HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Contoh Tesis Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Tahun 2020

CONTOH TESIS NO.1 Studi Kasus Implementasi Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pneumonia pada Kegiatan Penemuan Kasus Pneumonia Balita di Puskesmas

Abstrak

Hasil penelitian, penemuan kasus pneumonia secara aktif tidak berjalan dengan optimal karena kegiatan penemuan kasus tidak masuk dalam Rencana Pelaksanaan Kegiatan di puskesmas, hal ini dikarenakan karena program ISPA pneumonia bukan merupakan program prioritas di puskesmas. Penemuan pneumonia secara pasif juga belum optimal karena petugas MTBS belum melakukan pemeriksaan balita batuk yang memenuhi standar sehingga tidak dapat menjaring atau menemukan kasus pneumonia pada balita di puskesmas. Kurangnya pengetahuan, rendahnya motivasi, serta lemahnya ,monitoring dan evaluasi dari dinas kesehatan menjadi kendala program ISPA pneumonia disamping keterbatasan anggaran atau dana. Rekomendasi yang disarankan adalah mengalokasikan anggaran untuk program P2 ISPA, memfasilitasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi petugas P2 ISPA puskesmas, menjalin kerja sama lintas program dan lintas sektor dalam memperluas jangkauan program P2 ISPA pada kegiatan penemuan kasus pneumonia pada balita di puskesmas.

BAB I

Salah satu strategi yang dikembangkan dalam program pencegahan dan pengendalian penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Indonesia yaitu penemuan dan tatalaksana kasus pneumonia balita. Salah satu tantangan dan hambatan dalam pencegahan dan pengendalian ISPA adalah belum efektifnya upaya-upaya penemuan tatalaksana kasus pneumonia. Cakupan penemuan pneumonia balita di Kabupaten Kerinci paling rendah di Provinsi Jambi. Sejak tahun 2014-2016 cakupan penemuan pneumonia di Kabupaten Kerinci adalah 0 dari 2.778 perkiraan penderita yang ditemukan. Berdasarakan hal tersebut perlu dilakukan penelitian pada program Pencegahan dan Pengendalian ISPA kegiatan penemuan kasus pneumonia baik secara aktif maupun pasif di puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk Mengevaluasi program Pencegahan dan Pengendalian ISPA Pneumonia melalui kegiatan penemuan kasus pneumonia pada balita di puskesmas Kabupaten Kerinci.                        

Teknik Analisis

Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi menggunakan metode kualitatif dengan rancangan studi kasus implementasi program, bertempat di Puskesmas Sungai Tutung Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi, menggunakan teori program model logika dengan langkah evaluasi mengacu kepada framework evaluasi program yang direkomendasikan oleh Center For Disease Control and Prevention. Wawancara dilakukan pada 15 orang informan termasuk informan triangualasi. informan kunci adalah provider puskesmas yang terkait program ISPA pneumonia.

CONTOH TESIS NO.2 GAMBARAN FAKTOR PENYEBAB INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI PUSKESMAS PASIRKALIKI KOTA BANDUNG

Abstrak

Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 angka kematian akibat pneumonia, mencapai 5 kasus diantara 1000 bayi dan balita. Ini berarti ISPA mengakibatkan 150 ribu bayi dan balita meninggal setiap tahunnya, atau 12.500 korban perbulan, atau 416 kasus sehari, atau 17 anak per jam, atau 1 orang balita tiap 5 menit. Tujuan  penelitian  ini untuk  mendapatkan gambaran faktor  penyebab ISPA yaitu BBLR, status gizi, imunisasi, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik ventilasi di Puskesmas Pasirkaliki Kota Bandung. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden mempunyai riwayat BBLR, hampir setengah responden mempunyai status gizi kurang, sebagian status imunisasi lengkap, sebagian besar kepadatan tempat tinggal kurang dan hampir seluruh responden mempunyai lingkungan fisik ventilasi tidak baik. Oleh karena itu disarankan bagi pihak  puskesmas untuk lebih mensosialisasikan pentingnya  imunisasi dan pencegahan BBLR untuk mencegah kejadian ISPA.

BAB I

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung hingga  kantong paru (alveoli)  termasuk jaringan adneksanya seperti sinus/rongga di sekitar hidung, rongga telinga tengah dan pleura.

Teknik Analisis

Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan  menggunakan  teknik simpel random sampling. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan rumus prosentase. Populasi dalam penelitian ini yaitu 226 responden, sampel sebanyak 30% dari populasi yaitu 68 responden.

CONTOH TESIS NO.3 Perawatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita

Abstrak

Hasil penelitian analisis univariat diperoleh dari 51 responden, sebagian besar responden memiliki pengetahuan rendah sebanyak 21 orang (41,2%). Sedangkan sebagian besar responden memiliki sikap buruk sebanyak 27 orang (52,9%). Sedangkan hasil analisis bivariat hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan perawatan ISPA pada balita dengan uji Pearson Chi-square diperoleh p_value pengetahuan dan sikap ibu dengan perawatan ISPA sebesar 0,000 ? ? 0,005, artinya p_value ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan perawatan ISPA pada balita. di wilayah kerja puskesmas. Kesimpulannya, keikutsertaan orang tua khususnya ibu dalam mengikuti kegiatan promosi kesehatan di puskesmas harus terjadwal.

BAB I

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kembang Seri Kecamatan Talang Empat Kabupaten Bengkulu Tengah Tahun 2018.

Teknik Analisis

Jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional.

CONTOH TESIS NO.4 Polusi Udara Dalam Rumah Terhadap Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Balita di TPA Sukawinatan Palembang

Abstrak

Hasil: Period Prevalence kejadian ISPA pada balita sebesar 59,6%. Variabel penggunaan obat anti nyamuk, perokok dalam rumah, ventilasi, status gizi dan status imunisasi secara statistik menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap kejadian ISPA pada balita, sedangkan variabel kadar SO2 dalam rumah dan umur balita secara statistik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap kejadian ISPA pada balita. Hasil analisis multivariat diperoleh bahwa variabel ventilasi rumah merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita

BAB I

Latar belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak-anak. ISPA bisa terjadi karena pencemaran kualitas udara di luar maupun di dalam ruangan. Salah satunya gas sulfur dioksida (SO2) yang ada di tempat pembuangan sampah dapat mengganggu sistem pernapasan pada balita. Balita lebih berisiko tertular ISPA karena kekebalan tubuh yang dialami balita belum terbentuk sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi udara dalam rumah dan karakteristik balita terhadap kejadian ISPA pada balita di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Sukawinatan Kelurahan Sukajaya Palembang.

Teknik Analisis

Metode: Jenis penelitian analitik, desain penelitian cross sectional. Variabel terukur adalah kondisi udara dalam rumah, karakteristik balita, dan kejadian ISPA pada balita. Populasi penelitian adalah anak balita berumur 12-59 bulan yang bertempat tinggal di Kelurahan Sukajaya dan sampel berjumlah 94 orang. Data dianalisis dengan uji chi-square, t-test independent, dan regresi logistik.

CONTOH TESIS NO.5 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI PUSKESMAS GARUDA KOTA BANDUNG

Abstrak

Analisis statistik terhadap data yang diperoleh menunjukan bahwa terdapat hubungan antara BBLR dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,000 < 0,05), tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,134 > 0,05), ada hubungan antara imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,005 < 0,05), tidak ada hubungan antara kepadatan tempat tinggal dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,552 > 0,05), tidak ada hubungan antara lingkungan fisik ventilasi dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,790 > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat hubungan antara BBLR dan imunisasi terhadap kejadian ISPA, serta tidak terdapat hubungan antara status gizi, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik ventilasi terhadap kejadian ISPA. Dan saran kepada puskesmas supaya lebih mensosialisasikan pentingnya imunisasi dan pencegahan terjadinya kelahiran bayi yang BBLR agar mengurangi resiko terjadinya ISPA.

BAB I

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung hingga kantong paru (alveoli) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus/rongga di sekitar hidung, rongga telinga tengah dan pleura. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 angka kematian akibat pneumonia, mencapai 5 kasus diantara 1000 bayi dan balita. Ini berarti ISPA mengakibatkan 150 ribu bayi dan balita meninggal setiap tahunnya, atau 12.500 korban perbulan, atau 416 kasus sehari, atau 17 anak per jam, atau 1 orang balita tiap 5 menit. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor-faktor ISPA yaitu BBLR, status gizi, imunisasi, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik ventilasi terhadap kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Garuda Kota Bandung.

Teknik Analisis

Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik, dengan menggunakan rancangan survey cross sectional dengan menggunakan teknik accidental sampling. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan analisa Chi Square. Populasi dalam penelitian ini yaitu 327 balita, dan sampel yang digunakan yaitu balita yang datang berobat ke puskesmas, diambil sebanyak 15% dari 327 balita dan didapat 50 responden.

CONTOH TESIS NO.6 Pemanfaatan Minyak Kayu Putih (Melaleuca Leucadendra Linn) sebagai Alternatif Pencegahan Kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Pulau Buru

Abstrak

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 mencatat angka period prevalence ISPA Nasional dan Pulau Buru masing-masing 25% dan 24,8%. Minyak kayu putih secara tradisional digunakan untuk mengurangi gangguan saluran pernafasan dan mengobati infeksi. Hasil penelitian menunjukkan tingginya kasus ISPA di wilayah Pulau Buru dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang buruk dan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan masih cukup minim, terutama yang tinggal di pegunungan. Kondisi tersebut dikarenakan minimnya intervensi dari sarana pelayanan kesehatan. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil alam Pulau Buru dari olahan daun Melaleuca leucadendra Linn berupa minyak kayu putih berpotensi untuk digunakan sebagai alternatif pencegahan ISPA di Pulau Buru dengan metode inhalasi. Kandungan utama dari tanaman tersebut memiliki khasiat sebagai pengencer dahak, melegakan saluran pernafasan, anti inflamasi dan penekan batuk

BAB I

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Insiden kejadian ISPA pada kelompok umur balita diperkirakan 0,29 kasus per anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 kasus per anak/tahun di negara maju. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 156 juta kasus ISPA baru di dunia per tahun dan 96,7% terjadi di negara berkembang. Kasus ISPA terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta) dan Pakistan (10 juta) serta Bangladesh, Indonesia dan Nigeria masing-masing 6 juta kasus. Dari semua kasus ISPA yang terjadi di masyarakat, 7- 13% merupakan kasus berat dan memerlukan perawatan di rumah sakit

Teknik Analisis

Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipasi serta komunikasi langsung.

CONTOH TESIS NO.7 HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN, SOSIAL-EKONOMI, DAN PENGETAHUAN IBU DENGAN KEJADIAN INSFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI KELURAHAN CICADAS KOTA BANDUNG

Abstrak

Kejadian penyakit berbasis lingkungan seperti diare, ISPA/pneumonia dan TB paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infection (ARI) Infeksi saluran pernapasan akut adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan terutama paru-paru, termasuk penyakit tenggorokan dan telinga. Infeksi saluran pernapasan akut diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu infeksi saluran pernapasan akut berat (pneumonia berat) ditandai dengan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam pada saat inspirasi, infeksi saluran pernapasan akut sedang (pneumonia) ditandai dengan frekuensi pernapasan cepat yaitu umur di bawah 1 tahun; 50 kali/menit atau lebih cepat dan umur 1-4 tahun; 40 kali/menit atau lebih. Sedangkan infeksi saluran pernapasan akut ringan (bukan pneumonia) ditandai dengan batuk pilek tanpa napas cepat dan tanpa tarikan dinding dada. Tingginya kejadian penyakit tersebut dipengaruhi oleh : Pendidikan ibu, pengetahuan ibu, gaya hidup, status gizi, status imunisasi, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian penyakit ISPA dan identifikasi faktor risiko lingkungan terutama kualitas udara ambien di daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan perilaku masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit ISPA cukup positip. Walaupun demikian pengetahuan/pemahaman masyarakat terutama ibu sebagai pengelola rumah tangga terhadap berbagai penyakit tersebut relatif masih kurang. Bisa jadi hal ini yang menyebabkan masih ada sebagian masyarakat yang mempunyai persepsi yang salah terhadap penyakit terutama mengenaipenyebab, penular, cara penularannya dan penyembuhan penyakit.

BAB I

Kejadian penyakit berbasis lingkungan seperti Diare, ISPA (Insfeksi Saluran Pernapasan Akut), TB paru, malaria, dan Demam Berdarah Dengue masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Tingginya kejadian penyakit tersebut antara lain disebabkan masih buruknya keadaan sanitasi lingkungan, bahkan penyakit ISPA merupakan pembunuh utama kematian bayi serta balita di Indonesia. Merujuk konferensi Internasional mengenai ISPA di Canberra, Australia, pada Juli 1997, yang menemukan empat juta bayi dan balita di negaranegara berkembang meninggal tiap tahun akibat ISPA. Pada akhir 2000, diperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama ISPA di Indonesia mencapai lima kasus di antara 1.000 bayi/balita. Artinya, pneumonia mengakibatkan 150 ribu bayi atau balita meninggal tiap tahunnya, atau 12.500 korban per bulan, atau 416 kasus sehari, atau 17 anak per jam, atau seorang bayi tiap lima menit.

Teknik Analisis

Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, pengamatan, dan pengambilan sampel kualitas udara dengan parameter yang dianalisa sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 41 tahun 1999 Tentang Baku Mutu Udara Ambien Nasional.

CONTOH TESIS NO.8 PEMBUATAN WEBGIS PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) DI KABUPATEN JEMBER TAHUN 2013-2015 (THE MANUFACTURE OF WEBGIS FOR ACUTE RESPIRATORY TRACT INFECTIONS (ARI) IN JEMBER REGENCY IN 2013-2015

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk membuat pemetaan WebGIS penyakit ISPA untuk mengetahui penyebaran ISPA dan menentukan wilayah prioritas program antisipasi dan pencegahan ISPA di Kabupaten Jember. Hasil dari penelitian ini adalah WebGIS Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Kabupaten Jember Tahun 2013-2015. Peta digital ini mempunyai warna yang dapat menentukan jumlah kejadian ISPA dilihat dari kejadian kasus ISPA di masing-masing wilayah di Kabupaten Jember, dan menampilkan informasi di tiap kecamatan terkait info penyakit, jumlah penderita dan data pendukung lainnya. Analisis data menunjukkan kejadian ISPA tertinggi di Kabupaten Jenggawah, Kabupaten Sumberbaru, Kabupaten Rambipuji, dan Kabupaten Bangsalsari selama tahun 2013-2015.

BAB I

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang umum terjadi pada anak-anak. Insiden menurut kelompok usia di bawah umur diperkirakan 0,29 episode per anak / tahun di negara berkembang dan 0,05 episode per anak / tahun di negara maju. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember menempatkan ISPA sebagai peringkat 15 penyakit terbanyak di Kabupaten Jember, menempati urutan pertama urutan penyakit tertinggi.

Teknik Analisis

Metode perancangan menggunakan diagram waterfall yang meliputi analisis, perancangan, pengkodean, dan pengujian.

CONTOH TESIS NO.9 Visualisasi Berbasis Naive Bayes untuk Pemetaan Penyebaran Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut

Abstrak

Di daerah yang terjadi banyak kasus penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), data-data yang telah terkumpul tidak digunakan dengan maksimal dan  hanya digunakan untuk kebutuhan operasional. Padahal dengan adanya proses klasifikasi yang benar akan membantu dalam menemukan pola pembeda kelas dan membantu prediksi pola agar mempermudah dan tepat sasaran sesuai dengan Program Pemberantasan ISPA. Masyarakat pun dapat mengetahui tentang apa itu ISPA dan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit ISPA sehingga membentuk masyarakat tanggap ISPA. Klasifikasi secara otomatis dapat dilakukan menggunakan kecerdasan buatan, salah satunya dengan metode Naive Bayes. Naive bayes adalah metode yang melakukan proses klasifikasi berdasarkan teorema bayes. Hasil dari penelitian ini adalah visualisasi yang digunakan untuk pemetaan penyebaran penyakit infeksi saluran pernafasan akut berbasis klasifikasi menggunakan Naive Bayes.

BAB I

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah masalah utama mortalitas pada kasus balita di negara Indonesia setelah diare yang mencapai angka 13,2% berdasarkan Riskesdas 2007. ISPA adalah sebuah infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas mulai hidung hingga alveoli termasuk adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah, pleura. ISPA, secara anatomis terbagi menjadi dua bagian yaitu atas seperti batuk pilek, sakit telinga (otitis media), radang tenggorokan (faringitis) dan bawah yaitu bronchitis, bronkhiolitis dan pneumonia. Berdasarkan P2 ISPA, penyakit ISPA dikategorikan dalam dua golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia . Sedangkan penyakit pneumonia sendiri dibedakan berdasarkan atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia ringan. Bukan pneumonia terdiri dari batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsillitiss dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya. Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi penularan ISPA, akan tetapi faktor resiko yang paling banyak menyebabkan penyakit ISPA adalah sosio-ekonomi (pendapatan keluarga, perumahan, sanitasi dan pendidikan orangtua), status gizi, tingkat pengetahuan sebuah keluarga dan faktor lingkungan (kualitas udara)  infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tidak terkecuali. Penyebab utama ISPA adalah lingkungan yang ditularkan melalui droplet dan kontak (termasuk kontaminasi tangan yang diikuti oleh inokulasi tak sengaja) dan aerosol pernapasan infeksius berbagai ukuran dan dalam jarak dekat, misalnya keberadaan pabrik yang dekat pemukiman atau adanya perokok dalam satu rumah. Di daerah Kaliwungu terjadi banyak sekali kasus ISPA sedangkan pada puskesmas Kaliwungu tepatnya di Kecamatan Kaliwungu penderita penyakit ISPA mencapai mencapai angka 400 pasien lebih per tahunnya (data dari Puskesmas Kaliwungu) kemudian data-data yang telah sudah terkumpul hanya menjadi “kuburan data” saja, digunakan untuk kebutuhan operasional. Padahal dengan adanya proses klasifikasi yang benar akan membantu dalam menemukan pola pembeda kelas dan membantu pemprediksikan pola agar mempermudah dan tepat sasaran sesuai dengan Program Pemberantasan ISPA. Masyarakat pun dapat mengetahui tentang apa itu ISPA dan penyebaran penyakit ISPA di wilayah Kecamatan Kaliwungu lebih detail dan membentuk masyarakat tanggap ISPA.

Teknik Analisis

 Metode diterapkan dalam data penyakit ISPA dan melakukan klasifikasi berdasarkan data tersebut. Dengan demikian, informasi visual tentang  penyebaran penyakit ISPA dapat disajikan lebih detail sehingga membentuk masyarakat tanggap ISPA dan membantu pihak medis untuk menyelesaikan target pemberantasan penyakit ISPA P2 dari Dinas Kesehatan.

CONTOH TESIS NO.10 Hubungan Sumber Polutan dalam Rumah Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Balita di Kecamatan Mariso Kota Makassar

Abstrak

Hasil penelitian menunjukkan hubungan polutan dalam rumah yaitu kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA pada balita dengan nilai (p=0,036), penggunaan obat anti nyamuk dengan nilai (p=0,000). Diharapkan pihak Puskesmas Dahlia memberikan penyuluhan, sosialisasi, informasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya peranan rumah sehat (syarat-syarat rumah sehat), PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), pentingnya peranan keluarga di dalam menunjang kesehatan anak (balita), kerentanan pada usia balita (terkait faktor dari dalam diri balita maupun yang berasal dari lingkungan sekitarnya.

BAB I

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun dan kelompok yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih rentan terhadap berbagai penyakit yaitu anak di bawah lima tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan polutan dalam rumah (kebiasaan merokok dan penggunaan obat anti nyamuk terhadap kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Dahlia Kota Makassar.

Teknik Analisis

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Dahlia kecamatan Mariso Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Sampel penelitian ini adalah balita yang menderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Dahlia Kecamatan Mariso Kota Makassar pada saat pengambilan data yang berlangsung selama 1 bulan. Pengambilan sampel secara random sampling sebanyak 91 responden.

CONTOH TESIS NO.11 HUBUNGAN PENGGUNAAN OBAT ANTI NYAMUK BAKAR DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DIPUSKESMAS PENGADANG KABUPATEN LOMBOK TENGAH

Abstrak

Hasil: Berdasarkan hasil analisa chi square didapatkan nilaiprobabilitas< 0,05 yakni 0,001, dan 2 hitung (17,354) > 2 tabel (16,230). Simpulan: Hasil analisa chi square menunjukkan adahubungan antara penggunaan obat anti nyamuk bakar dengan kejadian ISPA pada Balita.

BAB I

Latar Belakang: Usia balita merupakan kelompok yang paling rentan dengan infeksi saluran pernafasan. Balita akan sangat rentan terinfeksi saluran pernafasan karena sistem tubuh yang masih rendah, itulah yang menyebabkan angka prevalensi dan gejala infeksi saluran pernafasan akut sangat tinggi bagi balita. Gejala infeksi saluran pernafasan akut merupakan salah satu hal yang sangat seringterjadi di masyarakat. Sebagian besar masyarakat di Desa Pengadang memilih menggunakan obat anti nyamuk bakar untuk membunuh nyamuk karena keampuhannya,meskipun bermanfaat sebagai pengusir nyamuk, obat Anti nyamuk bakar mengeluarkan asap yang mengandung beberapa gas seperti karbondioksida, karbonmonoksida, nitrogen oksida, amoniak, metana, dan partikel lain yang dapat membahayakan kesehatan manusia.

Teknik Analisis

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif asosiatifdengan pendekatan studi case control. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel terdiri dari56 anak Balita. Data penelitian diperoleh dengan kuesioner.

CONTOH TESIS NO.12 Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Pekerja Pabrik

Abstrak

Hasil analisis multivariat menunjukkan kepadatan hunian ruang tidur (nilai p 0,003; odds ratio, OR = 17,874), suhu kamar (nilai p 0R = 15,687), kelembaban kamar (nilai p = 0,03; OR 19,892), lama tinggal (nilai p = 0,039; OR 14,978), ventilasi (nilai p= 0,006; OR= 9,587), dan kebiasaan Merokok (nilai p = 0,000; 0R berhubungan bermakna dengan kejadian = 45,901 ) ISPA. Faktor Yang dominan memengaruhi kejadian ISPA adalah kebiasaan merokok dan ventilasi. Berdasarkan hasil lakukan perbaikan 0,001′ penelitian, disarankan dilingkungan rumah dan menghindari kebiasaan merokok.

BAB I

lnfeksi saluran pemapasan akut (ISPA) yang merupakan masalah kesehatan masyarakat di lndonesia biasa menyerang anak usia di bawah usia lima tahun (balita), tetapi dapat menyerang kelompok usia produktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan rumah dengan kejadian ISPA pada pekerja pabrik di Kecamatan Rungkut Surabaya.

Teknik Analisis

Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan populasi pekerla pabrik. Kasus adalah penderita ISPA dan kontrol adalah yang tidak terkena ISPA berdasarkan diagnosis klinis. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner.

CONTOH TESIS NO.13 FAKTOR INDIVIDU YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA ANAK BALITA DI KOTA METRO TAHUN 2011

Abstrak

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor individu yang berhubungan dengan kejadian ISPA di Kota Metro tahun 2010.

Hasil penelitian didapatkan Proporsi kejadian ISPA sebesar 64,3%. terdapat 3 variabel tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA yang meliputi: variabel (p=0,436), variabel jenis kelamin (p=1,00), dan variabel status gizi (p=0,236). Terdapat hubungan dengan kejadian ISPA meliputi: berat badan lahir (p=0.017) nilai OR=9,68, pemberian vitamin A  (p=0,026) nilai OR=1,97, ASI eksklusif (p=0,028) nilai OR=1,87, Imunisasi (p=0,012) nilai OR=2,66.

BAB I

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Pneumonia) merupakan pembunuh utama anak dibawah usia lima tahun di dunia. Penyakit ISPA di Indonesia selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Survey mortalitas yang dilakukan Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA (Pneumonia) sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia dengan presentase 22,30% dari kematian balita. Angka kejadian ISPA pada balita di Provinsi Lampung dalam waktu 3 tahun mengalami peningkatan. Tahun 2004 sebesar 27,24%, tahun 2005 meningkat 29,88%, tahun 2006 meningkat sebesar 46,29%, dan  tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 13,06% serta tahun 2008 terjadi peningkatan lagi sebesar 21,16%  Kejadian ISPA pada Balita Di Kota Metro tahun 2009 degan rincian: Puskesmas Banjarsari 61%, Puskesmas Karang Rejo 47 %, Puskesmas Metro 15 %, Puskesmas Purwosari 8%, Puskesmas Yosomulyo 5%, Puskesmas Ganjar Agung 3%, Puskesmas Mulyojati dan Sumbersari Bantul masing-masing 2%, Puskesmas Iringmulyo 1% dan Puskesmas Yosodadi 0%,

Teknik Analisis

Rancangan penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah anak balita yang berobat di Puskesmas se Kota Metro. Sampel berjumlah 277 anak Balita yang diambil secara acak sederhana. Uji statistik dengan uji Chi Square.

CONTOH TESIS NO.14 PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA AUDIOVISUAL MENINGKATKAN PERILAKU IBU DALAM PENANGANAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT PADA BALITA DI KELURAHAN LEBIJAGA KABUPATEN NGADA

Abstrak

Hasil Mann Whitney p=0,000. Hal serupa terjadi pada sikap ibu yang mengalami peningkatan dengan nilai yang sama. Hasi uji Wilcoxon Signed Ranks untuk tindakan menunjukkan nilai signifikan p=0,007 dan hasil uji Man Whitney didapatkan nilai signifikan p=0,000 yang berarti ada pengaruh yang didapatkan setelah intervensi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan media audio visual terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan ibu dalam penanganan ISPA pada balita di Kelurahan Lebijaga Kabupaten Ngada. Media audio visual ini dapat digunakan oleh perawat sebagai media penyuluhan yang baik di posyandu

BAB I

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita. ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak. Pendidikan kesehatan tentang penanganan ISPA pada balita sangat penting dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan ibu dalam melakukan penanganan ISPA pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media audio visual terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan ibu dalam penanganan ISPA pada balita di Kelurahan Lebijaga Kabupaten Ngada. Pendidikan kesehatan terbukti meningkatkan pengetahuan ibu dengan hasil uji Wilcoxon p=0,001.

Teknik Analisis

Desain penelitiaan yang digunakan adalah Quasy Eksperimental dengan jumlah sampel 26 ibu bayi dan balita yang memiliki riwayat ISPA. Jumlah responden dibagi menjadi 13 untuk kelompok kontrol dan 13 untuk kelompok perlakuan. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independent dan variabel dependent. Hasilnya diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Wilcoxon signed rank test dan Mann Whitney u test dengan tingkat signifikansi ?<0,05.

CONTOH TESIS NO.15 Evaluasi Terapi Penggunaan Antibiotik Untuk Infeksi Saluran Pernafasan Akut Non Pneumonia Pada Anak Di Rumah Sakit Umum Prof. Dr. W.Z Johannes Kupang

Abstrak

Hasil penelitian ini selanjutnya dibandingkan menggunaakan literatur British national formularium tahun 2015, Pharmacotherapy handbook 7th edition, Pharmacotherapy handbook 9th edition, Pedoman pengendalian infeksi saluran pernafasan akut tahun 2011 dan Standard treatment guidelines And essential medicines list. Dari 100 sampel pasien anak usia 1-15 tahun yang terdiagnosis infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) non pneumonia, 21 kasus (42%) menggunakan antibiotik amoxicillin dan 20 kasus (40%) menggunakan antibiotik sefadroxil, tepat pasien 60 kasus (100%), tepat obat 11 kasus (22%), tepat indikasi 14 kasus (28%) dan tepat dosis 5 kasus (10%) serta hanya 5 kasus (10%) yang rasional dalam penggunaan antibiotik.

BAB I

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang menyerang organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah penyakit yang banyak diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa di negara berkembang maupun di negara maju. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran terapi penggunaan Antibiotik pada pasien anak dengan diagnosa penyakit infeksi saluran pernafasan akut non pneumonia dan mengetahui rasionalitas penggunaan Antibiotik pada pasien anak dengan diagnosis penyakit infeksi saluran pernafasan akut non pneumonia di Rumah Sakit Umum Prof. Dr W.Z Johannes Kupang.

Teknik Analisis

Penelitian ini merupakan jenis penelitian non-eksperimental, metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif.

 

Leave a Reply

Open chat
Hallo ????

Ada yang bisa di bantu?