HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Analisis K3: 8 Model Teori Kecelakaan Kerja Terbaru dan Relevan

Apa saja 8 Model Teori Kecelakaan Kerja

Model Simple Linear

1. Teori Domino Heinrich

Heinrich (1931) memperkenalkan Domino Theory yang menggambarkan kecelakaan kerja sebagai serangkaian domino yang jatuh berurutan. Ada lima tahap utama:

Teori Domino Kecelakaan Kerja

Teori Domino Kecelakaan Kerja

  1. faktor sosial dan lingkungan,
  2. kesalahan manusia,
  3. tindakan tidak aman/kondisi berbahaya,
  4. kecelakaan, dan
  5. cedera.

Menurut Heinrich, 88% kecelakaan disebabkan oleh perilaku tidak aman, 10% oleh kondisi berbahaya, dan 2% oleh faktor yang tidak terkendali.

Kekuatan teori ini adalah kesederhanaannya, sehingga banyak digunakan dalam investigasi kecelakaan awal abad ke-20. Namun, kelemahannya adalah terlalu fokus pada kesalahan individu dan cenderung menyalahkan pekerja. Padahal, kecelakaan juga sering berkaitan dengan kelemahan sistem manajemen dan organisasi.

Ringkasan inti: Kecelakaan terjadi seperti domino yang jatuh berurutan, dan pencegahan bisa dilakukan dengan “menghentikan” salah satu domino sebelum jatuh.

Jasa Pembuatan Skripsi, Tesis, Disertasi

Jasa Pembuatan Skripsi, Tesis, Disertasi


2. Teori Bird and Germain’s Loss Causation

Bird & Germain (1974) mengembangkan model Loss Causation sebagai penyempurnaan dari teori domino. Mereka menambahkan dimensi manajemen sebagai akar penyebab. Model ini memiliki lima tahap:

  1. kurangnya kontrol manajemen,
  2. penyebab dasar,
  3. penyebab langsung,
  4. kejadian, dan
  5. kerugian.
Gambar Loss & Causation Theory

Gambar Loss & Causation Theory

Teori ini menekankan bahwa kecelakaan bukan hanya akibat tindakan pekerja, melainkan cerminan lemahnya kontrol organisasi. Penyebab dasar dapat berupa sikap negatif pekerja, kondisi kerja yang buruk, atau manajemen yang lalai. Dengan demikian, pencegahan kecelakaan perlu dilakukan melalui perbaikan sistem, pelatihan, pengawasan, dan kebijakan yang konsisten.

Ringkasan inti: Kecelakaan kerja disebabkan oleh lemahnya kontrol manajemen, sehingga pencegahan harus fokus pada sistem organisasi, bukan sekadar perilaku individu.


Model Kompleks Linear

3. Model Energy–Damage (Haddon’s Energy Release Theory)

Haddon (1963) memperkenalkan Energy–Damage Model yang menyatakan kecelakaan sebagai akibat pelepasan energi berbahaya secara tidak terkendali. Energi bisa berupa mekanik, listrik, kimia, panas, atau radiasi. Kecelakaan dapat dicegah dengan cara mengendalikan energi tersebut sebelum mencapai pekerja.

Gambar Energy Damage Model

Gambar Energy Damage Model

Strategi pencegahan meliputi:

  1. mencegah terbentuknya energi berbahaya,
  2. mengurangi jumlah energi,
  3. memasang penghalang antara sumber energi dan pekerja,
  4. meningkatkan ketahanan pekerja, atau
  5. menyediakan sistem darurat untuk mengendalikan energi bila terlepas. Contoh aplikasinya adalah helm, sabuk pengaman, isolasi listrik, dan pelindung mesin.

Ringkasan inti: Kecelakaan terjadi akibat pelepasan energi berbahaya; pencegahan dilakukan dengan mengendalikan, membatasi, atau memisahkan energi dari pekerja.


4. Model Urutan Waktu (Time Sequential Model)

Model ini menjelaskan kecelakaan sebagai rangkaian peristiwa yang terjadi dalam urutan waktu tertentu. Analisis dilakukan dengan membangun timeline kejadian, dimulai dari kondisi awal, faktor penyebab, hingga terjadinya kecelakaan.

Gambar model urutan waktu

Gambar model urutan waktu

Pendekatan ini berguna dalam investigasi kasus karena membantu penyidik memahami kapan dan bagaimana faktor tertentu memengaruhi jalannya peristiwa. Namun, model ini tetap linear sehingga kurang menggambarkan interaksi kompleks.

Ringkasan inti: Kecelakaan dipandang sebagai urutan peristiwa kronologis; analisis timeline membantu menemukan titik intervensi yang tepat.


5. Model Epidemiologikal

Gordon (1949) memperkenalkan model epidemiologikal yang memandang kecelakaan mirip dengan penyakit. Terdapat tiga komponen utama: agen (sumber bahaya), host (pekerja), dan lingkungan. Kecelakaan terjadi bila ada interaksi tidak seimbang antar komponen ini.

Gambar Model Epidemiologikal

Gambar Model Epidemiologikal

Contohnya, bahan kimia beracun (agen), pekerja yang tidak dilengkapi APD (host), dan ventilasi buruk (lingkungan) akan meningkatkan risiko kecelakaan. Pencegahan dilakukan dengan memperkuat host (pelatihan), mengendalikan agen (mengurangi bahan berbahaya), atau memperbaiki lingkungan (ventilasi).

Ringkasan inti: Kecelakaan terjadi akibat interaksi antara agen, host, dan lingkungan; pencegahan dilakukan dengan mengintervensi salah satu faktor.


6. Model Sistemik (Swiss Cheese Model – Reason)

James Reason (1997) memperkenalkan Swiss Cheese Model sebagai salah satu model sistemik. Ia menggambarkan pertahanan organisasi sebagai lapisan keju Swiss, masing-masing memiliki lubang (kelemahan). Bila lubang-lubang tersebut sejajar, bahaya dapat menembus semua lapisan pertahanan dan kecelakaan terjadi.

Gambar Swiss Cheese Model

Gambar Swiss Cheese Model

Model ini menunjukkan bahwa kecelakaan bukan hanya kesalahan individu, tetapi hasil kegagalan berlapis dalam sistem organisasi. Karena itu, strategi pencegahan memerlukan defenses-in-depth, seperti kebijakan, prosedur, teknologi, dan budaya keselamatan.

Ringkasan inti: Kecelakaan terjadi bila kelemahan dalam sistem pertahanan berlapis sejajar; pencegahan dilakukan dengan memperkuat semua lapisan.


Model Kompleks Non Linear

7. STAMP (System Theoretic Accident Model and Process)

Nancy Leveson (2004) mengembangkan STAMP, yang didasarkan pada teori sistem. Menurut model ini, kecelakaan bukanlah akibat kegagalan komponen semata, melainkan kegagalan kontrol dalam sistem yang kompleks. STAMP menekankan hubungan hierarki dalam sistem kontrol: mulai dari pemerintah, manajemen, supervisor, hingga pekerja.

Gambar Reason Model on System Safety

Gambar Reason Model on System Safety

Jika salah satu tingkat kontrol gagal atau terjadi miskomunikasi, sistem keselamatan bisa runtuh. STAMP berguna untuk menganalisis kecelakaan di industri berteknologi tinggi seperti penerbangan, nuklir, dan transportasi. Fokus utama pencegahan adalah memperbaiki struktur kontrol, alur informasi, dan umpan balik dalam sistem.

Ringkasan inti: Kecelakaan adalah hasil kegagalan kontrol dalam sistem kompleks; pencegahan memerlukan penguatan struktur kontrol dan komunikasi.


8. FRAM (Functional Resonance Accident Model)

Erik Hollnagel (2004) memperkenalkan FRAM yang memandang kecelakaan sebagai akibat resonansi variabilitas fungsi dalam sistem. Setiap fungsi operasional memiliki variabilitas, dan bila variabilitas ini bergabung secara tak terkendali, maka kecelakaan dapat terjadi.

Contoh FRAM

Contoh FRAM

FRAM menekankan bahwa kecelakaan tidak memiliki penyebab tunggal, melainkan hasil interaksi non-linear antar fungsi. Analisis dilakukan dengan memetakan fungsi-fungsi utama, variabilitasnya, serta cara interaksinya dalam kondisi nyata.

Model ini cocok untuk organisasi kompleks, seperti rumah sakit, sistem transportasi, atau energi, di mana interaksi dinamis sering menimbulkan konsekuensi tak terduga.

Ringkasan inti: Kecelakaan adalah hasil resonansi variabilitas fungsi dalam sistem; pencegahan dilakukan dengan memahami dan mengelola variabilitas.


Daftar Pustaka

  1. Heinrich, H. W. (1931). Industrial Accident Prevention: A Scientific Approach. New York: McGraw-Hill.

  2. Bird, F. E., & Germain, G. L. (1974). Practical Loss Control Leadership. Atlanta: Institute Press.

  3. Haddon, W. (1963). A logical framework for categorizing highway safety phenomena. Journal of Trauma, 3(1), 1–11.  (Scopus)

  4. Gordon, J. E. (1949). The epidemiology of accidents. American Journal of Public Health, 39(4), 504–515. https://doi.org/10.2105/AJPH.39.4.504

  5. Reason, J. (1997). Managing the Risks of Organizational Accidents. Aldershot: Ashgate.  (Scopus)

  6. Rasmussen, J. (1997). Risk management in a dynamic society: A modelling problem. Safety Science, 27(2–3), 183–213. https://doi.org/10.1016/S0925-7535(97)00052-0

  7. Leveson, N. (2004). A new accident model for engineering safer systems. Safety Science, 42(4), 237–270. https://doi.org/10.1016/S0925-7535(03)00047-X

  8. Hollnagel, E. (2004). Barriers and Accident Prevention. Aldershot: Ashgate. (Scopus)

Leave a Reply