HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Harapan (Hope) pada Remaja Penyandang Thalassaemia Mayor

ABSTRAK

Remaja merupakan periode dimana individu disibukkan dengan tujuan yang berkaitan dengan masa depan. Namun, remaja yang memiliki penyakit kronis akan menghadapi berbagai permasalahan yang berdampak terhadap kemampuan mereka menghadapi kehidupan di masa depan. Thalassaemia Mayor merupakan salah satu penyakit kelainan darah yang diturunkan dan merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan berbagai masalah mengenai harapan masa depan bagi penderitanya. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa harapan berhubungan dengan kemampuan individu untuk bertahan hidup, menghadapi penyakit, dan berpikir mengenai masa depan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan teori harapan dari Snyder (1994) yang mengatakan bahwa harapan merupakan kombinasi dari willpower (kemampuan individu yang dibutuhkan seseorang untuk mencapai tujuan) dan waypower (kapasitas individu yang digunakan untuk menemukan jalan untuk meraih tujuan) yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Penelitian ini melibatkan empat orang subyek remaja yang berusia 15-22 tahun. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan karakteristik optimisme, self-esteem, dan afek positif pada keempat subyek dalam mencapai beberapa tujuan yang mereka miliki. Willpower & waypower berbeda tergantung pada tujuan yang dimiliki. Tiga orang subyek memiliki willpower tinggi dan waypower rendah. Hanya satu orang subyek yang memiliki willpower & waypower tinggi untuk semua tujuannya.

Kata Kunci: Harapan, Remaja, Thalassaemia Mayor

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi psikologi lengkap / tesis psikologi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja merupakan masa dimana individu dituntut untuk memiliki kemampuan penyesuaian baru yang bertujuan untuk menghadapi kehidupan di masa depan. Remaja yang memiliki kelemahan atau menderita penyakit kronis akan menghadapi beberapa masalah spesifik yang akan muncul daripada yang dapat diatasi oleh remaja yang sehat. Kelainan darah merupakan salah satu masalah kesehatan pada masa remaja yang dapat menyebabkan beberapa konsekuensi, seperti anemia pada anak-anak dan remaja (WHO, 2003). Hal tersebut menyebabkan permasalahan dalam kehidupan remaja dalam berbagai aspek kehidupan. Thalassaemia Mayor adalah salah satu penyakit kelainan darah yang diturunkan dan merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan berbagai masalah bagi penderitanya. Penyakit ini disebabkan karena kelainan gen yang mengatur pembentukan hemoglobin. Hemoglobin adalah protein dalam darah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Karena adanya gangguan pembentukan hemoglobin, pada pemeriksaan laboratorium ditemukan kadar hemoglobin yang rendah (www.republika.co.id).

Dalam harian Kompas, 17 Mei 2001 (www.litbang.depkes.go.id), dijelaskan bahwa Indonesia termasuk wilayah dengan kasus Thalassaemia Mayor cukup tinggi. Data dari sejumlah rumah sakit besar dan pusat pendidikan diketahui frekuensi gen Thalassaemia Mayor berkisar 8% sampai 10%. Artinya, 8 sampai 10 dari 100 orang penduduk mempunyai Thalassaemia Mayor. Penyakit ini, hingga kini, belum bisa disembuhkan. Menurut Ketua Harian Yayasan Thalassaemia Indonesia, Ruswandi (www.suarakarya-online.com), akibat minimnya sosialisasi informasi tentang Thalassaemia Mayor dan faktor risikonya, jumlah kasus Thalassaemia Mayor di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun. Setiap tahun rata-rata terjadi penambahan sekitar 80 kasus. Saat ini, jumlah penderita yang terdaftar di Yayasan Thalassaemia Indonesia semakin meningkat. Menurutnya, penderita Thalassaemia Mayor saat ini masih kurang mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Padahal Thalassaemia Mayor merupakan penyakit yang angka kematiannya cukup besar (www.suarakarya-online.com). Dalam artikel Harian Media Indonesia 25 Juni 2001 (www.litbang.depkes.go.id) juga dijelaskan bahwa sedikit sekali pengidap Thalassaemia Mayor di Indonesia yang dapat menikmati kehidupan sampai berusia 30 tahun, walaupun mereka rajin berobat dan tranfusi darah secara teratur.

Penelitian yang dilakukan oleh Moorjani & Isaac (2006) menunjukkan bahwa Thalassaemia Mayor merupakan salah satu kelainan hemoglobin secara genetik dan merupakan salah satu bentuk penyakit kronis di dunia. Gambaran Thalassaemia Mayor secara klinis menunjukkan beberapa masalah yang cukup besar. Untuk bertahan hidup, anak harus melakukan transfusi darah, setidaknya 2-4 minggu secara teratur seumur hidupnya agar fungsi tubuh tidak terganggu. Untuk melakukan transfusi darah, seorang penderita minimal tiap bulan mengeluarkan dana yang cukup besar (www.suarakarya-online.com).Penderita Thalassaemia Mayor diharuskan untuk melakukan transfusi darah secara rutin untuk menjaga tingkat hemoglobin darah mendekati normal. Namun, transfusi darah yang dilakukan secara rutin tersebut menimbulkan berbagai dampak terhadap keadaan fisik mereka (Northern California Comprehensive Thalassemia Center, 2005). Dampak transfusi dari terhadap keadaan fisik penderita Thalassaemia Mayor adalah pengendapan zat besi dalam tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan hati, jantung dan organ-organ tubuh lainnya. Untuk mengatasi hal itu, maka diberikan obat untuk mengikat besi dan membuangnya ke luar tubuh. Obat tersebut adalah desferoxamine atau disebut sebagai desferal (www.balipost.co.id). Ketika harapan hidup mulai meningkat dengan adanya transfusi darah secara teratur, mereka akan mengalami kesulitan ketika berobat ke rumah sakitatau klinik. Biasanya anak akan kehilangan beberapa hari dalam sebulan untuk sekolah karena harus melakukan transfusi secara teratur, dan orangtua mereka akan kehilangan waktu bekerja (Catlin, 2003). Hal tersebut tentunya menimbulkan beban yang berat bagi penderita dan keluarganya. Oleh sebab itu, penderita Thalassaemia Mayor tidak hanya mengalami permasalahan dalam kondisi fisik tetapi juga masalah psikologis. Permasalahan psikologis yang dialami oleh penderita Thalassaemia Mayor berupa permasalahan yang berkaitan dengan perasaan tidak berdaya dan putus asa, terisolasi, penolakan terhadap diri sendiri, perilaku ketidakpatuhan, dan berbagai masalah mengenai harapan masa depan (Northern California Comprehensive Thalassemia Center, 2005). Penelitian lain dari Mentzer & Kan (2001) juga menunjukkan bahwa penyakit tersebut akan memicu kemarahan bagi remaja karena mereka merasa menjadi korban ketidakadilan nasib dan mengalami berbagai permasalahan afektif yang membebani seperti penarikan diri dari lingkungan sosial.

Menurut WHO (2003), penyakit Thalassaemia Mayor dialami sampai individu berusia remaja. Masa remaja sendiri menurut Papalia, et. al. (2007) merupakan masa pencarian identitas yang diartikan sebagai masa dimana individu membangun konsep tentang dirinya, tujuan, nilai, dan kepercayaan yang akan ia anut. Untuk membentuk identitas tersebut, remaja harus meyakini dan mengorganisasikan kemampuan, kebutuhan, dan keinginan mereka agar dapat digunakan dalam kehidupan sosial. Sarwono (2006) juga menjelaskan bahwa pada masa ini remaja harus memiliki penyesuaian diri baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat atau lingkungan sosial. Menurut Papalia, et. al. (2007), pada masa ini remaja sangat mempertimbangkan keadaan fisiknya. Remaja yang sehat dan berkembang memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjadi orang dewasa yang sehat, bertanggung jawab, dan produktif. Sebaliknya, remaja yang memiliki kekurangan akan menghadapi berbagai permasalahan yang berdampak terhadap kemampuan mereka menghadapi kehidupan di masa depan. Namun, dalam www.thalassemia.com.pk dijelaskan bahwa remaja yang menderita Thalassaemia Mayor memiliki berbagai permasalahan yang meliputi keterlambatan dalam pertumbungan dan perkembangan, prestasi dalam pelajaran, efek psikologis dan perilaku (kurang perhatian dan mudah lelah), dan penurunan aktivitas fisik (Faith Foundation, 2005). Masalah utama yang dihadapi oleh penderita Thalassaemia Mayor dalam usia remaja adalah masalah yang berhubungan dengan orientasi masa depan. Umumnya, penderita Thalassaemia Mayor tidak memiliki ambisi mengenai masa depan dan memiliki berbagai masalah mengenai self-esteem (Faith Foundation, 2005). Rendahnya ambisi mengenai masa depan disebabkan karena mereka dibayang-bayangi oleh ketakutan dan kecemasan akan efektivitas pengobatan untuk bertahan hidup. Wajah penderita Thalassaemia Mayor cenderung pucat karena kekurangan darah. Penumpukan zat besi akibat transfusi darah dalam tubuh mereka mengakibatkan kulit menjadi hitam. Selain itu, penderita Thalassaemia Mayor menderita kelainan tulang wajah yang menyebabkan bentuk wajah mongoloid (facies cooley). Hal tersebut mengakibatkan rendahnya selfesteem dalam diri remaja karena berbeda dengan remaja lain yang normal. Berbagai dampak tersebut dapat menimbulkan ketidakpatuhan dalam diri remaja penderita Thalassaemia Mayor untuk menjalani pengobatan (Northern California Comprehensive Thalassemia Center, 2005).
Penelitian dari Fries (2006) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara harapan dan kemampuan untuk bertahan hidup dan pemulihan dari penyakit. Harapan menurut Weisman (1972, dalam Clark, 2004) merupakan suatu keinginan untuk bertahan hidup secara pribadi dan merupakan kemampuan individu untuk menggunakan pengaruh pribadi dalam kehidupannya di dunia. Benzein, Norberg, dan Saveman (1998) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa harapan memiliki hubungan positif dengan kesehatan. Harapan juga berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis. Individu yang memiliki harapan akan mengantisipasi masa depan. Harapan juga berperan sebagai energi pada situasi yang penuh dengan tekanan dan merupakan salah satu cara yang efektif untuk menghadapi situasi tersebut. Harapan juga dapat meningkatkan timbulnya keinginan untuk membuat hidup yang berada di bawah tekanan lebih dapat bertahan mengatasi masalah yang dihadapi. Harapan merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan. Perubahan yang menguntungkan dapat menyebabkan individu mencapai hidup yang lebih baik. Menurut Dufault and Martocchio (1985, dalam Stechynsky, 1999) harapan umumnya ditemukan dalam konteks atau situasi kehidupan yang memiliki elemen captivity (terperangkap pada keadaan tertentu) atau ketidakpastian. Selain itu, harapan juga merupakan salah satu hal yang penting untuk mengatasi ketakutan.

Leave a Reply