HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Peran Yougoshisetsu (Institusi Perlindungan Anak) di Jepang

ABSTRAK

Skripsi ini membahas anak yang mengalami kekerasan di dalam keluarga dan laporan-laporan mengenai kekerasan pada anak di jidousoudanjo. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif dengan telaah kepustakaan. Data diperoleh dari beberapa sumber buku yang berkaitan dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah kekerasan pada anak yang terjadi dalam keluarga di Jepang merupakan hasil dari pola sosialisasi orangtua yang otoriter, tujuannya untuk mendisiplinkan anak dengan menggunakan hukuman-hukuman fisik namun cenderung negatif yang berakibat pada kekerasan fisik. Anak yang mengalami kekerasan seperti ini yang banyak dijumpai di yougoshisetsu.

Kata Kunci: jidougyakutai, yougoshisetsu, jidousoudanjou, kesejahteraan anak di Jepang.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Jepang membuat undang-undang tentang kesejahteraan anak (Jidou Fukushi Ho) pada tahun 1947. Berdasarkan hukum ini, yang disebut anak (jidou) adalah orang yang berumur dibawah 18 tahun. Ada tiga sub-kategori: bayi di bawah umur 1 tahun, yang disebut nyuji, anak anak berusia 1 tahun atau lebih yang belum masuk sekolah dasar yang disebut youji, dan anak berusia sekolah dasar sampai 17 tahun yang disebut shonen (ministry of foreign affairs, 3 ). Di Jepang ada beberapa institusi yang berbeda yang berhubungan dengan kesejahteraan anak dan keluarga diantaranya jidousoudanjo yaitu pusat konsultasi anak, biasanya yang dikonsultasikan adalah masalah sakit dan ketidakmampuan anak, kekerasan pada anak, anak hilang dari rumah, lingkungan keluarga, dan lain-lain. Boushiryou yaitu fasilitas untuk membantu ibu yang sebagai orangtua tunggal dalam mengurus anaknya, Tochio (1991) mendeskripsikan intitusi ini sebagai institusi yang mengakomodasi ibu dan anak yang tidak punya ayah di keluarga dan secara mental dan ekonomi mengalami masalah dimana mereka ingin sekali mendapat dukungan dan harapan hidupnya bertambah lebih baik. Kyougoin adalah intitusi yang mengajarkan pendidikan dan pelatihan anak-anak yang melakukan tindak kejahatan. Nyujiin adalah institusi yang mengurus anak bayi di bawah usia 2 tahun (nisai miman) yang dengan berbagai alasan tidak dapat dirawat dan diurus oleh orangtuanya. Ada suatu institusi untuk anak-anak yang orangtuanya tidak dapat, tidak mengharapkan atau tidak ingin mengurus dan menjaga mereka, institusi tersebut jidou yougoshisetsu atau biasa disebut yougoshisetsu. Yougoshisetsu berdasarkan hukum kesejahteraan anak 1947 didefinisikan sebagai institusi (shisetsu) untuk menampung anak, tidak termasuk bayi, anak yang tidak memiliki wali atau anak yang mengalami penganiayaan atau sebaliknya, dan mereka membutuhkan perlindungan (yougo) (Goodman, 2000, 53).

Dari beberapa institusi yang disebutkan di atas, yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah jidou yougoshisetsu. Istilah yougoshisetsu telah digunakan di Jepang lebih dari 50 tahun yang lalu, namun kebanyakan dari masyarakat Jepang agak sulit membedakan yougoshisetsu dengan yougogakko yang merupakan sarana untuk anak-anak yang cacat. Kebanyakan orang Jepang malah mengidentifikasikan yougoshisetsu sebagai sarana untuk anak-anak yang cacat dan memiliki keterbelakangan mental (Goodman, 2000, 53). Menurut akar katanya jidou yougoshisetsu terdiri dari 3 kata jidou yang berarti anak yougo melindungi, dan shisetsu berarti institusi.

Digabungkan secara harfiah berarti institusi perlindungan anak. Dalam kamus Jepang-Indonesia berarti rumah pemeliharaan anak-anak. Jidou yougoshisetsu biasa disingkat yougoshisetsu. Makna yang lebih luas ada dalam pasal 41 Undang-undang kesejahteraan anak tahun 1947 yang berbunyi :

Photobucket Peran Yougoshisetsu (Institusi Perlindungan Anak) di Jepang

“jidouyougoshisetsu wa, hougosyanonai jidou, gyakutai sareteiru jidou, sonota yougou o iru you suru jidou o nyuujyosasete, kore o nyuusho sasete, kore o yougosi, awasete taisho shita mono ni taisuru soudan sono ta no medatsu no tame ni shien o okou koto o mokuteki tosu shisetsu”

Terjemahan:
“Jidou yougoshisetsu adalah institusi yang membantu dan melindungi anak-anak yang tidak punya wali, anak yang mengalami penganiayaan, dan membutuhkan perlindungan, serta bertujuan memberikan bantuan konseling bagi mereka yang telah keluar dari yougoshisetsu.”.

Yougoshisetsu mulai ada sejak era Meiji, namun saat itu bukan yougoshisetsu melainkan Okayama Kojiin (rumah yatim piatu Okayama) yang didirikan oleh Ishii Juuji pada tahun 1887. Institusi itu ditujukan hanya untuk menampung anak-anak yatim piatu. Di dalam institusi ini anak hanya mendapat perlindungan dalam menghadapi kehidupan luar yang kejam tanpa orangtuanya. Lalu lama kelamaan institusi ini berkembang dan memiliki sarana pendidikan. Semenjak berlakunya jidou fukushihou (hukum kesejahteraan anak) intitusi kojiin ini berubah nama yakni jidou yougohisetsu. Pada awalnya jidou yougoshisetsu dibentuk untuk melindungi anakanak yang selama perang dunia kehilangan orangtua dan sanak familinya, yang menjadi prioritas utamanya adalah anak yatim piatu (Goodman, 2000, 47-48). Setelah era Meiji, awal tahun 1912 mulai era Taisho dengan berkembangnya indutrialisasi dan meningkatnya urbanisasi dari daerah yang bekerja sebagai petani mulai berpindah ke kota untuk bekerja di sektor industri. Seiring dengan hal ini, anak yang tidak mempunyai orangtua semakin meningkat, oleh karena itu, sarana-sarana kesejahteraan sosial lainnya seperti seishin gakusha (rumah untuk anak-anak yang nakal) pada tahun 1925 juga meningkat (Goodman, 2000, 48).

Yougoshisetsu yang merupakan rumah yatim piatu, sekarang ini sangat disayangkan karena dua alasan. Yang pertama, gambaran mengenai yougoshisetsu adalah institusi yang suram (kurai) masih berlangsung sampai sekarang. Kedua, sangat disayangkan karena ternyata anak-anak yang yatim piatu di yougoshisetsu persentasenya sangat kecil. Pada tahun 1992, dari 26.357 anak di yougoshisetsu, 86.9 % tinggal bersama salah satu orangtua (ayah atau ibunya karena kebanyakan dari orangtua mereka adalah single parent) atau tinggal dengan orangtua tiri (kataoya). Para staf dalam yougoshisetsu sedikit sekali menjumpai anak yang tidak memiliki orangtua (ryoushin ga nai) hanya sekitar 0.5%, justru yang paling banyak dijumpai adalah orangtuanya tidak bersama mereka (ryousin ga inai), kebanyakan orangtua itu meninggalkan anaknya di yougoshisetsu. Fungsi yougoshisetsu didefinisikan dalam satu frase jiritsu wo shien suru koto yang artinya membantu anak untuk mandiri, atau lebih lengkapnya

Photobucket Peran Yougoshisetsu (Institusi Perlindungan Anak) di Jepang

Jidou yougoshisetsu dewa kodomotachi no shiawase to kokoro yutaka de sukoyakana hattatsu o hosyoushi, jiritsu wo shien shiteimasu.

Terjemahan:
Yougoshisetsu melindungi perkembangan anak yang sehat serta mendukung kemandirian berdasarkan kebahagiaan dan kekayaan hati sang anak.

Dalam buku Nakumonoka dijelaskan alasan mengapa anak masuk ke dalam yougoshisetsu selama kurang lebih 40 tahun terakhir setelah perang, pada awal tahun 1960-an tingkat kemiskinan di Jepang masih tinggi, dan masih banyak orang yang bekerja musiman sehingga kebanyakan dari mereka tidak mampu untuk membiayai anaknya, pada akhir tahun 1970-an meskipun Jepang pada saat itu penganggurannya sedikit, pendapatan meningkat tajam, dan tingkat kehidupan pun semakin tinggi sehingga muncul yang namanya konsumerisme – setiap orang ingin memiliki mobil, AC, dan televisi berwarna – sehingga banyak perusahaan yang bergerak di bidang kredit dan pinjaman yang dikenal sarakin, yang memudahkan setiap orang untuk membeli barang yang diiinginkan. Perusahaan pinjaman tersebut memiliki srategi yang sangat menguntungkan mereka lantaran mereka juga bekerjasama dengan yakuza 1 sehingga bunga pinjaman tersebut semakin besar. Banyak dari para peminjam tidak mampu untuk membayar, dan pada akhirnya anaknya ditaruh ke dalam yougoshisetsu, pada periode ini persentase anak yang kehilangan orangtua atau orangtua yang menelantarkan anaknya adalah yang paling tinggi (Goodman, 2000, 54).

Bubble ekonomi 2 yang terjadi di Jepang pada tahun 1980-an yang mengakibatkan resesi ekonomi di awal tahun 1990 mengakibatkan bangkrut pada pada banyak keluarga sehingga mereka lebih memilih menaruh anak nya di yougoshisetsu. Selain dari itu, latar belakang keluarga anak-anak yang ada di yougoshisetsu pun menjadi beragam alasannya.

90% dari yougoshisetsu di Jepang merupakan institusi swasta (minkan shisetsu). Institusi swasta ini menerima dana dari sukarelawan-sukarelawan tetap, yang juga sebagai anggota, mereka membayar 3 juta yen per tahun, satu orang sukarelawan paling tidak membiayai 6 anak dalam yougoshisetsu. NPO juga turut serta membantu yougoshisetsu (Goodman, 2000, 7). Pemerintahan Jepang juga turut membantu yougoshisetsu dengan memberikan dana untuk institusi-insitusi kesejahteraan sosial melalui pemerintah setempat.

Anak-anak dalam yougoshisetsu adalah anak yang memiliki masalah-masalah dengan orangtuanya seperti orangtua bangkrut, orangtua menolak merawat anak, orangtua mengalami sakit jiwa, masalah kontrol orangtua, orangtua berselisih, dan alasan lain yang tidak jelas (Goodman, 2000, 55). Berdasarkan survey dari departemen kesehatan dan kesejahteraan Jepang tahun 2004 terdapat 556 yougoshisetsu dan 30.957 anak di yougoshisetsu (Akie dalam Goodman, 2008).

Yougoshisetsu memiliki peranan yang penting dalam menangani masalah perlindungan anak-anak di Jepang yang memiliki masalah dengan orangtuanya dalam berbagai bentuk. Dalam yougoshisetsu anak-anaknya sudah tidak memiliki orangtua atau orangtua yang tidak bisa merawatnya lagi. Seperti beberapa anak ini: Yuko, seorang anak berusia 4 tahun, ayahnya memiliki masalah dalam pekerjaannya, karena konflik dalam rumah tangganya dan ibunya selalu memiliki masalah dengan tetangganya akhirnya ibunya membakar rumah tetangganya dan dipenjara, dua anak tertuanya dititipkan pada tantenya, sedangkan yuko dititipkan di yougoshisetsu pada usia 3 tahun untuk mengantisipasi jika ibunya keluar dari penjara yuko bisa kembali ke rumahnya. Rika (6 tahun), ayahnya seorang yakuza dan ibunya bercerai saat setelah Rika lahir, begitu lahir ibunya menaruh Rika di Nyujiin sampai usia 2 tahun lalu dipindahkan di yougoshisetsu saat berusia 3 tahun. Jun (8) ayahnya seorang supir truk dan hanya ada di rumah 2 atau 3 hari dalam seminggu, ibunya pecandu pachinko, dia mulai bangkrut sehingga mempunyai banyak hutang. Hubungan orangtuanya tidak baik sampai akhirnya bercerai, lalu Jun dititipkan di yougoshisetsu saat berusia 5 tahun dengan kakak dan adik perempuannya. Ayahnya secara reguler datang mengunjungi mereka (Goodman, 2000, 57-58). Tidak mengejutkan bahwa anak-anak di yougoshisetsu berasal dari keluarga yang tidak mampu. Rata-rata pendapatan oranguanya sekitar 25% dari rata-rata nasional (Goodman, 2000, 55).

Peran keluarga sangat berpengaruh terhadap keberadaan yougoshisetsu. Masyarakat perkotaan khususnya di Tokyo, industrialisasi yang terjadi secara besarbesaran di Jepang telah menyebabkan perubahan dalam kehidupan masyarakat Jepang. Bersamaan dengan kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, bentuk keluarga tradisional Jepang yang extended family (keluarga batih) berubah secara perlahanlahan menjadi bentuk keluarga Jepang dewasa ini yang dikenal sebagai keluarga inti (kaku kazoku). Industrialisasi yang membutuhkan banyak tenaga kerja, menyebabkan terjadinya urbanisasi, yaitu perpindahan masyarakat dari desa ke kota. Hal ini terjadi karena kota merupakan pusat industri sekunder dan tersier 3 yang membutuhkan banyak tenaga kerja muda. Dengan demikian desa yang merupakan industri primer mulai ditinggalkan oleh generasi muda di desa. Perpindahan penduduk ini kemudian menyebabkan menjadi mahalnya harga tanah dan harga bangunan yang ada di daerah perkotaan. Akibatnya adalah kecenderungan untuk membentuk keluarga inti di kota semakin kuat (Emiko, 1997).

Anak yang dititipkan di yougoshisetsu adalah anak yang kehilangan orangtuanya, ditinggalkan oleh orangtua, mengalami hal buruk dalam lingkungan keluarganya seperti perceraian, orangtua ditahan dipenjara, orangtua di rumah sakit dalam waktu lama atau sakit jiwa, serta anak mengalami penganiyaan yang dilakukan orangtua atau walinya (Akie, 2008). Selain itu, faktor-faktor yang mendukung perubahan peran yougoshisetsu adalah menurunnya tingkat kelahiran anak di Jepang. Namun, yang dibahas dalam penelitian ini peran yougoshisetsu seiiring meningkatnya kasus kekerasan pada anak di dalam keluarga.

Karena jumlah kasus kekerasan pada anak semakin meningkat dari tahun ke tahun, yougoshisetsu juga menjadi alternatif pertama untuk menampung anak yang mengalami kekerasan dari orangtuanya (Akie dalam Goodman: 2008). Hingga pada akhirnya peran yougoshisetsu yang sebelumnya untuk menampung anak-anak yang tidak memiliki orangtua, kini memperluas perannya dengan menjadi wadah untuk anak-anak yang mengalami kekerasan dalam keluarga, meskipun orangtua juga berhak kapan saja mengambil anaknya dalam yougoshisetsu.

Leave a Reply