HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tindak Tutur Penolakan terhadap Proposisi dalam Bahasa Jepang

ABSTRAK

Skripsi ini membahas tindak tutur penolakan terhadap proposisi dalam bahasa  Jepang. Sebelumnya, telah dilakukan penelitian tentang realisasi penolakan dalam bahasa Jepang terhadap permohonan, penawaran, undangan, dan saran. Hasil penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa mayoritas orang Jepang mengguankan strategi secara tidak langsung atau dengan kesantunan negatif. Sementara itu, hasil analisis dalam tulisan ini, di mana penolakan dikaitkan dengan strategi kesantunan Brown dan Levinson, menunjukkan bahwa dalam bahasa Jepang dapat juga diungkapkan realisasi penolakan secara langsung meskipun hal tersebut dilakukan terhadap orang yang lebih tinggi statusnya (misalnya terhadap guru) atau orang yang lebih tua (misalnya terhadap kakak senior).
Kata Kunci:
Tindak tutur, penolakan, proposisi, bahasa Jepang.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak terlepas dari bahasa. Harimuti Kridalaksana di dalam buku Pesona Bahasa mendefinisikan bahasa sebagai ”sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri” (3). Sementara Gorys Keraf mendefinisikan bahasa sebagai ”alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia” (1). Ilmu yang mempelajari hakikat dan ciri-ciri bahasa ini disebut ilmu linguistik. Linguistiklah yang mengkaji unsur-unsur bahasa serta hubungan-hubungan unsur itu dalam memenuhi fungsinya sebagai alat perhubungan manusia (Nababan 1). Berbicara tentang alat perhubungan manusia, salah satu fungsi utama bahasa1 adalah sebagai alat komunikasi atau alat interaksi. Komunikasi adalah penyampaian amanat dari sumber atau pengirim ke penerima melalui sebuah saluran” (Harimurti Kridalaksana 116).
Dalam Webster s New Collegiate Dictionary (1981: 225) yang dikutip oleh Chaer dan Agustiana (17) dikatakan: Communication is a process by which information is exchange between individuals through a common system of symbols, signs, or behavior. (Komunikasi adalah proses pertukaran informasi antarindividual melalui sistem simbol, tanda, atau tingkah laku yang umum). Dalam setiap komunikasi-bahasa ada dua pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver). Keduanya saling menyampaikan informasi yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi (Ibid. 20).
Saat berkomunikasi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari, pasti ada ungkapan setuju atau tidak setuju terhadap mitra tutur. Dalam bahasa Jepang, ungkapan setuju atau menerima lebih cenderung diungkapkan secara langsung yang memiliki perbedaan usia yang cukup jauh dijadikan sebagai bintang tamu dalam sebuah acara Reality Show yang berjudul Open 24 Hours.
Photobucket Tindak Tutur Penolakan terhadap Proposisi dalam Bahasa Jepang

Dalam percakapan tersebut, si junior mengungkapkan penolakan secara langsung atas sebuah proposisi, meskipun itu terhadap seniornya sendiri. Proposisi yang menyatakan bahwa B menganggap dirinya paling keren di Jepang disangkal oleh B dengan mengatakan Photobucket Tindak Tutur Penolakan terhadap Proposisi dalam Bahasa Jepang yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘tidak.’ Di sini diasumsikan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi pemilihan tindak tutur penolakan secara langsung, selain kelas sosial, jenis kelamin, etnisitas, dan umur.
Tindak tutur merupakan salah satu hal yang dikaji dalam pragmatik.
Pragmatik adalah cabang linguistik yang mempelajari proses komunikasi dengan fokus pada bagaimana makna atau pesan komunikasi diproduksi penutur dan persepsi penanggap tutur. Ini menarik karena apa yang diniati penutur seringkali disalahtafsiri oleh penanggap tutur. Salah tafsir ini bergantung pada banyak variabel, seperti suasana fisik, psikis, atau sosiologis. Mungkin juga karena
variabel bahasa2 (Alwasilah 19).

Leave a Reply