HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Pandangan Antikekerasan dan Antirevolusi dalam Novella karya Johann Wolfgang von Goethe

ABSTRAK

Skripsi ini membahas pandangan antikekerasan dan antirevolusi Goethe yang digambarkan melalui metafora-metafora dalam Novella (1826). Beberapa perubahan dari konsep awalnya berjudul Die Jagd (1797) hingga proses penulisannya di tahun 1826 menggambarkan perkembangan pandangan Goethe mengenai kekerasan dan revolusi. Untuk menganalisis permasalahan itu, digunakan teori Hermeneutik Gadamer, yang mengedepankan peleburan cakrawala pembaca dan cakrawala teks, terutama unsur historisnya. Makna berbagai metafora ini menggambarkan pandangan antikekerasan dan antirevolusi Goethe, bahwa semua itu bisa diatasi dengan seni dan keyakinan.

Kata kunci: Goethe, Novella, Hermeneutik Gadamer

 

 

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Johann Wolfgang von Goethe (1794-1832) adalah salah satu sastrawan besar Jerman yang menduduki peringkat teratas di Eropa. Tak ada sastrawan lain dalam tingkatannya yang memiliki karya seberagam dirinya. Di usia 25 tahun, ia sudah menghasilkan karya terkenalnya, Die Leiden des jungen Werther, membuktikan bahwa pengaruhnya di dunia sastra, baik di Jerman maupun di kancah internasional, sangatlah besar. Sepanjang masa produktifnya yang panjang (ia menyelesaikan Faust II hanya beberapa bulan sebelum ajalnya), ia terus mengejutkan rekannya dengan karya-karyanya yang selalu segar dan tak terduga. Ia adalah penulis puisi yang juga menghasilkan banyak naskah teater terkenal, prosa, dan sajak puitis. Ia adalah ilmuwan alam yang bersungguh-sungguh, kritikus dan sejarahwan seni, pelukis, penulis biografi hidupnya, sutradara teater, dan pegawai pemerintahan. Ia juga mengadakan banyak koresponden internasional dan berurusan dengan berbagai tokoh politik dalam hidupnya.

Semasa hidupnya ini, Goethe berhadapan langsung dengan berbagai peristiwa bersejarah, baik ia mau ataupun tidak. Hal ini memaksanya berurusan dengan peristiwa tersebut, tak hanya secara pribadi, namun juga demi kepentingan Adipati Karl August (1752-1828) dan negara bagian Jerman, Saxony-Weimar-Eisenach, di mana Goethe bertugas selama masa dewasanya. Goethe tak hanya berkorespondensi, ia berurusan langsung dengan banyak penguasa dunia; dari raja-raja Prusia, Napoleon Bonaparte, Tsar Alexander I dari Rusia, dan Pangeran Metternich, penggagas Restorasi Eropa. Kepada rekannya Johann Peter Eckermann, ia pernah berkata:
“Ich habe den großen Vorteil, daß ich zu einer Zeit geboren wurde, wo die größten Weltbegebenheiten an die Tagesordnung kamen und sich durch mein langes Leben fortsetzten, so daß ich vom Siebenjährigen Krieg, sodann von der Trennung Amerikas von England, ferner von der Französischen Revolution, und endlich von der ganzen Napoleonischen Zeit bis zum Untergange des Helden und den folgenden Ereignissen lebendiger Zeuge war. Hiedurch bin ich zu ganz anderen Resultaten und Einsichten gekommen, als allen denen möglich sein wird, die jetzt geboren werden und die sich jene großen Begebenheiten durch Bücher aneignen müssen, die sie nicht verstehen.”1

[Aku memiliki keuntungan besar karena lahir di saat banyak terjadi peristiwa menggemparkan yang terus terjadi selama masa hidup panjangku, sehingga aku bisa menyaksikan Perang Tujuh Tahun, lalu pemisahan koloni Amerika dari Inggris, Revolusi Perancis, dan akhirnya era Napoleon hingga penaklukan sang pahlawan tersebut. Hasilnya, aku mendapat pandangan dan kesimpulan yang sangat berbeda yang tak akan mungkin didapatkan generasi sekarang, yang mengetahui seluruh peristiwa-peristiwa penting itu dari buku-buku yang tak mereka pahami.]

Salah satu peristiwa bersejarah yang ia sebutkan di atas adalah Revolusi Perancis, yang mungkin menjadi peristiwa politik terpenting dalam hidupnya. Pada saat ini terjadi, ia sedang menjabat sebagai orang kepercayaan Karl August dalam memimpin Saksen-Weimar-Eisenach. Revolusi Perancis, yang dimulai tahun 1789, mengakibatkan banyak perubahan di seluruh Eropa. Masalah keuangan menjadi pemicunya. Pada tanggal 4 Agustus 1789, hasil rapat Majelis Nasional Perancis memutuskan untuk menghapus hak-hak feodal, dan ini berarti kekuasaan Raja Louis XVI pun terancam. Hal ini tak hanya mempengaruhi para bangsawan di sana, namun juga di negara Eropa lainnya, termasuk Jerman. Negara Jerman pada masa ini masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Yang paling berkuasa adalah kerajaan Prusia dan Austria. Sejak dikuasai oleh Friedrich II (Prusia) dan Maria Theresa (Austria), kedua kerajaan ini terus berperang untuk meluaskan kekuasaannya. Namun, pada saat Revolusi ini dimulai, konflik antara dua kerajaan ini mulai melunak.2

Dengan dihapuskannya hak feodal tersebut, para aristrokrat Perancis mulai bermigrasi ke luar negeri, mereka mulai membentuk pasukan dan melobi bangsawan Jerman untuk membantu mengembalikan kekuasaan Louis XVI. Tahun 1791, dua kekuatan besar Eropa, Friedrich II dari Prusia dan Leopold II dari Austria, memperlihatkan dukungannya kepada para imigran dan keprihatinannya akan perlakuan yang diterima Louis XVI. Hal ini tercantum dalam Deklarasi Pillnitz.

Dorongan Revolusi semakin kuat, perang mulai diadakan untuk melawan pihak-pihak yang menentang hal tersebut. Untuk menghentikan Revolusi, Prusia dan Austria mengadakan kampanye di Perancis, bahkan Adipati Brunswick menyatakan manifestonya yang terkenal, bahwa rakyat Perancis tidak boleh menyentuh Raja Louis XVI sedikit pun. Manifesto ini justru semakin memanaskan keadaan.3

Perancis membentuk pasukan besar tentara dengan semangat patriotisme. Tentara profesional Jerman yang masih tradisional tak siap menghadapi masa baru tersebut. Dari 1792 sampai 1815, Perancis terus berperang dengan negara bagian Eropa lainnya, banyak juga yang terjadi di atas tanah Jerman. Di akhir tahun 1806, Napoleon –yang memimpin Perancis sejak tahun 1799 –berhasil menduduki bagian barat Jerman, mendirikan negara-negara bagian, dan menghancurkan Kekaisaran Romawi. Beberapa negara bagian Jerman menjadi anggota Konfederasi Rhine, yang dibentuk Napoleon di tahun 1795 dan beraliansi dengan Perancis. Selama Napoleon berkuasa, ia mengubah banyak perarturan di Jerman, terutama dalam bidang politik dan sosial. Meskipun banyak yang menolak, kependudukan Perancis banyak juga menimbulkan perubahan positif, seperti munculnya kebebasan berekonomi, pencabutan ketergantungan feodal menjadi hukum adat Perancis, dan konstitusi baru untuk persidangan, serta reorganisasi pemerintahan.4 Namun ambisi Napoleon untuk menguasai Eropa justru menimbulkan permusuhan terhadapnya, dan bangsa Eropa pun bersatu untuk menghentikan kekuasaan abosolut Napoleon.

Di antara tahun 1795 dan 1806, Prusia tidak mau terlibat dalam perang. Namun ancaman Napoleon menjadi terlalu besar hingga di tahun 1806, Prusia menyatakan perang melawan Perancis. Napoleon mengalahkan pasukan Prusia dalam pertempuran di Jena dan Auerstädt pada tahun tersebut. Hasilnya, Prusia kehilangan daerah teritori bagian baratnya, yakni Sungai Elbe, dan harus membayar kerugian perang terhadap Perancis. Untuk memulihkan diri dari kekalahan ini, pemerintahan Prusia memperkenalkan kebijakan reformasi, termasuk undang-undang yang membebaskan pemerintahan di beberapa kota. Bidang militer juga mengalami reformasi dengan meningkatkan kualitasnya. Setelah kegagalan kampanye Napoleon di Rusia tahun 1812, Austria, Inggris, Prusia, dan Rusia bergabung untuk melawan Napoleon. Akhirnya Napoleon berhasil dikalahkan di Leipzig tahun 1813 dan di Waterloo tahun 1815.5

Revolusi Perancis sendiri mendapat tanggapan beragam dari rakyat Jerman. Awalnya, kaum intelektual menyambut Revolusi dengan antusias, meskipun mereka menganggap hal itu tak akan mempengaruhi Jerman yang sudah melewati masa-masa itu selama Abad Pencerahan. Saat itu Jerman sudah melewati krisis politik, bahkan mereka sedang berada dalam kemajuan ekonomi, keadilan, dan kebebasan. Menurut mereka, Revolusi ini adalah era baru, meyakinkan para pangeran yang belum “tercerahkan” untuk mengubah caranya, dan mendorong pangeran yang sudah “tercerahkan” untuk melakukan reformasi yang lebih fundamental.6 Salah satu pernyataan yang menyatakan dukungannya terhadap Revolusi datang dari Friedrich Gentz, tokoh yang akhirnya dekat dengan Matternich. Ia mengganggap kegagalan revolusi sebagai salah satu kecelakaan terberat yang pernah dialami manusia. Revolusi adalah kemenangan pertama filosofi, contoh pertama bentuk pemerintahan yang berdasarkan prinsip dan sistem yang koheren serta logis.7

Tanggapan positif ini mulai berkurang, karena Revolusi berjalan semakin liar dan justru menyebabkan banyak pertumpahan darah. Kaum intelektual mengganggap ini adalah akibat dari ketidakdewasaan rakyat Perancis dalam melakukan revolusi. Christoph Martin Wieland menganggap ini adalah bentuk ketidakdewasaan rakyat Perancis yang belum siap untuk mendapat kebebasan.8 Perubahan Revolusi menjadi suatu tindakan penuh kekerasan ini sudah diramalkan Goethe sejak awal. Sayangnya, saat itu tidak banyak orang yang mendukung keprihatinan Goethe akan hal ini.

Sejak awal, Goethe sudah melihat revolusi sebagai peperangan dan hanya akan menimbulkan penderitaan. Saat ikut kampanye ke Perancis bersama Karl August di tahun 1792, ia menyaksikan sendiri bagaimana tentara upahan monarki yang disiplin dikalahkan secara sadis oleh tentara modern dengan senjata api. Sejak itu, Goethe hampir selalu melihat Revolusi dari kacamata perang, ia selalu menganggapnya sebagai alat politik. Saat dideklarasikan perang melawan Perancis di tahun 1792, Goethe menyatakan keprihatinannya kepada Dewan Saxony-Weimar-Eisenach, Christian Gottlob Voigt:
“Wir werden also mit der Herde ins Verderben rennen – Europa braucht einen 30-jährigen Krieg um einzusehen was 1792 vernünftig gewesen wäre.”9
[Kita juga akan ikut berlari bersama kerumunan. Eropa membutuhkan Perang 30 Tahun lainnya untuk memahami apa yang bijaksana di tahun 1792.]

Pada masa inilah Weimarer Klasik berkembang, suatu aliran sastra yang diciptakan oleh Goethe bersama sahabatnya, Friedrich Schiller. Sekembalinya Goethe dari Italia pada tahun 1788, ia memiliki semangat menulis baru. Namun lingkungan Weimar tidak mendukungnya, bahkan justru membencinya karena ia cukup lama meninggalkan tugas-tugasnya di Weimar. Sampai suatu saat ia bertemu dengan Friedrich Schiller, seorang sastrawan yang lebih muda darinya, mendapat pengakuan berkat karya pertamanya Die Räuber (1781), dan ditunjuk menjadi profesor di Universitas Jena. Schiller berkeinginan membuat suatu tabloid, Die Horen, yang bertujuan untuk menyatukan semua sastrawan dalam satu forum, impian komunitas budaya dalam berbagai bentuk, dan bahkan sebagai suatu persiapan persatuan politik. Ia ingin mengajak Goethe untuk bergabung di dalamnya, dan karena ketertarikan mereka pada sejarah budaya serta sastra psikologis, terjalinlah persahabatan di antara keduanya.10

Hubungan kedua sastrawan ini sangat unik, karena keduanya sama-sama kuat, sehingga saling menstimulasi kekreativitasan mereka. Mereka tak selalu bersahabat baik, Schiller justru menggambarkan hubungan mereka seperti Brutus dan Caesar. Namun mereka punya tujuan yang sama, yakni menciptakan standar baru dalam budaya sastra Jerman. Maka terciptalah Weimarer Klasik. Berbeda dengan aliran klasik sebelumnya –yang bertahan dalam waktu lama, mengakar di masyarakat yang stabil, berkonsentrasi di kota-kota besar, dan banyak melibatkan sastrawan besar –aliran klasik baru ini hanya diciptakan dalam satu dekade di dalam suatu bangsa yang belum terbentuk menjadi satu negara, dan hanya dibentuk oleh dua sastrawan.11

Aliran ini melanjutkan kembali ciri khas klasik (awal abad 18) dan masa Sturm und Drang (1770-1780-an), yakni pengaruh kuat dari mitologi Yunani, dongeng, cerita rakyat, dan fabel. Namun Goethe dan Schiller memasukan pemikirannya mengenai peristiwa yang terjadi di masyarakat dalam karya-karyanya, terutama dalam tabloid Die Horen tersebut. Mengenai Revolusi Perancis, kedua sastrawan ini secara terang-terangan bersikap antirevolusi.12 Ia dan Friedrich Schiller memilih untuk diam dan bersikap netral. Mereka membuat pakta antara tahun 1794 sampai 1805 untuk menghasilkan karya klasik dengan dorongan antirevolusi. Yang muncul dalam pikiran saya dalam menganalisis metafora-metafora dalam karya ini adalah, apakah ada perubahan makna “das Unbändige” dan “Unüberwindliche” dalam jangka waktu antara konsep awal dan proses penulisan Novella? Karya ini memang banyak dianalisis kaitannya dengan unsur sejarah, terutama pada masa Revolusi Perancis, yakni pada saat konsep awalnya muncul di benak Goethe. Namun, fakta bahwa penulisan Novella baru dimulai tahun 1826 tidak bisa diabaikan. Jika membicarakan kaitannya dengan sejarah, maka pasti ada kaitannya dengan masa Restorasi yang terjadi setelah tahun 1815. Goethe menunjukkan sikap antikekerasan dan antirevolusinya pada masa Revolusi Perancis. Lantas apakah pandangan ini berubah atau berkembang setelah masa tersebut berakhir? Apakah perubahan itu bisa dilihat dari makna metafora-metafora dalam karya Novella? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang berusaha saya analisis jawabannya dalam skripsi ini.

Incoming search terms:

Leave a Reply