HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Bahasa Indonesia Dalam Slogan Iklan Pada Majalah Wanita

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini banyak sekali media yang menawarkan berbagai macam hal dari yang berupa barang sampai dengan jasa. Karena kuatnya persaingan dalam usaha itu, maka tidak jarang orang menggunakan berbagai cara untuk menarik konsumen agar mau memakai produk yang ditawarkan oleh para penyedia produk. Salah satunya, yaitu dengan cara memasarkan melalui media massa dalam bentuk iklan dengan menggunakan rangkaian kata yang dapat menarik konsumen untuk membeli dan menggunakan produk barang dan jasa. Adapun yang sangat berperan dalam berhasil atau tidaknya suatu iklan dalam menarik para konsumen yaitu, dari penggunaan dan tatanan kata yang digunakan yang sesuai dengan produk barang dan jasa yang ditawarkan. Salah satu bagian kecil yang sangat penting dalam pembuatan iklan yaitu slogan, karena walaupun slogan hanya berupa kata, kalimat yang pendek tetapi slogan dapat melekat pada konsumen dalam hal mengingat produk barang dan jasa yang ditawarkan bahkan kadang bisa menjadi suatu simbol dan identitas pada suatu produk barang dan jasa. Untuk menuangkan atau menghubungkan iklan dari para produsen barang dan jasa kepada para calon konsumennya maka dibutuhkan suatu media, yaitu media massa, baik yang elekronik maupun cetak. Dalam hal ini penulis akan lebih menekankan pada penggunaan media cetak.

Media cetak merupakan media yang statis dan mengutamakan pesan-pesan visual (Rhenald Kasali, 1992:49). Lebih lanjut, media cetak merupakan dokumentasi segala hal yang dikatakan orang lain dan rekaman peristiwa yang ditangkap oleh sang jurnalis dan diubah dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, dan sebagainya. Media cetak yang dimaksudkan meliputi surat kabar, tabloid, majalah, buletin, dan jurnal, dan lain sebagainya. Media di atas menyebabkan penggunaan slogan yang berbeda-beda. Slogan mungkin bagi kebanyakan orang bukanlah sesuatu yang penting tetapi bagi para pelaku bisnis atau usaha, slogan merupakan faktor yang sangat penting karena dapat menentukan bagus tidaknya hasil produk yang nantinya akan ditawarkan. Karena kadang terdapat slogan yang sama sekali tidak sesuai atau tidak bersangkutan sama sekali dengan produk barang dan jasa yang akan ditawarkan kepada konsumen. Konsumen justru merasa bingung dengan slogan yang dipakai karena tidak mengetahui apa maksud dan apa hubungan sebenarnya antara slogan tersebut dengan barang atau jasa yang ditawarkan.

Slogan memiliki beraneka macam bentuk, yaitu slogan yang berbentuk kata, klausa, kalimat, atau bahkan yang lebih luas lagi seperti wacana. Penyusunan slogan harus terlihat unik, menarik, dan sesuai dengan visi dan misi yang ingin disampaikan oleh suatu produk serta memenuhi etika dalam pembuatan iklan yang ada. Nantinya dapat menarik minat dari para konsumen ataupun peminat untuk mencoba dan menggunakan produk barang dan jasa yang ditawarkan. Menurut Moeliono, slogan adalah perkataan atau kalimat pendek yang menarik, mencolok dan mudah diingat untuk menjelaskan suatu maksud dan tujuan media (KBBI, 2005:1080). Sementara itu J. S. Badudu, slogan adalah kata atau kalimat pendek yang mempunyai arti dan bunyi yang menarik agar mudah diingat-ingat.

Pengertian slogan di atas harus dibedakan dengan jargon, slang, idiom, moto, maupun semboyan. Jargon dalam KBBI (2005:460) adalah kosa kata yang khas yang dipakai dalam bidang kehidupan tertentu, lebih menekankan pada katakata atau ungkapan rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu misalnya, bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia atau kelompok-kelompok khusus lainnya, contohnya: wanita adalah tiang negara dan seni untuk seni. Dalam KBBI (2005:1080) pengertian slogan adalah ragam bahasa tak resmi yang dipakai oleh kaum remaja atau kelompok-kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern sebagai usaha supaya orang-orang kelompok lain tidak mengerti biasanya berupa kosakata baru dan berubah-ubah juga merupakan katakata non standar yang informal, disusun secara mana suka (arbirter), bertenaga, serta jenaka yang dipakai dalam percakapan dalam suatu kelompok tertentu. Tujuan slang itu sendiri adalah untuk menyamarkan arti bahasanya terhadap orang luar, misal bahasa kaum waria (banci) dalam menggunakan kata gilingan dan endang, kata gilingan digunakan untuk menggantikan kata gila sedang kata endang digunakan untuk menggantikan kata enak sekali dengan menggunakan nada tersendiri.

Dalam KBBI (2005:417) pengertian idiom adalah kontruksi dari unsur-unsur yang saling memilih, masing-masing anggota mempunyai makna yang ada hanya karena bersama yang lain, kontruksi maknanya tidak sama dengan makna anggota-anggotanya, sebagai struktur pola-pola yang menyimpang dari kaidahkaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frase, tetapi artinya tidak dapat diterangkan secara logis atau gramatikal dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya, misalnya unjuk gigi “menunjukkan kemampuan atau kemahiran dalam suatu bidang atau keahlian tertentu”, kaki tangan, “bawahan yang setia atau mata-mata”, banting tulang”bekerja keras”. Moto adalah kata, frase atau kalimat yang terletak diatas penulis yang menunjukkan maksud penulis (word phrase or sentences placed above writing showing the writers man ) misal: Ilmu yang tiada diamalkan seperti pohon tiada berbuah. Moto ini biasanya cenderung untuk diri sendiri.

Semboyan dalam KBBI (2005:1027) adalah kalimat minor atau kalimat lengkap yang terjadi dari frase atau klausa yang disukai oleh suatu kelompok masyarakat juga adalah kata-kata atau kalimat pendek yang dipakai sebagai pegangan perjuangan, contoh: sekali merdeka tetap merdeka, Banyak jalan menuju Roma, Tut Wuri Handayani. Perbedaan yang mencolok antara slogan dan yang lainnya adalah slogan memiliki referennya jelas, sedangkan semboyan, moto, idiom, slang, dan jargon tidak jelas. Misalnya slogan yang terdapat pada produk rokok Gudang Garam “pria punya selera”, Star Mild “bikin hidup lebih hidup”. Kedua contoh tersebut sangat jelas bahwa yang menjadi referen adalah produk rokok Gudang Garam dan Star Mild, diharapkan dengan penggunaan slogan tersebut akan banyak konsumen yang tertarik terutama kaum lak-laki yang memang produk tersebut diasumsikan untuk kaum laki-laki walau tidak menutup kemungkinan ada kaum wanita yang menggunakannya.

Posisi slogan dalam tata letak surat iklan berada di dekat atau di bawah dari nama produk yang ditawarkan. Slogan itu ditulis berdekatan dengan nama produk dan diletakkan di sisi kanan, di sisi kiri, di bawah ataupun di atas nama produk. Secara umum media cetak menempatkan slogan di bawah nama medianya, namun hanya sebagian kecil slogan yang ditempatkan disebelah kanan atau kirinya. Slogan iklan media cetak sangat menarik untuk dikaji dikarenakan beberapa hal: pertama sifat kekhasan ragam bahasanya yang komunikatif sederhana, efektif dan efisien; kedua slogan iklan media cetak berfungsi sebagai sarana yang secara tidak langsung mengajak pembaca dan konsumen untuk membacanya dan berpikir tentang apa maksud dari slogan tersebut dan apa hubungannya dengan produk yang ditawarkan.

Bentuk penulisan iklan media cetak dilihat dari pilihan kata (diksi) dan gaya bahasanya memiliki kekhasan tersendiri. Hal tersebut ditunjukkan oleh pilihan kata, frase atau klausa tertentu. Manurut Keraf gaya bahasa meliputi semua hierarki kebahasaan termasuk soal pemilihan kata, frase, klausa dan kalimat bahkan mencakup pula sebuah wacana secara keseluruhan. Selanjutnya dinyatakan bahwa pengertian gaya bahasa atau style dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa.

Slogan umumnya dibuat singkat tetapi tidak semua pembaca mampu menangkap maksud dari slogan tersebut. Untuk menemukan maksud dari slogan dengan lebih mudah tentunya berkaitan dengan konteks pemakaiannya diperlukan pendekatan secara pragmatik. Pragmatik adalah cabang Ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal yaitu bagaimana satuan-satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi (Wijana, 1996:1). Menurut Levinton dalam Nababan (1991) Pragmatik dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari ketrampilan pemakai bahasa yaitu ketrampilan menghubungkan bentuk bahasa dengan konteks penggunaannya.

Incoming search terms:

Leave a Reply