HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Kepatuhan Wajib Pajak: Kepatuhan Wajib Pajak pd Berbagai Frekuesi Pemeriksaan

Judul Tesis: Analisa Kepatuhan Wajib Pajak pada Berbagai Frekuesi Pemeriksaan

 

A. Latar Belakang

Pembangunan ekonomi suatu negara di satu sisi memerlukan dana yang relatif besar. Sementara di sisi lain, usaha pengerahan dana untuk membiayai pembangunan tersebut menghadapi kendala. Pokok persoalannya adalah adanya kesulitan dalam pembentukan modal baik yang bersumber dari penerimaan pemerintah yang berasal dan ekspor barang ke luar negeri maupun dari masyarakat melalui instrumen pajak dan instrumen lembaga-lembaga keuangan.

Perangkat penerimaan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terdiri dari tiga pilar. Pilar pertama minyak yang kedua adalah hutang luar negeri. Hutang luar negeri ini juga bermasalah karena makin lama makin besar. Sementara pilar yang ketiga adalah pajak. Dalam sejarah, pilar-pilar ini mengalami masalah, tahun 1986 misalnya harga minyak jatuh menjadi 9,8 dollar per barel, akibatnya penerimaan minyak jatuh, ekspor non migas hanya tinggal 6,5 milyar dollar setahun sehingga sangat kecil.

 

B. Pokok Permasalahan

Berdasarkan paparan latar belakang di atas maka dapat disampaikan permasalahan, “Apakah terjadi perbedaan kepatuhan Wajib Pajak pada berbagai frekuensi pemeriksaan yang berbeda?”

 

C. Tinjauan Literatur Tesis

Peran Pajak

Menurut Sommerfeld, kebijakan perpajakan memiliki dua peran, yaitu peningkatan penerimaan dan pertumbuhan ekonomi serta penyerapan tenaga kerja. Disebutkan bahwa pajak bagi negara diibaratkan seperti penerimaan bagi perusahaan ataupun individu. Pada seluruh tingkatan pemerintah daerah dan pusat, pajak ditujukan untuk meningkatkan penerimaan negara. Fungsi kedua disebutkan bahwa pajak digunakan untuk mempertahankan kestabilan harga yang rasional,  meningkatkan lapangan kerja dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang memuaskan. Secara kolektif, pertumbuhan ekonomi dengan ketersediaan lapangan kerja dan kestabilan harga telah menjadi “tugas suci” dari kebijakan fiskal dan moneter di banyak negara sejak awal tahun 1950-an.

Kepatuhan Wajib Pajak

Pilar penyangga dari sistim self assessment adalah kepatuhan sukarela (voluntary compliance) dari Wajib Pajak dan agar sistem tersebut berjalan efektif dan efisien maka harus disertai dengan keterbukaan baik dari Wajib Pajak maupun dari aparat pajak. Keterbukaan merupakan salah satu unsur yang menentukan berhasilnya voluntary compliance. Bagi aparat pajak, voluntary compliance merupakan sasaran yang harus dicapai (level tertentu) sesuai dengan kemampuan yang ada.

 

D. Metode penelitian

Penelitian ini menggunakan populasi yang bersifat terbatas, karena menggambarkan kondisi terkini, yaitu Wajib Pajak yang terdapat di Karikpa Mataram.

Ada beberapa metode yang digunakan dalam mengumpulkan data.

Untuk membuktikan hipotesis dalam penelitian ini akan menggunakan statistik model korelasi spearmen.

Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis statistik.

 

E. Kesimpulan

  1. Sangat sedikit sekali jumlah wajib pajak yang menunjukkah peningkatan kepatuhan sekalipun diiringi dengan peningkatan frekuensi pemeriksaan pajak. Sebagian besar kepatuhan tersebut justru berfluktuasi, bahkan menurun, seiring dengan bertambahnya frekuensi pemeriksaan. Kondisi yang lebih baik ditunjukkan dengan kepatuhan atas jenis pajak Pajak Pertambahan Nilai dimana prosentase dan jumlah WP yang meningkat kepatuhannya lebih banyak dibandingkan dengan WP yang berfluktuasi atau menurun kepatuhannya.
  2. Seluruh kepatuhan wajib pajak pada berbagai perbandingan frekuensi yang berbeda, baik secara berpasangan maupun serentak, atas seluruh jenis pajak tidak menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kepatuhan Wajib Pajak pada pemeriksaan kedua dengan kepatuhan Wajib Pajak pada pemeriksaan pertama, juga tidak ada perbedaan yang signifikan antara kepatuhan Wajib Pajak pada pemeriksaan ketiga dengan kepatuhan Wajib Pajak pada pemeriksaan kedua, dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kepatuhan Wajib Pajak pada pemeriksaan ketiga dengan kepatuhan Wajib Pajak pada pemeriksaan pertama.
  3. Keeratan korelasi antara berbagai kepatuhan wajib pajak pada berbagai jenis pajak dalam setiap perbandingan frekuensi pemeriksaan menunjukkah hasil yang lemah dan tidak bermakna. Artinya, kepatuhan Wajib Pajak sebagai hasil pemeriksaan pada frekuensi pemeriksaan pertama berpengaruh sangat lemah terhadap kepatuhan pada frekuensi pemeriksaan kedua, hasil pemeriksaan kedua berpengaruh sangat lemah terhadap kepatuhan pada frekuensi pemeriksaan ketiga.

 

Contoh Tesis Kepatuhan Wajib Pajak

  1. Analisis Pengaruh Pemeriksaan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi- Studi Kasus Pada Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Tebet
  2. Analisis Pengaruh Penerapan Good Governance terhadap Kepatuhan Wajib Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Menteng Tiga
  3. Analisis Pengaruh Pengawasan Intern dan Penerapan Good Governance Di Direktorat Jenderal Pajak terhadap Citra Organisasi dan Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Kasus di Kantor Pelayanan Pajak Serpong)
  4. Analisa Kepatuhan Wajib Wajak pada Berbagai Frekuensi Pemeriksaan
  5. Analisis Pengaruh Pemeriksaan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Hotel dalam Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
  6. Analisis Pengaruh Pemeriksaan terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Hiburan (Studi Kasus pada Suku Dinas Pendapatan Daerah Kotamadya Jakarta Barat)
  7. Analisis Efektivitas Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Sistem Administrasi Modern terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Leave a Reply