HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Teori Lengkap Deteksi Dini Stunting menurut Teori dan Pendapat Ahli dan Contoh Tesis tentang Deteksi Dini Stunting

Gambaran dari Deteksi Dini Stunting

Definisi Deteksi Dini Stunting

Stunting merupakan proses kumulatif dan disebabkan oleh asupan zat-zat gizi yang tidak cukup atau penyakit infeksi yang berulang, atau kedua-duanya. Stunting dapat juga terjadi sebelum kelahiran dan disebabkan oleh asupan gizi yang sangat kurang saat masa kehamilan, pola asuh makan yang sangat kurang, rendahnya kualitas makanan sejalan dengan frekuensi infeksi sehingga dapat menghambat pertumbuhan (Unicef, 2013).

Stunting adalah keadaan tubuh yang pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi refrensi internasional. Tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain seumurnya merupakan definisi stunting yang ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai dengan umur anak (WHO, 2006).

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru Nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (sevelery stunted) adalah balita dengan panjang (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MRGS (Multicentre Growth Reference Studi) 2006. Sedangkan definisi stunting menurut kementerian kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2SD/ standar defiasi (stunted) dan kurang dari – 3SD (surveley stunted). (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Sekretariat Wakil Presiden ,2017).

Stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek) didasarkan pada indeks tinggi badan atau panjang badan menurut umur (TB/U atau PB/U) yang didapatkan hasil rendah. Anak yang dikatakan stunting adalah dalam pengukuran status gizi yang berdasarkan pada umur dan kemudian dibandingkan dengan standar baku dari WHO, didapatkan hasil z-score dibawah normal. Z-score kurang dari -2 SD (standar deviasi), anak dikategorikan dalam stunted (pendek) sedangkan jika nilai z-score maka anak dikategorikan dalam severely stunted (sangat pendek) (Kemenkes, 2016).

Penyebab Stunting

Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Andriana (2014) membagi penyebab terjadinya Stunting pada anak menjadi 4 (empat) kategori besar yaitu faktor keluarga dan rumah tangga, makanan tambahan (komplementer) yang tidak memenuhi syarat, menyusui, dan infeksi.

  1. Faktor keluarga dan rumah tangga dibagi lagi menjadi faktor maternal dan faktor lingkungan rumah. Faktor maternal berupa nutrisi yang kurang pada saat prekonsepsi, kehamilan dan laktasi, tinggi badan ibu yang rendah, infeksi, kehamilan pada usia remaja, kesehatan mental, Intrauterine Growth Restriction (IUGR), kelahiran preterm, jarak kehamilan yang pendek, dan hipertensi. Faktor lingkungan rumah berupa stimulasi dan aktivitas anak yang tidak memenuhi syarat, perawatan yang kurang, sanitasi dan pasukan air yang tidak memenuhi syarat, akses dan ketersediaan pangan yang kurang, alokasi makanan dalam rumah tangga yang tidak sesuai, dan edukasi pengasuh yang rendah.
  2. Faktor kedua penyebab Stunting adalah makanan komplementer yang tidak memenuhi syarat, yang dibagi menjadi tiga, yaitu kualitas makanan yang rendah, cara pemberian yang tidak memenuhi syarat, dan keamanan makanan dan minuman. Kualitas makanan yang rendah dapat berupa kualitas mikronutrien yang rendah, keragaman jenis makanan yang dikonsumsi dan sumber makanan hewani yang rendah, makanan yang tidak mengandung nutrisi, dan makanan komplementer yang mengandung energi rendah. Cara pemberian yang tidak memenuhi syarat berupa frekuensi pemberian makanan yang rendah, pemberian makanan yang tidak memenuhi syarat ketika sakit dan setelah sakit, konsistensi makanan yang terlalu halus, pemberian makan yang rendah dalam kuantitas. Keamanan makanan dan minuman dapat berupa makanan dan minuman yang terkontaminasi, kebersihan yang rendah, penyimpanan dan persiapan makanan yang tidak aman.
  3. Faktor ketiga yang dapat menyebabkan Stunting adalah pemberian ASI (Air Susu Ibu) yang salah, karena inisiasi yang terlambat, tidak ASI eksklusif, dan penghentian penyusuan yang terlalu cepat.
  4. Faktor keempat adalah infeksi klinis dan sub klinis seperti infeksi pada usus : diare, environmental enteropathy, infeksi cacing, infeksi pernafasan, malaria, nafsu makan yang kurang akibat infeksi, dan inflamasi.

 

Dampak Stunting

Stunting dapat memberikan dampak bagi kelangsungan hidup anak. Supariasa (2012) membagi dampak yang diakibatkan oleh Stunting menjadi 2 (dua) yang terdiri dari jangka pendek dan jangka panjang.

  1. Dampak jangka pendek dari Stunting adalah di bidang kesehatan, dapat menyebabkan peningkatan mortalitas dan morbiditas, di bidang perkembangan berupa penurunan perkembangan kognitif, motorik, dan bahasa, dan di bidang ekonomi berupa peningkatan pengeluaran untuk biaya kesehatan.
  2. Dampak jangka panjang berupa perawakan yang pendek, peningkatan risiko untuk obesitas dan komorbiditasnya, dan penurunan kesehatan reproduksi, di bidang perkembangan berupa penurunan prestasi dan kapasitas belajar, dan di bidang ekonomi berupa penurunan kemampuan dan kapasitas kerja.

 

Contoh Tesis Deteksi Dini Stunting

CONTOH TESIS NO.1 Pemberdayaan Kader Kesehatan Dalam Deteksi Dini Stunting dan Stimulasi Tumbuh Kembang pada Balita

Salah  satu  masalah  kesehatan terkait  pertumbuhan  dan  perkembangan pada anakusia  balitayangdapat menimbulkan dampak buruk dalam jangka pendek maupun jangka panjangadalah stunting. Saat ini, pemerintah berusaha  menanggulangi stuntingdengan  upaya  intervensi  gizi  spesifik.  Agar  program  tersebut  dapat  berjalan dengan  efektif  maka  deteksi  dini  anak  dengan  stunting  penting  untuk  dilakukan  selain  pemberian  stimulasi tumbuh  kembang  yang  tepat  bagianak. Berdasarkan  data  Puskesmas  Jatinangor di  Desa  Cipacing  terdapat  14 anak  yang  berada  pada  status stunting.  Tujuan  dari  kegiatan  ini  adalah untuk  pemberdayaan  kader  kesehatan dalam deteksi dini stuntingserta stimulasi tumbuh kembang pada anak.Sasaran pada kegiatan ini adalah kader kesehatan  dengan  total  sampel  sebanyak  31  orang. Kegiatanpemberdayaan  berupa  satu  haripelatihan yang terbagi dalam 3 sesi denganmenggunakan  metode ceramah, diskusi dan tanya  jawab  serta demonstrasi danre-demonstrasi  oleh  para  kader  kesehatan.Hasil  kegiatan  menunjukkan  bahwa  terdapat  peningkatan  pengetahuan para kader kesehatan yaitu sebelum dilakukan kegiatan sebanyak 61,3% kader memiliki pengetahuan yang baik dan setelah dilakukan kegiatanmeningkat  menjadi  sebanyak 93,5%. Selain  itu,  hasil uji  statistikmenunjukkan terdapat  peningkatan  yang  signifikan  pada  pengetahuan  kader  kesehatan  setelah  dilakukan  intervensi  (p  = 0,000). Namun,  untuk  aspek  psikomotor yang  diukur  setelah  dilakukan  pelatihan,didapatkan hampir setengah dari   jumlah   responden   masih   berada   pada   kategori   kurang   baik.   Maka   dari   itu,diharapkan   kegiatan pemberdayaan  kader  kesehatan  dalamdeteksi  dinistuntingserta  stimulasi  tumbuh  kembang  pada  anak sebaiknya  dilakukan  secara  berkesinambungan  dengan  bekerja  sama  bersama  pihak-pihak  terkait,  sehingga diharapkan  memberikan  kontribusi  atas  terwujudnya  peningkatan  derajat  kesehatan  masyarakat  pada  umunya dan anak pada khususnya.

 

CONTOH TESIS NO.2 DETEKSI DINI STUNTING DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING PADA BALITA DI DESA DURIN TONGGAL, PANCUR BATU, SUMATERA UTARA

Latar  belakang: Stunting  adalah  kondisi  terhambatnya  pertumbuhan  pada  anak  balita  akibat kurang  gizi  kronis  sehingga  anak  terlibat  lebih  pendek  dari  pertumbuhan  usianya.  Hal  tersebut akan  berdampak  pada  perkembangan  anak,  maka  pemantauan  pertumbuhan dan  perkembang balita  sangat  penting  dilakukan  untuk  mengetahui hambatan  pertumbuhan  (growth  faltering) sejak  dini.Salah  satu  desa  yang  sulit  dijangkau membuat  masyarakat  kurang  informasi  tentang stunting  dan  tidak menyadari  situasi  pertumbuhan  dan  permbangan  anak  mereka. Tujuan:kegiatan ini untuk mendeteksi secara dini stunting pada anak usia dibawah lima tahun (Balita) di Desa Durin Tunggaldan memberikan informasi penting tentang stunting. Metode kegiatan yang dilakukanadalah pengukuran  tinggi  Badan  dan  Berat  Badan yang  dikonversi  dengan  nila  Z sesuai acuan kementrian kesehatan Republik Indonesia dan juga diberikan pendidikan kesehatan tentang  stunting  atau  mayarakat  mengenal  dengan  sebutan  kerdil. Hasil:Sebanyak  18  ibu dengan  anak  balita  mengikuti  kegiatan  dengan  aktif  dan  22  balita  dilakukan  deteksi  stunting. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukan mayoritas masyarakat tidak memahami tentang stunting  dan  54,5  %  balita  laki-laki  yang  diukur  tinggi  badan dan  berat  badan. Mayoritas  balita yang  dideteksi  usia  4-5  tahun  (63,6%)  dan  2-3  tahun  sebanyak  36,4%. Hasil  pengukuran menunjukan  86,4  %  balita  tidak  mengalami  stunting  namun  ditemukan  13,6  %  balita  stunting. Kesimpulan:Maka  hal  ini  perlu  menjadi perhatian  khusus  supaya  ibu-ibu  bisa  menyadari pertumbuhan anaknya dan memberikan asupan nutrisi yang baik untuk mencegah stunting.

 

CONTOH TESIS NO.3 Pemberdayaan Kader Kesehatan Dalam Deteksi Dini Stunting dan Stimulasi Tumbuh Kembang pada Balita

Salah satu masalah kesehatan terkait pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia balita yang dapat menimbulkan dampak buruk dalam jangka pendek maupun jangka panjang adalah stunting. Saat ini, pemerintah berusaha menanggulangi stunting dengan upaya intervensi gizi spesifik. Agar program tersebut dapat berjalan dengan efektif maka deteksi dini anak dengan stunting penting untuk dilakukan selain pemberian stimulasi tumbuh kembang yang tepat bagi anak. Berdasarkan data Puskesmas Jatinangor di Desa Cipacing terdapat 14 anak yang berada pada status stunting. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk pemberdayaan kader kesehatan dalam deteksi dini stunting serta stimulasi tumbuh kembang pada anak. Sasaran pada kegiatan ini adalah kader kesehatan dengan total sampel sebanyak 31 orang. Kegiatan pemberdayaan berupa satu hari pelatihan yang terbagi dalam 3 sesi dengan menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab serta demonstrasi dan re-demonstrasi oleh para kader kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan para kader kesehatan yaitu sebelum dilakukan kegiatan sebanyak 61,3% kader memiliki pengetahuan yang baik dan setelah dilakukan kegiatan meningkat menjadi sebanyak 93,5%. Selain itu, hasil uji statistik menunjukkan terdapat peningkatan yang signifikan pada pengetahuan kader kesehatan setelah dilakukan intervensi (p = 0,000). Namun, untuk aspek psikomotor yang diukur setelah dilakukan pelatihan, didapatkan hampir setengah dari jumlah responden masih berada pada kategori kurang baik. Maka dari itu, diharapkan kegiatan pemberdayaan kader kesehatan dalam deteksi dini stunting serta stimulasi tumbuh kembang pada anak sebaiknya dilakukan secara berkesinambungan dengan bekerja sama bersama pihak-pihak terkait, sehingga diharapkan memberikan kontribusi atas terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat pada umunya dan anak pada khususnya.

 

CONTOH TESIS NO.4 PENGEMBANGAN MODUL DETEKSI DINI PEMANTAUAN BALITA STUNTINGDI POSYANDU

Prevalensi stunting pada  balita  yang  cenderung  meningkat  baik  pada  tingkat  kabupaten kota sampai tingkat nasional, hasil Survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun tahun 2013 stunting mengalami  peningkatan  dari  35,6%  pada  tahun  2010  menjadi  37,2%  atau peningkatan sebesar 2,4%, dengan rincian 18,0 % sangat pendek dan 19,2 % pendek. Dampak yang  ditimbulkan  dari  masalah stunting adalah  obesitas  dan  kehilangan  IQ  point,  hasil penelitian  oleh University  of  North  Carolina, menemukan  bahwa  skor  IQanak-anak stunting usia delapan tahun lebih  rendah 11 point dibandingkan dengan  anak-anak  yang tidak stunting. World  Health  Assembly (WHA)  menargetkan  pada  tahun  2025  penurunan  prevalensi  balita stunting sebesar  40%  dari  prevalensi  saat  ini,  untuk  mencapai  target  tersebut  semua  unsur  harus dilibatkan semua kabupaten kota sampai pada masyarakat, hususnya kader posyandu..Sebanyak  53,3  %  kader  memiliki  tingkat  pendidikan  kader  yang  mengikuti  uji  coba modul  adalah  SMA,  dengan  usia  berkisar  antara  31  sampai dengan  60  tahun,  93,3  %  kader menilai  sesuai  antara  Judul  pokok  bahasan  dengan  isi  modul.  73,3%  dapat  memahami  isi  dari modul2. Setelah dilakukan focus group discussion yang merasa sulit dipahami adalah perhitungan umur dengan metode 2, 67,7 % kader posyandu menilai modul sangat penting bagi mereka  dan  hanya  33,3  %  yang  mengatakan  penting,  dan  46,7  %  menilai  perlu  dilaksanakan deteksi dini kejadian stunting di Posyandu.

 

CONTOH TESIS NO.5 Pemberdayaan Masyarakat Dalam Rangka Pencegahan StuntingSejak Dinidi Kecamatan Pagedongan Kabupaten Banjarnegara

Latar Belakang : Permasalahan Gizi di Indonesia masih tinggi, dengan angka kejadian stunting di Indonesia tahun 2013 sekitar 37,2%, melebihi dari standar yang ditetapkan yaitu 20%. Efek stunting pada balita mengakibatkan terhambatnya perkembangan kognitif yang berpengaruh terhadap kecerdasan, ketangkasan berpikir serta produktivits kerja. Pengetahuan kader yang baik dan sikap positif mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan melakukan penilaian deteksi dini secara awal terjadinya stunting maupun masalah gizi di masyarakat. Aplikasi Anak Bebas Stunting (ABS) berisikan informasi mengenai stunting diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap kader sehingga mampu melakukan penilaian awal.

Tujuan : untuk menganalisis pengaruh aplikasi anak bebas stunting (ABS) terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap kader tentang stunting pada balita usia 12 – 36 bulan.

Metode : Desain penelitian quasi experiment one group pre test and post test, dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Leuwigoong,. Subjek penelitian 80 orang kader dengan simple random sampling.

Hasil penelitian : didapatkan bahwa terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap kader setelah diberikan Aplikasi Anak Bebas Stunting (ABS) dengan nilai p <0,005, presentase peningkatan pengetahuan 25,1% dan persentase sikap 76,2%.

Simpulan : penelitian terdapat pengaruh penerapan aplikasi Anak Bebas Stunting (ABS) terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap kader tentang stunting .

Saran : Aplikasi ABS dapat di manfaatkan dan digunakan untuk membantu penatalaksanaan posyanduyang dilakukan kader

 

CONTOH TESIS NO.6 Pemberdayaan Kader Kesehatan Dalam Deteksi Dini Stunting dan Stimulasi Tumbuh Kembang pada Balita

Salah satu masalah kesehatan terkait pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia balita yang dapat menimbulkan dampak buruk dalam jangka pendek maupun jangka panjang adalah stunting. Saat ini, pemerintah berusaha menanggulangi stunting dengan upaya intervensi gizi spesifik. Agar program tersebut dapat berjalan dengan efektif maka deteksi dini anak dengan stunting penting untuk dilakukan selain pemberian stimulasi tumbuh kembang yang tepat bagi anak. Berdasarkan data Puskesmas Jatinangor di Desa Cipacing terdapat 14 anak yang berada pada status stunting. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk pemberdayaan kader kesehatan dalam deteksi dini stunting serta stimulasi tumbuh kembang pada anak. Sasaran pada kegiatan ini adalah kader kesehatan dengan total sampel sebanyak 31 orang. Kegiatan pemberdayaan berupa satu hari pelatihan yang terbagi dalam 3 sesi dengan menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab serta demonstrasi dan re-demonstrasi oleh para kader kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan para kader kesehatan yaitu sebelum dilakukan kegiatan sebanyak 61,3% kader memiliki pengetahuan yang baik dan setelah dilakukan kegiatan meningkat menjadi sebanyak 93,5%. Selain itu, hasil uji statistik menunjukkan terdapat peningkatan yang signifikan pada pengetahuan kader kesehatan setelah dilakukan intervensi (p = 0,000). Namun, untuk aspek psikomotor yang diukur setelah dilakukan pelatihan, didapatkan hampir setengah dari jumlah responden masih berada pada kategori kurang baik. Maka dari itu, diharapkan kegiatan pemberdayaan kader kesehatan dalam deteksi dini stunting serta stimulasi tumbuh kembang pada anak sebaiknya dilakukan secara berkesinambungan dengan bekerja sama bersama pihak-pihak terkait, sehingga diharapkan memberikan kontribusi atas terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat pada umunya dan anak pada khususnya.

 

CONTOH TESIS NO.7 Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu tentang Deteksi Dini Stunting Melalui Pelatihan

Stunting adalah suatu kondisi pertumbuhan mengalami kegagalan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak), dapat di akibatkan karena kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama. Kader posyandu merupakan masyarakat yang terpilih dan dilibatkan oleh puskesmas atau tenaga kesehatan untuk mengelola posyandu secara sukarela. Tujuan untuk menganalisis pengaruh Pelatihan Deteksi Dini Stunting terhadap Pengetahuan Kader Posyandu. Metode menggunakan database Google Scholar dengan mengidentifikasi beberapa kata kunci dan dalam rentang waktu 2014-2019 (5 tahun). Kriteri inklusi yaitu studi dengan metode kuantitatif; clinical trial; studi dengan menggunakan alat ukur serta outcome yang membahas pengetahuan kader posyandu tentang deteksi dini stunting melalui pelatihan. Kriteria eksklusi yaitu: teks tidak lengkap. Hasil dari database diperoleh lima jurnal setelah melalui skrining berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kesimpulan menunjukkan bahwa pelatihan meningkatan pengetahuan kader tentang deteksi dini stunting.

 

CONTOH TESIS NO.8 PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KADER TENTANG STUNTING PADA BALITA USIA 12 – 36 BULAN MELALUI PENERAPAN APLIKASI ANAK BEBAS STUNTING (ABS)

Latar Belakang : Permasalahan Gizi di Indonesia masih tinggi, dengan angka kejadian stunting di Indonesia tahun 2013 sekitar 37,2%, melebihi dari standar yang ditetapkan yaitu   20%. Efek stunting pada balita mengakibatkan terhambatnya perkembangan kognitif yang berpengaruh terhadap kecerdasan, ketangkasan berpikir serta  produktivits kerja. Pengetahuan kader yang baik dan sikap positif mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan melakukan penilaian deteksi dini secara awal terjadinya stunting maupun masalah gizi di masyarakat. Aplikasi Anak Bebas Stunting (ABS) berisikan informasi mengenai stunting diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap kader sehingga mampu melakukan penilaian awal.

Tujuan : untuk menganalisis pengaruh aplikasi anak bebas stunting (ABS) terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap kader tentang stunting pada balita usia 12 – 36 bulan.

Metode : Desain penelitian quasi experiment one group  pre test and post test, dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Leuwigoong,. Subjek penelitian 80 orang kader dengan simple random sampling.

Hasil penelitian : didapatkan bahwa terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap kader setelah diberikan Aplikasi Anak Bebas Stunting (ABS) dengan nilai p <0,005, presentase peningkatan pengetahuan 25,1% dan  persentase sikap 76,2%. Simpulan penelitian terdapat pengaruh penerapan aplikasi Anak Bebas Stunting (ABS) terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap kader tentang stunting .

 

CONTOH TESIS NO.9 HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG STUNTING DENGAN AKURASI HASI DETEKSI DINI KASUS STUNTING PADA ANAK OLEH GURU PAUD DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAMADUA KABUPATEN ACEH SELATAN

Stunting adalah masalah gizi kronis, yang sering dialami oleh anak akibat tidak terpapar atau tidak mendapat perhatian pada 1000 Hari Pertama Kehidupannya. Pada masa tersebut nutrisi yang diterima bayi saat di dalam kandungan dan menerima ASI memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan saat dewasa. Guru PAUD mempunyai peran strategis untuk menyampaikan informasi pengetahuan dan pemahaman kepada anak-anak tentang pencegahan stunting. Oleh sebab itu, para guru PAUD harus memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang stimulasi perkembangannya anak usia dini. Pengetahuan tersebut menjadi sangat penting untuk memberikan layanan yang maksimal pada anak secara tepat. Pengetahuan Guru PAUD/TK tentang SDIDTK, termasuk tentang stunting sebagian besar sudah baik, tetapi sebagian besar tidak melakukan pelaksanaan deteksi penyimpangan perkembangan, dan belum diketahui bagaimana akurasi hasil deteksi dini stunting oleh guru PAUD. Tujuan penelitian adalah ingin mengetahui hubungan pengetahuan tentang stunting dengan akurasi hasil deteksi dini stunting pada anak oleh guru PAUD di Wilayah Kerja Puskesmas Samadua Kabupaten Aceh Selatan. Tipe penelitian adalah explanatory research, dengan populasi adalah seluruh guru PAUD di wilayah kerja Puskesmas Samadua Kabupaten Aceh Selatan berjumlah 36 orang. Sampel adalah keselutuhan populasi. Pengumpulan data tentang pengetahuan dilakukan dengan memberikan quesioner kepada responden, pengumpulan data tentang akurasi hasil deteksi dini stunting pada anak dilakukan dengan meminta guru untuk memeriksa/mendeteksi seorang anak, lalu hasil deteksi dini diverikasi oleh ahli gizi untuk mengukur akurasinya. Hasil penelitian menunjukkan 63,8% hasil deteksi dini stunting pada anak oleh Guru PAUD adalah akurat, dan ada hubungan antara pengetahuan tentang stunting dengan akurasi hasil deteksi dini kasus stunting pada anak oleh guru PAUD. Perlu peningkatan kualitas hasil deteksi dini kasus stunting pada anak oleh guru PAUD, dan perlu peningkatan frekuensi deteksi dini kasus stunting pada anak oleh guru PAUD.

 

CONTOH TESIS NO.10 PENGARUH PELATIHAN DETEKSI DINI STUNTING TERHADAP PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN KADER DI KABUPATEN MAJENE

Latar belakang: Stunting di Indonesia merupakan masalah kronis secara nasional. Peran kader diperlukan untuk melaksanakan deteksi dini stunting secara rutin di posyandu. Pelatihan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dan berperan aktif dalam pencegahan di masyarakat. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pelatihan tentang deteksi dini stunting terhadap pengetahuan dan keterampilan kader. Metode: Jenis penelitian quasi-eksperiment rancangan pre-post with control design dilaksanakan di Puskesmas Pamboang dan Totoli Kabupaten Majene. Kelompok perlakuan adalah kader Puskesmas Pamboang berjumlah 31 orang yang mendapat pelatihan selama satu hari. Kelompok kontrol adalah kader Puskesmas Totoli berjumlah 28 orang yang mendapat penyuluhan selama dua jam. Evaluasi pengetahuan dan keterampilan kader dilakukan sebelum, setelah intervensi hari pelaksanaan dan 14 hari setelah intervensi. Alat pengukuran kuesioner pengetahuan, daftar tilik keterampilan dan checklist evaluasi pelatihan. Hasil penelitian dianalisis dengan uji friedman dan mann-whitney berulang. Hasil: Nilai mean pengetahuan kelompok perlakuan pada pretest sebesar 54,97 posttest 82,97 dan posttest 2 82,45. Nilai mean keterampilan pretest 46,13 posttest 1 94,48 dan posttest 2 82,45. Nilai mean pengetahuan kelompok kontrol pada pretest 50,57 posttest 1 64,71dan posttest 2 sebesar 57,79. Nilai mean keterampilan pretest sebesar 43,29 posttest 1 sebesar 54,64 dan posttest 2 sebesar 48,68. Hasil analisis statistik dari kelompok perlakuan dan kontrol menunjukkan perbedaan yang signifikan pengetahuan dan keterampilan antara sebelum dan sesudah intervensi (p<0,05). Analisis pengetahuan dan keterampilan antara kedua kelompok menunjukkan nilai yang signifikan (p<0,05).

 

 

Leave a Reply

Open chat
Hallo ????

Ada yang bisa di bantu?