HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Analisis Sikap Konsumen Terhadap Produk Distribution Outlet di Kota Yogyakarta

ABSTRAK

Penelitan ini untuk menjelaskan bagaimana sikap konsumen terhadap produk distribution outlet di kota Yogyakarta dan perbedaan berdasarkan karakteristik konsumen. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi penelitian di wilayah kota Yogyakarta.

Variabel penelitian dengan karakteristik konsumen yaitu jenis kelamin terdiri dari laki-laki dan perempuan. Usia responden, terdiri dari kurang dari 18 tahun, 18 tahun s/d 22 tahun, lebih dari 22 tahun. Atibut yang digunakan dalam penelitian ini yaitu harga, kualitas produk, brand image, model produk, keawetan produk, desain produk, ekslusive, ukuran yang disediakan produk, product catalog, kelengkapan produk. Data dan teknik pengumpulan data menggunakan uji validitas korelasi product moment dengan taraf signifikasi 5% dan uji reliabilitas dengan cronbach’s alpha coefficient 0,60. Data yang digunakan adalah data primer dengan metode pengumpulan data kuesioner. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode non probability sampling model accidental sampling, atau sering disebut pula dengan opportunite sampling atau “sampel asal nemu” dengan jumlah responden 96 orang.

Analisis yang digunakan untuk menetapkan sikap konsumen dengan menggunakan metode Fishbein sedangkan untuk perbedaan sikap berdasarkan karakteristik konsumen menggunakan uji beda Kruskal-Wallis dibantu dengan menggunakan program SPSS 16.0. hasil yang didapat bahwa sikap konsumen terhadap atribut produk distribution outlet di kota Yogyakarta adalah positif, artinya konsumen telah memberikan penilaian terhadap variabel evaluasi maupun variabel keyakinan terhadap produk distribution outlet di kota Yogyakarta adalah baik. Berdasarkan jenis kelamin terdapat perbedaan sikap konsumen pada atribut harga dan atribut ukuran sedangkan berdasarkan usia responden juga terdapat perbedaan sikap yang signifikan pada atribut model dan atribut desain yang disediakan oleh tiap jenis produk.

Keywords : sikap konsumen, atribut penelitian dan karakteristik konsumen.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Zaman sekarang ini, teknologi semakin memudahkan siapa pun untuk berkreasi. Pekerjaan yang dibarengi dengan kreatifitas sepertinya semakin mudah dilakukan, program komputer semakin canggih, perangkat keras berbasis efisiensi teknis pun beredar luas dengan harga terjangkau, sementara aspek komunikasi semakin memungkinkan produk-produk kreatif dipasarkan secara lebih luas. Melihat dunia bisnis yang semakin pesat diikuti dengan semakin ketatnya persaingan membuat perusahaan bisnis masa kini harus memikirkan kembali misi bisnis dan strategi pemasaran perusahaan secara kritis. Perusahaan sekarang tidak hanya bergerak dalam pasar dengan para pesaing yang sudah diketahui namun juga tidak diketahui dan tidak pasti, pilihan pelanggan yang tidak stabil dan menghadapi perang antar saingan yang terus berubah, jadi dengan kata lain perusahaan saat ini bersaing dalamsuatu perlombaan bisnis yang tiada akhir, kalaupun meraih kemenangan itupun tidak permanen karena jika terlena sedikit saja maka pesaing lain akan segera mendahului dengan strategi pemasaran yang lebih canggih.

Perubahan-perubahan perilaku konsumen sangat penting diketahui oleh perusahaan agar dapat memperkirakan kebutuhan konsumen pada saat sekarang dan yang akan datang. Menganalisis perilaku konsumen dalam segala tindakannya berarti harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen. Salah satunya adalah faktor psikologi yaitu motivasi, persepsi, keyakinan dan sikap. Sikap mendorong orang untuk berperilaku secara konsisten terhadap obyek yang dinamis. Intensitas, dukungan, dan kepercayaan adalah sifat penting dari sikap. Masing-masing sifat ini akan bergantung pada kualitas pengalaman konsumen sebelumnya dengan objek sikap. Sementara konsumen mengakumulasi pengalaman baru, sikap akan berubah.

Sikap (attitude) menggambarkan penilaian, perasaan, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang atas sebuah objek atau gagasan (Kotler dan Amstrong,2001 : 218). Dari definisi tersebut, dapat diuraikan bahwa sikap merupakan organisasi keyakinan yang relatif tetap, memiliki kecenderungan untuk dipelajari, untuk merespons secara konsisten dan konsekuen menguntungkan atau tidak, positif atau negatif, suka atau tidak terhadap obyek atau situasi. Seorang individu mempelajari sikap melalui pengalaman dan interaksi dengan orang lain. Meskipun sikap ini dapat dipelajari dan dapat diubah dari waktu ke waktu, pada setiap saat tidak semuanya memiliki dampak yang setara, dan beberapa sikap lebih kuat dari sikap lainnya. Ketika konsumen mempunyai sikap yang negatif terhadap suatu aspek atau lebih pada praktik pemasaran perusahaan, maka kemungkinan mereka tidak berhenti menggunakan produk tersebut, tetapi juga mendorong kerabat atau teman-teman untuk melakukan hal yang sama.

Sikap dilakukan konsumen berdasarkan pandangannya terhadap produk dan proses belajar baik dari pengalaman ataupun dari yang lain. Sikap konsumen bisa merupakan sikap positif maupun negatif terhadap produkproduk tertentu. Dengan mempelajari keadaan jiwa dan keadaan pikir dari sikap seseorang diharapakan dapat menentukan perilaku konsumen. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan dari kebudayaan dan lingkungan sosialnya. Sedangkan keadaan pikir seseorang merupakan cara berfikir yang dipengaruhi tingkat pendidikannya. Sikap konsumen merupakan kunci perusahaan dalam lingkup pasar yang berubah-ubah. Dengan mengenal variabel perilaku konsumen merupakan titik pangkal untuk mengenal segmen pasar sehingga memberi petunjuk bagi pemasar mengembangkan produk, harga, tempat/lokasi, dan promosi.

Untuk mengukur sikap konsumen maka akan digunakan Fishbein Multi attribute model yang dimana melibatkan komponen cognitive dan affective. Komponen cognitive ditunjukkan oleh keyakinan, kepercayaan, atau pengetahuan konsumen terhadap atribut-atribut tertentu. Komponen cognitive merupakan tingkat kepercayaan konsumen terhadap obyek. Kepercayaan ini diperoleh melalui proses informasi yang didapatkan dari pengalaman langsung dengan obyek dan dari komunikasi sumber lain. Oleh karena itu, menurut fishbein ini untuk mengetahui sikap konsumen, mula-mula kita harus menentukan kepercayaan (belief) dari konsumen terhadap obyek yang dimiliki obyek atribut, maka seseorang konsumen akan memproses informasi dan membentuk kepercayaan terhadap atribut-atribut tersebut. Komponen affective diketahui melalui reaksi emosional atau pernyataan tentang perasaan konsumen. Evaluasi merupakan pemberian penilaian yang berbeda untuk setiap atribut produk sesuai dengan kepentingannya. Pemasar mengukur komponen dengan meminta konsumen menyebutkan evaluasi mereka (rasa suka mereka terhadap) setiap kepercayaan utama (Albari,1999 : 51). Selain menggunakan model tersebut, untuk mengukur sikap konsumen juga akan digunakan uji Kruskal-Wallis. Uji Kruskal-Wallis digunakan untuk menguji adanya hubungan atau perbedaan skor nilai dari pernyataan konsumen pada masing-masing atribut [dan masing-masing faktor sikap] dari suatu produk/merek, dan pernyataan itu dipengaruhi pula oleh karakteristik/latar belakang konsumen seperti usia, pendidikan, penghasilan, dan sebagainya (Albari,1999 : 61). Dalam penelitian ini, untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara sikap konsumen dalam membeli produk distribution outlet di kota Yogyakarta yang berkaitan dengan atribut-atribut pada suatu penelitian yang telah ditentukan berdasarkan karakteristik konsumen.

Konsumen merupakan hal yang penting dalam kegiatan pemasaran. Bertitik tolak dari informasi sejumlah konsumen melalui analisis sikap, pemasar dapat mengetahui keinginan konsumen. Dalam membeli, dapat memberikan arahan dalam bentuk produk pelayanan kebutuhan konsumen yang lebih baik. Usaha untuk menarik konsumen sangat penting karena persaingan usaha tidak lagi hanya ditentukan oleh harga dan mutu produksinya, tetapi juga berorientasi pada peningkatan kepuasan konsumen. Sikap konsumen terhadap suatu produk merupakan sifat yang dinamis, dapat berubah-ubah sesuai dengan waktu. Dengan begitu, setelah mempelajari sikap konsumen, kita dapat mengantisipasi perubahan potensial didalam permintaan produsan dan konsumen dalam pembelian produk.

Tahun 2000 adalah awal perkembangan distro di Yogyakarta, ditandai dengan berdirinya South Fucktory dan Slackers Distro merupakan tempat distribusi bagi produk-produk lokal, tidak hanya terbatas pada fashion, tetapi distro sendiri memiliki ikatan yang kuat dengan music, lifestyle, dan komunitas. Jumlah yang terbatas dengan desain yang berkarakter menjadi ciri tersendiri dari produk yang didistribusikan. Tahun-tahun berikutnya perkembangan distro di Yogyakarta semakin pesat. Saat ini sekitar empat puluhan distro sudah mulai tumbuh dan produk yang ditawarkan makin beragam (the maps 2nd edtition distro and clothing company : 2005).

Kata “distro” merupakan singkatan dari Distribution Outlet atau Distribution Store, yang berfungsi menerima titipan dari berbagai macam merek clothing company lokal yang memproduksi sendiri produknya (Heru Granito,2008 : 10) dengan produk terbatas dan harganya terjangkau kantong anak muda. Distro hadir seperti cendawan di musim hujan di berbagai kota besar. Puluhan bahkan ratusan distro menyengat seperti wabah ke penjuru kota di Indonesia. Di Bandung yang merupakan cikal bakal kehadiran distro, sekarang ratusan distro memenuhi setiap ruas jalan. Dengan makin maraknya, di beberapa tempat mangkal kawula muda, setiap seratusan meter hadir distro. Dan kini telah mewabah dikota Yogyakarta.

Booming bisnis distro, pertama kali digaungkan oleh MTv lewat sekumpulan anak-anak band yang memiliki karakter sebagai orang yang bebas dan banyak berkiblat ke Eropa. Distro, merupakan salah satu perwujudan dari konsep “do it yourself”. Karena berdasar pada roots-nya sendiri, maka distro lahir dan tumbuh dari komunitas yang independent. Intinya, distro ingin mengukuhkan diri bahwa produk lokal pun tak kalah hebat dari produk impor. Dalam bahasa politik, distro sebagai sebuah jawaban atau sikap anak muda terhadap dominasi kapitalis perusahaan global. Dengan adanya usaha produk lokal, sikap konsumen terhadap produk lokal berubah sesuai dengan waktu. Dan akhir-akhir ini produk lokal semakin meningkat, hal ini terbukti dengan menjamurnya distro-distro dan munculnya puluhan merek lokal. Segmen dari distro yaitu kalangan anak muda. Biasanya harganya jauh lebih mahal karena desain dan kuantitas yang terbatas jumlahnya.

Distro memiliki sifat eksklusif atau cenderung tidak menjual banyak produk untuk setiap desainnya. Clothing company memang membatasi kuantitas produknya, dan hanya sekali poduksi untuk setiap desain. Distro juga kebanyakan menjual produk dalam negeri. Keberanian distro yang menjual produk terbatas sehingga menjadi eksklusif, inilah pasar ceruk (nice market) yang kalau digarap dengan baik akan berpeluang besar menjadi bisnis yang besar pula. Salah satu yang terasa khas di distro adalah suasana berbelanja untuk pengunjung yang lebih menyenangkan, karena suasana yang akrab.

Incoming search terms:

Leave a Reply