HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Pembuatan Bioetanol Dari Pati Garut Dengan Hidrolisa Asam

INTISARI

Bioetanol adalah etanol yang berasal dari sumber hayati, misalnya tebu, nira, sorgum, ubi kayu, garut, ubi jalar, jagung, jerami, bonggol jagung dan kayu. Pembuatan bioetanol melalui tiga tahap yaitu yang pertama proses hidrolisa untuk mengubah polisakarida menjadi monosakarida (glukosa). Kedua adalah proses fermentasi yang menguraikan glukosa menjadi etanol, air dan CO2. Ketiga ialah proses destilasi untuk memurnikan campuran etanol dan air . Tugas akhir ini bertujuan membuat bioetanol dari pati garut melalui proses hidrolisa dengan katalisator asam menggunakan asam klorida (HCl) dan proses fermentasi menggunakan Sacharomyces Cereviceae. Hidrolisa pati garut menjadi glukosa dengan katalisator asam klorida (HCl) dengan konsentrasi 0,1 N dan 0,7 N pada suhu 100°C selama 1 jam. Alat yang digunakan untuk proses hidrolisa pada konsentrasi 0,1 N adalah dengan menggunakan autoclave, sedangkan untuk konsentrasi 0,7 N adalah labu leher tiga, pendingin balik, magnetik stirer dan termometer. Hasil glukosa yang diperoleh dianalisa dengan metode Lane Eynon. Hasil glukosa yang diperoleh untuk konsentrasi HCl 0,1 N dengan volume starter 50 ml sebesar 2,13 gr, volume starter 100 ml sebesar 6,51 gr, volume starter 150 ml sebesar 2,49 ml, volume stater 200 ml sebesar 2,30 ml. Sedangkan pada konsentrasi HCL 0,7 N sebesar 109,55 gr. Fermentasi garut dengan menggunakan yeast Sacharomyces Cereviceae pada suhu 30 °C selama 4 hari. Proses fermentasi ini dilakukan dengan menggunakan erlenmeyer yang dilengkapi dengan selang pengambilan sampel dan selang pengeluaran CO2. Kondisi operasi untuk proses fermentasi ini pada suhu 30 °C dan pH 5. Dari hasil perhitungan, pengurangan kadar glukosa untukkonsentrasi HCl 0.3 dengan volume stater 50 ml sebesar 12,57 mgr/ml dan yield 50.54 %, volume starter 100 ml sebesar 25,08 mgr/ml dan yield 50.19 %, volume starter 150 ml sebesar 12,25 mgr/ml dan yield 51.36 %, dan untuk volume starter 200 ml 14,19 mgr/ml dan yield 51.74 %. Sedangkan untuk konsentrasi HCl 0.7 N pengurangan kadar glukosa sebesar 14.19 mgr/ml dan yield 50.69 % Dari hasil fermentasi dilakukan proses destilasi yaitu untuk memurnikan etanol. Destilasi ini menggunakan kolom destilasi dengan packing pada suhu 78- 80 °C. Untuk mengetahui kadar etanol dianalisa dengan menggunakan picnometer. Dari hasil analisa diperoleh kadar etanol untuk konsentrasi HCl 0.3 Nyang pada proses hidrolisa menggunakan autoclave, dengan volume starter 100 ml sebesar 3 %, volume starter 150 ml sebesar 5.914 %, volume starter 200 ml sebesar 5.313 %. Sedangkan untuk konsentrasi HCl 0.7 N yang pada proses hidrolisa menggunakan magnetic stirrer, diperoleh kadar etanol sebesar 44.326 %.

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kebutuhan bahan bakar minyak bumi (BBM) di berbagai negara akhirakhir ini mengalami peningkatan tajam. Tidak hanya pada negara-negara majusaja, tetapi juga di negara berkembang seperti Indonesia. Untuk mengantisipasi krisis bahan bakar minyak bumi (BBM) pada masa yang akan datang. Saat ini telah berkembang pemanfaatan etanol sebagai bahan bakar alternative, contohnya untuk pembuatan bioetanol dan gasohol. Bioetanol merupakan etanol yang berasal dari sumber hayati, misalnya tebu, nira sorgum, ubi kayu, garut, ubi jalar, jagung, jerami, bonggol jagung dan kayu. Bahan baku pembuatan bioetanol terdiri dari bahan-bahan yang mengandung karbohidrat, glukosa dan selulosa. Garut merupakan salah satu bahan baku pembuatan bioetanol yang mengandung selulosa. Selama ini garut umumnya bisa langsung dimakan atau diolah menjadi makanan lain seperti dodol. Untuk menambah nilai ekonomis garut maka dicoba untuk dijadikan bahan alternatif bioetanol. Garut tersebut dapat diolah menjadi bioetanol dengan cara hidrolisa dan fermentasi dengan menambahkan yeast.

Leave a Reply