HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Pengaruh waktu perendaman Resin Pit Fissure Sealant pada medium kultur terhadap viabilitas sel HaCaT (In Vitro)

ABSTRAK

Pit Fissure Sealant berbahan resin merupakan salah satu produk pencegahan karies. Pada penelitian sebelumnya, ditunjukkan adanya pelepasan komponen dan material tersebut ke lingkungannya yang menimbulkan respon hipersensitifitas. Tujuan : untuk mengetahui biokompatibilitas dari Resin Pit Fissure Sealant terhadap sel keratinosit kulit yang dicerminkan dari viabilitas sel HaCaT. Material dan Metode: Spesimen Resin Pit & Fissure Sealant dibuat pada cetakan akrilik (N=18; diameter 15mm; ketebalan 1mm) menurut ISO 4049 dan dipolimerisasi dengan UV dari QTH (Quartz Tungsten Halogen) (_ = 400 nm). Spesimen dipersiapkan dan disterilisasi untuk menghindari kontaminasi dari bakteri atau jamur. Setelah itu, spesimen direndam dalam DMEM (5mL) dan disimpan dalam inkubator (370C) selama 1, 2, dan 7 hari. Kultur sel dipersiapkan pada 96 well dan diinkubasi selama 24 jam. Rendaman spesimen dipaparkan ke setiap well dan diuji tingkat viabilitas selnya menggunakan MTT assay. Tingkat viabilitas sel diukur dengan microplate reader _ = 490 nm. Signifikansi diukur dengan metode analisis ragam satu arah Anova. Hasil : Viabilitas sel menurun pada hari pertama dan setelah hari kedua. Kesimpulan : Waktu perendaman mempengaruhi viabilitas sel, tetapi masih cukup aman untuk digunakan untuk perawatan gigi.

Kata Kunci : Resin Pit Fissure Sealant, HaCaT, MTT assay, Viabilitas Sel

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pit & Fissure Sealant merupakan salah satu bahan kedokteran gigi yang digunakan untuk pencegahan karies dini, yang tersedia dalam bentuk material baik resin maupun GIC dan ditempatkan pada pit dan fissure gigi. Sejak tahun 1970, kasus kerusakan gigi karena karies di Amerika Serikat telah menurun karena adanya kegiatan fluoridasi pada masyarakat. Akan tetapi karena gigi posterior (molar dan premolar) memiliki permukaan oklusal luas dengan pit dan fissure yang dalam, maka bagian tersebut menjadi sulit untuk dibersihkan, meskipun dengan penyikatan gigi. Untuk mengatasi hal ini, maka dibutuhkan suatu bahan untuk menutup permukaan pit dan fissure gigi untuk mencegah penetrasi debri atau sisa makanan ke dalamnya. Pada tahun 1960 dan pada awal 1970, penelitan tentang bahan ini dimulai dan generasi pertama dari  sealant telah dilahirkan dan disetujui oleh FDA (Federasi Dental Amerika).1 Konsep dari pit & fissure sealant dikemukakan pertama kali oleh Michael Buonocore,dkk pada Eastman Dental Center di Rochester, New York.2 Tujuan utama dari penggunaan pit dan fissure sealant adalah memberi perlindungan bagi pit dan fissure gigi terhadap bakteri. Bersamaan dengan penggunaan fluoride sistemik dan topikal, penggunaan Pit dan Fissure Sealant telah terbukti memberikan efek dan dukungan yang cukup baik pada pencegahan karies. Fluoride telah dibuktikan cukup efektif dalam pencegahan karies pada permukaan lunak dari gigi, tetapi kurang efektif untuk permukaan oklusal yang dalam. Dengan penggunaan sealant, permukaan oklusal ini akan terlindung dari perkembangan bakteri dengan cara membentuk suatu permukaan oklusal yang halus sehingga permukaan akan tetap bersih dan mencegah adanya retensi makanan dan debri pada pit dan fissure gigi. Bahan Pit dan Fissure Sealant dapat dikategorikan sesuai dengan metode polimerisasinya. Terdapat 2 metode polimerisasi dari resin: polimerisasi kimia dan polimerisasi dengan cahaya. Material sealant yang menggunakan cahaya untuk berpolimerisasi memiliki beberapa keuntungan, salah satunya karena memiliki working time yang lebih lama.

Material sealant yang baik harus memiliki beberapa syarat yaitu, mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama, memiliki nilai kelarutan yang rendah pada lingkungan mulut, dan bersifat biokompatibel terhadap jaringan mulut.3 Beberapa material telah dianjurkan sejak 1967, mulai dari GIC, RMGIC, dan resin.4 Akan tetapi, terdapat beberapa penelitian yang menyatakan bahwa hampir seluruh GIC sealant gagal dalam tingkat retensinya jika dibandingkan sealant berbahan resin yang memiliki tingkat retensi sebesar 61%, sehingga material yang sering dipakai di negara maju seperti Inggris adalah resin.5 Beberapa tipe dari material resin yang telah hadir pada saat ini adalah resin memiliki filler, yang tidak memiliki filler, serta resin yang memiliki filler dan melepaskan fluoride. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk membandingkan resin tersebut, tetapi tidak ada satu pun material yang bersifat lebih baik dari pada yang lain.6 Keunggulan lain dari Pit dan fissure sealant adalah kemampuannya melepaskan fluoride untuk meningkatkan ketahanan gigi terhadap karies. Fluoride diketahui dapat membantu remineralisasi gigi terhadap karies, tetapi hal ini belum dibuktikan secara klinis. Tidak ada perbedaan retensi yang ditemukan antara sealant berfluoride dan sealant yang tidak berfluoride setelah satu tahun.7 Beberapa resin kedokteran gigi yang memerlukan polimerisasi monomer secara in situ melalui proses fotoaktivasi harus diwaspadai, karena seringkali proses polimerisasi dengan metode ini tidak sepenuhnya selesai sehingga beberapa monomer dapat tidak terpolimerisasi secara lengkap dan keluar dari resin yang sudah mengeras ke media di sekitarnya. Sasaki, dkk meneliti peningkatan konsentrasi dari BPA pada saliva setelah restorasi oleh komposit resin yang tersedia.8 Penelitian lain mengenai dampak toksik dari monomer yang terlepas juga telah banyak dilakukan. Amir Azarpazhooh dan Patricia A. Main, melaporkan bahwa adanya monomer yang terlepas dari pit dan fissure sealant secara in vivo memiliki potensi untuk mengikat reseptor estrogen dari sel dan mengganggu kesehatan.9 W. Geurtsen (1998) menyatakan bahwa monomer resin yang tersisa seperti BisGMA dapat berpotensi sitotoksik terhadap permanent 3T3 dan kultur fibroblast primer manusia.10 Dong Xie,dkk (2007) meneliti bahwa monomer sisa yang terlepas dari resin dapat berefek toksik jika berkontak terhadap jaringan pulpa dan osteoblast.

Berdasarkan beberapa penelitian tersebut dan masih sangat jarang terdapat penelitian yang menggunakan Pit dan Fissure Sealant dalam keadaan utuh untuk mengevaluasi efek toksik terhadap sel karena adanya monomer yang terlepas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui adanya hubungan antara lamanya perendaman dalam air dengan peningkatan konsentrasi monomer yang terlepas dari resin pit dan fissure sealant dan pengaruhnya terhadap sel hidup dilihat dari efek sitotoksiknya. Efek toksik ditentukan berdasarkan viabilitas sel yang diukur dengan MTT Assay.

Leave a Reply