HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Analisis Kesalahan Penggunaan Preposisi Lokatif Bahasa Jerman

ABSTRAK

Skripsi ini membahas kesulitan mahasiswa Program Studi Jerman angkatan 2007 yang telah lulus bahasa Jerman II, dalam menentukan preposisi lokatif bahasa Jerman. Kesulitan ini dapat dilihat dari banyaknya kesalahan yang dilakukan mahasiswa. Para mahasiswa sering membuat kesalahan dalam penggunaan preposisi lokatif bahasa Jerman karena adanya interferensi bahasa Indonesia. Penelitian dilakukan untuk mengetahui preposisi yapng paling banyak digunakan mahasiswa untuk menyatakan “keberadaan”, “tujuan/pergerakan”, dan “asal lokasi”, serta mendeskripsikan jenis interferensi yang terjadi pada penggunaan preposisi bahasa Jerman. Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif-kuantitatif yang berbentuk studi kasus dengan pendekatan deskriptif.

Penelitian dilakukan dengan cara analisis kesalahan dengan acuan aturan tata bahasa dari bahasa Indonesia dan bahasa Jerman. Dari hasil penelitian ini diperoleh preposisi in paling banyak digunakan untuk menyatakan “keberadaan”, preposisi in untuk menyatakan “tujuan/pergerakan”, dan preposisi von untuk menyatakan “asal lokasi”. Preposisi yang menjadi masalah dalam penggunaanya adalah preposisi auf dan in. Dari analisis kesalahan terlihat bahwa jenis interferensi yang terjadi pada kasus ini adalah interferensi gramatikal berjenis penghilangan kategori gramatikal wajib.

Kata kunci: Analisis kesalahan, preposisi lokatif, interferensi.

 

 

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seseorang dapat menguasai berbagai macam bahasa untuk berkomunikasi. Menurut proses pemerolehan bahasa secara alami, bahasa terbagi menjadi bahasa ibu (Muttersprache) dan bahasa asing (nicht Muttersprache)1. Setiap anak yang tumbuh normal, dapat memperoleh bahasa yang digunakan masyarakat di sekitarnya (khususnya lingkungan keluarga) secara alami dalam waktu yang relatif cepat (Marler dalam Apeltauer, 1993: 8). Bahasa yang dikuasainya ini dikatakan juga sebagai bahasa pertama (erste Sprache). Bahasa pertama dapat juga dikatakan sebagai bahasa ibu (Muttersprache)(Apeltauer, 1993:13).

Secara umum, bahasa ibu diartikan sebagai bahasa yang dikuasai pertama kali oleh seorang anak. Bahasa ibu (Muttersprache) merupakan hasil dari proses perolehan bahasa seorang anak dari keluarganya (ayah dan ibu) tanpa melalui proses pembelajaran, seperti pembelajaran tata bahasa (gramatika). Bahasa yang diperoleh melalui proses pembelajaran tata bahasa secara formal, baik lisan maupun tulisan disebut juga bahasa asing (Fremdsprache) (Porsche dalam Apeltauer, 1993: 8). Bahasa ibu dan bahasa asing dapat saling mempengaruhi satu sama lain, misalnya ketika seseorang mempelajari bahasa asing, pada umumnya terdapat kesalahan, seperti kesalahan tata bahasa, pemilihan kosakata, dan kesalahan pengucapan, yang dipengaruhi oleh bahasa ibu. Kesalahan ini terjadi karena adanya beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah perbedaan konsep makna antara bahasa ibu dan bahasa asing yang dipelajari.

Konsep makna ini sangat erat kaitannya dengan kognisi manusia karena konsep makna merupakan perwujudan di dalam benak/otak seseorang terhadap sesuatu yang diucapkan (Apeltauer, 1993: 20). Melalui proses kognitif, seorang anak mempelajari dan merekam lingkungan di sekitarnya sehingga mempunyai gambaran atau simbol-simbol di dalam benaknya (Montada dalam Apeltauer, 1993: 21). Ketika seseorang berbicara mengenai sesuatu, pada umumnya, di dalam otak/pikirannya telah memiliki konsep mengenai hal yang dibicarakan.

Contohnya, ketika seseorang mengatakan “pohon”, di dalam konsep pemikirannya sudah tergambar bahwa pohon itu mempunyai batang dan daun2. Sama halnya ketika seseorang menyatakan keterangan tempat “di dalam kelas”, di dalam konsep pemikirannya sudah tergambar bahwa “di dalam kelas” berarti di dalam ruangan tertutup3. Ketika seorang dwibahasawan berbicara dengan menggunakan bahasa asing, konsep ruang ini kemungkinan akan berubah, sesuai dengan konsep yang dimiliki oleh bahasa asing tersebut. Oleh karena adanya perbedaan konsep makna antara bahasa ibu dengan bahasa asing lainnya, pada umumnya, terdapat berbagai kesalahan pada penggunaan bahasa asing. Perbedaan konsep makna ini dapat menyebabkan seorang dwibahasawan mengalami kesulitan dalam mempelajari dan memproduksi bahasa asing sehingga ia melakukan kesalahan dalam memproduksi bahasa asing.

Kesalahan-kesalahan yang terjadi salah satunya adalah kesalahan dalam penggunaan preposisi. Kesalahan ini juga dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Jerman Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, yang berbahasa ibu bahasa Indonesia dan sedang mempelajari bahasa Jerman sebagai bahasa asing (Fremdsprache) yang menjadi responden dalam penelitian ini. Berdasarkan pengamatan saya pada karangan-karangan yang pernah disusun oleh mahasiswa Program Studi Jerman Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, kesalahan sering terjadi pada pemilihan preposisi, khususnya preposisi lokatif. Kesalahan ini disebabkan oleh adanya perbedaan konsep ruang antara bahasa Indonesia dan bahasa Jerman. Berdasarkan hipotesis saya, perbedaan konsep yang terjadi pada mereka disebabkan oleh pengaruh bahasa ibu, yaitu pengaruh preposisi bahasa Indonesia sehingga menyebabkan kesalahan dalam penggunaan preposisi bahasa asing yang sedang dipelajari, yaitu bahasa Jerman. Pengaruh bahasa ibu ini dapat dilihat pada kuisioner yang telah diisi para responden yang berupa Lückentest mengenai preposisi bahasa Jerman sehingga dapat terlihat pengaruh konsep preposisi bahasa Indonesia dalam preposisi bahasa Jerman.

Para mahasiswa, pada umumnya, memadankan penggunaan preposisi bahasa Indonesia ke dalam preposisi bahasa Jerman. Padahal, penggunaan preposisi bahasa Jerman sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia mempunyai tiga jenis preposisi untuk menunjuk tempat, yaitu di, ke, dan dari, sedangkan bahasa Jerman mempunyai beragam preposisi untuk menunjuk tempat, antara lain: auf, aus, in, nach, dan zu, tergantung pada kata kerja serta keterangan tempat yang terdapat dalam suatu kalimat4. Makna preposisi ke dalam bahasa Indonesia sering dipadankan dengan preposisi zu dalam bahasa Jerman.

Contoh pada kalimat:

Manchmal geht er auch zum Supermarkt.* (a) (Terkadang ia juga pergi ke supermarket.)

Kalimat yang diharapkan, seharusnya:

Manchmal geht er auch in den Supermarkt.(b)

Penggunaan preposisi zu untuk kalimat (a) memang tepat, akan tetapi akan mengubah makna yang dimaksud.

Kalimat (a) memiliki makna bahwa subjek yang merujuk dirinya sebagai er pergi menuju (ke arah) supermarket, sedangkan makna yang diharapkan adalah er benar-benar pergi ke supermarket. Dengan demikian, preposisi yang diharapkan untuk kalimat di atas adalah preposisi in. Preposisi zu dalam penggunaan sehari-sehari memang dapat menggantikan preposisi in dan auf, seperti pada kalimat: Ich gehe auf den Bahnhof atau Ich gehe zum Bahnhof (c).

Hal ini membuktikan bahwa bahasa Jerman memiliki banyak preposisi untuk menentukan suatu tempat tujuan. Namun, menurut Helbig/Buscha, terdapat perbedaan antara auf dan zu pada kalimat (c), yaitu preposisi auf memiliki arti bahwa subjek yang merujuk dirinya sebagai ich sudah pasti akan membeli karcis dan naik kereta untuk pergi ke tempat lain, sedangkan preposisi zu memiliki arti bahwa ich hanya pergi ke stasiun, tidak membeli karcis maupun naik kereta. Banyaknya preposisi yang dapat digunakan dalam satu kalimat bahasa Jerman akan semakin mempersulit orang Indonesia untuk menentukan preposisi yang tepat karena bahasa Indonesia hanya mempunyai tiga macam preposisi tempat5, sedangkan bahasa Jerman mempunyai beragam preposisi untuk menyatakan suatu tempat.

Contoh lain yang ditemukan, yaitu: Im Hause isst er zum Mittag.*(d) (Dia makan siang di rumah.)

Kalimat yang benar, seharusnya: Zu Hause isst er zum Mittag.(e)

Kalimat (d) salah karena pemilihan preposisi yang tidak tepat. Penggunaan preposisi yang salah ini terjadi karena dalam konsep (pikiran/otak) orang Indonesia, kata in mengacu pada tempat keberadaan (di mana?/wo?).

Dengan kata lain, preposisi tersebut dipadankan dengan preposisi di, sedangkan dalam bahasa Jerman, terdapat beragam preposisi yang digunakan untuk menyatakan tempat keberadaan, seperti preposisi zu. Preposisi zu tidak hanya digunakan untuk menyatakan tempat tujuan (wohin?), tetapi juga untuk keberadaan (wo?), yaitu pada kalimat: Ich bin zu Hause.

Penggunaan preposisi zu juga benar jika digabungkan dengan kata kerja sein karena zu Hause sein merupakan kesatuan yang mutlak (feste Verbindung ohne Artikel)6, sedangkan untuk preposisi in akan tepat penggunaannya jika keterangan tempat yang dimiliki bukan Haus, melainkan keterangan tempat berupa Restaurant, Kino, dll. Kesalahan dalam pemilihan preposisi ini, pada umumnya, disebabkan oleh pengaruh perbedaan konsep preposisi antara bahasa ibu dan bahasa asing. Seringnya terjadi kesalahan-kesalahan dalam penggunaan preposisi ini, menjadi salah satu alasan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsep preposisi bahasa Indonesia terhadap penggunaan preposisi dalam bahasa Jerman serta mengetahui jenis preposisi yang menjadi masalah.

Masalah ini akan sangat menarik jika dikaji dari bidang sintaksis dan bidang pembelajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing (Deutsch als Fremdsprache/DaF). Oleh karena itu, dalam kajian sintaksis, akan digunakan teori tata bahasa dari dua bahasa, baik dari bahasa Indonesia maupun bahasa Jerman. Teori preposisi lokatif bahasa Jerman dari Helbig/Buscha (2003) akan digunakan karena di dalam teori ini, preposisi dijelaskan lebih rinci dan jelas, sedangkan untuk teori preposisi lokatif bahasa Indonesia akan digunakan teori dari Harimurti Kridalaksana (1990). Untuk membandingkan kedua bahasa tersebut, digunakan teori analisis kontrastif dari Lado (1961). Dalam penelitian ini, akan digunakan teori interferensi dari Weinreich (1953) untuk menganalisis pengaruh preposisi bahasa Indonesia terhadap penggunaan preposisi bahasa Jeman.

Incoming search terms:

Leave a Reply