HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Ekstraksi Minyak Biji Karet

INTISARI

Biji karet merupakan hasil dari perkebunan karet selain hasil utamanya yaitu getah karet ( lateks ). Sebagian biji digunakan untuk pembibitan. Biji karet mengandung minyak yang dapat dimanfaatkan sebagai minyak pangan (edible fat). Berdasarkan kandungan minyak tersebut, maka diperlukan usaha untuk mengambil minyak dari biji karet.

Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini untuk mengambil minyak biji karet, mempelajari pengaruh waktu ekstraksi terhadap banyaknya minyak yang dapat terekstrak secara batch, mempelajari pengaruh rasio berat biji – volume pelarut terhadap rendemen secara batch, dan mempelajari pengaruh jumlah proses batch dalam pengambilan minyak biji karet terhadap rendemen. Biji karet yang diekstraksi berukuran ( 0,5 X 0,5 X 0,3 ) cm dan (0,4 X 0,4 X 0,3 ) cm. Pelarut yang digunakan adalah n-Heksan. Proses pengambilan minyak biji karet ini dilakukan dengan ekstraksi soxhlet pada suhu operasi 69oC dan ekstraksi secara batch. Ekstraksi secara batch dijalankan dalam wadah plastik berbentuk silinder yang dilengkapi pengaduk dan baffle, serta dijalankan pada suhu kamar. Kecepatan putar pengaduk yang digunakan adalah 200 rpm. Setelah ekstraksi selesai dilanjutkan dengan proses destilasi untuk memisahkan minyak biji karet dari pelarut n-Heksan.

Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh kadar minyak yang dihasilkan dari ekstraksi soxhlet adalah 3,68% (% berat), dari ekstraksi secara batch diperoleh waktu yang diperlukan untuk mencapai keadaan minyak yang setimbang untuk berat biji karet 500 gram adalah 80 menit dan untuk berat 750 gram adalah 120 menit, jumlah proses batch untuk mengambil minyak dari 500 gram biji karet adalah 9 kali proses batch dengan berat total minyak 43,21 gram dan kadar minyak yang diperoleh adalah 8,642%.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Tanaman karet dikenal pertama kali di Amerika Selatan pada abad ke-18. Sedangkan di Indonesia, karet pertama kali ditanam di Sumatra pada tahun 1903 dan di Jawa pertama kali ditanam di daerah Garut pada tahun 1906. Karet yang ada di Indonesia umumnya jenis Havea brasiliensis (Yusuf dan Sulaiman,1982). Luas areal tanam di Indonesia pada tahun 2004 mencapai 2,3 juta Ha. Perkebunan karet di Indonesia sekitar 84,5 % dimiliki oleh rakyat, 8,4 % milik swasta, dan 7,1 % dimiliki oleh negara (Setiawan dan Angsono, 2005). Hasil utama perkebunan karet adalah getah karet (lateks). Selain itu, pohon karet juga menghasilkan biji karet dimana sebagian biji digunakan untuk pembibitan (± 1/3 biji hasil perkebunan) dan sisanya sampai saat ini hanya dibuang saja.

Biji karet berisi minyak jenis minyak mengering. Minyak jenis ini dapat digunakan sebagai minyak pangan (edible fat). Kandungan minyak biji karet cukup besar yaitu sekitar 40 – 50% berat. Minyak biji karet mengandung asam – asam lemak antara lain asam palmitat, asam stearat, asam arachidat, asam oleat, asam linoleat, dan asam linolenat (Swern,1964). Kandungan asam – asam lemak biji karet hampir sama dengan kandungan asam – asam lemak kacang tanah. Asam – asam tersebut bermanfaat bagi kesehatan manusia, misalnya asam linoleat (omega 6) berperan penting dalam pertumbuhan jaringan otak. Melihat begitu bermanfaatnya minyak biji karet, maka diperlukan usaha pemungutan minyak dari biji karet. Berdasarkan sifat minyak nabati yang larut dalam senyawa non polar, proses pemungutan minyak dari biji – bijian dapat dilakukan dengan cara ekstraksi. Demikian pula dalam pengambilan minyak dari biji karet yaitu dapat dilakukan dengan cara ekstraksi pelarut.

Incoming search terms:

Leave a Reply