Apa Itu Busung Lapar
Busung lapar atau kwashiorkor merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang ditandai dengan kekurangan protein berat dalam asupan makanan. Kondisi ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Busung lapar bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas di masa depan, bahkan menjadi indikator kegagalan sistem kesehatan dan kesejahteraan sosial.
Menurut World Health Organization (WHO, 2021), lebih dari 45 juta anak balita di seluruh dunia mengalami gizi buruk, dan sekitar 13,6 juta di antaranya mengalami bentuk gizi buruk akut yang dapat mengancam jiwa, termasuk busung lapar. Di Indonesia, berdasarkan Riskesdas (2018), prevalensi gizi buruk pada balita masih sekitar 3,9% dan gizi kurang 13,8%. Angka ini menunjukkan bahwa busung lapar masih menjadi persoalan serius yang perlu mendapatkan perhatian.
Artikel ini membahas secara mendalam mengenai pengertian busung lapar, penyebab, kebijakan internasional dan Indonesia, serta upaya pencegahannya. Kajian ini dapat dijadikan acuan bagi mahasiswa yang sedang menyusun proposal skripsi maupun tesis di bidang kesehatan masyarakat, gizi, dan kebijakan kesehatan.
1. Pengertian Busung Lapar
Busung lapar atau kwashiorkor adalah kondisi gizi buruk yang terjadi akibat kekurangan protein berat, meskipun asupan kalori mungkin masih mencukupi. Istilah kwashiorkor pertama kali digunakan oleh Cicely Williams pada tahun 1933 di Ghana, yang berasal dari bahasa lokal Ga, artinya “penyakit anak yang ditinggalkan ibunya ketika ibu melahirkan adik berikutnya”.
Karakteristik utama busung lapar:
-
Edema (pembengkakan, terutama di kaki dan wajah).
-
Rambut tipis, mudah rontok, dan berubah warna.
-
Kulit kering, bersisik, dan mudah terkelupas.
-
Perubahan perilaku (anak mudah rewel, apatis, atau lesu).
-
Hati membesar akibat penimbunan lemak.
-
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
Menurut Nelson Textbook of Pediatrics (Kliegman et al., 2020), busung lapar berbeda dengan marasmus. Jika marasmus disebabkan oleh kekurangan energi total (protein dan kalori), maka busung lapar lebih spesifik pada kekurangan protein dengan kalori relatif masih ada (sering dari karbohidrat sederhana).
2. Penyebab Busung Lapar
Penyebab busung lapar bersifat multifaktorial, melibatkan faktor gizi, sosial, ekonomi, dan kesehatan.
a. Kekurangan Protein dalam Asupan Makanan
Busung lapar terjadi ketika anak mendapat cukup kalori dari karbohidrat (misalnya nasi, singkong, atau jagung), tetapi sangat miskin protein hewani maupun nabati.
b. Kemiskinan dan Krisis Pangan
Keluarga miskin cenderung memiliki keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, termasuk sumber protein hewani (ikan, daging, telur). Krisis ekonomi, bencana alam, atau konflik juga memperburuk situasi ini.
c. Pola Asuh dan Pengetahuan Gizi
Kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya protein dalam pertumbuhan anak berkontribusi besar. Anak sering diberikan makanan pengganti ASI yang tidak seimbang kandungan gizinya.
d. Infeksi dan Penyakit Kronis
Infeksi seperti diare, malaria, dan TBC meningkatkan kebutuhan energi dan protein tubuh. Namun, pada anak yang sudah mengalami kekurangan gizi, infeksi justru memperburuk kondisi hingga menyebabkan busung lapar.
e. Faktor Budaya dan Sosial
Beberapa masyarakat memiliki pantangan makanan tertentu untuk anak kecil atau ibu hamil/menyusui, sehingga asupan protein menjadi terbatas.
f. Ketidakstabilan Sistem Kesehatan dan Lingkungan
Akses yang terbatas terhadap layanan kesehatan, air bersih, dan sanitasi menyebabkan tingginya risiko infeksi yang memperburuk status gizi anak.
3. Kebijakan dan Aturan tentang Busung Lapar
a. Standar Internasional
-
World Health Organization (WHO)
-
WHO menetapkan standar klasifikasi gizi buruk berdasarkan indeks antropometri (z-score berat badan terhadap tinggi badan).
-
WHO bersama UNICEF mengeluarkan Joint Statement on Community-based Management of Severe Acute Malnutrition (CMAM) untuk penanganan busung lapar berbasis masyarakat.
-
-
UNICEF
-
Menekankan pada First 1000 Days of Life (seribu hari pertama kehidupan) sebagai periode emas untuk mencegah busung lapar.
-
Program pemberian makanan tambahan bergizi, fortifikasi pangan, dan edukasi gizi.
-
-
FAO (Food and Agriculture Organization)
-
Menekankan kedaulatan pangan dan akses terhadap makanan bergizi sebagai hak asasi manusia.
-
b. Kebijakan di Indonesia
-
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan ? menjamin hak setiap anak untuk memperoleh gizi seimbang.
-
Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2017 tentang Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi ? menekankan sinergi lintas sektor dalam mencegah busung lapar.
-
Peraturan Menteri Kesehatan No. 51 Tahun 2016 tentang Standar Produk Suplementasi Gizi.
-
Program Gizi Nasional (Kementerian Kesehatan RI) ? termasuk pemberian makanan tambahan untuk balita gizi buruk dan intervensi gizi sensitif (sanitasi, air bersih, pemberdayaan ekonomi keluarga).
-
Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) ? melibatkan puskesmas dalam pemantauan status gizi anak.
Meskipun kebijakan sudah ada, tantangan terbesar adalah implementasi. Masih ada kesenjangan antara kebijakan nasional dengan pelaksanaan di tingkat daerah, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
4. Upaya Pencegahan Busung Lapar
a. Intervensi Gizi Spesifik
-
Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
-
Pemberian MP-ASI dengan kandungan protein hewani dan nabati seimbang.
-
Suplementasi vitamin dan mineral (zat besi, seng, vitamin A).
b. Intervensi Gizi Sensitif
-
Penyediaan air bersih dan sanitasi layak.
-
Pengendalian penyakit menular (diare, TBC, malaria).
-
Pemberdayaan ekonomi keluarga agar mampu membeli makanan bergizi.
c. Edukasi Gizi dan Perubahan Perilaku
-
Peningkatan kesadaran ibu mengenai pentingnya protein.
-
Program penyuluhan gizi di posyandu, sekolah, dan media massa.
d. Kebijakan Pangan
-
Fortifikasi pangan pokok (misalnya beras dan tepung terigu).
-
Subsidi harga protein hewani (telur, ikan).
-
Program bantuan pangan non-tunai (BPNT) yang menyertakan bahan makanan bergizi.
e. Pemanfaatan Teknologi dan Data
-
Penggunaan aplikasi digital untuk pemantauan status gizi balita.
-
Sistem early warning untuk mendeteksi daerah rawan busung lapar.
Kesimpulan
Busung lapar merupakan bentuk gizi buruk akibat kekurangan protein yang masih menjadi masalah serius di Indonesia. Penyebabnya kompleks, mencakup faktor gizi, kemiskinan, infeksi, budaya, dan lemahnya sistem kesehatan.
Standar internasional dari WHO, UNICEF, dan FAO telah memberikan pedoman, sementara Indonesia memiliki kebijakan nasional yang cukup komprehensif. Namun, tantangan terbesar ada pada implementasi, terutama di daerah miskin dan terpencil.
Pencegahan harus dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif, edukasi gizi, kebijakan pangan, serta pemanfaatan teknologi. Kajian tentang busung lapar sangat relevan sebagai bahan penelitian tesis maupun skripsi di bidang kesehatan masyarakat, kebijakan publik, dan pembangunan sosial.
Daftar Pustaka
-
Kliegman, R. M., St Geme, J. W., Blum, N. J., Shah, S. S., Tasker, R. C., & Wilson, K. M. (2020). Nelson Textbook of Pediatrics (21st ed.). Elsevier.
-
World Health Organization. (2021). Levels and trends in child malnutrition. Geneva: WHO.
-
UNICEF. (2019). The State of the World’s Children 2019: Children, food and nutrition. New York: UNICEF.
-
Food and Agriculture Organization. (2020). The State of Food Security and Nutrition in the World 2020. Rome: FAO.
-
Victora, C. G., Christian, P., Vidaletti, L. P., Gatica-Domínguez, G., Menon, P., & Black, R. E. (2021). Revisiting maternal and child undernutrition in low-income and middle-income countries: Variable progress towards an unfinished agenda. The Lancet, 397(10282), 1388–1399. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)00394-9
-
Riskesdas. (2018). Laporan Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta: Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI.
-
Kementerian Kesehatan RI. (2017). Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi di Indonesia. Jakarta: Kemenkes.











![Pengaruh Teknologi (X1), Organisasi (X2) dan Lingkungan terhadap Kinerja Organisasi Berkelanjutan dengan Digital Transformation dan Sustainable Innovation Capability sebagai Mediasi [1]](https://idtesis.com/wp-content/uploads/Pengaruh-Teknologi-X1-Organisasi-X2-dan-Lingkungan-terhadap-Kinerja-Organisasi-Berkelanjutan-dengan-Digital-Transformation-dan-Sustainable-Innovation-Capability-sebagai-Mediasi-1-60x60_c.jpg)



Leave a Reply