HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Prevalensi dan Distribusi Fissure Tongue, Geographic Tongue

Judul : Prevalensi dan Distribusi Fissure Tongue, Geographic Tongue, Median Rhomboid Glossitis dan Hairy Tongue pada Pasien Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

ABSTRAK

Penelitian ini fokus pada fissure tongue, geographic tongue, median rhomboid glossitis dan hairy tongue. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi dan distribusi dari lesi tersebut berdasarkan usia dan jenis kelamin pada 312 pasien yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Studi ini merupakan survei epidemiologi deskriptif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Data diperoleh melalui pemeriksaan klinis dan wawancara. Fissure tongue merupakan lesi yang paling sering ditemukan (46,5%) diikuti geographic tongue (3,2%), median rhomboid glossitis (1,3%) dan hairy tongue (1,3%). Semua lesi tersebut ditemukan lebih sering pada pasien pria. Fissure tongue, geographic tongue, median rhomboid glossitis dan hairy tongue memiliki prevalensi paling tinggi pada kelompok usia 61-68 tahun, 5-12 tahun, 53-60 tahun dan 13-20 tahun, secara berurutan.

Kata kunci: prevalensi, distribusi, fissure tongue, geographic tongue, median rhomboid glossitis, hairy tongue, usia, jenis kelamin

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kesehatan mulut merupakan bagian dari kesehatan secara keseluruhan.1 dengan kesehatan mulut yang baik, kita dapat berkomunikasi secara efektif, makan dan menikmati berbagai macam makanan. Kesehatan mulut juga penting dalam kualitas hidup, kepercayaan diri dan interaksi sosial.2 Penyakit mulut bisa menjadi cerminan manifestasi penyakit sistemik dan juga sebaliknya. Klasifikasi dari penyakit mulut saat ini masih menjadi dilemma karena beberapa alasan. Pertama, penyakit mulut bisa menjadi penyakit lokal atau penyakit yang berasal dari bagian lain tubuh. Kedua, penyakit mulut dapat dalam berbagai bentuk patologis seperti inflammasi, neoplasia, kondisi developmental, dan reaksi terhadap cedera, penyakit infeksi, dan host dari kondisi lainnya. Namun, penyakit mulut dapat diklasifikasikan berdasarkan gambaran histologis, asal penyakit dan lokasinya. Berdasarkan lokasinya, lesi mulut dapat dikelompokkan menjadi lesi yang terdapat di gigi, rahang, mukosa dan submukosa.3 Saat ini sudah banyak studi mengenai penyakit mulut. Namun, studi mengenai penyakit mulut tersebut seringkali terfokus pada prevalensi dari karies dentis, dental fluorosis, enamel opacities, penyakit periodontal, kanker mulut, noma dan maloklusi.4-6 Sedangkan studi mengenai lesi mukosa mulut terutama lesi lidah masih jarang. Lesi mukosa mulut sebagai salah satu penyakit mulut dapat diklasifikasikan berdasarkan warna, lokasi dan gambaran klinisnya. Berdasarkan lokasinya, penyakit mukosa mulut dapat terjadi di lidah. Lidah merupakan area pada rongga mulut dimana banyak lesi berlokasi. Lesi ini dapat merupakan lesi lokal tetapi juga dapat menggambarkan keberadaan dari beberapa penyakit sistemik.7 Seorang dokter gigi akan sering menjadi orang pertama yang menemukan kondisi ini pada pasien.

Oleh karena itu, penting bagi dokter gigi untuk mengenal dan mengetahui prevalensi dari lesi lidah. Terdapat banyak lesi lidah. Lesi lidah yang merupakan lesi lokal dapat dikelompokkan menjadi congenital atau developmental, trauma, infeksi, neoplastic, atau idiopatik. Lesi yang berasal dari kondisi sistemik dapat dikelompokkan berkaitan dengan infeksi, blood dyscrasias, penyakit metabolic, dan gangguan immunologi. Pada penelitian ini, kami memfokuskan pada fissure tongue, geographic tongue, median rhomboid glossitis dan hairy tongue. Fissure tongue merupakan kondisi jinak yang diperkirakan karena perkembangan.7,8 Geographic tongue merupakan kondisi jinak umum yang terjadi terutama pada permukaan dorsum lidah.10 Kebanyakan kasus geographic tongue ditemukan pada usia tengah baya.11 Median rhomboid glossitsis merupakan area yang smooth atau bergranulasi, merah, datar, sedikit menonjol yang terletak di anterior foramen caecum dan diperkirakan merupakan kondisi developmental. Hairy tongue dikarakterisasi oleh hipertropi papilla filiformis, yang memberikan tampilan berambut pada lidah.7 Studi mengenai lesi lidah sudah dilakukan dibeberapa negara.12-14 Di Iranian, insiden terjadinya fissure tongue sebesar 2,56% dan menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada distribusi menurut jenis kelamin.8 Studi mengenai lesi lidah di Hungaria menunjukkan perubahan lidah ditemukan pada 18,52% dari individu yang diperiksa dan lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Fissure tongue (8,8%) ditemukan dengan prevalensi paling tinggi dari lesi lidah lainnya, diikuti oleh geographic tongue (3,0%) dan median rhomboid glossitis (0,35%).13 Studi lain di Jordanian menunjukkan lesi yang paling banyak ditemukan adalah fissure tongue (11,4%), geographic tongue (6,8%), dan hairy tongue (3,4%).14 Berdasarkan data di atas mengenai prevalensi lesi lidah di beberapa negara, lesi lidah yang sering ditemukan adalah fissure tongue, geographic tongue, median rhomboid glossitis dan hairy tongue.

Di Indonesia, belum ada studi mengenai prevalensi fissure tongue, median rhomboid glossitis dan hairy tongue. Tetapi sudah pernah dilakukan studi mengenai prevalensi geographic tongue di RSGS.15 Aboyans dan Ghaemmaghami melaporkan bahwa beberapa pasien menjadi lebih peka terhadap penampilan lidah mereka dan sering terjadi cancer phobic, jadi penting bagi dokter gigi untuk mengenali lesi ini dan menyakinkan pasien tentang kondisi ini.8 Oleh karena itu, saya ingin mempelajari prevalensi dan distribusi dari fissure tongue, geographic tongue, median rhomboid glossitis dan hairy tongue pada pasien yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (RSGMP FKGUI).

Incoming search terms:

Leave a Reply