HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Analisis Permintaan Deposito Berjangka dalam Negeri pada Bank Umum di indonesia

ABSTRAK

Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis permintaan deposito berjangka dalam negeri pada Bank Umum di Indonesia, periode dari tahun 1990 : I – 2004 : 4. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, bahwa secara bersama-sama (simultan) terdapat pengaruh yang signifikan antara inflasi, kurs mata uang asing Dollar AS, tingkat suku bunga deposito, dan permintaan deposito sebelumnya terhadap permintaan deposito dalam negeri pada Bank Umum. Pengambilan sampel penelitian dengan menggunakan data sekunder dan di periode tahun 1990 : I – 2004 : 4, yang memenuhi ciri-ciri dan kriteria tertentu sebagai sampel dalam penelitian ini.

Hasil pengolahan data dengan bantuan perangkat lunak (Sofware) komputer Eviews 4. 0, yang menunjukkan bahwa hasil penelitian ini secara bersama-sama (simultan) terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS, sedangkan secara individual (parsial) tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS. Suku bunga deposito dalam negeri tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap permintaan deposito berjangka dalam negeri pada Bank Umum di Indonesia.

Kata kunci : Pengaruh inflasi, kurs mata uang asing Dollar AS dan suku bunga deposito dalam negeri.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi ekonomi lengkap / tesis ekonomi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Krisis perbankan yang masih berjalan saat ini didahului dengan adanya distress dalam perbankan, pada waktu terjadinya penurunan deposito dan tabungan serta terkotak-kotaknya pasar uang antar bank (ada kompartemenisasi pasar uang antara bank) karena menurunnya kepercayaan terhadap perbankan. Bank-bank yang lemah dan tidak dapat memperoleh dana dari pasar uang terpaksa menggantungkan diri pada BI sebagai sumber dana untuk posisi likuiditas masing-masing.

Modal pembangunan yang berasal dari dalam negeri biasanya dihimpun dari dana masyarakat. Lembaga perbankan merupakan salah satu lembaga yang mempunyai potensi untuk menghimpun dana masyarakat. Dana yang dihimpun bank biasanya dalam bentuk giro, deposito dan tabungan. Guna mendukung peningkatan kinerja perbankan, pemerintah telah banyak mengeluarkan kebijakan di bidang keuangan.(D.J. Soedrajad,2001:142)

Dalam mekanisme pasar seperti di Indonesia tingkat suku bunga yang terjadi pada dasarnya merupakan refleksi dari kekuatan permintaan dan penawaran dana di masyarakat, karena tingkat suku bunga sangat penting dalam kebijaksanaan perekonomian suatu negara dalam pengaruhnya terhadap supply dan demand. Meningkatnya kebutuhan terhadap sumber-sumber pembiayaan akan menyebabkan naiknya suku bunga, kebijakan di Indonesia dalam rangka menekan laju inflasi, tetap mempertahankan tingkat suku bunga tinggi. Dengan kata lain peredaran yang diperketat dapat mempertahankan tingkat harga pada tingkat aman.

Perkembangan dan tingkat suku bunga dalam negeri dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari luar negeri, seperti suku bunga internasional, maupun yang berasal dari dalam negeri, seperti ekspektasi inflasi, kondisi perbankan serta langkah dan tindakan otoritas moneter. Bagi otoritas moneter, perkembangan dan tingkat suku bunga merupakan satu indikator moneter yang sangat penting. Disatu sisi, perkembangan suku bunga harus merefleksikan faktor-faktor fundamental. Dan disisi lain, suku bunga diupayakan dapat menunjang pencapaian sasaran-sasaran ekonomi makro yang ditetapkan pemerintah, seperti inflasi, permintaan dalam negeri, uang beredar (M2) dan aliran modal masuk (Agustin, 2000).

Persoalan tingkat suku bunga di Indonesia tidak kalah pentingnya juga dalam menentukan ke efektifan program rekapitulasi perbankan. Tingkat suku bunga yang masih terlalu tinggi adalah tidak intensif bagi kinerja perbankan pasca rekapitulasi. Artinya meskipun telah di suntik dana segar yang lebih besar, Perbankan Nasional tidak akan mampu bangkit selama modal mereka terus-menerus terkuras akibat negative spread (selisih bunga deposito dengan kredit).

Tingkat suku bunga pada dasarnya merupakan refleksi dan kekuatan permintaan dan penawaran dana. Dengan demikian perkembangan dan tingkat suku bunga mencerminkan tingkat kelangkaan atau kecukupan dana dimasyarakat. Disamping itu, tingkat suku bunga mempunyai kaitan yang cukup erat dengan berbagai indikator ekonomi lainnya. Di sisi internal tingkat suku bunga berkaitan dengan inflasi, permintaan dalam negeri dan nilai tukar rupiah. Dalam lingkup eksternal tingkat suku bunga sangat berperan terhadap arus modal masuk dan keluar. Oleh karena itu upaya pengendalian tingkat suku bunga yang dilakukan harus selalu memperhatikan keseimbangan di antara berbagai faktor. Sehingga akan memperoleh dampak yang optimal dalam mempengaruhi permintaan.

Paket 1 Juni 1983 (PAKJUN ‘83) dapat dikatakan sebagai kebijakan liberalisasi perbankan. Bank dapat menentukan tingkat bunga yang dianggap memadai dengan mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain perbedaan tingkat inflasi antara negara, disparitas mata uang domestik dengan mata uang negara lain, perbedaan suku bunga domestik dengan suku bunga internasional, dan perbedaan pendapatan nasional antar negara. Dengan berhasilnya liberalisasi perbankan, maka arus pengalihan rupiah ke mata uang asing dapat dibendung. Dalam lingkup yang lebih luas, keberhasilan liberalisasi perbankan dipengaruhi oleh sistem dana masyarakat untuk tujuan investasi jangka panjang dan peningkatan ekspor.

Pada tahun 1988, disusul dengan dikeluarkannya paket Oktober 1988 (PAKTO ’88). Dalam paket ini pada intinya pemerintah menjamin dana masyarakat yang ada di bank secara preventif dan memberi kesempatan yang sama antara bank swasta dan bank pemerintah untuk dapat bersaing dalam menghimpun dana masyarakat. Hasil kebijakan tersebut cukup memuaskan, sebagaimana terlihat dari meningkatnya dana deposito, giro, dan tabungan masyarakat secara pesat yaitu Rp. 15.498,2 milyar pada tahun 1984, meningkat menjadi Rp. 223.727,8 milyar pada tahun 1995 dan pada tahun 2002 menjadi Rp. 719.342 milyar. Berangkat dari sinilah, menarik untuk diteliti, adapun judul lengkapnya adalah “Analisis Permintaan Deposito Berjangka Dalam Negeri Pada Bank Umum di Indonesia “.

Incoming search terms:

Leave a Reply