HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Citra Perempuan Tokoh Utama die Kleine sebagai subordinat novel RELAX

Citra Perempuan Tokoh Utama die Kleine sebagai subordinat dalam novel RELAX karya Alexa Hennig von Lange Dalam salah satu teori pefeminisme, perempuan adalah “liyan” (The Other) sementara laki-laki adalah “Diri” (The Self)

ABSTRAK

Hal ini menunjukkan bahwa perempuan berada di bawah tataran laki-laki. Dalam novel RELAX karya Alexa Hennig von Lange, tokoh laki-laki dianggap menjadi ordinat dan tokoh perempuan menjadi subordinat. Subordinasi perempuan terhadap laki-laki dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah stereotip jender yang berkembang di masyarakat. Untuk menganalisis penyebab subordinasi tersebut, maka diperlukan perbandingan stereotip antara laki-laki dan perempuan. Pemikiran dan pergerakan perempuan juga dapat menjabarkan bahwa faktor yang sangat kuat untuk subordinasi perempuan terhadap laki-laki adalah stereotip.

Kata Kunci : Feminisme, subordinasi terhadap perempuan, Stereotip

 

 

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini semakin banyak muncul karya sastra populer yang dikenal dengan pop-lit (literatur-populer). Di Indonesia pun banyak sekali karya sastra populer yang muncul, namun mereka tidak disamakan dengan karya sastra “klassik” seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Cerita sastra populer di Jerman lebih beragam. Hal ini tentu saja berkaitan dengan budaya setempat yang jauh lebih bebas dibanding di Indonesia yang masih kental dengan budaya timur. Tema sastra populer di Jerman adalah seputar kehidupan anak muda yang tidak jauh dari seks, narkoba dan pencarian jati diri.

Selain tema, sastra populer dapat diterima di kalangan remaja karena sebagian besar penulisnya adalah remaja atau mungkin baru di usia awal 20-an. Dengan begitu penulis paham betul mengenai kehidupan remaja karena bisa saja ia sendiri baru/sedang mengalaminya atau mengamati tingkah laku lingkungan sekitarnya. Dalam beberapa tahun terakhir terjadi sebuah tren di Jerman, dimana para penulis sastra populer ini adalah orang-orang berasal dari kalangan artis atau pernah bekerja dalam bidang entertainment. Banyak diantara mereka yang pernah bermain film atau bahkan membintangi beberapa iklan di media cetak dan televisi. Ada juga beberapa penulis sastra populer adalah orang-orang dari kalangan sosial atas (Socialité) di Jerman. Para penulis sastra populer di Jerman kebanyakan adalah laki-laki dan jarang sekali ada yang perempuan. Oleh karena itu, saya tertarik sekali untuk membahas novel sastra populer yang ditulis oleh seorang perempuan.

Alexa Hennig von Lange1, penulis novel RELAX yang menjadi bahan analisa skripsi ini, adalah perempuan yang juga pernah bergerak dalam bidang entertainment. Alexa lahir di Hannover pada tahun 1973 dan sudah sejak kecil gemar menulis cerita pendek (cerpen) dan bercita-cita ingin menjadi penulis. Pada tahun 1986 ia memenangkan lomba menulis cerpen NDR-Schreibwettbewerb. Setelah terjun ke dunia modelling pada usia 21, Alexa juga pernah menjadi pembawa acara “Bim Bam Bino”di sebuah stasiun televisi Jerman. Pada tahun 1997 ia menerbitkan novel pertamanya yang berjudul RELAX yang langsung menjadi bestseller di toko buku di Jerman. Setelah novel RELAX masih muncul beberapa novel karya Alexa. Tema yang sering ditulis oleh Alexa adalah mengenai pubertas, pencarian jati diri, ketakutan eksistensi seseorang, dan narkoba. Gaya bahasa yang digunakan Alexa dalam karya-karyanya tidak sulit dan sudah menjadi ciri khas Alexa dalam tiap novelnya bahwa ia memakai gaya bahasa konversasi anak muda yang memakai langgam slang dan cenderung vulgar.

Kaitan antara cerita dalam novel RELAX dengan kehidupan yang dialami Alexa saat berkecimpung dalam dunie entertainment mungkin tidak jauh berbeda. Kehidupan para artis, model dan selebriti pasti sudah tidak asing lagi dengan narkoba. Maka dari itu Alexa dapat dengan jelas memaparkan kehidupan anak muda yang menjalani hidup hedonis dan mengonsumsi narkoba. Novel RELAX bercerita mengenai Chris dan Omek (yang selalu disebut dengan panggilan “die Kleine”) yang mengalami akhir pekan yang tragis. Dalam novel ini diceritakan bagaimana mereka masing-masing melewati sebuah akhir pekan yang panjang, lucu, konyol dan sedih. Chris dan die Kleine adalah pemakai narkoba (drug junkies) dan dalam akhir pekan yang mereka lewati ini, hubungan mereka diuji dengan banyaknya godaan seperti pesta dan narkoba. Sifat Chris dan die Kleine sangat bertolak belakang. Chris menjalani kehidupan bagaikan seorang Rockstar, yang hanya memikirkan pesta dan narkoba. Sementara itu, die Kleine menginginkan akhir pekan yang romantis bersama pasangannya. Namun yang ia dapatkan justru sebaliknya. Bila Chris pulang ke rumah usai berpesta dengan teman-temannya, ia menyuruh die Kleine untuk membuatkannya kopi, menyiapkan sarapan, atau menyuci kaos kakinnya. Meski sangat mencintai die Kleine, Chris kurang memberi perhatian kepadanya dan lebih memilih bersama teman-temannya dan memakai narkoba daripada menghabiskan waktu bersama die Kleine. Adegan-adegan dalam novel ini menggambarkan bahwa Chris dan die Kleine menjalani kehidupan sebagai ordinat dan subordinat dari pasangannya. Di akhir cerita, Chris meninggal di dalam pelukan pacarnya akibat overdosis narkoba.

Salah satu hal yang menarik dari novel ini adalah pembaca dapat melihat sebuah peristiwa yang sama dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu sudut pandang Chris, sebagai laki-laki dan dari sudut pandang die Kleine sebagai perempuan. Novel ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian 1: Chris dan bagian 2: Die Kleine. Hal ini jarang ditemukan dalam novel-novel lain dan merupakan sebuah gebrakan baru yang unik.

Dalam sastra populer, selain cerita dan tema, bentuk buku dan pembagian bab dalam buku juga menjadi bagian yang diperhitungkan. Biasanya sastra populer tidak mengikuti alur cerita yang baku, layaknya novel-novel biasa. Dulu, pembagian bab dalam novel klassik bila digambarkan adalah seperti segitiga, dimana klimaks cerita terdapat di bagian tengah atau puncak. Selain itu, pada novel-novel yang lain jarang diceritakan mengenai sebuah cerita yang dapat diliha dari sudut pandang dua tokoh yang berbeda-beda. Sampul halaman depan sebuah buku dan tentu saja judul buku itu sendiri juga merupakan bagian yang sangat penting.

Sampul halaman depan novel ini juga sangat unik. Pada sampul depan novel terdapat sebuah foto yang berukuran sama dengan novel tersebut. Perempuan yang terdapat dalam foto tersebut sedang memegang rokok dan melihat arah samping. Awalnya mungkin kita akan mengira bahwa perempuan tersebut merupakan gambaran tokoh utama perempuan, namun setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata foto tersebut adalah foto sang penulis buku, yaitu Alexa Hennig von Lange. Hal ini juga dapat dilihat dari segi komersialisasi. Alexa Hennig von Lange adalah perempuan yang sudah tidak asing lagi bagi remaja di Jerman. Untuk memperlancar penjualan buku tersebut, maka foto Alexa terpampang sebagai sampul novel pertamanya.

Novel ini adalah sebuah novel Jerman, tetapi menggunakan judul bahasa Inggris “RELAX”. Selain itu, judul buku “RELAX” juga bisa dilihat sebagai salah satu cara untuk menarik peminat pembaca. Membaca judul seperti itu pasti akan memunculkan pertanyaan di dalam pikiran pembaca sehingga mereka tertarik untuk membeli dan membaca buku tersebut. Hubungan antara judul novel RELAX dengan isi cerita terdapat didalam kehidupan yang dijalani oleh Chris
dan die Kleine. Chris tidak ingin kehidupan yang serba terorganisir, ia justru ingin kehidupan yang impulsif dan penuh dengan petualangan sehingga ia bisa menikmati hidup. Sementara itu, die Kleine mempunyai arti lain untuk kata relax, ia menginginkan kehidupan yang nyaman dan santai hanya berdua dengan Chris. Tapi nyatanya mereka menemukan rasa santai dan nyaman itu justru saat mengonsumsi narkoba. Di saat itulah mereka akan merasa “relax”. Bagi die Kleine yang menjadi subordinat, narkoba menjadi tempat pelarian karena ia tidak mendapat rasa kasih sayang dari Chris.

Dalam novel RELAX, semua konsep lama diubah dan dikemas menjadi sangat unik sehingga menarik perhatian pembaca. Misalnya saja, sampul depan halaman yang menggunakan foto sang penulis, judul buku yang menggunakan bahasa Inggris dan bukan bahasa Jerman, pembagian subbab yang dibagi berdasarkan sudut pandang tokoh laki-laki dan tokoh perempuan, dan terakhir adalah klimaks cerita terdapat di bagian akhir novel.

Novel RELAX adalah sebuah Drogenroman (Drogen=narkoba) karena narkoba menjadi bagian yang menghiasi konflik dalam beberapa bagian cerita di dalam novel ini. Kata “RELAX”, yang menjadi judul dari novel ini adalah kata yang sering dicapkan oleh Chris dan teman-temannya jika salah satu di antara mereka sedang sakau (kacanduan narkoba tetapi tidak mendapatkan “barang”) dan mulai panik. Meski setting yang diceritakan dalam novel ini adalah kehidupan yang modern dan hedonis, namun ternyata masih ada sisi “lama/kuno” yang menarik dari novel ini, yaitu tingkah laku Chris terhadap die Kleine dan sebaliknya. Chris sebagai laki-laki bertindak dominan (ordinat) sedangkan die Kleine selalu menuruti perkataan Chris dan selalu menjadi orang yang diperintah oleh Chris (subordinat). Menarik untuk dibahas dari novel ini adalah, bagaimana die Kleine menjadi subordinat dari Chris. Hal ini akan dikaitkan dengan teori feminisme mengenai subordinasi perempuan terhadap laki-laki dan dengan teori stereotip jender. Bahwa perempuan menjadi subordinat bagi laki-laki meskipun zaman sudah maju, memang tema yang menarik untuk dibahas.

Namun karena novel ini menggambarkan dua sudut pandang yang berbeda, maka ordinat laki-laki dan subordinat perempuan dapat terlihat dan menjadi sangat menarik untuk dianalisa. Hal yang akan diperdalam dalam novel ini, untuk mengetahui subordinasi perempuan, adalah stereotip. Stereotip akan dibahas dalam analisa novel ini dari sudut pandang laki-laki dan perempuan. Setiap laki-laki dan perempuan pasti memiliki cara pandang tersendiri yang kemudian mempengaruhi tingkah laku mereka. Dalam novel RELAX, hal ini menjadi menarik untuk dianalisa karena memaparkan sudut pandang laki-laki dan juga perempuan. Gaya hidup yang digambarkan di dalam novel RELAX adalah gaya hidup anak muda yang hanya memikirkan hari ini dan selalu ingin bersenang-senang. Chris, die Kleine dan teman-teman mereka tidak pernah diceritakan sedang memikirkan kuliah atau pekerjaan, tetapi yang mereka pikirkan hanya lah narkoba dan pesta. Cara hidup seperti ini juga dapat dikatakan menjalani hidup yang relaks. Sebelum memasuki penjelasan mengenai feminisme, perlu dibedakan terlebih dahulu antara feminisme, feminine dan female (perempuan). Istilah ini seringkali membingungkan bagi pembaca. Toril Moi2 menjelaskan dalam esainya yang berjudul The Feminist Reader, bahwa feminis adalah sebuah posisi politik, perempuan adalah istilah biologis dan feminin adalah definisi rangkaian karakter yang dibentuk oleh kebudayaan. Dengan begini, pembaca tidak akan bingung antara ketiga istilah tersebut.

Feminisme, menggambarkan perjuangan dan perkembangan perempuan. Pergerakan perempuan dibagi menjadi beberapa periode yang disesuaikan dengan zaman munculnya pergerakan tersebut atau berdasarkan tujuan yang ingin mereka capai saat itu. Sebenarnya pembagian ini diberikan nama oleh filsuf-filsuf feminis agar pembaca lebih mudah mengikuti alur pemikiran mereka. Padahal mungkin saja ada sebuah pemikiran baru yang ditambahkan oleh filsuf yang hidup dalam periode waktu yang berbeda.

Perempuan mulai menyuarakan pendapat mereka, karena selama ini perempuan hanya menjadi obyek dunia patriarkal. Penindasan yang berkepanjangan ini yang berusaha dihilangkan oleh para filsuf feminis. Perjuangan perempuan di awal abad ke-18 hingga awal abad ke-20, dikenal dengan pergerakan feminisme liberal, tujuan yang ingin mereka capai saat itu adalah persamaan hak dan persamaan politik laki-laki dengan perempuan. Pergerakan feminisme kedua dikenal sebagai feminisme radikal. Tujuan perempuan dari pergerakan ini adalah untuk membebaskan perempuan dari opresi (penindasan) laki-laki. Feminisme radikal cenderung mementingkan perbedaan biologis perempuan dan laki-laki. Setelah tahun 1960-an muncul beberapa pemikiran feminis yang kemudian digolongkan berdasarkan sudut pandang pemikiran mereka. Seperti misalnya feminisme eksistensialis yang sangat kental dengan pemikiran Simone de Beavouir. Sejak tahun 1980-an, pergerakan feminisme dikenal dengan feminisme postmodern. Sejarah pergerakan feminisme ini dibahas untuk mengetahui arah pemikiran dari stereotip sebagai salah satu faktor terjadinya subordinasi perempuan terhadap laki-laki. Stereotip jender dipercaya oleh masyarakat sebagai makna sesungguhnya menjadi lakilaki/ perempuan. Meskipun stereotip ini memberi label terhadap laki-laki dan perempuan, namun tetap saja sangat merugikan perempuan karena perempuan menjadi lebih teralienasi lagi untuk menjadi berbeda dengan stereotip masyarakat tersebut.

Pengekangan terhadap perempuan ini mengalienasi perempuan terhadap lingkungan dan dirinya sendiri. Masyarakat yang cenderung patriarkal, menjadikan perempuan sebagai subordinasi laki-laki. Setelah menganalisis pemikiran laki-laki, perempuan dan sekitarnya, baru akan kelihatan cabangcabang atau bahkan pangkal dari subordinasi tersebut.

Teori feminisme tidak dapat berdiri sendiri, karena tiap pemikiran feminis pasti berkaitan dengan teori feminis lainnya. Seperti contoh subordinasi yang sudah disebutkan di atas. Dalam novel RELAX akan dicari tahu permasalahan antara Chris dan die Kleine yang menimbulkan subordinasi die Kleine terhadap Chris.

Incoming search terms:

Leave a Reply