HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Teori Lengkap Tentang Perilaku Seksual Pranikah Remaja menurut Teori dan Pendapat Ahli dan Contoh Tesis tentang Perilaku Seksual Pranikah Remaja

Gambaran dari Perilaku Seksual Pranikah Remaja

Definisi Perilaku Seksual Pranikah Remaja

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersanggama. Objek sesualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri (Sarwono, 2011:174).

 

PSIKOLOGI REMAJA.

Perkembangannya Monks (2006:184) membagi masa remaja menjadi 3 tahap yaitu, 12-15 tahun merupakan masa remaja awal, 15-18 tahun merupakan masa remaja pertengahan atau madya, dan 18-21 tahun merupakan masa remaja akhir.

Hubunga seks pranikah adalah perilaku yang dilakukan sepasang individu karena adanya dorongan seksual dalam bentuk penetrasi penis ke dalam vagina, ada juga penetrasi ke mulut (oral) atau ke anus (anal) yang dilakukan sebelum menikah (Tarwoto, 2012).

Perilaku seks bebas atau perilaku seksual pranikah menurut Soetjiningsih (2004: 135-136) adalah segala tingkah laku remaja yang didorong oleh hasrat baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan sebelum adanya hubungan resmi sebagai suami istri. Objek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan, atau diri sendiri.

Sarwono (2002) Menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seksual adalah segala tingkahlaku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenisnya. Dalam penelitian ini hubungan seksual yang dimaksud adalah hubungan seksual yang dilakukan dengan lawan jenisnya.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seks Bebas

Bachtiar (2005: 111) menyatakan bahwa terdapat beberapa factor yang mempengaruhi perilaku seksual, antara lain :

  • Biologi

Faktor biologis merupakan perubahan keadaan fisik yang terjadi pada masa pubertas dan pengaktifan hormonal yang dapat menimbulkan perilaku seksual.

  • Pengaruh orang tua

Kurangnya komunikasi secara terbuka antara orangtua dengan individu dalam masalah seksual dapat memperkuat munculnya penyimpangan perilaku seksual

  • Pengaruh teman

Pengaruh teman memang sangat kuat. Hal ini membuat individu memiliki kecenderungan memakai patokan norma teman disbanding norma yang normal.

  • Akademik

Secara teoritis, individu yang prestasi dan aspirasi rendah cenderung lebih sering memunculkan aktivitas seksual dibandingkan individu dengan prestasi yang baik di sekolah.

  • Pemahaman kehidupan social

Pemahaman kehidupan sosial diasosiasikan dengan pengambilan keputusan yang memberikan pemahaman perilaku seksual pada individu. Individu yang mampu mengambil keputusan secara tepat berdasarkan nilai-nilai yang dianutnya, dapat lebih menampilkan perilaku seksual yang lebih sehat.

  • Pengalaman seksual

Makin banyak pengalaman mendengar, melihat, dan mengalami hubungan seksual, maka makin kuat stimulasi yang dapat mendorong munculnya perilaku seksual. Misalnya media massa (film, internet, gambar atau majalah), obrolan dari teman atau pacar tentang pengalaman seks, melihat orang-orang yang tengah berpacaran atau melakukan hubungan seksual.

  • Faktor kepribadian

Faktor kepribadian meliputi harga diri, kontrol diri, tanggung jawab, kemampuan membuat keputusan, dan nilai-nilai yang dimiliki. Individu yang punya harga diri positif mampu mengelola dorongan dan kebutuhannya secara memadai, memiliki penghargaan yang kuat terhadap diri dan orang lain, mampu mempertimbangkan resiko perilaku sebelum mengambil keputusan, mampu mengikatkan diri pada teman sebaya secara sehat dan proposional, cenderung dapat mencari penyaluran seksual secara sehat dan bertanggung jawab, lebih lanjut Hurlock (1999: 237) menyatakan bahwa kepribadian manusia memiliki dua komponen utama, yaitu sifat dan konsep diri.

  • Pemahaman dan penghayatan nilai-nilai keagamaan

Individu yang punya penghayatan yang kuat tentang nilai-nilai keagamaan, intergritas yang baik juga cenderung mampu menampilkan perilaku seksual yang selaras dengan nilai yang diyakininya serta mencara kepuasan dari perilaku yang produktif.

  • Berfungsinya keluarga dalam menjalankan fungsi kontrol, penanaman nilai moral, dan keterbukaan komunikasi.

Keluarga yang mampu berfungsi secara optimal membantu remaja untuk menyalurkan dorongan seksual dengan cara yang selaras dengan norma dan nilai yang berlaku serta menyalurkan energi psikis secara produktif.

  • Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi

Individu yang memiliki pemahaman secara benar dan proposional tentang kesehatan reproduksi cenderung memahami resiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksual secara sehat dan bertanggung jawab.

 

Aspek-aspek Sikap Terhadap Hubungan Seks

Azwar (2008) menyatakan bahwa sikap terdiri atas tiga komponen, yaitu :

  • Komponen kognitif

Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap, kepercayaan datang dari apa yang di lihat atau apa yang diketahui. Berdasarkan apa yang telah dilihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tertentu.

  • Komponen afektif

Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Pada umumnya, reaksi emosional yang merupakan komponen afektif ini banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang dipercayai sebagai benar dan berlaku bagi objek termaksud.

  • Komponen Perilaku

Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak yang mempengaruhi perilaku merupakan aspek kecenderungan berperilaku.

 

Bentuk-bentuk Prilaku Hubungan Seks

Vener dan Stewart (dalam Thornburg, 1982) mengatakan bahwa perilaku seksual itu dimulai dari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, necking, petting tahap ringan hingga berat dan melakukan hubungan seksual, hingga sampai puncaknya adalah melakukan hubungan seksual pada beberapa orang secara bergantian. Scofield (dalam Simandjuntak & Pasaribu, 1984) menyimpulkan bahwa bentuk-bentuk perilaku seksual adalah sebagai benkut:

  1. Berpergian bersama pada janji pertama
  2. Berciuman
  3. Petting, yaitu kontak jasmaniah antara dua jenis kelamin yang berlawanan tanpa melakukan hubungan seksual
  4. Aposisi genital, yaitu mempertemukan alat kelamin tetapi tidak sampai melakukan hubungan seksual
  5. Melakukan hubungan seksual

 

Contoh Tesis tentang Prilaku Hubungan Seks

CONTOH TESIS NO.1 HUBUNGAN PERSONAL REMAJA DENGAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER OLEH ORANG TUA DALAM UPAYA PENCEGAHAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH DI KABUPATEN JEMBER

Kesimpulan: Faktor personal remaja tidak memiliki hubungan terhadap pelaksanaan pendidikan karakter oleh keluarga (orang tua). Remaja agar diarahkan seleksi dalam memilih teman agar tidak terpengaruh perilaku seksual pranikah dan mencari informasi pendidikan seksualitas dari sumber yang terpercaya. Orang tua melakukan komunikasi yang baik untuk dapat memberikan pendidikan seksual. Sekolah dapat menyusun kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk KIE yang melibatkan siswa dan orang tua.

 

CONTOH TESIS NO.2 Perilaku Seks Pranikah Remaja

Hubungan seksual sebelum nikah pada remaja merupakan masalah yang serius, berhubungan dengan peningkatan penularan penyakit menular seksual, mempunyai pasangan lebih dari satu, dan kehamilan dini. Suatu kerangka kerja model perilaku terintegrasi (Integrated Behavioral Model, IBM) digunakan untuk menilai berbagai faktor prediktor hubungan seksual prematur pada remaja. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi inisiasi hubungan seksual sebelum nikah pada remaja level 10 dan 11 berdasarkan kerangka kerja IBM, meliputi komunikasi tentang seks kelompok peers, orang tua, paparan perilaku pornografi, kepercayaan normatif, agen personal, dan keinginan hubungan seksual. Metode yang digunakan adalah menyertakan 626 responden dalam survei awal. Responden adalah siswa sekolah menengah atas level 10 – 11 di kota Denpasar. Data dikumpulkan dengan kuesioner laporan sendiri khususnya prediktor inisiasi hubungan seksual sebelum menikah. Penelitian ini menemukan bahwa pajanan pornografi, perilaku langsung dan tidak langsung berhubungan secara signifikan dengan inisiasi hubungan seksual sebelum nikah (nilai p < 0,05). Remaja laki-laki tampaknya melakukan lebih banyak aktivitas seksual daripada remaja perempuan. Penelitian ini berimplikasi terhadap pemahaman perilaku langsung dan pajanan pornografi mungkin digunakan dalam meningkatkan program kesehatan dan kesehatan remaja.

 

CONTOH TESIS NO.3 ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA DI SMK DR SOETOMO SURABAYA BERDASARKAN TEORI PERILAKU WHO

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara faktor pikiran dan perasaan dengan perilaku seks bebas diperoleh nilai rho Spearman (p) 0,018 dengan derajat korelasi r = -0,325, hasil personal Faktor referensi dengan perilaku seks bebas diperoleh nilai rho Spearman (p) 0,004 dengan derajat korelasi r = -0,388, hasil faktor sumber daya dengan perilaku seks bebas diperoleh rho Spearman nilai (p) 0,042 dengan derajat korelasi r = 0,280, hasil faktor budaya diperoleh hubungan seks bebas Nilai rho Spearman (p) 0,004 dengan derajat korelasi r = -0392. Berdasarkan hasil di atas, peneliti menyimpulkan bahwa ada hubungan antara faktor pemikiran dan perasaan, referensi pribadi, sumber daya dan budaya dengan seks bebas remaja perilaku di SMK Dr. Soetomo Surabaya. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja.

 

CONTOH TESIS NO.4 Gambaran Faktor – faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja di SMPN 1 Solokanjeruk Kabupaten Bandung

Remaja merupakan masa peralihan yang mengakibatkan perubahan fungsi seksual yang akan menimbulkan dorongan berperilaku seksual pranikah. Berdasarkan data DP2KBP3A tahun 2016 Pernikahan Usia Dini (PUP) di bawah usia 21 tahun ada 9.530 orang di Kecamatan Solokanjeruk. Serta data yang diperoleh dari Puskesmas Solokanjeruk dampak dari perilaku seksual pranikah antaranya kehamilan diluar nikah ada 5 kasus usia 15-16 tahun. Perilaku seksual pranikah terjadi di remaja. Faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku seksual yaitu ada faktor internal dan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di SMPN 1 Solokanjeruk Kabupaten Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Jumlah sampel 310 orang, teknik pengambilan sampel dengan propotional statified sampling. Pengambilan data menggunakan instrument tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah. Instrumen telah diuji validitas (0,760-0,989) dan reabilitas (0,945- 0,987). Penelitian ini menggunakan skala Ordinal. Variabel bebasnya yaitu pengetahuan, norma keluarga, norma agama, smartphone. Sedangkan pada variabel terikat yaitu perilaku seks pranikah remaja. Analisa data menggunakan analisa univariat dan bivariat. Analisa bivariat menggunakan uji statistik chi square (X2) dan uji normalitas menggunakan metode kolmogorov smirnov. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Solokanjeruk Kabupaten Bandung bulan September 2017. Hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan antara norma keluarga ( value : 0,000) dan penggunaan smartphone value : 0,000) dengan perilaku seksual pranikah. Hasil ini diharapkan akan bermanfaat bagi peneliti, departemen maternitas dan jiwa Fakultas Keperawatan Unpad, Puskesmas Solokanjeruk, SMPN 1 Solokanjeruk. Diharapkan juga dapat menjadi data dasar bagi peneliti selanjutnya mengenai upaya promotif dan preventif perilaku seksual pranikah remaja.

 

CONTOH TESIS NO.5 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI CIREBON

Perilaku seksual remaja saat ini cenderung permisif, banyak remaja yang melakukan hubungan seksual aktivitas mulai dari yang ringan hingga melakukan hubungan seksual. Survei pendahuluan dilakukan terhadap 24 siswa dari Hasil SMK Negeri 1 Cirebon cukup meresahkan hingga hampir separuh responden pernah parah aktivitas seksual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan remaja perilaku seksual di SMK Negeri 1 Cirebon tahun 2013. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel adalah siswa kelas X SMK Negeri 1 Cirebon dari 240 responden diambil dengan metode sampling acak sistematis. Penelitian itu dilakukan pada bulan Mei 2013 dengan menggunakan kuesioner data primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas Siswa SMK Negeri 1 Cirebon berjenis kelamin laki-laki sebanyak 76,7%. Kebanyakan siswa menemukan informasi tentang Media kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yaitu 60,8%. 64,2% siswa merasa cukup pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan 72,1% siswa berperilaku seksual ringan. Berbasis SPSS17 Analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan remaja perilaku seksual (P value 0,000), tidak ada hubungan antara sumber daya dengan seks remaja perilaku (P value 0,093), ada hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual remaja (nilai P 0,009).

 

CONTOH TESIS NO.6 HUBUNGAN PENDIDIKAN SEKS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 4 BINJAI TAHUN 2017

Remaja sebagai generasi muda merupakan aset bangsa yang penting karena di atasnya Di pundak terletak tanggung jawab kelangsungan hidup bangsa. Masalah remaja saat ini adalah kompleks dan mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan masih rendahnya pengetahuan remaja tentang seks pendidikan. karena keingintahuan seorang remaja yang besar, dalam kondisi dimana informasi dan teknologi komunikasi begitu gratis sehingga remaja mendapatkan informasi yang salah. Lalu itu akan mempengaruhi nilai hidup mereka. Metode Penelitian: Desain penelitian ini adalah an survei analitik dengan pendekatan cross-sectional untuk mengetahui hubungan antara pendidikan seks dengan perilaku seksual pada remaja di SMA Negeri 4 Binjai. Hasil dan Pembahasan: Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan responden dengan baik pendidikan Berdasarkan hasil penelitian diperoleh responden dengan pendidikan baik 88,3%, pendidikan kurang 11,7%, sedangkan perilaku positif 48,7% dan perilaku negatif 51,6%. Remaja berperilaku baik 41,4%, keduanya berperilaku negatif 46,9%, pendidikan kurang 7% positif perilaku, kurang pendidikan 4,7% perilaku negatif. Dari hasil uji statistik dengan Uji Chi-Square menemukan hubungan pendidikan seks dengan perilaku seksual diperoleh pvalue = 0,340 tidak berpengaruh terhadap perilaku seksual pada remaja. Kesimpulan: Dari Hasil penelitian ini disarankan kepada petugas kesehatan di puskesmas khsusnya kesehatan bagian promosi untuk menambah pengetahuan tentang pendidikan seks kepada remaja ke sekolah.

 

CONTOH TESIS NO.7 Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap Perilaku Seks Bebas

Hasil survei menunjukkan telah terjadi peningkatan jumlah remaja yang melakukan seks bebas sebelum menikah. Jumlah sebesar itu merupakan ancaman serius bagi keluarga, masyarakat dan bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku seks bebas pada remaja SMA. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dan pendekatan cross sectional dengan populasi seluruh siswa kelas X, XI dan XII sebanyak 560 siswa kelas. Sampel diambil sebanyak 100 responden dengan menggunakan teknik simple random sampling.Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2016 dengan menggunakan lembar angket. Itu dilakukan di SMAN 01 Tembilahan. Sedangkan analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 47% siswa memiliki pengetahuan baik, 79% siswa bersikap negatif terhadap seks bebas, dan 61% berperilaku kurang baik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku seks bebas, nilai “p value” sebesar 0,016 dan ada hubungan antara sikap dengan perilaku seks bebas nilai “p value” sebesar 0,035. Ada hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku seks bebas. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai saran untuk mencegah peningkatan seks bebas sebelum menikah. Dan bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti variabel lain yang mungkin berdampak pada perilaku seks bebas remaja.

 

CONTOH TESIS NO.8 Perilaku Seksual Remaja dan Pengaruh Lingkungan Sosial pada Anak-Anak Keluarga Migran dan Nonmigran

Perilaku seksual pranikah pada remaja merupakan persoalan sosial yang perlu mendapatkan perhatian. Perilaku seksual pranikah ini menjadi masalah karena tidak diimbangi dengan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi yang memadai sehingga sering berakibat terjadinya kehamilan tidak dikehendaki di kalangan remaja. Lingkungan sosial menjadi salah satu faktor yang dapat menjadi faktor pendorong perilaku remaja, tetapi pada sisi yang lain lingkungan sosial dapat melakukan perubahan perilaku. Artikel ini nantinya akan menggambarkan tentang perilaku seksual remaja, baik pada remaja dari keluarga migran maupun nonmigran di daerah penelitian CHAMPSEA (Child Health and Migrant Parents in South East Asia) di Jawa Barat dan Jawa Timur. Responden untuk artikel ini adalah kategori remaja (young adult) dengan sampel sejumlah 429 anak remaja dari rumah tangga migran dan nonmigran. Hasil studi menunjukkan bahwa sebanyak 5,07 persen remaja yang belum menikah telah melakukan hubungan seksual pranikah, yang dilakukan baik oleh remaja dari keluarga migran dan nonmigran. Berdasarkan jenis kelamin, perilaku seksual pranikah lebih banyak dilakukan oleh remaja perempuan dibandingkan dengan remaja laki-laki. Sementara itu, usia pertama kali melakukan hubungan seksual pranikah paling banyak dilakukan oleh remaja yang berusia 18 tahun (35 persen) dan hal ini berbeda dengan persepsi mereka tentang usia menikah. Berdasarkan lingkungan sosial remaja, terdapat 28,74 persen responden yang memiliki teman yang telah melakukan hubungan seksual pranikah, bahkan ada yang menganjurkan dan memaksa responden untuk melakukan hubungan seksual pranikah.

 

CONTOH TESIS NO.9 Perilaku Seks Pranikah pada Mahasiswa: Menilik Peran Harga Diri, Komitmen Hubungan, dan Sikap terhadap Perilaku Seks Pranikah

Beberapa variabel seperti harga diri, komitmen hubungan dalam hubungan diadik yang dilakukan oleh orang tersebut, dan sikap positif, diduga mempengaruhi perilaku seksual pranikah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur secara empiris pengaruh harga diri, hubungan komitmen, dan sikap perilaku seksual pranikah terhadap perilaku seksual pranikah pada mahasiswa. Penelitian ini melibatkan 287 mahasiswa sebagai partisipan. Struktural model persamaan digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model empiris yang diperoleh sesuai dengan model teoritis, atau ada baiknya cocok. Namun, hanya hubungan yang dilakukan, dan sikap hubungan seksual pranikah mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada mahasiswa.

 

CONTOH TESIS NO.10 PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU REMAJA TENTANG SEKS PRA NIKAH

Masalah seksualitas pada remaja karena faktor-faktor perubahan-perubahan hormonal yang meningkat hasrat seksualnya. Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan dengan tingkat perubahan fisik. Perilaku seks pra nikah nampaknya menjadi salah satu permasalahan yang terbesar dari berbagai kasus kenakalan remaja. Kasus dari tahun-ketahun menunjukkan peningkatan kejadian seks pra nikah di kalangan remaja. Perilaku-perilaku seks yang terjadi tidak diiringi dengan pengetahuan yang memadai pada diri remaja. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan pengetahuan tentang seks pra nikah dan sikap terhadap seks pra nikah dengan perilaku seks pranikah pada remaja SMA Negeri 1 Godong. Jenis penelitian ini adalah eksplanatory research dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SMA Negeri 1 Godong kelas XI sebanyak 369. Teknik sampling yang digunakan adalah proportional random sampling dengan jumlah 79 siswa.Variabel bebas adalah pengetahuan dan sikap sedangkan variabel terikat adalah perilaku. Hasil uji statistik penelitian mendapatkan bahwa pengetahuan siswa sebagian besar dalam kategori baik (96,2%), sikap siswa sebagian besar negatif (54,4%) dan perilaku seks pranikah sebagian besar kurang baik (48,1%). Terdapat adanya hubungan yang bermakna pengetahuan dengan sikap seks (p=0,000). Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku seksual pranikah (p=0,000). Terdapat hubungan yang bermakna sikap dengan perilaku seksual pada siswa (p=0,017) di SMA Negeri 1 Godong. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan ada hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku seks pra nikah.

 

 

 

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Leave a Reply

Open chat
Hallo ????

Ada yang bisa di bantu?