HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Analisis Kesalahan Pembacaan Teks Jepang (Studi Kasus Pemelajar Bahasa Jepang IV FIB UI)

ABSTRAK

Penelitian ini membahas tentang tipologi kesalahan yang terjadi pada sesi membaca nyaring yang dilakukan oleh pemelajar bahasa Jepang IV FIB UI sebagai responden, yang ditinjau dari aspek keterampilan membaca secara mekanis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melalui suatu pengamatan langsung. Melalui penelitian ini diharapkan dapat diketahui kesalahan yang dilakukan oleh pemelajar serta faktor yang memungkinkan kesalahan itu terjadi, sehingga tindakan antisipasi untuk meminimalkan kesalahan dapat dilakukan.

Kata Kunci : Membaca, aspek keterampilan membaca mekanis, analisis kesalahan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu pemelajaran bahasa memiliki empat aspek yang menunjang tercapainya kemahiran bahasa tersebut, yaitu membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Masing-masing aspek berhubungan satu sama lain. Dalam pemelajaran bahasa Indonesia, keempat aspek tersebut terangkum sedemikian rupa di dalam kelas sehingga memungkinkan tercapainya penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sedangkan dalam pemelajaran bahasa asing, pada kasus ini adalah bahasa Jepang, pemelajar memerlukan waktu untuk dapat beradaptasi dengan bahasa baru yang dipelajarinya dan untuk menguasai keempat aspek tersebut secara maksimal.

Tidak dapat dikatakan mana yang lebih penting di antara aspek membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Setiap aspek memiliki perannya masing-masing. Namun dalam dunia keilmuan, kemampuan membaca memegang peran yang sangat penting. Dengan berbekal kemampuan membaca, seseorang dapat mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, serta mendapatkan informasi dari sumber-sumber tertulis. Seorang ahli linguistik Jepang, Kimura Muneo menyatakan :

Photobucket Analisis Kesalahan Pembacaan Teks Jepang  (Studi Kasus Pemelajar Bahasa Jepang IV FIB UI)

Terjemahan:
Yang disebut membaca adalah mendapatkan informasi melalui kalimat tertulis, lebih jelasnya adalah memperoleh informasi melalui huruf” Sebelum mencapai tahap memperoleh informasi melalui bahan bacaan, pembaca harus melalui tahap pengenalan terhadap aksara serta tanda-tanda baca, serta tahap pengenalan korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik 1 . Hal ini ditegaskan kembali dengan penjelasan tentang aspek-aspek membaca oleh Henry Tarigan. Menurutnya terdapat dua aspek penting dalam membaca seperti berikut :
a. Keterampilan yang bersifat mekanis yang mencakup pengenalan bentuk huruf, pengenalan unsur-unsur linguistik, pengenalan hubungan pola ejaan dan bunyi (kemampuan menyuarakan bahan tertulis menjadi bunyi).
b. Keterampilan yang bersifat pemahaman, yang mencakup pemahaman, pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorika), memahami signifikansi atau makna, evaluasi atau penilaian dan kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan (Tarigan, 1988, p.23).

Seperti yang telah diuraikan di atas, seorang pembaca harus memiliki keterampilan secara mekanis sebelum mencapai suatu pemahaman. Pembaca harus mampu menyuarakan bahan tertulis menjadi bunyi, atau dengan kata lain membaca bersuara. Oleh karena itu, bila proses membaca dilakukan dengan benar maka akan didapat informasi yang benar, begitu pula sebaliknya, bila terdapat kesalahan dalam proses membaca, maka informasi yang didapat menjadi kurang sempurna dan dapat menimbulkan salah pemahaman mengenai informasi tersebut.

Dalam penelitian ini, yang akan dibahas adalah tentang keterampilan membaca secara mekanis, yaitu pengodean huruf-huruf dan unsur-unsur linguistik oleh pembaca menjadi sebuah ujaran, agar pemahaman bacaan dapat dicapai. Henry Tarigan (1988) dalam bukunya, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, mengutip tentang pengertian membaca dari segi linguistik :
Membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language) yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna (Anderson , 1972, p.209-210).

Seperti pepatah “tak ada gading yang tak retak”, begitu pula dalam proses membaca. Kesalahan tidak akan dapat terelakkan, terlebih lagi jika bahan bacaannya adalah teks Jepang yang benar-benar berbeda baik dari bentuk tulisan, unsur leksikal maupun gramatikal, dengan teks berbahasa Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam membaca teks Jepang terjadi proses penyandian yang tidak mudah dan hal ini membuat proses membaca rawan kesalahan. Karena fokus penelitian ini adalah tentang keterampilan membaca secara mekanis, maka kesalahan yang mungkin terjadi salah satunya adalah pada pengenalan bentuk huruf (dalam hal ini adalah hiragana, katakana dan kanji).

Secara teknis, kesalahan membaca pada pemelajar harus diobservasi dengan tes membaca nyaring. Hal ini sesuai dengan saran yang dikemukakan Tinker dan McCullough dalam Teaching Elementary Reading. Mereka berpendapat bahwa metode yang dapat mengatasi kesalahan membaca adalah melalui observasi membaca nyaring yang dilakukan pemelajar (Tinker dan McCullough, 1968, p.552). Oleh karena itu, diperlukan analisis kesalahan agar kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diketahui sehingga bisa menjadi masukan bagi pengajar untuk dapat meminimalkan kesalahan dalam membaca.

Untuk memesan judul-judul SKRIPSI / TESIS atau mencari judul-judul yang lain silahkan hubungi Customer Service kami, dengan nomor kontak 0852.2588.7747 (AS) atau BBM :5E1D5370

Leave a Reply