HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Teori Lengkap tentang Implementasi Community Based Tourism menurut Teori dan Pendapat Ahli dan Contoh Tesis tentang Implementasi Community Based Tourism

Teori Lengkap tentang Implementasi Community Based Tourism menurut Teori dan Pendapat Ahli dan Contoh Tesis tentang Implementasi Community Based Tourism

Gambaran dari Implementasi Community Based Tourism

Definisi Implementasi Community Based Tourism

 

Community based tourism merupakan sebuah pembangunan berkelanjutan dengan merangkul komunitas sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan.

 

Faktor-faktor Keberhasilan Implementasi Community Based Tourism (CBT)

Faktor – faktor keberhasilan tersebut adalah

  1. Tokoh penggerak

Tokoh penggerak ini memiliki peran yang sangat besar dalam menggerakan desa non wisata menjadi desa wisata melalui komunitas pariwisata seperti contohnya adalah pokdarwis.

  1. Pelibatan masyarakat sebagai pelaku utama

Keterlibatan masyarakat luas sebagai pelaku utama terlihat didalam embrio. Embrio merupakan aktivitas masyarakat dalam keseharian mereka yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Didalam embrio ini yang berperan adalah sekelompok masyarakat yang memiliki keahlian atau ketertarikan yang sama dibidang embrio tersebut. Mereka merencanakan, mengelola dan memperkerjakan diri mereka sendiri didalam embrio tersebut di kegiatan pariwisata.

  1. Keunikan lokasi terutama dari adat dan istiadat budaya

Keunikan lokasi ini merupakan elemen utama untuk memicu adanya kegiatan pariwisata di Desa Wisata.Keunikan lokasi ini harus diciptakan oleh masyarakat tersebut untuk dapat mendatangkan wisatawan ke dalam desa wisata mereka.Keunikan lokasi yang berangkat dari budaya dan adat istiadat ini dianggap lebih memiliki nilai jual pariwisata yang cukup tinggi dan berdaya saing. Selain itu budaya dan adat istiadat setiap desa wisata ini akan saling berbeda sehingga meninggalkan suatu kenangan yang berbeda bagi para wisatawan yang tidak dapat dijumpai di desa wisata lain. Keunikan lokasi ini harus diciptakan oleh masyarakat desa sendiri untuk dapat menjadi desa wisata.Keunikan lokasi ini dapat berupa event – event wisata, paket – paket wisata dan keunikan yang dijual langsung di desa wisata.

  1. Fasilitasi dana berdasarkan embrio aktivitas masyarakat yang ada.

Fasilitasi dana PNPM Mandiri pariwisata ini merupakan pemberian dana untuk memenuhi kebutuhan para pelaku wisata. Dimana pelaku wisata yang merumuskan realisasi dana ini. Embrio aktivitas adalah aktivitas masyarakat yang sudah ada dan dapat digunakan sebagai daya tarik wisata. Sehingga dengan pemberian dana kepada embrio aktivitas dan pelaku wisata dalam realisasinya dapat lebih menyentuh langsung kepada para pelaku wisata. Sehingga mereka dapat ikut memajukan desa wisata menjadi lebih berkembang dan layak jual. Selain itu mereka juga pecaya diri untuk mencoba lapangan pekerjaan baru di forum pariwisata.

  1. Link

Memiliki link untuk stakeholder penting seperti pemerintah agar bantuan seperti pembinaan, pelatihan dan dana stimulan dapat masuk untuk pengembangan desa wisata.

 

Teori-teori dari gambar Community Based Tourism

  1. Community – Bassed Tourism (CBT)

Dalam buku pegangan yang diterbitkan REST (1997), dimuat hal-hal konseptual dan praktis dari CBT, Menurut REST, secara terminologis, pelibatan partisipasi masyarakat dalam proyek pengembangan pariwisata mempunyai banyak nama, yakni Community-Based Tourism (CBT), Community-Based Ecotourism (CBET), Agrotourism, Eco and Adventure Tourism dan homestay. Dikalangan akademik, belum ada konsensus terhadap istilah-istilah dari beragam tipe pariwisata ini.

Adapun definisi CBT adalah pariwisata yang menyadari kelangsungan budaya, sosial, dan lingkungan. Bentuk pariwisata ini dikelola dan dimiliki oleh masyarakat untuk masyarakat, guna membantu para wisatawan untuk meningkatkan kesadaran mereka dan belajar tentang masyarakat dan tata cara hidup masyarakat lokal (local way of life). Dengan demikan, CBT sangat berbeda dengan pariwisata massa (mass tourism). CBT merupakan model pengembangan pariwisata yang berasumsi bahwa pariwisata harus berangkat dari kesadaran nilai-nilai kebutuhan masyarakat sebagai upaya membangun pariwisata yang lebih bermanfaat bagi kebutuhan, inisiatif dan peluang masyarakat lokal (Pinel: 277) CBT bukanlah bisnis wisata yang bertujuan untuk memaksimalkan profil bagi para investor. CBT lebih terkait dengan dampak pariwisata bagi masyarakat dan sumber daya lingkungan (environmental resources). CBT lahir dari strategi pengembangan masyarakat dengan menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memperkuat kemampuan organisasi masyarakat rural/lokal.

Dalam khasanah ilmu kepariwisataan, strategi tersebut dikenal dengan istilah community based tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat. Konstruksi CBT ini pada prinsipnya merupakan salah satu gagasan yang penting dan kritis dalam perkembangan teori pembangunan kepariwisataan konvensional (growth oriented model) yang seringkali mendapatkan banyak kritik telah mengabaikan hak dan meminggirkan masyarakat lokal dari kegiatan kepariwisataan di suatu destinasi. Kritik tersebut muncul karena di tingkat global, aktivitas wisata secara massif yang berjalan selama ini dipercaya memunculkan dampak negatif, ditandai dengan berlangsungnya penurunan kualitas lingkungan yang sering dijamah wisatawan.

  1. Model Pengembangan CBT

Buku, riset, dan survey tentang pelibatan masyarakat dalam pariwisata atau community-bassed tourism telah banyak dilakukan. Ketertarikan terhadap partisipasi masyarakat dalam dunia pariwisata tampaknya berakar di Amerika awal 1970-an. Gunn (1972: 66) mengkampanyekan penggunaan forum bersama yang dihadiri oleh pemimpin masyarakat, konstituen, perancanag pariwisata yang diharapkan. Gunn berpendapat bahwa keuntungan dari community approach yang diadvokasikannya dapat bermanfaat bagi penduduk dan para pengunjung.

Kemudian yang pertama kali mempopulerkan konsep pengembangan pariwisata berbasis masyarakat adalah Murphy (1985). Dia berpendapat, bahwa produk pariwisata secara lokal diartikulasikan dan dikonsumsi, produk wisata dan konsumennya harus visible bagi penduduk lokal yang seringkali sangat sadar terhadap dampak turisme. Untuk itu, pariwisata harus melibatkan masyarakat lokal, sebagai bagian dari produk turisme, lalu kalangan industri juga harus melibatkan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan. Sebab, masyarakat lokal lah yang harus menanggung dampak kumulatif dari perkembangan wisata dan mereka butuh untuk memiliki input yang lebih besar, bagaimana masyarakat dikemas dan dijual sebagai produk pariwisata. (Murphy, 1985: 16)

 

Contoh Tesis Community Based Tourism

Contoh Tesis 1 : Community Based Tourism Tantangan Dusun Nglepen Dalam Pengembangan Desa Wisata (Tinjauan Berdasarkan Teori Partisipasi Masyarakat)

Masyarakat Dusun Nglepen pada awalnya adalah masyarakat pedesaan yang mayoritas menggantungkan mata pencaharian sebagai petani. Setelah bencana gempa bumi 5,9 skala richter yang menimbulkan kerusakan parah pada Sabtu 27 Mei 2006, Dusun Nglepen direlokasi ke wilayah lain, dibangun dengan bangunan rumah tahan gempa berbentuk kubah (dome). Keunikan desain rumah dome justru menjadi daya tarik desa wisata yang sangat diminati. Disisi lain, peralihan sosio-kultural masyarakat Dusun Nglepen menjadi masyarakat pariwisata sangat menarik untuk diamati. Artikel ini menyajikan gambaran tantangan dalam pengembangan Community Based Tourism Dusun Nglepen yang dikaji berdasarkan teori partisipasi masyarakat melalui analisis diskriptif kualitatif. Hasil menunjukan bahwa semakin tinggi partisipasi warga, maka semakin tinggi dampaknya tehadap masyarakat. Dampak yang ditemukan cenderung bernilai posistif bagi masyarkat baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Selanjutnya dampak positif yang dirasakan masyarakat cenderung mempengaruhi tingkat partisipasi dalam pengembangan pariwisata.

Contoh Tesis 2 : PENGELOLAAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT (COMMUNITY BASED TOURISM ) DI DESA WISATA KEBONAGUNG KECAMATAN IMOGIRI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1) Pengelolaan pariwisata di Desa Kebonagung dilakukan secara langsung oleh masyarakat lokal melalui POKDARWIS. Desa Wisata Kebonagung telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan konservasi sumber daya alam dan budaya, dan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi, melalui produk wisata yang berorientasi pada budaya lokal. (2) Pada tahap pembentukan Desa Wisata Kebonagung masyarakat kurang dilibatkan, tingkat partisipasi yang tergambar adalah Paradigma Penghargaan Semu (Degrees of Tokenism), (3) Pada tahap pelaksanaan program desa wisata, secara kuantitas jumlah masyarakat yang berperan aktif dalam pengelolaan desa wisata masih sedikit, tetapi jika dilihat dimensi partisipasinya, pada tahap pelaksanaan tingkat partisipasi yang tergambar adalah tingkat kekuatan masyarakat (citizen power),karena masyarakat sendiri yang mengelola dan memutuskan bagaimana kegiatan wisata dijalankan. (4) Pada tahap evaluasi bentuk partisipasi masyarakat berupa sumbangan kritik dan saran, tingkat partisipasi yang tergambar adalah tingkat degree of tokenism. (5) Sikap pro masyarakat ditunjukkan dengan ikut menjaga kebersihan lingkungan, terlibat dalam keanggotaan POKDARWIS serta terlibat dalam pengelolaan atraksi, fasilitas dan amenitas wisata, sementara kontra yang terjadi di masyarakat antara lain sikap apriori pada awal pengembangan desa wisatadan pengelolaan keuangan yang tidak transparan sehingga terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat.

Contoh Tesis 3 : PENEGELOLAAN BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM PADA OBJEK WISATA AIR PANAS PAWAN KABUPATEN ROKAN HULU PROVISI RIAU

Menekankan aspek kegiatan pariwisata berbasis komunitas yang menitikberatkan pada komunitas, dari komunitas, oleh komunitas untuk komunitas.Rokan Hulu memiliki jangkauan yang luas jumlah daya tarik, namun yang menjadi potensi unggulan itu hanya empat; Panas Objek Wisata Pawan, Objek Wisata Air Panas Hapanasan, Objek Wisata Danau Sipogas dan Objek wisata Air Terjun Aek Matua. Objek wisata panas Pawan merupakan objek wisata yang dijalankan oleh PT tiga pihak yaitu Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa dan Masyarakat. Orang yang Pekerjaan paling remedi manajemen diberikan kebebasan objek wisata mengelola Hot Pawan oleh pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rokan Hulu. Tapi apakah pemerintah melibatkan masyarakat yang bekerja sebagai pengelola kegiatan pariwisata berbasis masyarakat sebagai kegiatan Perencanaan, Pemodal, Pelaksanaan, Manajemen dan Evaluasi.

Contoh Tesis 4 : PENGEMBANGAN DESA WISATA MELALUI KONSEP COMMUNITY BASED TOURISM

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan pariwisata, sehingga industri pariwisata semakin berkembang pesat di Indonesia. Pariwisata di Indonesia saat ini sudah menjadi salah satu pilar perekonomian Indonesia. Indonesia juga saat ini sudah menjadi salah satu destinasi pariwisata yang semakin terkenal bukan hanya di kalangan wisatawan lokal, namun keindahan pariwisata Indonesia sudah melanglangbuana hingga masyarakat-masyarakat di berbegai Negara di dunia. Kemajuan pariwisata beriringan dengan semakin pesatnya pembangunan yang dilakukan di wilayah pariwisata tersebut untuk menunjang infrastruktur pariwisata. Namun, saat ini keberadaan pariwisata dan kemajuannya masih belum bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat di sekitarnya. Pada kenyatannya beberapa provinsi yang menjadi primadona pariwisata di Indonesia masih menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, ini bisa jadi disebabkan oleh masyarakat yang belum mampu mengelola pariwisatanya sendiri sehingga sektor pariwisata lebih banyak dikuasai oleh para investor. Community based tourism merupakan konsep pariwisata yang berbasis masyarakat, dalam CBT masyarakat di berdayakan untuk mengelola objek wisatanya sendiri. salah satu bentuk dari CBT adalah pengembangan desa wisata.

Contoh Tesis 5 : Pengembangan Community Based Tourism Sebagai Strategi Pemberdayaan Masyarakat dan Pemasaran Pariwisata di Wonosalam Kabupaten Jombang

Pengembangan potensi wisata yang memiliki nilai jual tinggi bila dikelola dan dipromosikan secara tepat dapat menjadi wisata unggulan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi dan karakteristik wisata potensial, merumuskan model pemasaran destinasi wisata yang ada di Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang, dan menganalisis kesiapan masyarakat serta program-program yang sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Jombang dalam mengembangkan Community Based Tourism. Melalui pendekatan kualitatif, perolehan data penelitian ini dilakukan dengan wawancara kepada beberapa informan. Temuan penelitian ini adalah pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam pengelolaan dan promosi destinasi wisata, selain itu memerlukan strategi yang spesifik dan berkesinambungan. Strategi pengembangan Community Based Tourism dijabarkan dalam aspek manajemen pengelolaan destinasi wisata, aspek sosial ekonomi, dan aspek budaya yang dilakukan melalui penilaian dan kesiapan baik persepsi, partisipasi masyarakat dan keinginan masyarakat terhadap pengembangan destinasi wisata yang ada di daerahnya dan diperlukan strategi pemasaran pariwisata yang sesuai dengan kondisi destinasi wisatanya.

Contoh Tesis 6 : Penerapan Prinsip Community Based Tourism (CBT) Dalam Pengembangan Agrowisata Di Kota Batu, Jawa Timur

Wisata Berbasis Komunitas (CBT) telah muncul sebagai alternatif dari pariwisata arus utama (arus utama) pengembangan. Makalah ini ingin menganalisis penerapan prinsip CBT dalam pengembangan agrowisata di Kota Batu Kota. Penerapan prinsip ekonomi CBT menghasilkan sebagian besar sektor bisnis pariwisata menyerap masyarakat local tenaga kerja dan pendapatan masyarakat yang diperoleh dari belanja wisatawan (tourist expenditure). Penerapan prinsip social CBT dalam pengembangan agrowisata meningkatkan persepsi positif individu tentang perkembangan agrowisata, meningkatkan kebanggaan masyarakat, kekuatan modal sosial menghasilkan perubahan dalam masyarakat. Penerapan prinsip budaya CBT dalam pengembangan agrowisata semakin memperkuat budaya lokal. Interaksi yang timbul antara wisatawan dan masyarakat menghasilkan pertukaran unsur budaya dan masyarakat turis. Penerapan prinsip politik CBT dalam pengembangan agrowisata memperkuat organisasi local berperan dalam mekanisme pengendalian pengelolaan sumber daya pariwisata dan menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan. Penerapan prinsip lingkungan CBT telah menghasilkan model-model penentuan daya dukung secara lokal.

Contoh Tesis 7 : PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT (COMMUNITY BASED TOURISM) DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Pengembangan pola pariwisata yang dikenal dengan “Community Base Tourism” adalah Pengembangan pariwisata di sekitar kegiatan wisata berlangsung dan berbaur dengan pedesaan komunitas. Nilai tambah yang didapat dari pembangunan berbasis komunitas pariwisata / pedesaan adalah (1) penduduk pedesaan dapat berperan sebagai pelaku, mereka dapat menyediakan tempat berlindung wisatawan, penyediaan makanan dan minuman, layanan laundry, layanan bisnis transportasi, dan layanan lainnya. (2) Meningkatkan konsumsi produk local (sayur mayur, buah-buahan, kerajinan tangan, makanan tradisional, dan lain-lain, kerja sethingga bisa melaju kelangsungan bisnis dan tradisi berbasis lokalitas. (3) Mendorong pemberdayaan masyarakat local tenaga kerja, seperti penyedia atraksi seni budaya, kerajinan tangan, dll). (4) meningkatkan masyarakat kesadaran akan nilai-nilai dan tradisi budaya lokal dan lingkungan alam yang unik dimiliki.Strategi Pengembangan Pariwisata berbasis masyarakat di Desa Bedulu dilihat dari beberapa aspek organisasi manajemen, Profil Wisatawan yang berkunjung, Persepsi Wisatawan yang Menginap pada Jasa, Persepsi Agen Travel terhadap Wisata Bedulu pengelolaan desa, Partisipasi / Pariwisata berbasis masyarakat. mengembangkan dukungan bisa memberdayakan masyarakat desa sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Contoh Tesis 8 : Penerapan Konsep Community Based Tourism (CBT) Dalam Pengelolaan Wisata Alam Kampoeng Karts Rammang-Rammang Kabupaten Maros

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Wisata Alam Kampoeng Karts Rammang-Rammang telah menerapkan prinsip CBT dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lingkungan. Pada indikator penghargaan terhadap budaya yang berbeda belum maksimal disebabkan masyarakat setempat belum terbuka terhadap pengunjung dan belum adanya atraksi budaya. Indikator meningkatkan kekuasaan belum terwujud disebabkan POKDARWIS fokus pada pendampingan masyarakat; (2) pengelolaan Wisata Alam Kampoeng Karts Rammang-Rammang sesuai dengan kriteria CBT, yaitu mendapat dukungan masyarakat, bermanfaat ekonomis dan kepariwisataan melindungi budaya dan lingkungan; (3) sudah menunjukkan perkembangan dari segi kuantitas sarana prasarana maupun kualitas pelayanan. Namun ketersediaan air bersih, tempat istirahat, kafe dan penginapan masih minim; (4) Wisata Alam Kampoeng Karts Rammang-Rammang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Geografi untuk mengkaji obyek geosfer melalui pemanfaatannya sebagai media pembelajaran dan sebagai lokasi observasi.

Contoh Tesis 9 : Penerapan Community Based Tourism dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Sebagai Upaya Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Taro Kecamatan Tegallalang ,Gianyar Bali

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan CBT dari aspek ekonominya adalah 1) adanya dana untuk pengembangan wisata berbasis masyarakat seperti english club, 2) terciptanya lapangan pekerjaan seperti pengelola indusri sanggah taro, homestay, supllier, dan pengelola restoran, 3) Timbulnya pendapatan dari penjualan rumput gajah, tenaga kerja. Aspek sosialnya adalah 1) Peningkatan Kualitas Hidup yang bisa terlihat dari meningkatnya bahasa Inggris masyarakat, 2) Peningkatan kebanggaan komunitas di lihat dari motivasi masyarakat untuk menciptkan peluang bisnis pariwisata seperti misalnya akan dibentuk paket wisata yang menjual kamar, trekking, dan makanan tradisional, cooking class juga mulai bermunculan yang mengandalkan bumbu tradisional Bali, 3) Kesediaan dan kesiapan masyarakat ingin lebih terlibat langsung dalam setiap kegiatan kepariwisataan di Desa Taro.

Contoh Tesis 10 :  Community Based Tourism Dalam Pengembangan Pariwisata Bali

Industri pariwisata saat ini sedang berkembang, potensi sumber daya alam dan budaya terus dikembangkan sebagai objek wisata. Pariwisata tidak hanya dimiliki oleh pemerintah atau pengusaha, pariwisata juga harus dimiliki oleh masyarakat sekitar. Karena itu, pariwisata harus dikembangkan dengan konsep berbasis komunitas. Pariwisata berbasis komunitas adalah salah satu bentuk dari pariwisata di mana masyarakat lokal memiliki kendali dan terlibat dalam pembangunan dan pengelolaan, dan sebagian besar manfaat tetap berada di tangan masyarakat lokal. Bali sebagai salah satu tujuan wisata terbaik dunia telah melakukan hal itu. Banyak tempat wisata di Bali telah dikelola dengan konsep wisata berbasis komunitas, seperti Pandawa Pantai dan Pantai Kedonganan di Kabupaten Badung, Tanah Lot di Kabupaten Tabanan, Monyet Hutan Ubud dan Sawah Ceking di Kabupaten Gianyar, dan Desa Penglipuran di Bangli Kabupaten. CBT telah terbukti mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan mampu melestarikan sumber daya alam dan budaya.

 

 

Leave a Reply

Open chat
Hallo ????

Ada yang bisa di bantu?