanan prolanis. Adakan koordinasi lintas program pengelola di puskesmas. Puskesmas diharapkan lebih mampu menjalankan kegiatan yang bersifat promotif dan preventif.

BAB I

Adapun sebaran penduduk lansia menurut provinsi dapat dilihat, provinsi dengan persentase lansia tertinggi adalah DI Yogyakarta 13,4% dan terendah adalah Papua 2,8%. Dengan bertambahnya umur, fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses penuaan sehingga penyakit tidak menular banyak muncul pada lanjut usia. Penyakit terbanyak pada lanjut usia adalah Penyakit Tidak Menular (PTM) antara lain hipertensi, artritis, stroke, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan Diabetes Mellitus (DM) .

Teknik Analisis

Penelitian ini  bersifat kualitatif dengan menggunakan strategi studi kasus. Subjek penelitian ada 18 informan yang dipilih dengan teknik purposive. Analisis data dilakukan berdasarkan logika induktif yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam. Data kualitatif disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Cakupan kepatuhan program prolanis dilihat dari indikator angka kontak yang belum tercapai oleh Puskesmas Jetis dengan rasio angka kontak 108 permil dan indikator rasio peserta prolanis rutin berkunjung hanya sampai zona aman yang standar yaitu 69 persen karena kurangnya sosialisasi terkait prolanis.

CONTOH TESIS NO.13 Analisis Implementasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) pada Dokter Keluarga PT Askes di Kota Palembang Tahun 2013

Abstrak

Hasil Penelitian : Diketahui bahwa PT Askes dan dokter keluarga sudah memahami pelayanan 7 pilar prolanis yang merupakan penjabaran Pedoman Prolanis. Untuk pelaksanaannya sendiri, dokter keluarga yang belum aktif pelaksanaan hanya pada 5 dari 7 pilar dengan alasan tidak ada tempat, kesibukan dokter, dan peserta yang tidak bersedia. Masih terdapat kendala guna pencapaian tujuan prolanis seperti PIC hanya satu orang, sarana tempat yang tidak tersedia di tiap dokter keluarga dan target peserta yang belum mencapai target.

Kesimpulan : Implementasi program pengelolaan penyakit kronis pada dokter keluarga PT Askes di kota Palembang tahun 2013 masih masih belum optimal serta ditemukan kendala. Saran untuk PT Askes agar menambah PIC prolanis di PT Askes cabang Palembang serta membantu advokasi izin penggunaan tempat bagi dokter keluarga yang tidak memiliki tempat untuk kegiatan klub.

BAB I

Latar Belakang : Program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi melibatkan Peserta, Penyedia Pelayanan Kesehatan (PPK) dan PT Askes (Persero) dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta askes yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya yang efektif dan efisien. Program ini telah dijalankan PT Askes (Persero) sejak tahun 2010 namun dalam pelaksanaannya dari 19 dokter keluarga prolanis hanya 5 dokter keluarga yang baru berpartisipasi aktif serta realisasi biaya di PT Askes pada tahun 2012 justru terjadi kenaikan. Dari latar belakang tersebut peneliti ingin mengetahui implementasi Prolanis berdasarkan Peraturan Direksi PT Askes (Persero) Nomor 121 Tahun 2012 di tingkat Dokter Keluarga PT Askes di Kota Palembang.

Teknik Analisis

Metode : Menggunakan deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, telaah dokumen dan FGD. Informan 16 orang yang mewakili PT Askes, Dokter Keluarga Prolanis, dan peserta Prolanis. Penyajian data dalam penelitian ini menggunakan narasi dan kemudian dibuat juga dalam bentuk matriks.

CONTOH TESIS NO.14 PERSEPSI PESERTA PROLANIS TENTANG KEGIATAN PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) DI UPT LAYANAN KESEHATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

Abstrak

Hasil penelitian menunjukan sebagian besar peserta prolanis (54,3%) memiliki persepsi baik dengan adanya kegiatan prolanis secara umum, selain itu didapatkan sebagian besar peserta prolanis merasakan adanya kerentanan dan keseriusan terhadap penyakitnya jika tidak mengikuti prolanis (50,6%), merasakan manfaat dari prolanis (54,3%), merasakan adanya hambatan saat mengikuti prolanis (53,1%) dan yakin dapat mengikuti prolanis (54,3%). Sedangkan hampir seluruh peserta (81,5%) memerlukan informasi dan petunjuk untuk mengikuti prolanis.

Penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan prolanis dianggap baik namun masih ada hambatan yang dirasakan peserta dalam mengikuti prolanis yaitu kurangnya dukungan keluarga yang dirasakan peserta untuk mengikuti prolanis. Dengan demikian menjadi penting bagi UPT Layanan Kesehatan Unpad melibatkan peran serta keluarga untuk meningkatkan partisipasi peserta prolanis.

BAB I

Prolanis adalah program yang diadakan pemerintah untuk menangani permasalahan penyakit kronis di indonesia. Namun keikutsertaan peserta prolanis dalam mengikuti prolanis masih rendah dan kehadirannya kian menurun disetiap bulannya. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi persepsi peserta prolanis tentang kegiatan prolanis di UPT Layanan Kesehatan Unpad mengenai persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan cues to action dan keyakinan diri.

Teknik Analisis

Penelitian deskriptif kuantitatif ini dilakukan pada 81 responden dengan cara total sampling. Data penelitian diambil menggunakan kuesioner yang berjumlah 46 pernyataan yang dikembangkan dari literatur terkait prolanis dan sebelumnya telah dilakukan uji validitas dengan rentang nilai 0,453-0,760 dan reliabilitas dengan hasil 0,729, kemudian data dianalisis secara deskriptif.

CONTOH TESIS NO.15 Gambaran Senam Jantung Sehat Dan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi Yang Mengikuti Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Di Wilayah Kerja Puskesmas Dau Kabupaten Malang

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan senam jantung sehat dan kualitas hidup pasien hipertensi yang mengikuti prolanis. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 33 pasien hipertensi yang mengikuti prolanis di Puskesmas Dau, Kabupaten Malang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Hasil : Terdapat 29 (87,9%) responden dalam kategori sangat baik dalam melakukan senam jantung sehat. Dari ke-empat domain kualitas hidup yang memiliki nilai rata- rata paling tinggi pada pasien hipertensi yang mengikuti prolanis adalah domain lingkungan dengan nilai tertinggi rata-rata 84,94 dan nilai domain terendahyaitu domain kesehatan dengan nilai terendah rata-rata 72,82. Kesimpulan : Senam jantung sehat dapat mengeluarkan senyawa beta-endorfin yang dapat menimbulkan rasa senang dan mengurangi stress sehingga hal tersebut merupakan salah satu faktor terjadinya peningkatan kualitas hidup. Kata Kunci : Senam Jantung Sehat, Kualitas Hidup, Pasien Hipertensi 1 Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang. 2 Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang.

BAB I

Latar Belakang : Senam jantung sehat merupakan olahraga yang bertujuan untuk memasukkan suplai oksigen sebanyak mungkin. Senam ini juga dapat mengeluarkan senyawa beta-endorfin yang dapat meningkatkan perasaan sehat dan meningkatkan kemampuan seseorang mengatasi stres. Melakukan aktifitas fisik khusunya senam jantung sehat akan menurunkan tekanan darah bagi pasien hipertensi. Dengan demikian senam jantung sehat memiliki faktor penting dalam kualitas hidup khususnya pasien hipertensi.

Teknik Analisis

Instrumen yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kuisioner WHOQOL-BREF dan kuisioner modifikasi dari penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan uji validitas dan reabilitas.

 

Leave a Reply

Open chat
Hallo ????

Ada yang bisa di bantu?